Chapter: Bab 11. Pembelaan Sang Ipar"Aku sudah memutuskan untuk membayar hutang kedua orang tuaku saja," terang Mela membuat Arga terhenyak sesaat dan perlahan sebuah senyum miring tersungging pada wajahnya. "Kau sudah sangat yakin?" tanya Arga memastikan. Mela mengangguk pelan, "tapi aku punya permintaan untukmu," Arga menaikkan sebelah alisnya, "katakan!" pinta Arga, ia menatap Mela. "Aku tidak punya tempat tinggal, tolong ijinkan aku untuk tetap tinggal disini," pinta Mela. "Kamu sadar dengan permintaanmu ini?" tanya Arga. Mela hanya diam. "Pilihanmu membayar hutang yang kamu sendiri tau jumlahnya sangat besar ... dan akalmu sungguh pintar memilih untuk tetap tinggal disini agar bisa menumpang makan dan tidur gratis ... itu kan maksudmu," tebak Arga. "Kamu pikir aku sebodoh itu?" sinis Arga. Emosi yang beberapa waktu lalu sempat padam, kini terasa kembali menyala. Arga menarik tubuh lengan Mela dengan kasar untuk kemudian ia dekatkan pada dirinya, "aku sudah bilang, walau harus mejual dirimu untuk tidur de
Última actualización: 2026-04-28
Chapter: Bab 10. HutangMela terhenyak, "memang berapa total hutangnya, mungkin kalau aku tau jumlahnya aku bisa mengukur aku mampu atau tidak?" tanya Mela, suaranya terdengar sedikit bergetar. Arga mengarahkan tatapannya kembali pada Mela, dan tanpa ragu Mela membalas sorot mata tajam dari lelaki yang telah menikahinya itu. Arga tersenyum miring, “kamu yakin mau tau?” ulang Arga. Mela mengangguk tanpa ragu. "Oke ... aku beri tau ya! untuk total hutang kedua orang tuamu, semua berjumlah 5 Milyar," bersamaan dengan itu Arga membentang kelima jemarinya tepat di depan wajah Mela. "Tapi tenang saja, itu semua sudah dengan bunganya," lanjut Arga menyadari kebimbangan pada wajah Mela. Mata Mela membulat seketika, “li…lima milyar?” gumamnya. Dada Mela tampak kembang kempis setelah tau jumlah hutang kedua orang tua angkatnya itu. "Bagaimana?...masih mau menantang aku dan tetap ingin melunasi hutang kedua orang tuamu?" tantang Arga. Mela sejenak terdiam berusaha mengatur kembali laju napasnya.
Última actualización: 2026-04-26
Chapter: Bab 9. Ceraikan Aku!"Kamu itu istri kakakku, sudah seharusnyakan aku melindungi kamu. Mau bagaimana pun kamu ini kakak iparku," sahut Dirga. Mela tertegun sesaat, "lalu kalau kakakmu marah bagaimana?" tanya Mela lagi. "Aku tidak mau hanya karena membela aku membuat kamu terkena masalah dengan kakakmu," lanjut Mela. Dirga merengkuh bahu Mela dengan kedua tangannya, "tidak usah kamu pikirkan, biar Kak Arga menjadi urusanku." "Oh ya ... Kali ini apa aku boleh menanyakan sesuatu padamu?" wajah Dirga tampak serius. Mela mengernyitkan dahinya, "sesuatu? apa itu?" kali ini Mela tampak penasaran. "Tentang hubunganmu dengan Kak Arga," ucap Dirga. Ucapan Dirga membuat Mela terhenyak, "Kenapa ... apa yang ingin kamu tau?" tanya Mela. "Aku dengar dari Mama, kamu dan Kakak menikah karena sebuah perjanjian, apa itu benar?" tanya Dirga, suaranya lirih menyimpan keraguan. Mela terdiam, sorot matanya datar terarah kedepan, tatapannya tampak kosong, namun tiba-tiba saja Mela menarik nafas lalu menghembuskannya den
Última actualización: 2026-04-24
Chapter: Bab 8. Kenapa?Dirga mematung sesaat melihat reaksi Mela, sementara Mela bringsut, wajah Mela tampak benar-benar ketakutan. Dalam benak Mela masih tergiang ucapan Arga, itulah yang membuat Mela merasa takut jika bertemu dengan Dirga. Satu langkah Dirga mencoba kembali mendekat Mela, namun reaksi Mela tetap sama. Mela juga menyilangkan kedua tangan di depan dadanya. Mela menggeleng tanpa sepatah katapun keluar dari bibirnya. "Tenangkan dirimu, aku hanya ingin melihat keadaanmu saja," ucap Dirga yang akhirnya kembali menghentikan langkahnya. Lalu seklebet ingatan kembali terputar di kepala Dirga, dimana bebrapa saat lalu sikapnya begitu keterlaluan pada Mela, timbul perasaan tidak enak dalam hati Dirga. "Mela ...." panggil Dirga lagi, berharap Mela memberikan respon yang lebih baik. Namun Mela hanya diam, bahkan kali ini tanpa sedikitpun menoleh pada Dirga. Melihat sikap Mela apalagi setelah mengetahui jika Mela adalah kakak iparnya membuat Dirga semakin merasa bersalah. "A ... aku,"
Última actualización: 2026-04-22
Chapter: Bab 7. KembaliMela mendongak, "Dirga!" ucapnya, bibirnya yang biasa berwarna merah jambu, kali ini telah berubah membiru.Bibir pucat itu bergetar, bahkan tak hanya bibirnya tubuh Mela pun ikut bergetar, Mela kedingingan.Hingga tiba-tiba saja tubuhnya terhuyung lalu Mela pun tidak sadarkan diri.Beruntungnya, Dirga begitu sigap menangkap tubuh Mela, hingga tubuh lemas itu tak sampai jatuh ke atas tanah.Tanpa berucap sepatah katapun Dirga mengalungkan tangan Mela pada lehernya lalu mendekap tubuh Mela dalam gendongannya.Tak ia pedulikan tubuhnya yang ikut basah terkena guyuran air hujan.Dirga membawa tubuh lemas Mela untuk kembali kedalam rumah. Dengan langkah yang ia percepat, akhirnya Dirga berhasil membawa Mela kembali. "Mbookkkk ... Mbbookkk Asih!" seru Dirga terus melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.Dari arah dapur, Asih tampak berjalan tergopoh menghampiri Dirga."Ada apa, Den?" tanya Asih, hingga tatapannya tertuju pada Mela yang masih berada dalam gendongan Dirga."Loh, Non Mela
Última actualización: 2026-04-20
Chapter: Bab 6. Ternyata Ipar Di taman belakang rumah, Dirga yang masih marah dengan begitu sengaja menghempas tubuh Mela pada kursi rotan, hingga membuat Mela merasakan sakit di bagian pinggangnya. Mela menangis sesenggukkan menahan sakit sekaligus rasa takut di dalam hatinya. Sementara itu Dirga berdiri tepat di hadapan Mela, sembari berkacak pinggang, sorot mata penuh amarah masih Dirga arahkan pada Mela, “kamu pikir kamu bisa menggoda aku seperti kamu menggoda kakakku?” tuduh Dirga. “Sayangnya aku bukan kak Arga yang langsung goyah hanya dengan sentuhanmu saja. Jadi aku peringatkan jangan berani menggodaku lagi, atau kalau perlu jauhi juga kakakku … ingat statusmu di rumah ini, jangan hanya karena ingin naik pangkat kamu menghalalkan segala cara seperti ini?” tuduh Dirga. Hati Mela semakin merasa sakit, belum cukup caci maki dari ibu mertua dan juga suaminya. Kali ini ia harus menerima tuduhan dari adik iparnya. Rasa sakit di dalam dadanya membuat tubuh Mela serasa tak memiliki kuasa untuk melawan semua
Última actualización: 2026-04-16

MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA
"Mega tidak mau, Bi, Mega tidak mau menikah kontrak apa lagi sampai memiliki anak, dan nantinya Mega harus melepaskan anak itu begitu saja?"
Selalu dianggap benalu oleh keluarganya, dan dengan penuh keterpaksaan Mega yang harus tinggal dengan yang bukan orang tuanya membuat Mega hidup dalam tekanan setiap harinya.
Hingga akhirnya dengan berat hati Mega pun setuju menjadi ibu pengganti bagi pasangan kaya raya, sampai hidupnya berubah dalam satu malam.
Mega hanya membutuhkan uang untuk menyelamatkan keluarganya, tidak pernah terpikir bahwa rahimnya akan membawa janin pewaris keluarga kaya raya.
Namun di balik kontrak perjanjian yang tebal dan aturan yang ketat, Mega justru terjebak dalam badai perasaan yang tak pernah ia rencanakan.
Awan, sang suami dingin perlahan mulai menunjukkan perhatian yang tak semestinya. Sementara istrinya, Amelia, lama kelamaan merasa tak suka melihat suaminya dan ibu pengganti itu berada terlalu dekat.
Di dalam rumah megah yang terasa seperti istana, Mega harus menjalani beribu kepahitan, di tengah cinta yang tak boleh dimiliki, dan kebencian yang makin mengakar.
Akankah Mega sanggup menuntakan tugasnya?
Leer
Chapter: Bab 62. BahayaMega dan Amelia saling beradu pandang, hingga tanpa keduanya sadari Awan telah bangkit dari duduknya dan telah mendekati mereka.Yang lebih membuat Amelia dan Mega terkejut adalah saat tiba-tiba saja Awan mengulurkan tangannya pada Amelia, "mari kita duduk, aku sudah menunggumu sejak tadi," ucap Awan, nada suaranya terdengar begitu lembut.Awan menuntun tangan Amelia sampai kembali ke tempat duduknya semula sementara Mega masih mematung terdiam menatap perlakuan manis Awan pada Amelia."Loh, Mega ... cepat duduk ayo kita makan malam sama-sama," ajak Amelia yang seketika membuat Mega terhenyak."I ... iya, Bu," jawab Mega tergagap yang kemudian berjalan menuju meja makan, Mega mengambil posisi duduk berhadapan dengan Awan."Sudah lengkap, ayo kita makan aku sudah lapar," ucap Awan.Awan lalu bengkit berdiri, Awan tampak begitu pengertian dengan lembut Awan mengambil piring milik Amelia. Awan menyendokkan nasi lengkap dengan lauk pauk dan kemudian ia letakkan kembali tepat di hadapan Ame
Última actualización: 2026-04-07
Chapter: Bab 61. SayangBaru saja Awan bangkit, namun Mega segera menangkap tangan Awan membuat Awan lebih dulu menoleh padanya. "Itu obat apa?" tanya Mega. Awan kembali duduk, "itu obat penguat kandungan," jelas Awan. Mega terhenyak sesaat, lalu menatap Awan dengan lekat. "Kenapa?" Awan membalas tatapan Mega. "Walau kamu masih ragu tapi aku yakin di dalam perutmu sudah ada anakku, jadi kamu harus meminum obat agar dia bertumbuh sehat disini," Awan kembali memeluk pinggang Mega lalu mengelus perut Mega yang masih rata itu. Wajah Mega seketika tampak murung, ada di dilema dalam hatinya, satu sisi ia merasa bahagia atas kabar kehadiran buah hatinya, namun disisi lain ia juga merasa sedih karena anak yang di kandungnua kelak tidak akan menjadi miliknya. "Bu Amelia sudah pulang, lebih baik Pak Awan kembali kerumah utama saja," pinta Mega. Seketika itu juga Awan melepaskan pelukannya pada tubuh Mega, "justru Amelia yang menyuruhku kesini, dia menyuruh aku menemani kamu," jawab Awan. Jawaban Awan
Última actualización: 2026-04-06
Chapter: Bab 60. Obat 2Amelia membulatkan kedua bola matanya, "lalu?" Amelia tampak penasaran. "Sudahlah, kamu tidak perlu tau. Nanti aku beri obatnya. Dan tugasmu memberikan obat itu pada madumu itu," perintah Aditya. "Tapi reaksi obat itu bagaimana? kalau langsung berreaksi pasti Awan akan curiga dan dia pasti menyadari kalau itu ulah kita?" Aditya menyentil lembut kening Amelia, "jangan khawatir, asal madumu itu rajin meminum obat, maka janin di dalam perutnya tidak akan berkembang," bisik Aditya. Wajah Amelia seketika sumringah, "kamu memang pintar," puji Amelia memeluk erat tubuh kekasih gelapnya itu. ****** Di Rumah Awan Awan berjalan melewati depan mobilnya, ia buka pintu mobil lalu membantu Mega turun dari mobil miliknya itu. "Pelan-pelan," ucap Awan. Mega menerima uluran tangan Awan, dan segera keluar. "Ayo kita masuk!" ajak Awan, namun seketika Mega menepis tangan Awan dari lengannya. "Biar saya pulang ke paviliun saja. Sesuai kesepakatan yang Bapak bilang pada Bu Amelia kala
Última actualización: 2026-04-03
Chapter: Bab 59. ObatAwan terhenyak, "kamu sudah pulang, Mel? bukannya kamu bilang akan menginap beberapa hari?" tanya Awan. Amelia seketika melirik tajam pada Awan, "ada apa? dari pertanyaanmu sepertinya kamu tidak suka dengan kepulanganku!" sinis Amelia yang kemudian mengarahkan tatapannya pada mesin pembuat jus yang ada di hadapan Awan. "Kau sedang membuat jus, Wan? tumben ... biasanya tinggal meminta tolong pada Mbak Minah?" tatapan sinis Amelia seketika berubah menjadi tatapan curiga. "Aku membuat ini untuk Mega," jawab Awan singkat. "Mega? ... lalu orang hamil yang kalian bahas!" Amelia seketika terhenyak. "Mega hamil?" tebak Amelia. Hingga tiba-tiba saja suara pintu kamar Awan terbuka. Amelia pun segera menoleh, dan betapa terkejutnya Amelia saat mendapati Mega baru saja keluar dari kamar Awan. "Dia ...?" Amelia menoleh pada Awan. "Kenapa dia keluar dari kamarmu?" "Ooohhhh .... jadi selama kepergianku, kamu menggunakan kesempatan untuk memboyong dia tinggal dirumah ini?" Amelia mu
Última actualización: 2026-04-01
Chapter: Bab 58. JahatPertanyaan sang Dokrt berhasil menbuat Awan terhenyak, gugup sekaligus bimbang segera menyergapi hatinya. Tentu saja jika sampai ia salah menjawab akan menjadi masalah besar karena Dokter Mariska juga dokter keluarga dari keedua orang tuanya. "Emm ... dia ... dia!" Awan tampak gugup kebingungan. "Saya teman dari Bu Amelia, kebetulan saya sedang menginap disini," sahut Mega memberi alasan. Namun jawaban Mega justru membuat Awan menoleh padanya. "I ... iya, dia teman Amelia," sahut Awan menimpali. Sang Dokter mengangguk, "baiklah ... kalau begitu lebih baik segera kabari suaminya, kalau perlu segera periksakan ke dokter kandungan agar hasilnya lebih jelas," ucap sang dokter memberikan arahan. "Baik, Dok, terimakasih," jawab Mega. ****** Beberapa Saat Kemudian Di kamar Awan, Mega masih duduk terdiam. Tatapannya tampak kosong sampai Mega tak menyadari jika Awan telah kembali. "Mega!" panggil Awan. Tatapan Mega yang kosong pun kemudian terarah pada Awan. "Maaf ... tad
Última actualización: 2026-03-31
Chapter: Bab 57."Pak Awan tidak mandi atau cuci muka lebih dulu?" tanya Mega.Awan terhenyak, ia segera tersadar jika baru benar-benar terbangun dari tempat tidurnya."Emmm ... sepertinya aku terlalu bersemangat, soalnya baru ini kali pertamanya ada yang membangunkan aku bahkan ini juga kali pertamanya ada yang menyiapkan sarapan tanpa aku minta," jelas Awan.Mega terdiam sesaat, tatapan iba ia arahkan pada Awan. "Untuk sekali ini saja, biarkan aku langsung sarapan!" mohon Awan."Boleh ya!" rengek Awan bak bocah kecil meminta sesuatu pada ibunya.Mega tersenyum gemas, lalu ia pun menganggukkan kepalanya, "Bapak duluan saja, biar saya merapikan tempat tidur lebih dulu."Kamu tidak mau menemani aku sarapan, Mega?" tanya Awan, nada suaranya terdengar lesu.Mega tak segera menjawab, lebih dulu ia arahkan pandangannya pada ranjang milik Awan dimana ranjang itu tampak tidak terlalu berantakan, dan barulah ia arahkan kembali tatapannya pada Awan, "hanya sebentar, Pak Awan duluan saja, setelah selesai saya
Última actualización: 2026-03-30