LOGIN“I'll get back every single thing that belongs to me—I won't leave a dime, and none of you will live to see me rule my people.” ~ What will you do when you find out that the one you once loved is the son of the culprits that turned you into a rogue? That the one you're planning to assassinate isn't just your mate but the one you wished to live with forever? And then a certain day, you find out that the woman you've been living with under the same roof is the assassin who's been threatening your life and swore to get revenge? Freya is an Alpha Princess who became a rogue after her parents were massacred. She became a secret assassin aiming for revenge but ended up being Luna for the son of her enemies to carry out her plan easily. Since she must bear an heir to be crowned Luna, she plans on how to do that, so she will get a full power and then put her enemies down ... .only for her to fall in love with Alpha Arthur, who is still anxious to find the assassin pestering him. The day he found out that Freya is that assassin, what will happen between them? And when Freya finds out that she's pregnant for her enemy, what will she do with him and the unborn pup? Reconciliation or War? Now, Freya has a secret lover who has been helping him. What will this man do when he finds out that Freya is pregnant for the Alpha King that they hate? ☆THE REVENGE COLLECTION, BOOK 1 (Luna Freya, The Vengeful Assassin)
View More“Aaa ....” Kedua insan saling teriak saat berada dalam satu ruangan tanpa busana. Keduanya menatap diri masing-masing dalam keadaan menyedihkan. Mereka belum sepenuhynya sadar semua kejadian yang sebenarnya dialami.
“Kau siapa, berani-beraninya berada dalam ruanganku?” tanya sang perempuan.
“Ruanganmu? Kau bisa jelaskan ini ruangan berapa?” tanya lelaki itu.
“Jelas bisa. Ini ruangan ....” Wanita itu menjeda perkataannya sendiri. Ruangan itu tampak mewah. Ranjang empuk singgle bed dengan lemari besar. Kulkas yang besar juga. Arghhh ... pria itu benar. Dia yang salah masuk kamar. Ya, wanita itu adalah Zahwa Almira dipanggil Rara. Dia tour guide yang menjadi pemandu dua pemuda dari Jakarta. Menurut dari agensi, lelaki itu bernama Damian Dawson dan Andra Dawson. Untuk Andra Dawson, Rara sudah menemaninya selama seminggu. Anak laki-laki yang baru sidang skripsi itu liburan di pulau Lombok ini karena mendapatkan hadiah karena nilainya istimewa.
“Bagaimana, Nona. Kau sudah ingat?” Rara menelan ludahnya sangat payah. Dia sudah menyerahkan mahkota daranya bahkan dengan orang yang belum dikenal. Rara berusaha menenangkan diri. Wanita berusia dua puluh lima tahun itu mencoba memutar kembali memorinya.
Semalam, dia sudah selesai mengantarkan tamunya yaitu Andra ke kamarnya. Setelah itu ketemu dengan teman-temannya. Kronologinya, ketiga temannya minum alkohol. Sedang dirinya tidak karena memang tidak suka meminumnya. Maka dia meminum jus anggur. Setelah itu, dirinya merasa panas dan menuju ke kamar. Lalu ... Rara memebelalakkan matanya sendiri. Bahwa memang dirinyalah yang salah. Dia yang datang ke mulut harimau ini.
Rara bangkit memunguti bajunya yang beberapa bagian sudah koyak. Bagian inti tubuhnya terasa begitu perih dan sakit. Dia menahannya saja berjalan sambil meringis. Selanjutnya masuk ke kamar mandi. Dia merasa gusar. Dia tidak tahu harus melakukan apa? Bagaimana jika hamil? Pikiran-pikiran itu bergejolak dalam diri. Rara hidup sebatang kara. Dia tidak memiliki siapa pun lagi. Bekerja untuk dirinya, untuk keinginannya dan perutnya.
Dia tidak menangis hanya bingung saja. Ini sungguh di luar nalar. Dia tidak tahu mengapa bisa seliar itu? Bahkan berciuman saja dia belum pernah. Mengapa bisa menyeahkan diri pada laki-laki asing? Rara sudah selesai mandi. Sedangkan lelaki itu masih termangu tidak percaya. Keduanya memang sama-sama membutuhkan pelampiasan. Ini juga kali pertama untuk seorang Damian Dawson merobek jala dara dari seorang wanita. Biasanya, dia akan membeli wanita-wanita panggilan yang sudah tidak bersegel lagi. Hatinya akan merasa bersalah jika memperawani seorang wanita. Terlihat diatas alas tempat tidur itu bercak darah terlihat. Damian tiba-tiba merasa bersalah tapi pikirannya ditutupi dengan keangkuhannya sebagai penakluk wanita sejagad. Setidaknya itu julukan yang diberikan teman-temannya.
Rara sudah keluar dari kamar mandi. Dia berpakaian lengkap walau terlihat sobekan di beberapa tempat. Tapi dengan jaketnya, dada yang kenyal itu akan tertutup. Rara tidak membawa apa pun. Jangankan make-up, bahkan sisir juga tidak. Wanita itu menunduk dan permisi keluar sesaat setelah selesai mandi.
“Tunggu!” Damian bangkit dari tempat tidurnya masih dalam keadaan telanjang. Rara mengalihkan pandangannya dari tubuh jangkung dan atletis Damian. Lelaki dengan dada bidang itu tersenyum miring.
“Kau membuang mukamu? Sementara semalam sudah melihat semua.” Damian meraih celana boxernya dan memakai tanpa celana dalam.
“Ada apa? Cepat katakan!” Rara masih hanya melihat ke arah lain.
“Tuliskan nominal berapa pun yang kau mau sebagai kompensasi. Sebagai gantinya, peristiwa kita jangan sampai terekspose keluar. Apalagi sampai media tahu.” Rara berbalik dan menajamkan matanya. Bagaimana bisa lelaki ini mengatakan hal menjijikan seperti itu? Tentu saja, dia tidak akan mengatakan kepada siapa pun? Bahkan telinganya sendiri saja, jangan sampai mendengar kalau bisa
“Apa yang kau pikirkan, Tuan ....” Rara menjeda omongannya melihat ke arah cek itu. kemudian melanjutkan, “ Damian Dawson? Kau pikir aku sudah gila mau mempermalukan diri? Kau ini memang lelaki kerdil nggak punya otak!” Rara melemparkan kembali ke arah Damian cek tersebut. Dengan kasar dia membuka pintu dan mendentumkan kembali.
Ya, ini awal bencana. Rara sudah tidak suci lagi. Wanita itu bahkan merasa terhina dengan kelakuan buruk Damian. Seakan semuanya dapat diselesaikan dengan uang. “Damian Dawson? Ya Tuhan, dia lelaki yang harus kupandu,” bisik Rara. Di depan pintu, sudah ada Andra yang memang datang untuk menjemput Rara dan juga mengenalkan Damian kepada Rara sang pemandu wisatanya.
“Rara? Kau sudah kenal dengan kakakku?” tanya Andra. Namun sambutan Rara tidak seramah beberapa hari lalu. Dia hanya menyorotkan matanya tajam, kemudian berlalu.
“Rara, tunggu! Kau kenapa? Apakah kakakku sudah berbuat kasar padamu? Kakakku memang orangnya kaku. Tapi sebenarnya baik kok.” Rara menggeleng. Dia tetap saja berlalu hingga membuat Andra tercenung. Kemudian mengangkat bahunya tanda tidak mengerti. Lelaki dengan rambut gondrong dan kuncir di bagian atas itu menekan bel supaya yang menghuni kamar membukakan pintu.
“Kak, apa yang terjadi?” tanya Andra. Saat ini Damian berjalan ke arah balkon dengan masih mengnakan celana boxer.
“Melihat suasana berantakan seperti ini, kau ML?” Andra lagi-lagi memberondong pertanyaan pada sang kakak. Sedangkan Damian hanya membisu melihat jauh ke arah lautan lepas.
“Jangan-jangan, kau ... ah, aku mengerti. Kau ML dengan Rara? Kok bisa?” Lagi-lagi Damian hanya menoleh ke arah adiknya tersebut yang dari tadi mengoceh saja. Dia sendiri sebenarnya masih bingung dengan kejadian ini. Antara menikmati dan merasa bersalah. Malam panas semalam suntuk, begitu membekas dalam benaknya. Padahal sudah puluhan wanita dia gagahi. Tapi kali ini berbeda.
“Kak, jawab aku! Dia itu anak yatim piatu, apa kakak tahu? Kau harus bertanggung jawab! Kau harus menikahinya.” Damian menoleh ke arah adiknya tersebut. Menikah? Tidak pernah ada dalam jadwal hidupnya. Lelaki berlesung pipi itu memegang kepalanya kemudian memijitnya. Sedangkan Andra bergegas untuk menemui Rara. Dengan langkah jenjangnya meninggalkan sang kakak. Ya, beberapa hari bersama Rara membuatnya mengenal wanita itu.
Rara adalah gadis yang lugu, blak-blakan dan apa adanya. Dia bahkan tidak merepotkan seperti gadis pada umumnya. Andra merasa nyaman berada di sampingnya beberapa hari ini. Dia membuka pintu itu dengan kasar. Kemudian menutupnya kembali sehingga menciptakan dentuman. Damian hanya mengangkat bahunya. Dia tidak salah. Wanita itu yang menyerahkan diri. Ah, tapi rasanya sangat beda memang. Hatinya merasa tidak tenang. Terbayang wajah wanita itu saat terakhir kali mengucapkan kata-kata penolakan pada cek yang dia beri. Padahal, dia bisa menulis semau hatinya. Bisa satu milyar bahkan puluhan milyar.
Andra sudah berada di depan kamar Rara. Dia menekan bel berkali-kali tapi tidak ada sahutan. Sampai seorang petugas kebersihan menghampiri kamar itu. “Maaf, Tuan. Kamar itu sudah kosong.” Andra mengerutkan keningnya.
“Kosong? Kemana dia?” batinnya.
“Sudah cek out setengah jam yang lalu.”
“Shit!” Andra berlari mengejarnya tapi sudah tidak bisa menemukannya. Sejak saat itu maka Rara bagai ditelan bumi. Andra mencarinya ke mana-mana. Demikian juga dengan Damian yang selalu merasa bersalah karena telah merusak gadis baik-baik.
Three weeks later,“The Alpha King is dead, she's just hiding him in his chamber.”“The ministers are bothered to enthrone a new King since she's still pregnant….”“It is said that she killed him to avenge the death of her parents….”Rumors are spreading around the Pack, and Freya is the most haunted about it. There is a secret not even she knew, but that would come to light when it's due. She doesn't wish for all her hard work to be in vain.If Arthur doesn't wake up—even if it would be a miracle, she would be a loser. It has been finally exposed that the maid who claimed to be bearing the Alpha’s child is an impersonator and is Elora. For accusing the King and impersonating, her penalty is death, and the ones that had her backed up, including the Beta, Flarry, and his men, the Ministers, will all be executed.But, one thing has to be sure. The only one who would order the execution is the Alpha King. he needs to wake up, to save Freya from that hell, or they will all succeed, thereb
At first, Freya was furious. But when she reasoned that it must be a trick as such gibberish came from the same maid she was suspecting, she decided to go talk about it privately with Arthur. “Leave!!!” She commanded the maid before her and headed towards the Alpha's room.Entering, she didn't believe her eyes. Arthur was lying lifeless on the floor. She rushed to him and shook his body constantly…. “If this is a prank, just end it and open your eyes.” she shrieked, trying to open his eyes. “Pupils dilated. What is wrong with him?”She studied his pulse and it was faint. “His body is chilly—” she bit her lower lip. “Arthur!!!” her voice resounded in the room. “Geralt!!!” she repeated, breathing endlessly. “This isn't a joke. Call the physician…” she ordered and struggled to get him up until he was laid on the bed.She stood some feet away from the bed, staring at his face. “What is wrong with him? His face is becoming pale. He was just fine minutes ago….” she was panting, trying to be
The secluded building was as quiet as usual. Freya's footsteps reverberated in the area as she walked in with her sword in her palm. Her eyes trailed around the room, knowing that whoever eavesdropped on her conversation with Arthur must surely be hiding in a place.“Reveal yourself before I find you—” she stamped her sword on the floor. “Now!!!!”Elora quivered. She would spit out her heart if time weren't taken. She would have been mindful if she had known that Freya would come after her. When she arrived, she reached the well to see Arya there. Her eyes were tied up so she couldn't see a thing but observed that someone came around.She didn't bother to speak since her aim of coming into the palace wasn't to save her. She learned how the rope was tied and it happened to be a tough one, and noticing that Freya was after her made her dodge to save her life first.“You won't come out right?” Freya laughed and walked to the well. “Make sure I don't see you again. If I do, you will regre
Elora was disguised and sent forth to the palace. She came a long way with the Beta to the way that would lead her into the Pack fully. She turned to meet Beta's eyes, “Be strong alive, and wait for me.”He sniffed and patted her shoulder. “I'm worried about you more….”“Don't bother. I will be fine. They won't know that it's me.” she assured him and pulled him closer for a kiss. “Freya is tricky, so I will be very careful and make use of that opportunity wisely.”He caressed her cheek and then bid her goodbye.She didn't stop walking until she entered the palace as a palace maiden. One would think she was there to only do as Flarry had ordered her, but it was her only time to do what brought her back to pack. First, she needs to create enmity between Freya and Arthur and then be able to strike with that opportunity. She entered the palace and reached the kitchen. Flarry had told her that the captured maiden who was still caged was posted in the kitchen, so she would have to go there
The next morning, while eating breakfast, she had a flashback of what had happened between her and her wolf the night before. She let go of her spoon and examined the food dish. She felt both happy and sad at the same time; relieved that she had not killed Arthur last night, even though she hated th
Elora observed the Beta as he walked around. He reached into his pocket, pulled out a wrapped leaf, and handed it to Elora. "We have to act quickly or we will lose everything. Luna is determined to get rid of Freya, but it appears that it is becoming increasingly difficult...meanwhile, she intends t
Freya made the decision to return to the palace after she had a lengthy chat with Flarry. She would not want to stay any longer once Arthur went. On her way back, she felt nervous; it appeared like she was losing something, and she felt as if someone was chasing her. She arrived at the palace and ch
Freya peered out the window and saw that it was already dark. She checked the clock and realized it was about 9 p.m., so she softly got out of bed to avoid disturbing Arthur's slumber. "After only five hours of sleep, I doubt I will be able to sleep tonight...I need to handle a few things." She fixe


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.