登入"Memangnya kamu harus nginep di hotel ya, Kak, sepulang acara nanti?"Rudolf memperhatikan anak pertamanya yang duduk menyantap sandwich telur di meja makan. Erina memakai tank top biru dengan jas kelabu yang disampirkan di kursi. Nathan sudah pergi sejak pagi mengantar Mama Christy ke workshop kesehatan."Erin dapet salah satu kamar free dari kantor untuk ruang dandan cewek, Pa. Kan sayang jatah kamarnya kalau gak diambil," jawab Erina santai sambil mengunyah."Tapi kamu nanti sama siapa? Mau Papa suruh Nathan nyusul ke hotel?" tawar Rudolf khawatir."Ih, jangan lah, Pa. Ada Mbak Kia kok, HRD super jujur yang udah nikah. Kita gak bakal selundupin orang," potong Erina cepat.Rudolf tetap menatap anaknya penuh selidik, teringat trauma masa lalu saat Erina berhubungan dengan pria berandalan. Namun, Erina berhasil meyakinkan sang papa bahwa dirinya kini sudah lebih dewasa, rajin kerja, dan tidak lagi suka keluyuran kelab malam.Setibanya di venue acara rapat kerja, Erina sibuk memulas bi
"Lho, Mas? Tumben pulang jam segini?"Suara Bi Lasmi menyambut Akmal saat Toyota Rush putihnya masuk ke garasi rumahnya di Jakarta Timur. Wanita paruh baya bertubuh mungil itu bengong melihat kedatangan Akmal di Sabtu sore."Iya nih, Bi. Saya mau ada acara, jadi gak pulang ke Tangerang dulu," sahut Akmal seraya mengambil tasnya dari jok samping."Malam minggu kan yo, Mas? Mas Akmal mau malam mingguan tah?" selidik Bi Lasmi dengan mata berbinar. "Oalah, akhirnya, Mas! Kapan mau dibawa ke sini?""Ah, nggak kok, Bi. Baru temen aja." Senyum di wajah Akmal tak bisa bohong saat Bi Lasmi menggoda dan mendoakannya.Setelah masuk ke rumah, Ia memilih bersantai sejenak, duduk bersila di rumput sintetis taman belakang, menikmati suara kucuran air dan memandangi dua ikan koi yang berenang riang.Namun, kedamaian itu terhenti saat panggilan video call dari Ibunya masuk. Wajah wanita berambut bob itu tampak khawatir dari layar."Kamu betul gak pulang nak? Kamu mau pergi dengan seseorang?" tanya Ib
"Gini ya kerjaan orang D3?"Akmal mengumpat kesal seraya menggulung lengan kemeja putihnya. Di jam istirahat kantor, dia terpaksa melipir ke studio enam yang berdinding peredam suara kotak-kotak hitam. Hanya ada satu lampu redup yang menyala di ruangan itu.Debu-debu tampak berterbangan di sekitar tumpukan tripod dan softbox terlipat yang menggunung. Steve menugaskannya untuk mengelap serta mendata barang yang rusak. Akmal mengambil satu lap di meja sudut, lalu berjongkok mengecek knop tripod yang sekali putar langsung copot."Kurang apa gue? Kurang gelar!" bentak Akmal seraya melempar tripod rusak itu ke tengah ruangan.Sebagai pegawai lama, Bu Berta pernah memperingatkannya bahwa Akmal takkan bisa jadi manajer tanpa gelar sarjana. Padahal Akmal selalu menyelesaikan tugas dari Bu Berta, mulai dari urusan IT, membenarkan keran air, hingga mengganti AC."Yang gelarnya tinggi tapi kerjanya ngang-ngong? Gaji belasan juta, manajer pula!" umpatnya seraya menggosok lap sekuat tenaga pada kot
"Mbak Erina, kan?"Erina menghentikan langkahnya yang baru saja masuk ke Kafe Moonga untuk makan siang hari ini. Di pojok ruangan, sepasang pria dan wanita melambai semangat ke arahnya."Ya, betul. Sorry, kalian siapa ya?" tanya Erina bingung."Duduk, duduk, Mbak!" Si pria memundurkan kursi di sampingnya dengan ramah.Erina menangkap sinyal positif dari gaya trendi dan senyum mereka. Pria itu memakai kemeja oversize hijau sage dengan gaya comma hair, sementara si wanita mengenakan dress sabrina. Dia duduk dengan nyaman bersama mereka."Pertanyaan lo barusan mengonfirmasi ketidakpopuleran kita sebagai karyawan Ang Siwa Learning Center," ujar si pria bersungut-sungut."Padahal kita ini sales, Mbak! Ujung tombak perusahaan!" sahut si wanita tak terima."Betul banget!" seru si pria heboh.Memang hanya beberapa karyawan yang Erina kenal, lagipula dia tak punya alasan berkumpul dengan yang lain selama di kantor.Dulu Erina sering menghampiri tim kreatif. Namun, divisi lima orang itu disuruh
"Kalau dipikir-pikir ya, apa sih spesialnya lo?"Erina meracau sendiri seperti orang bloon di depan PC-nya. Pisang di tangan kanannya tinggal setengah, sementara matanya tertuju pada foto profil LinkedIn Akmal. Pria itu memakai jas keren dengan senyum lebar yang sangat jarang diperlihatkan secara langsung."Lo cuma mas-mas biasa yang jutek, sok eksklusif, dan bukan tipe gue banget," gumam Erina sambil menggigit pisangnya. "Tapi ... something about you makes me feel like a dangerous woman."Momen halu Erina mendadak dikacaukan oleh suara pintu yang terbuka. Tangannya bergerak cepat menutup browser, menghilangkan jejak stalking-nya. Xavier masuk dengan wajah sinis memandangnya."Gue mau meeting darurat sama lo, disuruh Bu Berta," kata Xavier sinis."Oh. Duduk deh, Vi," balas Erina santai.Xavier meletakkan ranselnya yang super berat, lalu membenarkan kacamata. "Mengenai rapat kerja tahun ini, Rin. Berhubung lo gak punya divisi, lo jadi penanggung jawab acara. Nanti tim intinya ada gue, l
"SAYA GAK BISA TOLERANSI!"Bu Berta sudah berdiri tegak di tengah ruangan dengan mata melotot. Suara melengking tantenya itu sukses membuat suasana kantor seketika hening mencekam."SIAPA YANG BERANI MAKAN ES KRIM DURIAN DI KANTOR?!" bentak Bu Berta lagi. "Kalau tidak ada yang mengaku, saya minta Akmal putarkan CCTV sekarang!"Erina melirik Akmal yang tentu saja tidak balas menatapnya. Iyalah, selera Akmal kan wanita dewasa. Mungkin yang modelannya seperti Bu Berta. Tapi hari ini Akmal pakai kemeja pink pastel, warna yang manis untuk tubuh perseginya yang kokoh. Melihatnya sedetik saja cukup membuat Erina memalingkan wajah, takut makin nambah naksir padanya."AKMAL, CARI VIDEO CCTV-NYA KIRIM KE SAYA!" sentakan Bu Berta menggelegar mengejutkan Erina."Baik, Bu," jawab Akmal, segera duduk dan fokus ke komputernya.Hening terpecahkan dengan hentakan sepatu pantofel Bu Berta yang menuruni tangga. Seperti biasa, Xavier di belakangnya, namun lelaki itu berhenti dulu di depan Erina."Bantu k







