Mag-log inAshuna Zaemley pernah menjadi putri yang paling disayang, sampai semuanya direnggut oleh satu orang—Mora Yunira. Datang sebagai saudara, Mora perlahan meracuni segalanya. Kasih sayang keluarganya direbut, kepercayaan dihancurkan, cinta dirampas tanpa sisa. Difitnah, diasingkan, dan dikhianati oleh orang-orang yang ia anggap rumah. Ashuna memilih pergi, menghilang dan bangkit sebagai sosok yang tak lagi bisa disentuh. Lima tahun kemudian, ia kembali bukan sebagai gadis lemah yang dulu diinjak-injak, melainkan sebagai wanita sukses dengan kekuasaan yang tak tertandingi. Namun masa lalu belum selesai, di balik ambisi Mora yang membara, tersimpan rahasia paling kelam—identitasnya yang sebenarnya dan rencana besar untuk menghancurkan keluarga Zaemley dari dalam. Ketika kebenaran mulai terkuak, ketika cinta lama mencoba kembali, dan ketika keluarga yang dulu menghancurkannya kini memohon pertolongan— akankah Ashuna memilih memaafkan? Atau membalas semuanya dengan cara yang lebih kejam?
view moreAshuna benar-benar marah kepada Mora, dialah orang yang sudah membuat Gustav mencacinya sebagai wanita murahan. Semua perkataan kotor itu selalu terdengar dalam kepalanya, seolah-olah berputar tanpa henti seperti nyanyian rusak. Kata-kata wanita murahan itu terasa sakit dari pukulan hulk, ia berdiri di depan cermin lalu menatap duplikat dirinya dalam-dalam. Mata bengkak karena banyak menangis, wajah pucat seperyi orang sakit, rambut terurai ditiup angin, inikah dirinya yang tersakiti.
Semuanya berawal dari video sialan itu, sebuah video berdurasi kurang dari 1 menit. Dalam video itu sepertinya direkam dari suduy yang salah, seperti sengaja dipotong tanpa sebab, kemudian disebarkan dengan kalimat dan kata-kata yang sudah disusun dengan rapi untuk menggiring opini. "Kau itu selalu saja berpura-pura suci, Ashuna!" Itulah kata-kata yang keluar dari mulut Gustav waktu itu. "Aku melihat video itu dengan mata kepalaku sendiri, tidak ada editan di sana." Setelah kejadian itu ia menjauh tanpa kabar apapun, di waktu yang sama reputasi Ashuna menjadi buruk, runtuh berkeping-keping. Sakit hati kepada Gustav masih bisa Ashuna terima dan tahan, tetapi ternyata masih ada yang paling menyakitkan. "Ashuna, kau itu wanita murahan ya!" ucap salah satu mahasiswi di kampus. "Ya ampun, itu bagian bawah kamu perlu dipromosikan tidak di sini. Aku juga mau mencobanya," sambung mahasiswa lain. "Berita dari Mora sangat akurat ya," ucap yang lain. Mora, sosok sahabat atau saudara angkat yang tahu semua hal tentang dirinya. Ia begitu yakin, perempuan itulah yang telah menyebarkan video palsu Sebuah hubungan yang dikhianati bersamaan rasanya lebih parah daripada semua cemohan, cacian, hinaan yang dilontarkan orang-orang pada dirinya. Hal itulah yang membuat berat badannya menurun cepat, tetapi ia pun masih tetap tak peduli. Pikirannya hanya tertuju pada satu permasalahan, bagaimana perjalanan hidupnya yang bahagia bisa hancur secepat ini. Saat semua orang membencinya, hanya satu orang yang setia padanya dia adalah Rafello. Ia bukan pria yang banyak bicara, juga tidak suka ikut campur urusan orang lain. Akan tetapi, ketika kabar buruk tentang Ashuna menyebar ia tak pernah ikut mencibirnya. "Ashuna, kau baik-baik saja?" tanya Rafello saat mengantarnya ke kos. Ashuna terdiam sekian detik, ia menatap Rafello dan tersenyum. "Aku baik-baik saja." "Syukurlah," ucap Rafello lega. "Aku pulang ya, kamu baik-baik dan jangan melakukan sesuatu yang aneh." Ashuna pikir dia mencoba membujuknya keluar dari zona nyamannya saat ini, namun ternyata ia salah. Pria baik hati itu hanya mengantar makanan, lalu pergi seolah tak terjadi apa-apa. Saat membuka makanan yang diberikannya, ada sepucuk surat saat dibuka isinya adalah kata-kata yang menenangkan. Perlahan Ashuna tersenyum tipis, ia mendekap surat itu ke dadanya. "Selamat makan, Nona cantik." Ashuna tersenyum saat membaca surat dari sahabatnya. Ini adalah bukti nyata, masih ada yang peduli dengannya Waktu menjelang sore dan saat itu hujan yang begitu deras, Ashuna akhirnya memberanikan diri menelpon Rafello. Saat suara berat itu terdengar do ponsel, Ashuna merasa dunianya masih bisa diselamatkan. "Aku percaya dalam video itu bukan kejadian yang sebenarnya," ucap Rafello dalam telponnya. "Kau harus kuat untuk diri sendiri, aku akan membantumu." Karena kata-kata Rafello malam ini ia bisa tidur dengan baik, bisa tidur tanpa menangis dalam seminggu ini sudah sangat luar biasa. Hari terus berganti, Ashuna mulai merenung tentang masa depannya. Jika terus sepertia ini maka orang-orang yang tidak menyukainya akan tertawa puas, meskipun ia benar, tetapi orang-orang licik sudah menyusun rencana untuk kembali mengacaukannya. Mungkin kebenaran itu tidak selalu cepat menang, kadang harus pergi untuk mencari tempat bertahan sementara. Kalau terus di sini hanya akan membuat lukanya semakin dalam, orang-orang tak berhati baik mungkin tertawa. Ashuna selalu bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apakah bertahan di kampus ini sesuatu yang baik? Lingkungannya juga sudah berubah, sanggupkah ia menjalaninya dengan tatapan sinis mereka? Pikirannya terus bertarung antara bertahan atau pergi? Jawabannya mungkin harus pergi yang jauh dari sini, mencari kedamaian. "Sepertinya aku harus pergi," gumam Ashuna tanpa ragu sedikit pun. "Bertahan di sini bisa membuatku gila." Akhirnya Ashuna memutuskan untuk pindah kampus, mungkin yang akan ia hadapi nanti lingkungan baru. Sebelum itu harus menpersiapkan semua rencana kepindahannya dengan baik, agar nanti tidak menjadi masalah. Hari ini ia akan menberitahu Rafello tentang keputusannya untuk pindah kampus, mereka bertemu di restoran mewah. Di sana Rafello menatap Ashuna dengan tatapan yang sulit dijelaskan, ada perasaan yang mereka berdia sembunyikan masing-masing. "Jadi kau ingin pergi?" tanya Rafello. "Iya," sahut Ashuna. "Bagaimana persiapannya?" "90 persen, besok aku akan meninggalkan kota ini. Raf. Kau orang yang paling baik terhadapku, mungkin ucapan terima kasih belum cukup. Maaf, saat ini aku tak bisa membalas kebaikanmu," ucap Ashuna sambil menunduk. Rafello tersenyum dengan tipis, ia menatap Ashuna dengan hangat. Tangannya bergerak membelai pipi mulus itu, lalu berkata, "Kau bisa membalasnya nanti." Ketika malam sebelum nanti berangkat, Ashuna menatap lama kamar kosnya yang sudah memberikan kenyamanan selama ini. Setelah itu mengemas semua barangnya dengan rapi, agar besok pagi tak lagi sibuk. Ashuna terbangun dan mengusap mukanya, lalu ia menguap dan tangannya refleks menutup mulut. Pagi ini akan jadi halaman terakhir untuknya ada di kota ini, langsung saja beranjak dari tempat tidur dan siap berangkat. Sesampainya di terminal bus, ternyata ada Rafello yang menunggu. Ashuna menaikkan alisnya, sejak kapan sahabatnya tahu ia mau ke mana. "Jangan memperlihatkan wajah bingungmu padaku, Ashuna," ucapnya santai, "aku hanya ingin memastikan kau pergi dengan baik." "Benarkah?" "Ya...." "Terima kasih, Rafello." "Sama-sama, tapi sebelum itu simpanlah nomorku dengan baik. Jika ada apa-apa, beritahu aku." Rafello benar-benar peduli dengan Ashuna. "Ya, terima kasih perhatianmu." Ashuna langsung memeluk Rafello dengan erat. "Sudahlah, jangan kau menangis seperti ini. Masa depan masih panjang, ayo hapus air matamu bus akan segera berangkat." Ashuna menguraikan pelukannya, buliran air mata sangat jelas terlihat. Ia menatap Rafello sambil berkata, "Aku sangat bahagia memiliki sahabat seperti kau." Rafello menghapus air mata Ashuna dengan tisu, ia bahkan mengantarnya sendiri ke bus untuk memastikan benar-benar aman. Sebelum bus pergi, Rafello mengucapkan sesuatu pada sahabat perempuannya ini untuk memberi semangat. "Jangan mengingat apapun tentang kota ini, kecuali untukku." "Kau pandai sekali membuatku tersenyum, Rafello." "Begitulah." Rafello pun pamit keluar dan menatap bus yang perlahan meninggalkan terminal. Ashuna sudah menyusun kehidupannya di kampus barunya nanti, tidak akan menggunakan marga Zaemley lagi. Ia akan menghapus sepenuhnya marga sialan itu, kalau dulu bangga menggunakannya sekarang jadi jijik sendiri. Di lain tempat, ada percakapan lewat telpon dalam kamar Nyonya Shiona yang membuat Mora berhenti. "Sudah aku lakukan, bahkan sekarang dia itu ...." Malam yang dingin tipis membasahi kaca gedung tinggi milik RN'Group karena hujan, seorang pria duduk santai di ruangan kerja paling atas, ia memutar gelas wine di tangannya.Matanya menatap tajam, pada layar tablet yang memperlihatkan siaran ulang di bandara saat kedatangan Ashuna pagi tadi."Akhirnya ... kamu kembali juba," ucap Rafello sambil tersenyum tipis.Ketukan pintu terdengar dari luar, Rafello menyuruhnya masuk. "Masuk."Pria yang berpakaian hitam masuk sambil membawa map tipis, ia berdiri tegak di depan meja kerja Rafello."Kami sudah menyiapkan laporan tentang Nona Ashuna, Tuan," ucapnya."Baca!" ucap Rafello meletakkan gelasnya perlahan."Nona Ashuna langsung menuju hotel Grand Royal, setelah konferensi pers selesai. Lalu besoknya Nona Ashuna ada jadwal pagi bersama panitia audisi idol nasional," sahutnya."Ternyata dia masih sama?" Rafello mengangguk pelan sambil tersenyum tipis."Maksud Tuan?" anak buahnya menaikkan alisnya, ia terlihat bingung."Dia itu masih terlalu b
"Jadi artis kepercayaan agensi kami," lanjut Ashuna lagi.Heca yang mendengar hal itu menjadi terkejut, artis kepercayaan mereka? Apa maksudnya? Ia tak mengerti, tetapi berusaha untuk bertanya sedikit."Maksud Nona?" tanya Heca menajamkan pandangannya.Ashuna tersenyum melihat perubahab pandangan Heca, ia juga akan melakukan hal yang sama jika menjadi Heca."Jadilah artis yang besar atas kerja kerasmu sendiri," sahut Ashuna lalu menjelaskan apa maksudnya dari artis kepercayaan agensi.Setelah dijelaskan, Heca pun paham maksud Ashuna. Ia berjanji akan menjadi artis besar di bawah bimbingan agensi mereka, Ashuna senang mendengarnya."Kalau begitu aku pergi dulu," ucap Ashuna pamit."Hati-hati, Nona," sahut Heca sedikit menunduk kepalanya tanda hormat.Beberapa hari kemudian, Ashuna menghadiri audisi di kota lain. Suasana langsung riuh ketika ia datanga, namun ada seorang wanita terpaku melihatnya.Tangan wanita itu bergetar, bola matanya membesar, menatap sosok yang dinantikan teman-te
"Ada apa ini?" tanya seorang dokter dengan jas putih panjangnya yang mencapai lutut saat ia sampai di depan ruang rawat seseorang."Lepaskan aku!" teriak Romi yang mengamuk dalam kamar."Ayo suntik dia," ucap Dokter Tama melangkah maju masuk ke dalam ruangan itu."Baik Dokter," sahut perawatnya mengikuti sang dokter.Setelah diberi obat penenang, Romi berhenti mengamuk. Dokter Tama dan perawatnya keluar, namun percakapan mereka berdua saat keluar dari ruangan membuat salah satu perawat menghela napasnya."Kita beritahu Nona M," ucap Dokter Tama."Apa kita perlu memindahkannya?" tanya perawat."Mungkin," sahut Dokter Tama.Keduanya pun menghilang dari pandangan perawat tadi—Dona salah satu kepercayaan seseorang."Jahat sekali mereka," gumam Dona di depan pintu ruang rawat Romi.Dalam sebuah gedung mewah utama milik Zaemley Group, suasananya jauh dari tenang. Beberapa wajah karyawan terlihat tegang, seolah mereka akan kehilangan pekerjaannya.Seseorang duduk di kursi direktur sementara,
"Tuan Hans," ucap Ashuna tersenyum melihatnya"Ashuna, kau ...." Tuan Hans menjeda ucapannya sebentar."Baiklah, maaf ya jika aku membuatmu terdiam. Silalan panggil yang selanjutnya," ucap Ashuna lalu berdiri dan ingin pergi."Duduk!" perintah Tuan Hans."Ada apa, Tuan Hans?" tanya Ashuna menaikkan alisnya sambil menoleh."Duduk, kita lanjutkan wawancaranya. Aku tidak peduli seperti apa reputasimu," sahut Tuan Hans lagi menarik tangan Ashuna.Ashuna memicingkan matanya. "Kau yakin? Bukankah dulu sering meremehkanku?""Dengar Ashuna, dulu aku memang meremehkanmu karena naif. Tapi sekarang aku ingin melihat perkembanganmu setelah terpuruk," ucap Tuan Hans memberitahu alasannya.Ashuna pun tersenyum tipis, ia langsung melanjutkan wawancaranya dan lulus. Sejak diterima bekerja di rumah sakit sebagai cleaning service, sedikit demi sedikit bisa menabung untuk kuliahnya sendiri. Sesekali menerima pesan dari Rafello, hanya itu dan fokus untuk masa depannya sendiri.Waktu memang tak mengenal j






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.