LOGINIn an attempt to save his pack, Alpha Shawn wedded his son, Nath, to a strong lycan family. An unlikely threat to this alliance arises from Nath's relationship with Kate, his fated mate, a wolfless orphan with hidden powers. This is especially true after Kate is falsely accused of poisoning Alpha Shawn and is about to be put to death, but Nath, her fated mate and heir to a hidden throne, senses her innocence and swears to protect her, defying his father's order. Nath is compelled to participate in a potent soul transfer ceremony as their illicit love blooms, which places him in the body of a fallen King from a rival pack and starts a vicious struggle for justice and supremacy. In order to heal the division between their packs and recover their
View More"Kamu sepertinya menikmati sekali mandi keringat begitu, Rus."
Suara itu terdengar lembut, namun dampaknya seketika membuat tubuh Rusdi membeku. Gunting rumput di tangannya berhenti di udara. Lantas, saat ia berbalik badan, napasnya langsung tercekat karena melihat siapa yang berdiri di sana.
Ternyata itu Nyonya Vivian.
Akan tetapi, penampilannya hari ini sungguh berbeda. Tidak ada pakaian kantor yang kaku atau gaun pesta mewah seperti biasanya.
Kali ini, hanya sehelai lingerie sutra merah menyala yang membungkus tubuhnya. Kain itu begitu tipis dan licin, jatuh pas mengikuti lekuk pinggang serta pinggulnya.
Apalagi ketika angin siang menyingkap sedikit ujung gaun itu, paha putih mulusnya terpampang nyata.
Pemandangan itu sangat kontras dengan tangan Rusdi yang kotor dan kasar akibat tanah kebun.
Rusdi merasa darahnya langsung naik ke wajah, lalu turun ke bawah perut dalam satu tarikan panas yang menyakitkan. Ia buru-buru menunduk, mencoba menghindari pemandangan itu, tapi sudah terlambat.
Bayangan tubuh Nyonya Vivian sudah muncul di matanya, lekuk pinggul yang menggoda, dada yang naik-turun pelan mengikuti napasnya, dan bibir merah yang sedikit terbuka seolah menanti sesuatu.
Pria normal jelas akan terbuai dengan kemolekan tubuh Vivian. Tak terkecuali Rusdi!
“Nyo—Nyonya?” suaranya serak, hampir pecah. Ia tahu diri, siapa dirinya saat ini.
"Kenapa menunduk?" Vivian terkekeh pelan seraya melangkah maju tanpa alas kaki. "Saya justru suka pemandangannya."
Sekarang jarak mereka hanya beberapa senti. Rusdi bisa melihat renda tipis lingerie itu dari dekat, bisa merasakan panas tubuhnya.
Vivian mengangkat tangan kanannya perlahan. Jari-jarinya hampir menyentuh dada Rusdi, tapi berhenti tepat sebelum bersentuhan.
Seketika itu juga, wangi parfum mahal menyerbu hidung Rusdi, mengalahkan bau tanah maupun sengatan matahari.
Rusdi menelan ludah keras. Tubuhnya bereaksi tanpa izin. Di bawah sana ada sesuatu yang mengeras di antara pahanya yang ia coba abaikan dengan sekuat tenaga.
Ini Nyonya Vivian, majikannya. Wanita yang selama dua tahun ini ia panggil “Nyonya” dengan hormat, yang selalu berdiri jauh di balik tembok es sikapnya yang dingin.
Para pekerja menyebutnya “Putri Salju” karena kulitnya yang pucat dan tatapannya yang tak pernah benar-benar melihat mereka.
Namun siang ini, tembok es itu seakan runtuh sepenuhnya.
"Gerah sekali ya ..." bisik Vivian.
Rusdi merasakan telunjuk Nyonya Vivian yang lentik menyentuh lengan. Sentuhan itu ringan, tapi langsung membuat otot lengannya mengeras.
Kulit Nyonya Vivian dingin dan halus, sangat kontras dengan lengan Rusdi yang kasar dan panas oleh matahari siang.
“I-iya, Nyonya. Panas,” jawab Rusdi. Suaranya parau, tenggorokannya mendadak kering.
Vivian tersenyum kecil, matanya menyipit sedikit. Ia menarik jarinya perlahan, seolah enggan melepaskan kontak itu.
Rusdi tak bisa menahan diri, pandangannya jatuh ke lingerie sutra merah yang menempel ketat di tubuh Nyonya Vivian.
Kain tipis itu mengikuti lekuk pinggang ramping dan pinggul lebar. Belahan dada dalam terlihat jelas saat ia condong sedikit ke depan.
Vivian tersenyum nakal, lalu menarik jarinya perlahan seolah enggan melepaskan kontak fisik itu.
Jantung Rusdi berdegup kencang, terasa sampai di telinga. Panas naik cepat dari dada ke bawah perut. Celana jeans terasa semakin sesak. Ia buru-buru menunduk, tapi gambar lekuk tubuh itu sudah terpaku di kepalanya.
“Apa Tuan Adrian tidak akan pulang malam ini, Nyonya?” tanya Rusdi, suaranya masih serak.
Ia mencoba mengalihkan pikiran ke Tuan Adrian, suami Nyonya Vivian yang selalu sibuk, sering pergi ke luar kota atau luar negeri, meninggalkan rumah besar ini sepi.
“Tuan Adrian tidak akan pulang malam ini, Rus,” jawab Nyonya Vivian dengan nada rendah dan tenang.
Nyonya Vivian melangkah setengah langkah lebih dekat. Wangi parfumnya langsung menyerbu hidung Rusdi, manis dan kuat, menutupi bau tanah dan keringat di tubuhnya sendiri.
“Oh iya, di kamar saya AC-nya dingin, Rus. Tapi rasanya sepi,” bisiknya lagi, suara penuh undangan. “Saya butuh laki-laki kuat untuk pijat kaki saya. Bukan laki-laki yang sibuk rapat terus. Kamu mau temani saya?”
Jantung Rusdi berdegup gila-gilaan. Walaupun logikanya berteriak bahaya karena takut dipecat jika tidak menuruti majikannya, tapi sebagai pria normal tubuhnya bereaksi lain. Godaan wanita yang biasanya angkuh ini terlalu sulit untuk ditolak.
Vivian tidak menunggu jawaban. Ia lantas berbalik dan membiarkan pinggulnya bergoyang lembut di balik sutra merah itu saat berjalan masuk.
"Jangan kelamaan mikir. Pintunya nggak saya kunci," serunya tanpa menoleh.
Rusdi menatap punggung itu menghilang di balik pintu kaca.
Akhirnya, persetan dengan logika. Ia meletakkan guntingnya di rumput, kemudian melangkah cepat menyusul majikannya. Begitu masuk, udara dingin AC langsung menyergap kulitnya yang basah.
Ketika sampai di dalam kamar utama, lampu temaram menciptakan suasana intim. Vivian sudah duduk di tepi ranjang besar dengan kaki disilangkan anggun sehingga gaunnya tersingkap tinggi.
"Masuk, Rus," perintahnya pelan saat melihat Rusdi di ambang pintu. "Dan kunci pintunya, karena saya nggak mau diganggu."
Rusdi menelan ludah sambil memutar kunci pintu dengan tangan gemetar.
Klik.
Suara itu terdengar sangat keras di telinganya.
Ia berbalik, tetapi langkahnya terhenti sebab ia sadar kondisinya saat melihat cermin besar di sudut kamar. Celana jeans penuh debu tanah, tangan kasar berlumur kotoran.
Di tepi ranjang, Vivian duduk. Ia menyilangkan kakinya, membuat paha mulusnya semakin terlihat. Bahkan, renda dari celana dalamnya sudah mengintip keluar.
Itu jelas membuat Rusdi semakin bergetar. Kapan lagi ia bisa melihat Nyonya-nya dengan pemandangan seperti ini?!
"Maaf, Nyonya," ucap Rusdi ragu sambil mencoba memalingkan wajahnya. "Saya ... saya kotor dan banyak keringat. Nanti seprai Nyonya kotor."
Mendengar itu, Vivian tertawa kecil dengan suara serak yang menggoda. Ia bangkit, lalu berjalan mendekat hingga tubuh mereka nyaris bersentuhan.
Wangi tubuh Vivian bercampur dengan aroma keringat Rusdi, menciptakan sensasi yang memabukkan.
"Siapa bilang kamu harus naik ke kasur sekarang?" bisiknya tepat di depan wajah Rusdi seraya mendongak, menatap matanya dengan lapar.
Vivian meletakkan tangannya di dada Rusdi yang bidang. "Lagi pula, saya bosan dengan segala sesuatu yang terlalu bersih dan rapi seperti suami saya. Saya suka kalau kamu kotor begini. Terlihat lebih... jantan."
KATE“You’re my mate, aren’t you?” Alpha Nath’s deep and resonant voice sent a chill down my spine.I choked on my spit as he spit those words, feeling the mate bond stronger and more alive than ever. The undeniable pull behind me wasn’t just magnetic—it was terrifying.“What is your name?”“K—Kate.” I murmured.I couldn’t turn around. My heart hammered like a rogue drumline.My whole body was in full ecstasy in response to his vibrating tone, but at the same time, I wanted to run.Instead, I croaked, “A-Alpha Nath, I'm...I’m sorry… I didn’t do it. I swear, I didn’t do it. I’m innocent.”The words spilled out without context. What was I even saying? The guilt wasn’t for poisoning anyone but for existing in a place I clearly didn’t belong.“I can feel it,” he said, moving closer. His presence was overwhelming as he moved closer to me.When I finally turned to face him, my eyes met his piercing purple ones. They bore into me like they could extract every secret I’d ever hidden.“I don’t
KATE"Kate, are you listening to yourself?" Lexi's voice cut through the storm in my mind; she kept giving me that confused look and even though I didn't fully understand myself, I was certain of what I had been telling her repeatedly for about twenty minutes.“Lexi, I’m sure of what I’m saying” I muttered, though my voice lacked conviction.“You’re not making sense!” Lexi shot back, crossing her arms. “Alpha Nath? Your mate? Come on, Kate. Don’t be ridiculous.”I stiffened. “I’m not being ridiculous.” My voice wavered, but I stood my ground. “I know what I felt, Lexi. It was... strong. Like a tether pulling me to him.”She rolled her eyes, her expression a mix of disbelief and irritation. “Strong?”“You know what? You seem to have been under too much stress lately. Maybe you mistook an anxiety attack for some mystical mate bond.” “No,” I snapped, my frustration becoming evident.I shook my head, “No, I haven’t felt this way before.” “This isn’t stress. This isn’t just in my head, L
KATE5 DAYS AGOThe courtyard buzzed with the faint hum of conversations and distant laughter, but all of it drowned under the hammering of my heart.A sweet lavender scent wafted toward me, delicate yet overwhelming, curling around my senses like a siren's call. It was intoxicating and unmistakably sweet.As if under the influence of an invisible power, the scent pulled at something deep within me, and before I knew it, I was following it out of the Omega Hostel in swift and quiet steps.And then, I saw him. It was Alpha Nath. Alpha Shawn’s only son and heir.His massive shoulders carried the weight of an unspoken authority as he stood tall and stern. His short, dark hair curved gently at the borders of his forehead, revealing a sharp jawline that appeared to have been carved by the moon goddess herself.His amber eyes, which were evidently capable of commanding armies or—my heart apparently shone faintly in the receding sunlight like pools of molten fire.Between us was a thin, n
KATELexi was my best friend- No! my only friend, actually. She was a fellow omega in the pack, and like me, she’d lived through unimaginable horrors most couldn’t even imagine.I still remember the day she told me about losing her parents. They were slaughtered before her eyes during a pack war when she was just a child.“I was only six when it happened. I remember the screams, the blood, and the way their eyes widened in terror before they… they were slaughtered by a warrior. The war spared no one, not even my parents.”"I'm so sorry, Lexi. No child should ever have to go through that." I tried to console her.She paused and took a deep breath, “It's been years Kate, but the pain remains, and it’s a pain I wouldn't wish on anyone.” Tears stream down her cheeks.Of course, that kind of pain never leaves you. She’d been alone in the world, until she met me, and we’d bonded over our shared loss, our shared misery, over the truth that we were both nothing more than omegas… no, worse tha






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.