ANMELDENLangkah kakiku yang kembali menginjak lantai marmer lobi mansion utama malam itu terasa sedikit lebih berat setelah menerima laporan tentang lolosnya Clara ke luar negeri. Wanita White Lotus itu terbukti sangat licik dengan memotong seluruh draf tuduhan hukum kami menggunakan pengacara keluarganya sebelum kabur untuk melakukan operasi rekonstruksi wajah. Namun, alih-alih merasa terpuruk, kobaran api tantangan di dalam dadaku justru semakin menyala hebat.Kami melangkah beriringan menuju ruang kerja pribadi di lantai dua. Begitu pintu kayu jati ditutup rapat oleh Leo dari luar, keheningan yang intim mendadak mengepung kami berdua. Aku bergerak pelan, hendak meletakkan tas genggamku di atas meja, namun rasa pening yang mendadak menyerang kepalaku akibat lonjakan adrenalin sejak siang membuat tubuhku sedikit terhuyung ke samping.Sebelum tubuhku sempat menyentuh tepi meja yang tajam, sepasang lengan yang teramat kokoh dan hangat dengan sigap langsung menangkap pinggangku, menarik tubuh r
Sinar mentari pagi yang baru saja terbit menembus kabut tipis kota seolah tidak mampu mencairkan atmosfer ketegangan yang mendadak menyelimuti rute perjalanan menuju rumah sakit pusat. Setelah persekutuan busuk Clara dan orang-orang bayarannya bergerak di balik pekatnya kegelapan malam, aku sudah bisa merasakan ada riak bahaya tak kasat mata yang sedang mengintai setiap ayunan langkah kakiku.Aku duduk dengan tenang di dalam kabin mobil limosin mewah, merapikan kerah blazer merah marun yang melekat sempurna di tubuhku. Di sampingku, Arkan duduk dengan posisi tegap, sepasang mata elangnya menatap lurus ke arah jalanan raya melalui jendela kaca dengan sorot mata yang sedingin es. Aura dominasi dan wibawa protektifnya yang pekat selalu memberikan rasa aman yang mutlak di dalam dadaku."Ada dua buah mobil minibus hitam tanpa plat nomor resmi yang sejak tadi membuntuti kita dari jarak lima ratus meter di belakang, Tuan Arkan," lapor Leo yang duduk di kursi depan dengan nada suara rendah ya
Kemeriahan pesta dansa amal tahunan keluarga besar Mahendra perlahan mulai meredup seiring dengan berlalunya waktu paruh malam. Tepuk tangan palsu dari kaum sosialita elite kota yang semula menggema riuh kini telah berganti dengan keheningan pekat saat mobil limosin mewah kami membelah jalanan protokol kota yang sunyi. Pengakuan resmi dari Nyonya Besar Mahendra di depan panggung megah tadi telah mengunci posisiku sebagai calon menantu tunggal yang sah, sebuah tamparan keras bagi siapa saja yang dulu meremehkan keberadaanku.Aku bersandar pada jok kulit limosin yang empuk, menatap keluar jendela kaca dengan sepasang mata yang sedingin es. Di sampingku, Arkan menggenggam erat jemari tanganku dengan telapak tangan kekarnya yang hangat, menyalurkan aliran ketenangan dan wibawa protektif yang mutlak ke dalam jiwaku. Sentuhannya seolah menegaskan bahwa aku tidak perlu lagi mencemaskan duri-duri yang bertebaran di kalangan elite atas."Kamu telah memenangkan panggung pertamamu dengan sangat
Langkah kaki tegap para petugas keamanan Mahendra Group yang menggiring Pak Setiawan dan Clara keluar dari aula pesta dansa amal seolah menjadi penutup dari drama perlawanan putus asa aliansi mereka malam ini. Keheningan yang mutlak kini kembali menguasai seisi aula besar yang bertabur cahaya keemasan, menyisakan tatapan mata penuh rasa segan, takjub, dan ngeri dari ratusan pasang mata kerabat besar Mahendra yang menyaksikan bagaimana caraku meruntuhkan tuduhan hukum mereka dalam hitungan menit.Aku menarik napas dalam-dalam secara teratur, merapikan siluet gaun malam hitam legam model mermaid milikku dengan keanggunan yang kokoh. Arkan melangkah tegap di sampingku, melingkarkan tangan hangatnya yang kekar di pinggangku dengan gerakan yang sangat protektif, mengunci pandanganku penuh dengan kehangatan pekat yang membuat seluruh gejolak di dalam dadaku mendadak reda.Nyonya Besar Mahendra yang sejak tadi duduk diam menyimak jalannya konfrontasi dari kursi utama panggung, akhirnya bangk
Alunan musik orkestra klasik yang semula menggema megah di seluruh penjuru aula pesta dansa amal Mahendra Group mendadak terhenti secara instan. Suara geseran pintu gerbang ganda di ujung aula terdengar begitu keras, memutus ketegangan yang baru saja kubangun bersama Arkan di depan para direktur senior.Semua pasang mata dari kalangan konglomerat dan kerabat besar yang hadir seketika memutar arah pandangan mereka dengan raut wajah yang pucat pasi dan dipenuhi rasa terkejut yang luar biasa. Mereka berbisik-bisik, mengira panggung kejayaanku yang baru saja diakui oleh Nyonya Besar Mahendra akan hancur berantakan malam ini.Sesosok pria paruh baya dengan langkah kaki yang terburu-buru dan napas yang memburu menahan panik melangkah masuk ke dalam aula, didampingi oleh dua orang pengacara senior. Pria itu adalah Pak Setiawan—ayah kandung dari Sarah. Kehadirannya di tempat ini tentu bukan sebuah kebetulan semata.Di sampingnya, Clara melangkah mengekor dengan gaun putih mewahnya yang anggun
Langkah kakiku yang teratur bergaung halus di sepanjang koridor eksklusif yang menghubungkan ruang tunggu privat dengan aula utama gedung pertemuan keluarga besar Mahendra. Sentuhan hangat tangan kekar Arkan yang kokoh di pinggangku memberikan wibawa protektif yang tidak kasat mata, menstabilkan gejolak debaran halus yang sempat merayap di dalam dadaku akibat interaksi intim kami tadi. Di belakang kami, Leo berjalan mengekor dengan langkah tegap sembari meletakkan ponselnya kembali ke dalam saku jas, setelah memastikan video rekaman kegilaan Rendra di dalam sel isolasi sukses dilempar ke media nasional."Pintu di depan kita adalah batas antara ruang privat dan panggung penuh duri, Kinanti," suara bariton Arkan mendadak memecah keheningan koridor, terdengar begitu rendah dan menekan tepat di dekat telingaku. Sepasang mata elangnya menatap lurus ke depan, ke arah pintu gerbang ganda berbahan kayu mahoni berlapis emas yang dijaga ketat oleh dua petugas berseragam. "Begitu pintu itu diges







