تسجيل الدخول【Handsome girl×Gadis pandangan fisik yang tersakiti+Berjuang untuk cinta dari 0%+Tragedi+Romantis】Lanasia Luka yang biasa dipanggil A'luka adalah gadis cantik, keren dan dingin palsu, dia punya pacar. Tapi karena berbagai alasan dia selalu putus dengan pacarnya karena alasan yang sangat logis dan tidak bisa ditolak, sampai dia punya 99 mantan..... Akhirnya dia menyerah dan diculik paman ganteng, tetapi apa paman ini menjadi tempat bersandar A'luka terakhir, hanya waktu yang bisa menjawab...
عرض المزيدNama gadis yang sedang duduk di meja diskotik itu Lansia Luka, dia biasa dipanggil A'luka. Kali ini dia menangis tersedu-sedu karena putus dengan pacar pertamanya yang imut dan manis.
"Hedeh, kenapa mantan harus ditangisi, masih banyak cowok cakep di luar sana?!" seru seorang gadis berambut pirang, dia sangat cantik, tidak ada bandingannya. Semenjak sekolah dasar sampai mendekati akhir SMA, dia tidak pernah adu mulut, apalagi saling mengejek, duo terdekat memang selalu akur. "Gak bisa! Andra bilang dia akan menerimaku apa adanya sampai kita lulus sekolah dan lanjut sekolah bareng, terus begini selamanya." A'luka menggeleng, masih menangis tersedu-sedu, hidungnya memerah karena terlalu banyak menangis. Wajahnya terkulai lemas di meja. "Lagian kamu juga tahu kalau pacaran sudah risikonya putus, kenapa kamu masih mau pacaran. Lihat, sekarang siapa yang harus kamu buat susah untuk menemani kekacauan ini." Valencia Rilina sudah tidak asing lagi oleh tingkah A'luka yang terlalu manja saat berdua dengannya saja. Tapi, mungkin kalian akan tahu nanti saat di depan guru-guru dan murid-murid lainnya dia sangat pendiam dan terlihat jinak. "Cegukan, cegukan. Cia... aku gak mau putus. Tapi dia juga yang menghilang tanpa kabar, pesan juga tidak." "Aku takut, huaaaaa... hiks... hiks... hiks." A'luka mengetuk-ngetukkan gelas soda yang berkadar alkohol rendah di meja yang dia gunakan untuk bersandar. Wajahnya sangat kuyu seolah-olah tidak ada gairah untuk hidup lagi. Valencia memutar mata jengah, "Cek." Dia hanya bisa mendecik pelan untuk mengungkapkan ketidakpuasannya pada temannya ini. Tapi dia masih tidak tega untuk mengatakan logika masuk akal yang membuat pacar A'luka kabur. Dia menepuk-nepuk punggung A'luka penuh perhatian. "Gak masalah, masih ada aku di sini, Bang A'luka mau main xxxx bareng aku dan melakukan xxxxx bersamaan juga boleh." Valencia berbicara seperti seorang gadis yang tergila-gila pada cowok ganteng ke A'luka. Bahkan matanya sampai memberikan ilusi membentuk hati merah muda. A'luka memiringkan bibirnya jijik, "Aku masih normal, gini-gini aku dari dalam ke luar masih cewek tulen." A'luka sedikit tersadar dari keadaan pusingnya karena alkohol. Aku menganggapmu sebagai sahabat, tapi kau ingin tidur bersamaku, ini konyol. Keluhan ini sudah berlangsung sangat lama, A'luka menyerah untuk membahasnya lagi. A'luka sadar dia ini tidak mirip gadis cantik sama sekali, dia sadar jika dirinya sangat keren untuk seorang wanita dan terkesan membawa aura maskulin dari ujung kepala sampai ujung kaki. Jika soal tinggi badan bisa dikecualikan, dia memang pria yang sangat tampan. Wajahnya berahang tegas, matanya tajam, suaranya serak basah dan berat. Tapi dari dalam jiwanya dia masih cewek feminin yang suka manis-manis dan warna pink. Tinggi badannya juga sangat mengesankan, dia sudah memiliki tinggi 168 cm saat jadi murid SMP dulu. "Aku tahu gimana caranya mengubah cogan sepertimu jadi cantik!" Valencia berseru keras, penemuan-nya ini pasti berhasil. "Apa? Gimana caranya?! Kasih tahu dong!" A'luka mengguncang-guncang tubuh Valencia sampai Valencia dibuat pusing seakan dunianya berputar mirip lampu diskotik. Valencia yang akhirnya lepas dari guncangan A'luka tersenyum manis dan membuat lengkungan yang tidak biasa di bibirnya. Syukurlah jika A'luka sudah gak sedih lagi. Bagus, dia sudah mulai lupa mengingat pacarnya yang kabur tanpa kabar apa pun sebelum pergi. "Gini aku kasih tahu, karena potongan rambutmu pendek dan cakep, wajah ganteng, suara bak pemimpin upacara, pendeta eh maksudnya bendera, dan bodinya oke, mata tajam... Kau tipe idaman... ramah... baik..." A'luka yang sudah sangat senang kini memiliki urat-urat hitam di dahinya, dia marah kenapa sahabatnya ini malah membahas hal sensitif sampai segitunya, apa dia gak sadar dia benci banget dibilang keren oleh anak cewek lain. Apalagi kalau yang bilang keren cowok, A'luka serasa mau muntah di tempat jika bisa. Plak A'luka memukul lengan Valencia yang masih asyik sendiri mengungkapkan semua kemaskulinan dirinya, dia marah, kenapa mau kasih saran saja harus berputar-putar tanpa mengenai titik terangnya, "Berhenti, kamu mau kasih saran apa mau menghinaku, hah! Cepat masuk ke intinya. Cepat jelasin?!" Valencia tersadar dia sepertinya terlalu asyik berhayal sampai lupa jika A'luka benci dibilang keren. Dia terbatuk canggung, "Uhuk, uhuk. Begini aku tahu status keluargamu dan kegilaan kalian untuk terlihat kuat dalam bidang apa pun, aku sangat hafal ini!" A'luka mengangkat alis heran. "Terus kenapa?" "Rahasia loh... ayo datang dan bermakeup di butik milik kakakmu yang pertama. Selanjutnya pasti kamu jadi cewek paling cantik." Bulu kuduk A'luka seketika langsung berdiri, dia berkeringat deras, A'luka paling takut jika sudah membahas keenam kakak tirinya yang terlalu superior, A'luka menggeleng kuat-kuat sambil terus berkeringat deras. "Memangnya mau ngapain? Kenapa harus ke butik kakak gila itu?!" A'luka menggeser kursi putarnya menjauh sejauh mungkin dari Valencia yang sedang menggila ingin menariknya ke orang sinting itu. A'luka sangat trauma oleh enam kakak tirinya. "Haha bercanda, aku cuma mau mengajakmu berganti pakaian, mengganti pakaian yang sekarang kau pakai. Ini gak cocok jika kamu mau jadi cewek tulen asli." Valencia ikut menarik kursi yang didudukinya untuk mendekat ke A'luka lagi. "Hah, bukannya aku sudah cantik sekarang?" A'luka memandang dirinya dari atas ke bawah badannya yang memakai kemeja wanita putih pendek dan memakai rok mini sepaha. Bukannya ini standar wanita cantik. A'luka menatap Valencia penuh tanda tanya "??" "Yah, kamu memang keren memakai pakaian apa pun. Bahkan memakai pakaian pengemis juga oke banget." Valencia membuat kepalan tangan dan mengangkat ibu jarinya setuju. Tapi dalam pandangan A'luka, dia sangat meragukan ketulusan pujian ini. Tulilit... tulilit... pib... pib... Suara ponsel Valencia model keluaran terbaru yang sangat mahal berbunyi, memang ponsel ini berharga satu batang emas murni, tapi desainnya agak nyeleneh, haha. Bunyi dering teleponnya saja kelihatan kuno nggak kekinian. "Halo Aa... (panggilan cinta Valencia ke pacarnya), kenapa menelepon mendadak?" "Sayang... aku kangen tidur bareng kamu, cepat turun dan datanglah ke sini!" Valencia berdiri mendekati jendela dan memandang ke bawah, ternyata benar pacarnya sudah berpose sangat ganteng di parkiran diskotik. Wajahnya langsung berbinar dan terburu-buru berbicara ke A'luka. "A'luka sayang, sepertinya saran itu bisa ditunda... aku mau kencan dulu, bye-bye..." Tanpa menunggu persetujuan A'luka, Valencia langsung cabut dari diskotik. "Hey... berhenti! Tagihan pesanan ini masa aku semua yang bayar? Ini gak adil!! Cegukan... cegukan." Ingin rasanya A'luka menabok teman yang satu ini, masa persahabatan selama 15 tahun ini sia-sia hanya karena seorang pacar yang baru dua bulan jadian. Dia masih pusing berat karena terlalu banyak mengonsumsi alkohol. "Pelayan, tambah dua botol lagi!" seru A'luka ke pelayan yang melewati mejanya. "Baik, Nona." A'luka tidak sadar jika kini di sebelahnya ada seorang pria tampan dari alam gaib, kenapa disebut alam gaib? Ini merujuk pada langkah kakinya yang tidak bersuara saat berjalan. Seolah-olah dia memang datang dari alam gaib. "Permisi, Nona cantik, apa saya bisa ikut duduk di sini?" Pria itu tersenyum ke A'luka, senyuman itu sangat simpel tapi membuat hati A'luka meleleh karena dia bilang dirinya cantik. Kesan baik A'luka ke pria di depanya sangat penuh. Karena A'luka adalah gadis yang suka menilai orang dari penampilan, dia jadi langsung berubah menjadi sumringah tidak suram lagi. "Oh... oh... ah... silakan duduk." "Apa Nona cantik sendirian datang ke sini? Kamu tidak takut diculik pria jahat?" Pria itu memangku wajahnya di telapak tangan, kesannya seperti tipikal pria tampan yang sopan dan tidak mudah marah. A'luka mengangguk malu-malu, kali ini dia mencoba membuat citranya sebagai gadis baik dan sopan di depan pria ini. "Takut..." "Jika Nona takut, bagaimana jika ikut bersamaku sekarang? Aku pasti akan menjagamu baik-baik." Pria tampan yang berinisial A itu tersenyum licik tanpa diketahui A'luka. "Benarkah paman?!" Wajah pria itu tersenyum kaku. Umurnya baru di masa jayanya dan paling ideal, dia masih muda, wajahnya juga sangat tampan bak CEO berjas rapi di Drama. "Cantik! Umurku masih dua puluhan, kamu bisa memanggilku Abang atau Kakak, itu kasar, bisa diubah, kan!"Hari-hari berikutnya berubah drastis untuk A’luka. Setelah menerima kontrak saham dari kakaknya Zagor, semangatnya meledak-ledak. Setiap pagi dia bangun dengan mata berbinar, langsung memeluk Adrian yang masih setengah tidur, lalu berbisik manja, "Paman, hari ini aku harus belajar mengelola perusahaan. Kamu dukung aku ya?" Adrian selalu tersenyum lembut, membelai rambut A’luka sambil dalam hati tertawa dingin. Semakin tinggi kau naik, semakin sakit kau akan jatuh nanti. "Pasti, sayang. Aku selalu dukung kamu," jawab Adrian sambil mengecup kening A’luka. “Mau Paman buatkan sarapan spesial dulu sebelum berangkat?” Dalam hati Adrian berpikir, identitas dia sekarang cuma jadi pacar yang tidak tahu malau mengandalkan wanita, dia cukup tidak nyaman soal ini. Tapi rencana menyusup ke jantung keluarga A'luka sudah semakin dekat, dia tidak akan berhenti sebelum membalas dendam. A’luka mengangguk antusias. “Kentang goreng pedas sama telur mata sapi ya!” Sementara Adrian sibuk di dapur, A’lu
Hari ini A’luka bahagia sekali. Saat membuka mata, dia langsung memeluk Adrian dan menciumnya dengan cinta menggebu-gebu. Adrian jelas tidak akan diam begitu saja. Dia balas ciuman itu dengan dominan. Dia menekan tubuh A’luka ke bawah, hidungnya saling bersentuhan dengan hidung A’luka, tersenyum tipis, lalu bicara. "Kenapa kau terlihat semangat sekali hari ini? Bukannya aku sudah membuatmu bahagia semalaman penuh?" Tindakannya menggesek hidung A’luka membuat Adrian kecanduan. Mata A’luka berbinar terang, wajahnya penuh cinta dan kasih sayang. A’luka menjawab pertanyaan pacarnya dengan serius. "Aku cinta Paman. Aku sangat menyukaimu, Paman!" Adrian mengangkat sudut bibirnya. "Aku juga sangat mencintai wanita cantik di bawahku sekarang." Tangan Adrian terulur, membelai wajah A’luka. Tatapan cinta wanita lugu di bawah membuatnya ikut tersenyum lembut. Tetapi di balik senyumnya yang tampan terdapat hati yang dingin. Wanita bodoh, kau tidak tahu seberapa aku membencimu. Bagaim
Dari kaca jendela, A’luka melihat pria tampan berambut perak. Wajahnya terlihat serius tanpa senyuman. A’luka terpaku di seberang jalan. Dia mendekati restoran kecil tempat dirinya dulu diculik. Membuka pintu perlahan, dia menggeser kursi dan duduk di samping Zagor. "Adik kecil." Ucapnya nostalgia, ada sedikit kerumitan dalam ucapannya. "Sudah lama sekali kita tidak saling menyapa." "Itu salah Kakak sendiri, sibuk terus. Kakak sampai lupa memperhatikan keadaanku di rumah paman." Menatap kakaknya yang terlihat tidak akan menjahilinya lagi, A’luka melanjutkan. "Jangan bilang Kakak mau membuatku putus lagi dengan pacarku sekarang?!" tanya A’luka curiga. "Tidak. Aku ingin bilang soal ayah kita yang sudah meninggal. Baru-baru ini Kakak menemukan hal yang rumit dalam masa lalunya. Kau ingin tahu?" Suaranya lembut. Dia bersabar menunggu tanggapan A’luka. "Tidak tertarik. Aku benci dia. Dulu dia selalu mengurungku di rumah sampai aku kelebihan berat badan dan konyol. Jangan tertawa!" T
"Sayang, kamu tahu letak kesalahanmu di mana?" bisik A’luka di telinga Adrian. Bibir cantiknya memiliki koreng kecil di sana, tampak mencolok dan membuat mata pria tidak bisa berpaling. Bekas di tubuhnya tidak kalah ganas dari koreng di bibir. Seharusnya luka itu sudah sembuh setelah dua hari, tapi bekas-bekas itu kembali muncul saat dia melampiaskan amarahnya tadi. "Maaf, A’lu sayang. Aku salah." Adrian mengaku sambil berlutut. Dalam hatinya dia tidak merasa bersalah sama sekali. Justru melihat karyanya di tubuh A’luka memuaskan rasa posesifnya yang tersembunyi. Adrian tidak sadar pikiran bawah sadarnya ini. Dalam otaknya hanya ada balas dendam. Dulu setelah berkenalan dengan A’luka di diskotek, sampai menculiknya ke hotel, dia punya rasa belas kasihan kecil. Dia ingin menjaga A’luka di sampingnya, menyiksa lembut A’luka, menyayanginya, memanjakannya, dan memenuhi keinginan kecilnya asal tidak menentang garis bawah miliknya. Tapi sekarang Adrian berpikir ulang. Wanita ini bajingan


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.