Masuk"Kamu ini bagaimana, Wan! aku kan sudah bilang kamu harus memastikan kalau dia meminum obat itu," kesal Amelia dengan raut wajah penuh amarah. "Jangan marahi Pak Awan, saya yang salah, saya yang lupa," ucap Mega. Awan seketika terhenyak, perasaan haru mencuat dari dalam dadanya setelah mendepat pembelaan dari Mega. Amelia menatap Awan dan Mega secara bergantian, nafasnya kembang kempis menahan kekesalan namun segera ia berusaha meredam amarahnya agar Awan tak merasa curiga. "Sekarang ambil dan segera minum obat itu. Memangnya kamu mau seperti ini terus," ucap Amelia dengan nada mengomel. Mega mengangguk, baru saja akan melangkah namun Awan segera mencegahnya, "biar aku saja yang ambil," Mega menoleh pada Awan lalu perlahan ia gelengkan kepalanya, "tidak apa-apa, biar saya ambil sendiri," tolak Mega. Mega pun melanjutkan langkahnya, dan langkah itu ia bawa menuju paviliun. Setelah tiba di kamarnya, sejenak Mega terduduk di pinggiran ranjang. Ia edarkan pandanggannya men
Mega dan Amelia saling beradu pandang, hingga tanpa keduanya sadari Awan telah bangkit dari duduknya dan telah mendekati mereka.Yang lebih membuat Amelia dan Mega terkejut adalah saat tiba-tiba saja Awan mengulurkan tangannya pada Amelia, "mari kita duduk, aku sudah menunggumu sejak tadi," ucap Awan, nada suaranya terdengar begitu lembut.Awan menuntun tangan Amelia sampai kembali ke tempat duduknya semula sementara Mega masih mematung terdiam menatap perlakuan manis Awan pada Amelia."Loh, Mega ... cepat duduk ayo kita makan malam sama-sama," ajak Amelia yang seketika membuat Mega terhenyak."I ... iya, Bu," jawab Mega tergagap yang kemudian berjalan menuju meja makan, Mega mengambil posisi duduk berhadapan dengan Awan."Sudah lengkap, ayo kita makan aku sudah lapar," ucap Awan.Awan lalu bengkit berdiri, Awan tampak begitu pengertian dengan lembut Awan mengambil piring milik Amelia. Awan menyendokkan nasi lengkap dengan lauk pauk dan kemudian ia letakkan kembali tepat di hadapan Ame
Baru saja Awan bangkit, namun Mega segera menangkap tangan Awan membuat Awan lebih dulu menoleh padanya. "Itu obat apa?" tanya Mega. Awan kembali duduk, "itu obat penguat kandungan," jelas Awan. Mega terhenyak sesaat, lalu menatap Awan dengan lekat. "Kenapa?" Awan membalas tatapan Mega. "Walau kamu masih ragu tapi aku yakin di dalam perutmu sudah ada anakku, jadi kamu harus meminum obat agar dia bertumbuh sehat disini," Awan kembali memeluk pinggang Mega lalu mengelus perut Mega yang masih rata itu. Wajah Mega seketika tampak murung, ada di dilema dalam hatinya, satu sisi ia merasa bahagia atas kabar kehadiran buah hatinya, namun disisi lain ia juga merasa sedih karena anak yang di kandungnua kelak tidak akan menjadi miliknya. "Bu Amelia sudah pulang, lebih baik Pak Awan kembali kerumah utama saja," pinta Mega. Seketika itu juga Awan melepaskan pelukannya pada tubuh Mega, "justru Amelia yang menyuruhku kesini, dia menyuruh aku menemani kamu," jawab Awan. Jawaban Awan
Amelia membulatkan kedua bola matanya, "lalu?" Amelia tampak penasaran. "Sudahlah, kamu tidak perlu tau. Nanti aku beri obatnya. Dan tugasmu memberikan obat itu pada madumu itu," perintah Aditya. "Tapi reaksi obat itu bagaimana? kalau langsung berreaksi pasti Awan akan curiga dan dia pasti menyadari kalau itu ulah kita?" Aditya menyentil lembut kening Amelia, "jangan khawatir, asal madumu itu rajin meminum obat, maka janin di dalam perutnya tidak akan berkembang," bisik Aditya. Wajah Amelia seketika sumringah, "kamu memang pintar," puji Amelia memeluk erat tubuh kekasih gelapnya itu. ****** Di Rumah Awan Awan berjalan melewati depan mobilnya, ia buka pintu mobil lalu membantu Mega turun dari mobil miliknya itu. "Pelan-pelan," ucap Awan. Mega menerima uluran tangan Awan, dan segera keluar. "Ayo kita masuk!" ajak Awan, namun seketika Mega menepis tangan Awan dari lengannya. "Biar saya pulang ke paviliun saja. Sesuai kesepakatan yang Bapak bilang pada Bu Amelia kala
Awan terhenyak, "kamu sudah pulang, Mel? bukannya kamu bilang akan menginap beberapa hari?" tanya Awan. Amelia seketika melirik tajam pada Awan, "ada apa? dari pertanyaanmu sepertinya kamu tidak suka dengan kepulanganku!" sinis Amelia yang kemudian mengarahkan tatapannya pada mesin pembuat jus yang ada di hadapan Awan. "Kau sedang membuat jus, Wan? tumben ... biasanya tinggal meminta tolong pada Mbak Minah?" tatapan sinis Amelia seketika berubah menjadi tatapan curiga. "Aku membuat ini untuk Mega," jawab Awan singkat. "Mega? ... lalu orang hamil yang kalian bahas!" Amelia seketika terhenyak. "Mega hamil?" tebak Amelia. Hingga tiba-tiba saja suara pintu kamar Awan terbuka. Amelia pun segera menoleh, dan betapa terkejutnya Amelia saat mendapati Mega baru saja keluar dari kamar Awan. "Dia ...?" Amelia menoleh pada Awan. "Kenapa dia keluar dari kamarmu?" "Ooohhhh .... jadi selama kepergianku, kamu menggunakan kesempatan untuk memboyong dia tinggal dirumah ini?" Amelia mu
Pertanyaan sang Dokrt berhasil menbuat Awan terhenyak, gugup sekaligus bimbang segera menyergapi hatinya. Tentu saja jika sampai ia salah menjawab akan menjadi masalah besar karena Dokter Mariska juga dokter keluarga dari keedua orang tuanya. "Emm ... dia ... dia!" Awan tampak gugup kebingungan. "Saya teman dari Bu Amelia, kebetulan saya sedang menginap disini," sahut Mega memberi alasan. Namun jawaban Mega justru membuat Awan menoleh padanya. "I ... iya, dia teman Amelia," sahut Awan menimpali. Sang Dokter mengangguk, "baiklah ... kalau begitu lebih baik segera kabari suaminya, kalau perlu segera periksakan ke dokter kandungan agar hasilnya lebih jelas," ucap sang dokter memberikan arahan. "Baik, Dok, terimakasih," jawab Mega. ****** Beberapa Saat Kemudian Di kamar Awan, Mega masih duduk terdiam. Tatapannya tampak kosong sampai Mega tak menyadari jika Awan telah kembali. "Mega!" panggil Awan. Tatapan Mega yang kosong pun kemudian terarah pada Awan. "Maaf ... tad
"Sepertinya ... kamu sedang hamil, Mega," lanjut Minah. Mega terhenyak, bahkan dengan mata yang hampir membulat sempurna. "Hamil? masa iya prosesnya secepat itu, Mbak?" sahut Mega. "Namanya laki-laki dan perempuan sudah melakukan, ya bisa saja ... itu artinya kandunganmu subur, Mega," jelas M
Mega masih mengarahkan tatapannya pada Awan tanpa memberikan jawaban."Jangan memancing emosiku, Mega!" Awan mengeratkan rahangnya.Merasa tak puas dengan reaksi Mega, Awan merasa geram, ia kemudian bangkit dari duduknya dan secara paksa meraih pergelangan tangan Mega.Mega terhenyak, saat tangan
"Tapi apa lagi? Kau ini terlalu banyak tapi," omel Awan."Tapi Bapak harus cepat membuat saya hamil, agar urusan kita ini cepat selesai!" pinta Mega.Wajah Awan yang awalnya sumringah mendadak berubah muram, entahlah mendengar ucapan Mega hati Awan merasa tak rela."Kenapa kau sangat buru-buru ingi
"Aku sudah pernah bilang, Amelia tidak akan memperdulikan aku!" jawab Awan. Mega terdiam sesaat, ia masih tak mengerti tentang bagaimana hubungan pernikahan yang di bangun oleh Awan dan Amelia. "Lalu makanan ini?" Mega mengangkat piring yang masih bersisi makanan dari pangkuannya. Awan pun ban







