Beranda / Pendekar / Luka Yang Menembus Langit / Bab 36 - Janji di Bawah Kubah

Share

Bab 36 - Janji di Bawah Kubah

Penulis: Akaiy
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-09 04:25:45

Malam itu tidak memiliki bulan.

Langit tertutup kubah tampak seperti mangkuk kaca buram yang menahan dunia tetap diam, namun angin di Qingfeng berdesir aneh, membawa bau tanah basah dan dedaunan patah. Lampu-lampu sekolah sudah padam, hanya obor penjaga yang menyala jauh di gerbang utama, memantulkan cahaya kuning ke jalan batu yang sepi.

Di paviliun bambu belakang, Liang Xue berdiri menghadap Sungai Kecil Qingfeng. Airnya tenang, namun riaknya terasa tajam, seolah ikut menyadari keputusan ya
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 75 - Menguasai Array Kuno dan Penemuan Baru

    Dengan warisan pengetahuan array tingkat tinggi dari Liang Qiao yang kini bersemayam di benaknya, Liang Xiao segera memulai pelatihannya di ruang rahasia bawah tanah. Tempat ini adalah surga bagi seorang kultivator , kolam spiritual yang memancarkan energi murni, rak rak buku giok yang tak terhitung jumlahnya, dan prasasti prasasti kuno yang mengukir teknik teknik terlarang. Namun, fokus utamanya saat ini adalah menginternalisasi dan mempraktikkan pengetahuan array yang baru saja ia serap secara instan namun masif tersebut.Liang Xiao duduk bersila di dekat kolam spiritual. Uap hangat yang membawa esensi bumi meresap ke dalam pori porinya, mempercepat proses pemulihan meridian dan memperkuat fondasi kultivasinya. Di dalam benaknya, ribuan pola array berputar putar seperti galaksi kecil, mulai dari formasi penyegelan dasar hingga struktur kompleks yang bahkan para master formasi di dunia luar

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 74 - Warisan Array Agung dan Pengetahuan yang Mengalir

    Ruangan rahasia di bawah reruntuhan itu bukan sekadar gudang penyimpanan; ia adalah sebuah ekosistem spiritual yang mandiri. Udara di dalamnya terasa berdenyut, seolah olah dinding dinding batu giok itu sendiri sedang bernapas. Cahaya keemasan dari kolam spiritual di tengah ruangan memantul pada permukaan rak rak buku yang jernih, menciptakan spektrum pelangi yang menari nari di langit langit aula yang tinggi. Liang Xiao melangkah perlahan, merasakan sensasi menggelitik di permukaan kulitnya saat pori porinya mulai menyerap energi murni yang meluap luap. Di tempat ini, konsentrasi Qi setidaknya sepuluh kali lipat lebih padat dibandingkan di dunia atas."Ini adalah jantung warisan Keluarga Liang," bisik Liang Xun. Wujud spiritualnya tampak lebih tenang di sini, seolah olah ia telah pulang ke rumah yang sebenarnya. "Kolam spiritual ini adalah Nadi Bumi yang dialirkan secara paksa oleh leluhur k

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 73 - Peninggalan Leluhur

    Langkah kaki Liang Xiao menggema pelan di atas lantai batu yang retak. Debu tebal yang menyelimuti reruntuhan aula utama berterbangan setiap kali ujung jubahnya menyapu lantai. Di depannya, sosok transparan Liang Xun melayang dengan anggun, namun raut wajah spiritualnya memancarkan ketegangan yang nyata. Sisa jiwa itu berhenti tepat di depan sebuah dinding batu yang tampak tidak istimewa. Permukaannya kasar, ditumbuhi lumut kering, dan penuh dengan goresan akibat cuaca ekstrem selama bertahun tahun. Secara kasat mata, dinding itu hanyalah bagian dari struktur bangunan yang telah mati.Liang Xun mengangkat tangan kanannya yang berpendar biru pucat. Ia mengarahkan jari telunjuknya ke sebuah titik spesifik yang terletak setinggi dada di permukaan batu tersebut. "Jangan tertipu oleh penampilan luar, Liang Xiao. Dunia luar mengenal klan kita sebagai keluarga bangsawan yang kaya, namun mereka tidak pernah tahu b

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 72 - Rahasia Tersembunyi Keluarga Liang

    Langkah kaki Liang Xiao terasa berat saat ia menapaki ubin batu yang retak di gerbang utama kediaman klan nya. Setelah bersujud sebagai tanda hormat terakhir kepada para leluhur di ambang pintu yang hancur, ia melangkah masuk ke dalam area yang kini lebih mirip pemakaman massal daripada sebuah kediaman bangsawan. Debu tebal yang telah mengendap selama bertahun tahun terbang tertiup angin, menyelimuti bayangan struktur struktur megah yang kini hanya tinggal kerangka kayu yang melapuk dan ditelan tanaman merambat liar. Di beberapa sudut, jejak kebakaran hebat masih terlihat jelas; arang hitam yang menyatu dengan batu menjadi saksi bisu betapa brutalnya api yang melahap tempat ini di masa lalu. Udara di sini terasa dingin dan menyesakkan, seolah setiap inci tanahnya masih menyimpan memori kesedihan dan teriakan kematian yang tak sempat terbalaskan.Liang Xiao melangkah dengan waspada, tangan kanannya menggeng

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 71 - Bersujud di Gerbang yang Membeku

    Kesunyian akademi saat masa liburan memberikan keleluasaan bagi Liang Xiao untuk menuntaskan rasa penasarannya. Berbekal akses dari Perpustakaan Terlarang Tingkat Tinggi, ia menghabiskan waktu berhari hari untuk membedah setiap inchi perkamen pemberian Feng Ying. Simbol simbol kuno yang awalnya tampak seperti coretan acak mulai bertransformasi menjadi koordinat geografis yang presisi. Setelah melalui penelitian intensif yang menguras energi mental, peta itu akhirnya menunjuk pada satu titik di ujung utara yang terisolasi, sebuah wilayah yang dikenal dengan nama mengerikan: "Sungai Abu".Sungai Abu bukanlah sekadar nama kiasan. Wilayah ini adalah lembah kematian di mana vegetasi enggan tumbuh dan udara terasa seperti mengandung serpihan logam. Sungai yang mengalir di dasarnya membawa sedimen vulkanik berwarna abu abu pekat, menciptakan ilusi visual seolah olah seluruh dunia di sana telah hangus terbakar oleh api langit. Masyarakat sekitar menghindari tempat ini, menyebutnya sebagai tan

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 70 - Dendam yang Kembali Menyala

    Suasana hangat yang diciptakan oleh kehadiran Liang Mei di penginapan perlahan memudar seiring malam yang larut. Setelah memastikan adiknya tertidur lelap, Liang Xiao kembali ke kamarnya. Ia duduk bersila di atas kasur, matanya menatap kosong ke dinding di depannya, namun pikirannya berkelana jauh ke masa lalu. Kemenangan atas Ming Yu dan posisi barunya di peringkat sepuluh besar Daftar Seratus Murid Berbakat adalah pencapaian yang membanggakan. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia tahu bahwa ini hanyalah sebuah sarana, bukan tujuan akhir.Pengingat akan senyum tulus adiknya, kemurnian hatinya, adalah tamparan yang lembut namun kuat. Semua yang ia lakukan, semua bahaya yang ia hadapi, semua intrik yang ia lalui, pada akhirnya adalah demi keamanan dan masa depan Liang Mei, serta untuk memenuhi sumpah yang telah ia ukir di hatinya: balas dendam atas pembantaian keluarganya.Dengan pijakan yang kini semakin kokoh di Akademi Bintang Jatuh, dengan akses ke sumber daya yang lebih luas, dan deng

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status