Masuk"Hi, guys. Udah pada makan?"
Erina mengangkat sebelah tangannya menyapa tiga pemuda yang baru masuk ke pantri lantai satu. Mereka memakai seragam putih-hitam, kemungkinan karyawan baru yang butuh sekitar tiga hari lagi untuk diperbolehkan pakai pakaian formal bebas.
"Udah, Mbak. Mbak Erin baru mau makan?" Pemuda berambut cepak menjawab. Dia duduk di kursi dekat pintu. Kedua temannya saling menyikut, jelas salah tingkah disapa wanita seksi paling populer di kantor ini.
"Iya nih."
Erina meletakkan pisang Sunpride dan satu bungkus kopi di atas meja keramik. Entah kenapa sejak masuk ke kantor ini dia justru jatuh cinta pada kopi sachet yang rasanya terlalu manis. Makan siang berat hampir tidak pernah menjadi pilihannya.
"Makan apa kalian tadi?"
"Nasi kotak, Mbak.” Kini pemuda berkacamata yang menjawab. Dia terkikik sendiri setelah berhasil bicara tanpa gemetar.
"Emangnya Mbak Erin nggak pernah makan katering?" Si rambut cepak bertanya lagi, tak ingin kalah.
Erina menunjukkan pisangnya. "Saya paling makan beginian."
Pemuda yang tak kebagian bicara menyenggol lengan pemuda berkacamata. Mereka bertiga saling menatap penuh arti dan melihat pisang di tangan Erina.
"Ngilu euy, Mbak, lihatnya." Si cepak lah yang menyuarakan isi pikiran kedua temannya. Mereka lanjut tertawa sambil menutup muka.
Erina tertegun sesaat. Dia melihat pisang di tangannya, melihat lagi ke para pemuda itu. Dia hanya ikut tersenyum tipis.
Namun di balik senyum itu, dadanya terasa sedikit sesak.
Dia bahkan belum mengenal mereka. Anehnya mereka sudah merasa cukup akrab untuk melempar candaan yang agak kelewatan.
"Lihat begini doang udah ngilu?" Erina mengusap pisang itu perlahan dari ujung ke ujung. Tatapan tiga pemuda itu langsung terpaku.
"Gini baru ngilu."
Krek.
Dengan satu hentakan, pisang itu dipatahkan menjadi dua.
"Waduh..." Tiga orang itu spontan mengaduh bersamaan.
Sarat kemudian pintu pantri kembali terbuka.
Seorang lelaki jangkung masuk sambil menggotong dua dus air mineral.
Erina refleks menoleh.
Si Mas-Mas IT kemarin.
Akmal berjalan melewatinya tanpa ekspresi. Dia memakai kemeja navy yang lengannya tampak kusut bekas digulung. Rambutnya sedikit panjang, kumis tipis menghiasi wajahnya, sementara tubuh kurusnya justru terlihat proporsional.
Ia menaruh dus di sudut ruangan di atas tiga tumpukan dus lain. Ia menepuk kedua tangannya, berseru kencang ke orang di luar pantri, "Pak Wahyu, udah semua kan?"
"Udah, Mas Akmal!" Jawaban dari luar.
Akmal mengangguk singkat. Dia lalu berjalan menuju dispenser untuk mengambil air minum.
Erina diam-diam melirik tepat ketika lelaki itu kembali menggulung lengan kemejanya. Urat tangannya terlihat jelas. Sepertinya dia tipe kurus yang atletis, terlihat dari bahunya dan otot punggungnya yang menonjol.
Gadis itu menelan ludah.
Lalu terhenyak seolah baru sadar.
Sejak kapan seorang Erina tertarik duluan dengan seorang lelaki? Apalagi lelaki yang sekaku ini?
Belum sempat dia mengalihkan pandangan, suara salah satu pemuda tadi kembali terdengar.
"Ayo kulum dong, Mbak Erin."
Telinga Erina terasa berdenging, tak percaya pada apa yang dia dengar.
Akmal pun sampai menghentikan gerakannya.
Dia menoleh ke Erina yang terdiam. Tatapannya berpindah ke arah tiga pemuda itu.
"Maksud lo apa?"
Suara beratnya membuat udara terasa lebih dingin.
Ketiga pemuda itu saling pandang.
"Nggak kok, Mas. Kita cuma bercanda," si pemuda berkacamata menyahut setelah disikut kedua temannya.
"Canda?" Akmal kembali menaruh gelasnya di atas dispenser. "Canda apanya?"
"Kita lagi lihat Mbak Erina makan pisang."
Akmal memandang Erina.
Gadis itu masih memegang dua potong pisang dengan wajah yang sulit dijelaskan. Marah, malu, sekaligus bingung. Terlebih Erina kesal tak bisa mengontrol wajahnya waktu ditatap Akmal.
Pandangan Akmal kembali beralih ke si kacamata. Ketiganya kini otomatis menunduk. "Balik sana! Udah pada makan, kan?”
"Masih jam istirahat, Mas," si cepak memberanikan diri menjawab tanpa melihat Akmal.
"Lo lupa aturan HRD? Pantri dipakai buat makan. Bukan buat nongkrong sambil ganggu orang."
Akmal melipat kedua tangannya saat mereka masih tak bergerak sama sekali.
"Atau mau gue laporin HRD sekalian biar disuruh baca ulang buku saku karyawan?"
Tiga pemuda itu kembali saling pandang.
Baca ulang buku saku karyawan setebal kitab? Ancaman itu terdengar jauh lebih menyeramkan daripada dimarahi.
Tanpa banyak bicara, mereka buru-buru keluar meninggalkan pantri.
Erina merapatkan bibirnya. Seluruh tubuhnya terasa lemas. Dia menyandarkan punggungnya ke dinding, menatap lantai dengan pandangan blur.
Baru kali ini dia merasa sangat dilecehkan. Masalahnya ini bukan orang asing. Ini adalah tiga pemuda yang nantinya akan bertemu dengan dia setiap hari. Kalau pertemuan pertama saja sudah begini, bagaimana ke depannya?
"Jangan ditanggapin bocil-bocil itu." Akmal mengambil gelasnya lagi, menekan tuas dispenser hingga gelas penuh. Dia meminum air putihnya sampai habis.
Erina masih di posisi sama. Otaknya kacau. Pikirannya tak bisa dia genggam.
Namun wajah itu muncul persis di depannya.
Sepasang mata yang dalam, alis tebal, hidung mancung agak melengkung, kumis dan jambangnya membuat wajah dia tampak acak-acakan. Tapi justru perlakuannya memberikan kesan manis yang kontras. Dahi lelaki itu berkerut. “Lo gak apa-apa, kan?”
Erina berdiri tegak kembali. Dia berkedip cepat, kikuk. “Ya.”
Tak diduga Akmal malah mengambil pisang dari tangannya. “Sini ke atas bareng gue. Takutnya mereka masih pada nongkrong di sudut tangga nungguin lo. Kalau kopinya nanti gue minta si Ujang bikinin. Biar dianter ke ruangan lo.”
Erina berusaha menjabarkan situasi ini. Jadi Akmal membawakan pisangnya dan mau mengantarkan Erina ke ruangannya? Situasinya agak aneh karena lelaki itu mengatakannya dengan datar. Tak ada nada godaan atau perhatian.
Tapi ini terlalu manis!
“Udah ayo. Jalan di belakang gue.”
Tak menunggu jawaban, Akmal berjalan lebih dulu. Meninggalkan Erina yang kini menemui versi dirinya yang tak pernah dia temui sebelumnya.
Erina yang malu-malu, canggung, gemas sampai akhirnya dia tersadar tersenyum lebar. Melangkah cepat agar tak ketinggalan Mas Akmal, pria asing yang telah berhasil menumbuhkan bunga-bunga kecil di hatinya.
"Sahabat atau pasangan?" bisik Akmal pada dirinya sendiri.Pertanyaan itu terasa amat berat. Bagi Akmal, jawabannya sangat tergantung situasi. Saat sendiri, hanya sahabat yang menemani. Namun ketika komitmen baru hadir, waktu untuk kawan tentu berkurang karena ada prioritas yang harus diutamakan.Akmal sebenarnya tak tega saat melihat Raya tergopoh-gopoh menghampirinya waktu api unggun dinyalakan. Raya memintanya menemani Kia di villa karena anaknya terus rewel. Namun, Akmal tak bisa mengiyakannya. Selain memiliki janji dengan Erina, keberadaan Fiki suami Kia harus sangat ia hormati.Akmal duduk di posisi paling ujung lapangan, memegang rokok yang menyisa ujungnya. Dari posisinya, ia menyaksikan Fiki menggenjreng gitar akustik membawakan lagu 'Tak Segampang Itu' bersama band-nya. Insting Akmal membuatnya menengok ke kiri. Erina tampak berjalan riang menghampirinya dengan atasan kemeja flowy dan celana putih. Akmal buru-buru mengelap permukaan rumput dengan tangannya agar Erina tak me
"AAA!"Erina berteriak kegirangan sembari menutup mulutnya rapat-rapat di dalam kamar mandi.Beberapa jam terakhir terasa bagai mimpi indah. Sensasi melayang dan bayangan pelangi seakan tak mau hilang dari pandangannya. Usai berendam di bathtub berbusa merah muda wangi bunga, barulah kesadarannya pulih utuh.Jadi, semua ini nyata? Akmal benar-benar sudah resmi menjadi miliknya?Erina buru-buru membilas tubuhnya di bawah shower. Ia memilih memakai piyama satin putih, lengkap dengan skincare, maskara, dan
"Selamat sore para karyawan dan karyawati PT Ang Siwa Pintar Indonesia!" Rendy Kharisma, pria bertubuh gempal sang MC acara, menyambut lebih dari lima puluh peserta family gathering yang duduk di rumput empuk."Saya senang sekali bisa hadir di sini, bertemu rekan-rekan yang luar biasa bersemangat. Ya iyalah semangat, masa liburan gak semangat sih?" lanjut Rendy disambut sorakan tunggal Steve yang membuat semua orang tertawa."Nah, yang suaranya paling kencang biasanya tekanan kerjanya paling berat. Betul gak, Pak?" goda Rendy. Steve kembali berseru menyetujui, memancing gelak tawa untuk kedua kalinya.Rendy lantas membacakan susunan acara sore hingga malam nanti: pembukaan, game anak, game kekompakan, istirahat, lalu dilanjutkan pengumuman hadiah, penampilan band Bridgewall, api unggun, dan makan bersama. Ia juga mengingatkan peserta yang memiliki kendala fisik untuk melapor ke staf bertopi atau berkaos putih."Siap semuanya?" seru Rendy memandu. Jawaban serentak mengudara di area ter
"Mas Akmal? Tidur?"Ridwan menyenggol lutut Akmal dengan lututnya."Gak," sahut Akmal singkat sambil menggulir layar ponselnya sampai ke bagian bio Instagram Erina. Highlight di instastory-nya kosong.Bus family gathering Ang Siwa Learning Center sudah masuk area pegunungan.Jalanan berkelok, pepohonan rimbun, dan sawah membentang luas membuat Akmal mual. Pura-pura tidur pun tak membuatnya berhasil tidur betulan.Apalagi dia harus duduk di kursi bus paling pojok kanan. Nasib lajang, bus depan dipenuhi karyawan yang membawa keluarga. Nyanyian karaoke ibu-ibu bersahutan dengan tangis bayi. Harapan Akmal duduk di samping Erina pupus karena Nathan yang dipaksa ikut Pak Rudolf takut mabuk dan memilih duduk bersama Jessica, adik Xavier. Sementara Xavier dan Erina di tiga bangku depan tampak membuang muka sepanjang jalan.Sambil memeluk perut dengan bantal Arsenal milik Ridwan, Akmal membuka maps di ponselnya. Masih ada empat puluh lima menit lagi menuju villa di atas gunung. Semakin meliha
"Sabar ya, sebentar lagi sampe busnya," bisik Akmal.Erina mendelik ke arah Akmal. Kencan romantis dengan perjalanan panjang yang dibayangkan Erina tak seindah kenyataan. Karena beberapa menit kemudian dia sudah berdiri di halte TransJakarta bersama belasan orang lain tanpa jarak. Berbagai aroma parfum bercampur menohok hidungnya hingga ia susah payah menghirup udara malam Jakarta.Akmal sih enak hanya membawa dompet di kantong kemeja, sementara Erina harus memeluk erat tas tangan besarnya yang berisi powerbank, hand sanitizer, dan perintilan lainnya.Lampu TransJakarta dari kejauhan membuat semua orang bersiap dan agak mendorongnya maju. Erina yang belum pernah naik ini sama sekali tak kebayang harus berdiri berdempetan di dalam. Belum sempat melamun, tangan kanannya tiba-tiba digenggam erat.Kejadiannya sangat cepat. Bus berhenti, pintu terbuka, tangannya ditarik sekuat tenaga, dan tubuhnya terpontang-panting menubruk seseorang. Tau-tau dia sudah duduk di bangku kanan, di samping se
"Lama amat di sini, Cok. Gak takut kesambet?"Muka lonjong dengan dahi berminyak milik Steve menyembul dari balik pintu hitam Studio Enam. Ia bersandar di kusen, bersidekap dengan senyum tengil yang selalu membuat Akmal ingin melemparnya pakai mouse.Tak biasanya Studio Enam dijadikan ruang kerja. Bau besi menguap di seluruh sudut, AC-nya berisik, dan ada rumor penampakan kuntilanak di pojok ruangan. Tapi Akmal tak peduli. Pilihan lainnya cuma mendengar ocehan Steve soal keberhasilannya mendapat ijin dari bos pusat untuk sewa ruko sebelah sebagai proyek perluasan kantor.Akmal melambai ramah ke sudut ruangan yang kosong.` "Nggak. Udah jadi bestie gue sama si Mbaknya.""Oh ya, mirip sih kalian," kekeh Steve ikut melambai ke arah kosong itu. "Anyway, gue mau meeting sama vendor aplikasi, titip kantor ya. Ada tiga studio aktif shooting dan dua studio webinar. So far aman.""Meeting sama yang mana lagi? Bukannya vendor yang gue pilih kemarin katanya gak cocok semua?" tanya Akmal heran. Bu







