Mag-log inDi rumahnya sendiri, Luna (18 tahun) hanyalah seorang gadis yang terasing, selalu menerima perlakuan tidak adil dari orang tuanya. Namun, takdir malam itu membawanya ke sebuah gang gelap, mempertemukannya dengan Arga, seorang ketua gangster yang sedang sekarat dengan luka tusuk parah di perutnya. Dikepung rasa takut dan kepanikan, sebuah ide gila muncul di benak Luna. Ia memutar audio sirine polisi dari ponselnya, berhasil membuat gerombolan penjahat yang mengejar Arga lari kocar-kacir. Saat suasana aman, dengan tubuh gemetar hebat, Luna mendekat untuk menolong. Namun tak disangka, tangan dingin Arga justru meraih dan menggenggam erat tangannya—sebuah genggaman yang mengikat takdir mereka berdua. Bagi Luna, Arga hanyalah seorang preman jalanan yang sedang tidak beruntung. Namun bagi Arga, ketulusan dan keberanian gadis muslimah itu telah mencuri seluruh hatinya. Arga bertekad melindunginya dari dunia yang kejam. Namun, akankah cinta itu bertahan saat satu per satu rahasia gelap dan masa lalu berdarah milik Arga mulai terkuak? Bisakah sang bidadari bertahan di sisi sang ketua gangster, atau ia memilih pergi menjauh?
view moreSejak kejadian kelam itu, hubunganku dan Ayah merenggang jauh. Ayah tak lagi seramah dulu. Sikap dinginnya seolah membangun benteng tinggi yang memberi jarak di antara kami. Kehadiran Lisa, ibu tiriku—wanita yang beberapa bulan ini Ayah nikahi—justru memperburuk segalanya. Dia selalu menyiksaku secara mental, menjadikanku kambing hitam atas setiap kesalahan yang sengaja ia buat sendiri.
"Lihatlah, Mas! Gara-gara Luna, baju kesayanganku jadi rusak!" celoteh ibu tiriku tak henti-hentinya malam itu. Wajahnya dibuat memelas, seolah-olah dia adalah korban sejati. Padahal, dia sendiri yang menggunting kain tersebut. Sorot mata Ayah langsung menajam menatapku. "Luna! Apakah kamu tidak bisa bekerja dengan baik di rumah ini? Kamu pikir cari uang itu mudah? Sekarang ikut Ayah!" Tanpa mendengar penjelasanku, lenganku ditarik paksa menuju dapur. Ayah menyambar sapu lidi di sudut ruangan, lalu memukul punggung tanganku berulang kali. Ingin rasanya aku berteriak dan memberontak, tetapi aku menahannya dengan gigitan bibir yang erat. Sakit ini tidak hanya membekas di fisik, melainkan menghancurkan hatiku hingga berkeping-keping. Ayah yang seharusnya menjadi pelindung utama putrinya, kini dengan mudah berpaling hanya demi wanita yang baru dicintainya. "Rasakan itu!" sindir ibu tiriku sambil menyunggingkan senyum kemenangan saat Ayah berbalik pergi. Aku tidak melayani ucapan itu. Dengan air mata yang mengalir deras, aku berlari menuju kamar. Kuambil mukena dan sajadah dari dalam lemari, lalu bergegas keluar rumah menuju masjid yang terletak beberapa ratus meter dari rumah. Di sanalah tempat ternyaman bagiku untuk menumpahkan segala sesak dan mencari ketenangan yang direnggut dari hidupku. Malam semakin larut dan sunyi. Hujan deras menghiasi langit malam. Aku melangkah keluar dari gerbang masjid dengan cepat karena takut kemalaman. Udara malam begitu dingin hingga menusuk kulitku. Aku berjalan lambat di atas trotoar sepi, enggan untuk cepat-cepat kembali ke rumah yang kini terasa bak neraka. Namun, langkahku mendadak terhenti saat hendak melewati sebuah gang sempit yang gelap. Bugh! Brakkk! Suara hantaman keras bergema memecah kesunyian malam. Jantungku berdegup kencang. Naluriku berteriak menyuruhku untuk berlari, tetapi rasa penasaran justru menahan kakiku. Dengan tubuh gemetar, aku memberanikan diri mengintip dari balik dinding retak yang gelap. Di bawah temaram lampu jalan yang berkedip-kedip, seorang pria kekar berjaket kulit hitam tengah dikepung oleh sekelompok pria berbadan besar. Senjata tajam berkilatan di tangan para pengeroyok itu. Pria berjaket kulit itu adalah Arga. Awalnya, dia bertarung dengan sangat mengerikan. Gerakannya tangkas dan mematikan. Namun, jumlah musuh terlalu banyak dan mereka mengepungnya tanpa ampun dari segala arah. Kelelahan mulai menguasai tubuhnya saat melihat musuh yang datang seolah tak ada habisnya. Srettt! Bugh! Dua orang pria tiba-tiba mencengkeram kedua tangan Arga dari belakang, mengunci pergerakannya. Di saat yang sama, seorang pria bermata picak memanfaatkan kesempatan itu. Kilatan besi dingin menusuk lurus, menghunjam tepat ke arah perut Arga. "Argh!" Arga mengerang kesakitan. Sebuah pisau menancap dalam di perutnya. Darah segar seketika merembes cepat, membesit jaket kulit hitam yang ia kenakan. Tubuh kekar yang tadinya tampak tak terkalahkan itu mendadak lemas. Arga berlutut di atas aspal dingin sambil memegangi perutnya yang bersimbah darah. "Habisi dia sekarang! Jangan biarkan dia hidup!" seru pria yang memegang pisau, bersiap melayangkan hantaman terakhir yang mematikan ke leher Arga. Melihat pria itu sekarat dan nyawanya berada di ujung tanduk, ketakutan yang tadi kurasakan mendadak sirna. Jiwaku terguncang hebat. Aku tidak bisa membiarkan sebuah pembunuhan terjadi di depan mataku tanpa melakukan sesuatu. Tanpa berpikir panjang, aku keluar dari persembunyian. Aku merogoh ponsel di saku untuk memutar audio sirine polisi dengan volume maksimal. Ide gila itu muncul begitu saja. "Hentikan! Tolong! Ada polisi datang! Di sebelah sini, Pak!" teriakku sekeras mungkin. Aku mengambil batu besar di dekat kakiku, lalu memukul-mukul tiang listrik besi di dekat sana hingga menimbulkan suara dentangan yang memekakkan telinga di gang sepi itu. Aksiku sukses membuat komplotan itu panik. Mereka saling pandang dengan wajah tegang. "Sial, ada warga yang lihat! Sialan, cabut-cabut! Biarkan saja dia mati membusuk di sini!" seru si ketua kelompok. Dalam sekejap, orang-orang berwajah beringas itu berlari meninggalkan gang. Suasana kembali sunyi. Hanya terdengar suara deru napas pria itu yang putus-putus dan tersedak darah. Sambil mengeratkan pegangan pada tas mukenaku, aku melangkah mendekati pria yang kini terduduk lemas bersandarkan dinding retak. Cahaya lampu jalan yang remang-remang memperlihatkan wajahnya yang sangat tampan, namun pucat pasi menahan sakit. Meskipun dalam keadaan sekarat, netra elangnya yang tajam dan pekat mendongak, langsung menusukku dengan tatapan sedingin es. Tangan besarnya yang gemetar mencoba menahan aliran darah yang terus mengucur deras dari perutnya. "To... long aku," lirihnya sambil meraih paksa tanganku yang dingin karena ketakutan. Aku melihat darah yang terus mengalir deras. Jika dibiarkan, dia bisa mati. Akhirnya, aku memutuskan untuk membantunya. Kucoba membopong tubuhnya yang terasa sangat berat. Meski langkahnya tertatih-tatih, dia berusaha kuat untuk tetap tegak. Untung saja, aku memiliki kenalan anak-anak jalanan di sekitar sini. Mereka adalah anak-anak yang sering kuajari membaca di sebuah gudang tua terbengkalai dekat pasar saat aku memiliki waktu luang. Aku memutuskan membawa pria ini ke sana. "Kak Luna, siapa dia?" tanya salah satu anak saat kami tiba. "Sebaiknya kalian jangan bertanya dulu." Aku membaringkannya di atas kardus bekas, lalu berlari sekencang mungkin menuju apotek yang kebetulan masih buka di ujung jalan. Setelah membeli perban, alkohol, dan obat antiseptik, aku bergegas kembali menemukannya. "Maaf," ucapku lirih sambil perlahan melepas jaket kulitnya yang basah oleh darah. Dengan tangan gemetar, aku mencoba membersihkan lukanya, lalu membalutkan perban di sekitar perutnya dengan erat untuk menghentikan pendarahan. "Apa kamu seorang dokter?" Suara berat pria itu memecah keheningan. Mendengar pertanyaan barusan, beberapa anak jalanan yang menemaniku seketika tertawa lepas. "Kak Luna ini bukan dokter, Om. Dia hanya anak sekolah," sahut Dito polos. Pria itu mendadak terdiam. Netra elangnya menatapku lekat, seolah tak menyangka jika gadis sekolah di depannya ini cukup cekatan dalam mengobati luka bekas tusukan yang cukup dalam. "Aku masih sekolah. Kebetulan aku bekerja paruh waktu menjadi asisten dokter di klinik dekat rumah. Beliaulah yang mengajariku dasar-dasar pertolongan pertama seperti ini," ucapku sambil merapikan sisa perban di perutnya. Setelah melihat pria itu perlahan terlelap karena kelelahan, aku pun berpamitan pada anak-anak. Jam sudah menunjukkan tengah malam, dan aku tidak ingin Ayah marah besar karena aku tak kunjung pulang. "Kak Luna yakin mau meninggalkan orang ini di sini sendirian?" tanya Dito ragu. "Yakin. Hanya gudang ini tempat aman yang kita punya sekarang." "Tapi kami takut, Kak. Dia seperti preman. Coba lihat tato besar di lengan dan lehernya," tunjuk Dito yang baru menyadari guratan tinta hitam di kulit pria itu. Aku tertegun sesaat melihat tato tersebut. "Iya juga ya. Pria ini bukan seperti orang baik-baik," batinku khawatir. Aku memandang kembali Dito dan lainnya agar mereka bisa mengerti dengan keadaan ku. "Maafin Kakak ya, Kakak juga tidak bisa berlama di sini. Takut dimarahi Ayah. Malam ini, kalian tidurnya agak jauh saja dari dia! Besok sebelum berangkat sekolah, Kakak janji bakal mampir ke sini lagi, Bagaimana?" Aku mencoba bernegosiasi agar anak-anak mau bekerja sama.Begitu motor klasik hitam itu melaju stabil membelah jalanan kota di bawah langit senja, aku tersadar dari lamunanku. Kata-kata Arga tentang tempat aman, sontak membuat ku berpikiran, jangan-jangan ia akan membawaku ke kontrakannya. Rumahku memang penuh tekanan, tetapi melarikan diri begitu saja hanya akan membuat Ayah murka dan berdosa. Bukan itu saja, masa depanku hancur hanya karena terjebak ucapan Arga barusan. "Kak Arga," panggilku sambil menepuk pundaknya berkali-kali. "Ya? Kenapa, Luna?" sahut Arga tanpa menoleh, matanya tetap fokus ke jalan. "Aku... aku rasa aku harus pulang ke rumah Ayah sekarang," ucapku ragu. Motor mendadak melambat. Arga meminggirkan kendaraannya ke pinggir jalan yang agak sepi di bawah pohon sana, lalu mematikan mesin. Ia membalikkan badannya menatapku. Dahi tebalnya berkerut dalam. "Ada apa denganmu?" tanya Arga, suaranya memberat, kembali memancarkan aura mengintimidasi khas preman jalanan. "Tadi kau sepakat untuk pergi ke tempat aman. Kenapa justr
Bel pulang sekolah melengking panjang. Riuh langkah kaki dan gelak tawa siswa langsung memenuhi koridor. Aku bergerak cepat, meletakkan tas ransel erat-erat di pundak. Aku harus segera sampai ke gerbang sebelum Sarah dan teman-temannya melihatku. Begitu menyusuri pintu pagar besi yang terbuka lebar, langkahku mendadak terhenti. Jantungku berdetak hebat melihat sosok pria di seberang sana. Arga sedang duduk tenang di atas jok motor klasik hitamnya yang besar. Matanya bergerak jeli, meneliti satu per satu murid yang keluar dari gerbang. "Ngapain preman itu ke sini?" batinku menjerit histeris. Penampilannya siang ini sangat mengintimidasi. Ia hanya memakai kaus oblong hitam polos yang memperlihatkan lengan kokohnya, dipadu celana jins gelap yang pudar di bagian lutut. Dengan tatapan galak dan muka sangar, ia tampak persis seperti preman jalanan yang sedang menunggu mangsa. Persis seperti malam itu, saat aku tidak sengaja menolongnya dari keroyokan musuh di gang gelap. Orang-orang
Aroma gurih tumis kangkung dan ayam goreng mentega memenuhi ruang dapur yang sempit. Aku membalik potongan ayam di atas wajan dengan cepat. Air mataku menetes, berbaur dengan uap panas masakan. Dadaku terasa sesak, bukan karena asap dapur, melainkan oleh kenyataan pahit yang baru saja aku alami. "Luna! Lama banget sih? Kamu niat masak enggak, sih?!" Suara lengkingan Ibu tiriku dari arah meja makan membuatku tersentak. Aku buru-buru menyeka pipi dengan ujung lengan seragam sekolah yang masih kukenakan. "I-iya, Bu. Sebentar lagi matang," sahutku setengah berteriak, berusaha menahan getaran di pita suara. Aku menata makanan di atas piring putih, lalu membawanya ke meja makan dengan kepala tertunduk. Di sana, Ayah, Ibu tiriku, dan Alena sudah duduk melingkar. Tawa renyah Alena langsung terhenti begitu aku meletakkan mangkuk berisi makanan di tengah meja. "Aduh, Luna. Kamu masak pakai baju sekolah kotor begitu? Jorok banget deh. Lihat tuh, ada bekas tanah lagi di roknya," ci
"Punya mata itu dipakai, Luna! Makanya jangan sok polos kalau di kelas!" Suara melengking itu milik Sarah. Detik berikutnya, hantaman keras mengenai bahuku. Tubuhku terhuyung ke depan. Buku-buku catatan fisika dan biologi yang sejak tadi kupeluk erat langsung terlepas, berserakan di atas aspal. Aku berlutut untuk memunguti buku-buku yang terjatuh. Jantungku berdegup dua kali lebih cepat. Bukan karena lelah berjalan kaki, melainkan rasa takut yang mendadak melumpuhkan akal sehatku. Plak! Sebuah ujung sepatu pantofel hitam yang mengkilap sengaja menginjak sudut buku latihan tugasku. Di atas kertas putih bersampul cokelat itu, kini tercetak bekas tanah yang kotor. "Eh, sori. Enggak sengaja," ucap Sarah dengan nada yang sama sekali tidak terdengar menyesal. Ia tertawa renyah, menoleh ke arah dua temannya, Mami dan Kesya, yang langsung menyambut tawa itu. "Makanya, Luna, kalau jalan itu lihat depan. Jangan merunduk terus kayak orang bawa dosa sekelurahan," timpal Mami, me






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.