Share

Bab 48. Tantangan

Penulis: ADZWADA_KINAKA
last update Tanggal publikasi: 2026-03-14 17:36:51
Mega terkesiap saat akhirnya pintu kamarnya terbuka, wajahnya tampak menegang, hingga perasaan tegang itu menghilang saat sosok Awanlah yang muncul dari balik pintu.

"Pak Awan!" ucap Mega penuh kelegaan.

Awan segera mengarahkan tatapannya pada Mega.

"Ada apa? kenapa wajahmu begitu sumringah setelah melihat aku?" tanya Awan.

Seketika itu juga, wajah sumringah Mega kembali berubah masam.

"Ada apa lagi, Bapak kemari? Bukannya saya sudah bilang jangan datang kemari kecuali Bapak ....!" Mega tak
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 78. Nyeri Hati

    "Mega!" Awan terkesiap. Awan lalu menoleh padan jam dinding yang ada di kamar Amelia, "sudah pagi ... jangan-jangan semalaman dia menunggu aku?" batin Awan. Awan pun bergegas bangkit dari ranjang Amelia, dan lebih dulu mengemasi pakaiannya untuk kembali ia kenakan. Namun baru saja Awan selesai berpakaian, Amelia yang baru saja keluar dari kamar mandi kembali mencegah langkah Awan. "Loh ... kamu mau kemana, Wan?" tanya Amelia, rambutnya masih tampak basah dengan butiran air yang masih tampak menetes dari ujung rambutnya. Setelah kejadian semalam, bahkan Amelia pun sudah tak merasa malu mengenakan pakaian terbuka di depan Awan. "Sudah hampir siang ... aku harus bekerja," jawab Awan. Sembari menggosok rambutnya dengan handuk, Amelia berjalan mendekati Awan lalu berdiri tepat di hadapannya. "Setelah apa yang kita lakukan semalam, kamu langsung meninggalkan aku begini, Wan," ucap Amelia, wajahnya tampak memelas. "Atau jangan-jangan ....!" wajah yang awalnya memelas kini ber

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 77. Tak Ingat!

    Awan menerima gelas pemberian Amelia lalu duduk di sofa, ia tatapi sejenak hidangan yang tersaji di meja yang ada di depannya, "kalau seperti ini, kenapa tidak makan di bawah saja?" tanya Awan."Aku kan tadi sudah bilang, Wan, aku ingin makan berdua ... kalau di bawah kamu pasti mengajak Mega juga kan!" Amellia memasang wajah cemberut, "tadi kan aku sudah bilang ... aku ingin dekat dengan kamu, kita harus mencoba saling membuka hati kan, Wan. Kamu membuka hati untuk Mega saja bisa masa untuk aku tidak," lanjut Amelia.Awan hanya diam namun tatapan tajamnya terus ia arahkan pada Amelia. Awan lalu menghela nafas, "terserah kamu saja," sahutnya singkat.Amelia tersenyum tipis, "bisa tolong ambilkan aku makanan,Wan, aku sudah lapar!" pinta Amelia dan Awan pun bangkit dari duduknya untuk kemudian mengambilkan makanan untuk Amelia dan juga untuk dirinya sendiri.Setelah memberikan piring berisi makanan itu pada Amelia, Awan pun memilih untuk kemba;li duduk di sofanya semula.Namun tak sepe

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 76. Di Antara 2

    Amelia mengepal geram, "sialan ... dia menolak aku, bahkan bersikap begitu sinis padaku ... tapi dengan perempuan desa itu dia bisa bersikap begitu manis," geram Amelia.Amelia terus mengarahkan tatapannya pada Mega dan Awan yang masih berbincang di pinggir kolam, "aku tidak bisa tinggal diam ... kalau begini terus lama-lama Awan bisa jatuh cinta pada perempuan kampung itu," grutu Amelia.Sementara di tepi kolam, Awan mengulurkan tangannya pada Mega, "ayo ... aku sudah lapar!" tagih Awan.Tanpa ragu Mega meraih tangan Awan dan keduanya pun berjalan bergandengan untuk kembali masuk ke dalam rumah.Dari jendela kamar Awan, Amelia masih begitu betah mengawasi, tanpa Amelia sadari kedekatan Awan dan Mega berhasil membuat hati Amelia memanas. Bahkan beberapa sumpah serapah beberapa kali terdengar keluar dari mulut Amelia. Melihat Mega dan Awan kembali, Amelia pun bergegas keluar dari kamar Awan untuk menyusul Mega dan Awan.Dari tempat Amelia berdiri, ia bisa melihat Awan yang baru saja

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 75. Gila

    Dada Amelia kembang kempis menahan amarah di dalam dadanya. Amelia melirik tajam Mega dengan ekor matanya, "aku mau kita bicara berdua, bisa tidak suruh dia pergi!" pinta Amelia dengan nada sinis. Awan menatap ragu, namun beruntungnya Mega selalu paham akan posisinya, Mega mengangguk lalu mengalah untuk membiarkan Awan berbincang dengan Amelia. "Dia sudah pergi, jadi cepat katakan apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Awan. Amelia yang tadi tengah menatap kepergian Mega pun menoleh pada Awan, Amelia menyipitkan matanya, "kenapa aku rasa kamu sinis sekarang, atau jangan-jangan perempuan kampung itu sudah berhasil mencuci otakmu agar membenci aku!" tuduh Amelai. "Kamu ini bicara apa, Mega bukan orang seperti itu," sahut Awan. "Oh ya ...!" Amelia memasang wajah masam. "Bisa kita bicara di dalam, Mega saja boleh keluar masuk ke dalam kamarmu seenaknya, masa aku tidak boleh,'' lanjut Amelia. Awan menatap Amelia dengan tatapan melas, lalu ia memberi isyarat agar Amelia segera m

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 74. Pulang!

    Awan mengangkat kedua bahunya, "aku tidak tau," jawab Awan singkat. Dahi Mega berkerut, "memang Pak Awan tidak bertanya?" "Untuk apa?" sahut Awan dengan nada malas. “Memang Pak Awan tidak mau tau Bu Amelia pergi kemana?” sahut Mega. "Biar saja, asal dia tidak banyak tingkah aku tidak mau terlalu mengikuti urusannya," jawab Awan. ** Saat detik berganti menjadi menit, menit bergerak menjadi jam, jam berputar menjadi hari dan hari pun berganti menjadi minggu. Dan selama bebrapa hari tanpa kehadiran Amellia, tanpa Mega dan Awan sadari jika hubungan mereka terjalin semakin dekat dan semakin hangat. Setelah kedekatannya dengan Awan membuat keadaan kehamilannya tak lagi merepotkan, Mega tak lagi meraskan mual hebat seperti sebelumnya. Pagi itu, Mega terbangun lebih dulu dari Awan, dan seperti biasanya ia akan melakukan persiapan kebutuhan Awan. Namun baru saja akan beranjank dari tempat tidurnya Mela merasakan sebuah tangan menggenggam pergelangan tangan. Hal itu tentu saja m

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 73. Tidak Pulang

    'Ngidam?' batin Mega, sorot matanya tiba-tiba berubah nanar.Melihat perubahan wajah Mega, Awan pun bangkit berdiri tepat di hadapan Mega. Awan arahkan wajah Mega sedikit mendongak menatap dirinya."Kalau ada bilang saja!, apapun selagi aku mampu pasti aku turuti" lanjut Awan.Sejenak Mega menatap wajah Awan dengan lekat, lalu ia menggelengkan kepalanya.Awan menghela nafas lalu melepaskan wajah Mega. Awan mengambil dompet yang ia simpan di saku belakang celananya, Awan membuka dompet itu lalu mengambil selembar kartu dari sela kantung dompetnya dan meletakkan kartu itu di tangan Mega, "ambil kartu ini!, aku rasa kamu sungkan untuk meminta langsung padaku, jadi dengan kartu ini kamu bisa langsung membeli sendiri kalau kamu menginginkan sesuatu," jelas Awan.Mega segera mengembalikan kartu itu pada Awan, "tidak usah Pak, saya masih punya uang jatah bulanan yang diberi Bu Amel," tolak Mega."Itu pemberian Amelia, kalau ini pemberian dari aku untuk kamu, ambil saja," ucap Awan lagi.Mega

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 70. Cemburu

    Sama dengan Awan, Mega pun merasa terkejut melihat kehadiran Amelia yamg sudah tepat di depan pintu kamarnya.Mega segera menarik tangannya dari genggam tangan Awan lalu menundukkan kepalanya."Kalian semalam ...?!""Tidak, Bu, ini semua tidak seperti yang Bu Amel pikirkan," potong Mega sebelum Ame

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 69. Tertangkap Basah

    Mega terhenyak sesaat, perlahan Mega menegakkan pandangannya menatap pantulan wajahnya pada cermin besar yang ada di hadapannya. "Tes sekarang?" gumam Mega. "Ada apa, apa kamu keberatan?" tanya Awan menyadari perubahan pada wajah Mega yang tampak pada cermin kamar mandi. Mega menghela nafas, lalu

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 67. Perkiraan Minah

    Mega membuang tatapannya menghindari tatpan Awan, Mega merasa takut jika membalas tatapan Awan akan membuat ia tak bisa menutupi perasaan aslinya."Mega!" panggil Awan, namun Mega msih engan menoleh."Apa tampilan dinding itu lebih menarik dari pada menatap suamimu sendiri?" tanya Awan.Ucapan itu s

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 64. Bunga Siapa?

    Kembali Mega mengusap air mata yang telah meleleh membasahi pipinya dan barulah menoleh pada sumber suara."Mbak Minah," sapa Mega saat melihat Minah sudah berdiri.Minah pun mendekati Mega, melihat wajah Mega yang tampak sembab Minah merasa iba. Minah lalu merengkuh kedua pipi Mega mengarahkan waj

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status