登入Hallo, terima kasih sudah mampir. Jangan jadi silent readers, ya. Silakan komen dan berikan Vote Gem dan Hadiah kalau kalian suka. Masukkan ke perpustakaan kalian(◕ᴗ◕✿)terima kasih.
“Aku butuh lima anak buahmu untuk mencelakai Rayden sore ini!” Vince yang sedang meneguk alkohol langsung tersedak. Ia membungkuk sembari terbatuk beberapa kali. Untuk beberapa saat, ia menatap Dea dengan sengit. Mata birunya membelalak lebar menatap wanita yang pernah dia cintai mati-matian itu, hal paling tak masuk akal di dunia. Lalu, ia meletakkan gelasnya agak keras di atas meja taman. Cairan merah keunguan di dalam gelas itu berguncang, nyaris tumpah. “Katakan sekali lagi! Aku harap telingaku salah dengar!” ucap Vince, sedikit menggeram. Dea menatap pria itu. Lalu, mengambil tempat duduk di salah satu bangku taman. “Aku serius! Aku butuh lima anak buahmu untuk mencelakai Rayden. Cepat suruh anak buahmu ke sini, Vince! Aku butuh mereka sekarang!” “Oh, aku tahu kamu serius!” hela Vince pelan, ia menatap Dea dengan wajah yang sulit dipercaya. “Itulah sebabnya aku ingin membenturkan kepalak
“Ada sidang mediasi kedua dari pengadilan, Tuan. Apakah kali ini Anda akan hadir?” Beberapa menit setelah Rita meninggalkan ruang kerja Rayden, Rega masuk. Sambil membawa sebuah map coklat, ia berujar demikian. Langkahnya terlihat tenang, namun ekspresinya menunjukkan bahwa urusan yang dibawanya bukan masalah yang sepele. Kini, Rayden mengalihkan pandangan dari layar laptop miliknya. Lalu, mulai memperhatikan asisten pribadinya yang berjalan mendekat. Seraya meletakkan surat panggilan resmi itu di atas meja kerja, tepat di hadapan tuannya, Rega berjuar profesional. “Kalau Anda dan Nyonya Dea tidak hadir lagi, maka proses mediasi dianggap tidak berhasil.” Rayden melirik surat tersebut tanpa minat, tanpa segera menyentuhnya. Rega melanjutkan, “Lalu, persidangan akan berlanjut ke agenda berikutnya. Hakim biasanya akan mencatat ketidakhadiran para pihak dalam berita a
“Aku dengar dari anak buahku, Mama sempat membawa Aurin pergi ke sebuah WO beberapa waktu lalu. Apa itu benar?”Pertanyaan Rayden seketika membuat Rita tertegun. Bibirnya langsung mencebik, wajahnya terlihat tak suka dengan pernyataan itu.“Kamu diam-diam menguntit Mama, huh?”“Bukan menguntit.” Rayden membalas singkat. Setelahnya, ia menyandarkan tubuhnya ke sofa sembari memperhatikan reaksi sang ibu. “Hanya memastikan Mama tidak kenapa-napa. Apa itu salah?” tanyanya.“Tidak salah, tapi Mama rasa kamu kelewatan. Anak buah kamu juga ember sekali mulutnya!” kata Rita memaki. Rita menarik napas panjang, lalu memejamkan mata. Ia ingat betul alasan Rayden bersikap seperti ini padanya, itu karena ia pernah memiliki kekasih dan Rayden tak setuju ia menikah lagi.“Lain kali, jangan lakukan itu. Mama tidak suka kamu mengusik privasi Mama. Mama tahu, Mama pernah salah tapi Tidka begitu juga kamu memantau Mama.”“Aku tidak akan melakukan i
“Kalau begitu saya permisi, Dok. Saya akan kembali besok sore.” Dokter itu menganggukkan kepala dan berpesan agar Dea beristirahat total. Ia juga memberi imbauan pada Dea untuk tidak mengambil kesimpulan sebelum hasil konfirmasi keluar. Namun pada kenyataannya, nasihat itu nyaris tidak masuk ke telinga Dea. Kepala wanita itu masih dipenuhi bayangan dua garis merah mengerikan pada alat tes tadi. Dengan langkah yang lemas, ia keluar dari ruang praktik dan berjalan menyusuri koridor menuju loby rumah sakit. Begitu tiba di lobby, langkahnya mendadak terhenti beberapa meter di depan Ibu mertuanya, Rita. Yang membuat Dea terkejut bukanlah pertemuan itu, melainkan kondisi mertuanya yang tampak segar, rapi, dan terlihat sehat sehat saja. Tidak ada tanda-tanda orang yang sedang sakit atau menjalani pengobatan. Seketika, muncul pertanyaan yang membuat perut Dea melilit. Apakah ibu mertuanya itu datan
“Lalu, apa hasilnya, Dokter? Apakah—”“Reaktif.”“Ya Tuhan!”Dea secara refleks menutup mulutnya. Kursi stainless yang ia duduki berderit nyaring ketika ia berdiri terlalu cepat, lalu mundur beberapa langkah lantaran tidak sanggup menerima penjelasan mengenai kondisi tubuhnya itu. Mendadak, dunia di sekelilingnya terasa mengecil dan runtuh. Sementara suara dokter beserta dengung alat pendingin ruangan perlahan memudar di telinganya. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh begitu saja, membasahi pipi yang semakin pucat seperti mayat hidup.Dengan tangan yang sangat gemetar, Dea akhirnya memaksakan diri untuk melihat alat tes yang masih berada di dalam genggamannya itu. Terlihat jelas dua garis merah tegas di sana, dan bahkan tidak menyisakan ruang sedikit pun untuk penyangkalan. Dulu, Dea sangat-sangat berharap serta menunggu-nunggu kemunculan dua garis merah dengan harapan dan doa yang tak terhitung jumlahnya
“Apa hasilnya bisa terlihat sekarang, Dokter?” Dokter pria itu membenahi letak kacamatanya. Ia membawa alat rapid test itu ke meja, lalu mempersilakan Dea duduk. “Bisa. Tunggu sebentar. Silakan duduk.” Dea menurut. Namun, kalimat dokter tadi justru membuat dadanya sesak. Kini, dia duduk di kursi ruang pemeriksaan dengan kedua tangan saling menggenggam erat. Kuku-kukunya yang runcing menekan kulit sendiri hingga memucat. Ruangan serba putih dengan khas aroma desinfektan itu terasa dingin, terlalu sunyi, dan terlalu menakutkan. Saat ia menunggu, jarum jam dinding seperti sengaja bergerak lebih lambat daripada biasanya. Dug, dug, dug, dug. Jantung berdetak lebih keras hingga telinganya mampu mendengar itu. Bahkan, terasa berdenging. Setelah semalaman terbelenggu ketakutan semalaman suntuk, Dea akhirnya nekat datang ke rumah sakit seorang diri. Ia sudah tidak tahan hidup d
“Mengapa tubuhku berkhianat?” Mulanya, Aurin menolak. Tapi lama kelamaan, mengalami tubuhnya semakin menginginkan? Pada saat yang sama, keduanya dilingkupi kabut gairah yang terasa makin tebal di ruangan itu. Rayden membalikkan posisi Aurin menjadi di atas. Dengan napas yang memburu di ceruk
Aurin menahan nafas dengan tangan gemetar saat memegang gagang pintu dengan gerakan yang sangat lambat. Ia hanya ingin segera keluar dari kamar yang masih kental dengan aroma gairah dan dosa itu sebelum Rayden terbangun. Namun, baru saja pintu kamar itu sedikit terbuka dan celah cahaya dari kori
“Apa itu artinya ... kamu tidak mencintaiku lagi dan memilih merelakanku untuk wanita lain?”Rayden terpaku. Ketegangan di antara mereka benar-benar terasa menyesakkan dada. Satu pemikiran pahit menyelinap dalam benak, membuatnya melontarkan pertanyaan yang paling ia takuti itu.
Langkah Aurin mendadak tertahan di ambang pintu. Di hadapannya, berdiri Rita Wisesa—ibunya Rayden. Meski belum pernah bertemu Rita sebelumnya, tapi Aurin pernah melihat sosok wanita ini ada di foto dekat ruang keluarga. Ia pun menebak demikian.“Mengapa wajahmu merah?” tanya wanita itu s







