Se connecterSeringai menjijikkan langsung menyambut Bella begitu ia membalikkan tubuhnya. Pria yang berdiri sangat dekat dengannya, bahkan nyaris menempel, tak lain adalah Oliver, suami Vivian.
Belum sempat Bella bereaksi lebih jauh, pria itu kembali membuka mulut.
“Kenapa tidak langsung mencariku kemarin? Kamu bahkan tidak menghubungiku sama sekali, Sayang?”
Bola mata Bella melebar. Sayang? Mencari suami adik ipar sendiri? Apa-apaan ini?
Perutnya mendadak terasa mual, seolah ada sesuatu yang hendak dimuntahkannya. Sumpah serapah sudah berdesakan di ujung lidah ketika tangan Oliver terulur untuk menyentuh bibirnya. Belum lagi tatapan penuh hasrat pria itu yang terasa begitu menjijikkan.
Tangan besar Oliver nyaris menyentuh bibirnya ketika Bella bergerak cepat. Dengan refleks terlatih, ia menangkap pergelangan tangan pria itu, lalu memutarnya ke arah berlawanan sebelum menguncinya kuat-kuat di belakang punggung Oliver.
“Akh—! Sial! Apa yang kamu lakukan, Bianca?” Oliver meringis. Tubuhnya spontan membungkuk mengikuti tarikan tangan yang membuat persendiannya terasa nyeri.
“Lepaskan aku! Kamu mau mematahkan tanganku?”
Bella tidak menjawab. Ia justru menambah sedikit tekanan pada kuncian itu, cukup untuk membuat Oliver mengerang kesakitan. Tatapan wanita itu berubah tajam, sama sekali berbeda dari sosok Bianca yang mungkin selama ini dikenal pria tersebut.
“Siapa yang memberimu izin untuk menyentuhku?” desis Bella dingin.
Oliver menoleh sebisanya. Wajahnya memerah menahan sakit sekaligus ketidakpercayaan.
“Bianca, hentikan! Ini aku, Oliver! Biasanya kamu tidak pernah bersikap seperti ini kepadaku. Setiap kali kamu pulang bepergian, kamu selalu mencariku. Kita bahkan—”
“Diam!”
Satu kata itu meluncur tajam dari bibir Bella.
Namun, Oliver seolah tidak memahami bahaya yang sedang mengintainya. Alih-alih berhenti, pria itu malah menyeringai dengan susah payah, seakan menganggap kemarahan Bella hanyalah bagian dari permainan mereka.
“Ayolah, Sayang. Tidak perlu berpura-pura jual mahal. Di sini hanya ada kita berdua. Bukankah biasanya kita langsung menghabiskan waktu di sini? Kamu merindukanku, bukan?”
Bella terdiam sesaat.
Bukan karena kehilangan kata-kata, melainkan karena rasa jijik yang semakin memenuhi dadanya. Jadi, pria ini benar-benar mengira dirinya bisa memperlakukan Bianca sesuka hati? Bahkan berani mendekatinya dengan sikap kurang ajar seperti itu di rumahnya sendiri?
Sungguh menjijikkan!
Tanpa memberikan kesempatan kepada Oliver untuk melanjutkan ocehannya, Bella mengubah posisi tubuhnya. Dengan gerakan cepat yang mencerminkan naluri seorang petarung, ia memanfaatkan keseimbangan Oliver yang sudah goyah, lalu menjatuhkan pria itu ke lantai rooftop.
Bruk!
Oliver terhempas dengan keras. Napasnya tercekat, sementara wajahnya seketika berubah pucat karena terkejut. Ia bahkan membutuhkan beberapa detik untuk memahami bagaimana dirinya yang bertubuh lebih besar bisa dijatuhkan begitu mudah oleh seorang wanita.
“Bianca! Apa-apaan ini?!”
Oliver berusaha bangkit, tetapi Bella sudah berdiri tegak di hadapannya. Tatapan wanita itu begitu nyalang, dingin, dan penuh ancaman hingga Oliver tanpa sadar mengurungkan niatnya untuk langsung mendekat.
Bella berjongkok sedikit, menatap pria itu lurus-lurus.
“Dengarkan aku baik-baik, Oliver.” Suaranya rendah, tetapi setiap kata terdengar tegas. “Mulai sekarang, jangan pernah menyentuhku tanpa izin. Jangan mendekatiku dengan sikap menjijikkan seperti tadi, apalagi memanggilku dengan sebutan sayang seolah-olah aku menginginkannya.”
Oliver membuka mulut, tampak hendak membantah. Namun, sorot mata Bella membuat kata-katanya tertahan di tenggorokan.
Wanita itu kemudian berdiri, menatapnya dari atas dengan ekspresi tanpa kompromi.
“Dan kalau tanganmu masih berani menyentuhku sekali lagi, aku pastikan tangan itu tidak akan bisa kamu gunakan untuk menyentuh siapa pun dalam waktu lama. Aku tidak sedang bercanda.”
**
Bella membiarkan guyuran air dingin menyapu tubuhnya di bawah pancuran. Sepertinya, ia akan membutuhkan mandi berkali-kali dalam sehari jika kejadian seperti ini terus berulang. Disentuh pria seperti Oliver sungguh menjadi pengalaman paling menjijikkan dalam hidupnya.
Amarah yang semula mendidih perlahan mereda seiring air dingin yang terus membasahi kulitnya. Hampir satu jam lebih Bella menghabiskan waktu di kamar mandi, berusaha menenangkan diri dan meredakan gejolak emosinya.
Karena lupa membawa baju ganti, Bella keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan handuk putih yang melilit tubuhnya, menutupi bagian dada hingga pertengahan paha. Ia masih menggosok rambut basahnya di depan cermin meja rias ketika pintu kamar tiba-tiba terbuka dari luar tanpa permisi.
Bella terjengkit kaget. Ia berbalik, siap menumpahkan kemarahan kepada pelayan tidak sopan yang berani menerobos masuk ke kamarnya tanpa izin.
Namun, semua kata yang telah berdesakan di ujung lidahnya mendadak lenyap.
Sosok yang berdiri di ambang pintu bukanlah pelayan yang ia duga, melainkan Lucian Sinclair, suami Bianca.
Pria itu berdiri dengan wajah kusut dan rahang mengeras. Sorot matanya menyiratkan kemarahan yang belum sempat diluapkan, sementara langkah kakinya yang tegas menunjukkan bahwa kedatangannya bukan sekadar untuk berbasa-basi. Sepertinya, ia membawa sesuatu yang ingin segera dilampiaskan kepada Bella.
Namun, niat itu seketika buyar.
Tatapan Lucian membeku saat menyadari penampilan wanita di hadapannya. Rambut Bella masih basah, beberapa tetes air mengalir menuruni lehernya, sementara handuk putih yang membungkus tubuhnya menjadi satu-satunya penghalang di antara mereka.
Bella sendiri terlalu terkejut untuk bereaksi. Matanya membulat sempurna, seolah baru saja menyaksikan sesuatu yang mustahil terjadi. Dalam kepanikan, ia mundur selangkah, tetapi gerakan spontan itu justru membuat lilitan handuk di tubuhnya mengendur.
Dalam satu detik yang terasa begitu panjang, handuk putih itu merosot jatuh ke lantai.
“Ah—!”
Bella refleks merapatkan kedua lengannya ke tubuh, tetapi semuanya sudah terlambat.
Lucian terpaku.
Kemarahan yang semula memenuhi wajahnya seolah terhapus begitu saja, digantikan keterkejutan yang sama sekali tidak mampu disembunyikannya. Pria itu bahkan tidak bergerak, seakan tubuhnya mendadak kehilangan kendali. Tatapannya terpaku sesaat sebelum akhirnya kesadarannya kembali, tetapi keterkejutan telanjur membungkam seluruh reaksinya.
“Ka—!”
Bella tersentak, buru-buru meraih handuk di lantai dengan wajah memerah karena malu sekaligus marah. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa suara detaknya sendiri memenuhi seluruh ruangan.
Sementara itu, Lucian masih berdiri di tempatnya.
Pintu kamar tetap terbuka lebar di belakang pria itu. Angin dari lorong menyusup masuk, menggerakkan tirai tipis di dekat jendela, tetapi tak satu pun dari mereka tampak menyadarinya.
Bella mencengkeram handuk erat-erat di depan tubuhnya, menatap Lucian dengan mata menyala.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang menyesakkan. Hingga akhirnya, Bella berhasil menemukan suaranya.
“Ka—kamu ....”
Suara itu tercekat di tenggorokannya. Rasa malu dan amarah bercampur aduk.
“Walaupun ini rumahmu, kamu tidak berhak menerobos masuk ke kamarku tanpa mengetuk pintu!”
**
Seringai menjijikkan langsung menyambut Bella begitu ia membalikkan tubuhnya. Pria yang berdiri sangat dekat dengannya, bahkan nyaris menempel, tak lain adalah Oliver, suami Vivian.Belum sempat Bella bereaksi lebih jauh, pria itu kembali membuka mulut.“Kenapa tidak langsung mencariku kemarin? Kamu bahkan tidak menghubungiku sama sekali, Sayang?”Bola mata Bella melebar. Sayang? Mencari suami adik ipar sendiri? Apa-apaan ini?Perutnya mendadak terasa mual, seolah ada sesuatu yang hendak dimuntahkannya. Sumpah serapah sudah berdesakan di ujung lidah ketika tangan Oliver terulur untuk menyentuh bibirnya. Belum lagi tatapan penuh hasrat pria itu yang terasa begitu menjijikkan.Tangan besar Oliver nyaris menyentuh bibirnya ketika Bella bergerak cepat. Dengan refleks terlatih, ia menangkap pergelangan tangan pria itu, lalu memutarnya ke arah berlawanan sebelum menguncinya kuat-kuat di belakang punggung Oliver.“Akh—! Sial! Apa yang kamu lakukan, Bianca?” Oliver meringis. Tubuhnya spontan
Bella menggelengkan kepala. Namun, ia tahu dirinya tidak boleh menyerah secepat ini. Bahkan belum genap dua puluh empat jam ia menyamar menjadi Bianca, apa ia sudah harus mengibarkan bendera putih?Tidak!Bella menegakkan tubuh, lalu menggelengkan kepala kuat-kuat, seolah dengan begitu jalan penyamarannya akan menjadi lebih mudah.“Di mana Theo?” Bella berbalik menatap pelayan yang setia mendampinginya.Ia sudah bertemu Clara, salah satu anak Bianca yang terang-terangan menolaknya. Namun, ia belum melihat Theo, bayi berusia satu tahun yang dalam foto-foto Bianca terlihat begitu menggemaskan.“Di kamar bersama pengasuhnya, Nyonya.”“Antarkan aku ke kamarnya!”Tanpa memberi kesempatan kepada sang pelayan untuk menunjukkan keterkejutannya, Bella bergegas meninggalkan ruang makan. Langkah kaki mereka menggema dengan irama konstan di sepanjang lorong lantai dua kediaman keluarga Sinclair yang panjang dan mewah. Sang pelayan berjalan sigap di depan, memandunya menuju kamar Theo.“Nyonya, ma
Seluruh ruangan seolah membeku. Ketegangan menggantung di udara, membuat suasana sarapan yang semula tenang berubah menjadi kaku dan mencekam.“Kamu bicara apa, Bianca?” tegur Lucian. Suaranya terdengar rendah, tetapi ada tekanan kuat di balik setiap katanya.Semula, semua orang mengira Bella akan merasa terintimidasi. Namun, di luar dugaan, wanita itu hanya melirik Lucian selama kurang dari dua detik sebelum kembali mengarahkan pandangan pada wanita berpakaian formal yang kini menunduk dengan raut polos. Kepolosan yang dibuat-buat. Setidaknya, begitulah penilaian Bella.“Apa aku salah bicara?” tanya Bella tenang. “Bukankah memang ada orang asing di sini? Dan bukankah sarapan seharusnya menjadi waktu yang hangat bagi keluarga untuk berkumpul?”“Laura bukan orang asing!”Suara lain menyela, memotong ucapan Bella. Bukan suara Lucian, melainkan suara wanita muda yang sejak awal memandangnya dengan kebencian terang-terangan.“Dia sekretaris Kak Lucian. Kamu tidak berhak bicara seperti itu
“Nyonya, air mandinya sudah saya siapkan.”Bella mengembuskan napas lega. Seorang wanita muda berseragam pelayan berdiri di hadapannya dengan kepala tertunduk. Tidak ada kecanggungan ataupun keraguan dalam sikapnya. Dalam sekejap, Bella menarik kesimpulan bahwa gadis itu adalah pelayan pribadi Bianca.“Baiklah. Antar aku ke kamar.”Bella meraih map tebal berwarna hitam yang tadi diletakkan Lucian di atas meja, lalu beranjak menuju pintu. Namun, langkahnya terhenti ketika menyadari tidak ada gerakan di belakangnya. Sang pelayan masih berdiri di tempat semula, seolah tidak mendengar perintahnya.“Hei, kenapa masih berdiri di sana? Apa kau tidak mendengarku?” tegur Bella seraya mengangkat sebelah tangan.“Apa, Nyonya?”Sang pelayan mengerjap bingung. Bagaimana mungkin nyonya besar yang begitu berkuasa di rumah ini meminta diantar ke kamarnya sendiri? Bukankah selama ini Nyonya Bianca selalu berjalan mendahuluinya dengan sikap angkuh, tanpa pernah memedulikan apakah dirinya mengikuti atau
“Ini dokumen perceraiannya. Silakan tandatangani agar segera bisa diproses sesuai keinginanmu.”Bella mematung di tempatnya. Gerakan tangannya yang sedang memegang cangkir teh menggantung di udara. Tatapannya terpaku pada map tebal berwarna hitam di atas meja yang baru saja diletakkan oleh sebuah tangan kokoh.Napas Bella tertahan. Bahkan belum genap sehari ia berada di rumah ini, sudah mendapat kejutan berupa surat gugatan perceraian.Bella mengerjap. Pandangannya bergeser perlahan dari dokumen tebal itu, menyusuri pemilik tangan yang baru saja meletakkannya. Sepasang tangan kokoh berbalut jas hitam, kemeja putih, dan dasi yang sudah sedikit longgar. Lalu, tatapannya berhenti pada seraut wajah pria berusia 35 tahun yang juga menatapnya tanpa ekspresi. Sepasang alis tebal, tatapan elang, dan rahang kokoh. Sayang sekali, ketampanan itu tertutup oleh raut dingin dan rasa lelah yang begitu kentara.Lucian Sinclair.Tentu saja Bella mengenali pria itu. Sejak pertama kali Bianca menyodorka
“Kamu demam?” Bella mengulurkan tangan, menyentuh kening Bianca dengan punggung jemarinya. “Atau obat yang kamu minum membuatmu bicara sembarangan? Bagaimana mungkin kamu memintaku menggantikanmu?”Bianca menepis lembut tangan itu, lalu menggeleng lemah.“Bella, aku sungguh-sungguh.” Air mata mulai menggenang di sudut matanya. “Aku punya dua anak. Karena itulah, aku mohon penuhi permintaanku. Tolong gantikan aku merawat mereka.”“Aku tahu sudah terlalu lama meninggalkan mereka. Anak-anakku pasti merindukanku. Tapi lihatlah keadaanku sekarang.” Ia berusaha menelan isakannya, tetapi suaranya justru semakin bergetar. “Aku bahkan tidak bisa mengurus diriku sendiri.”Air mata akhirnya mengalir membasahi pipi Bianca yang pucat.“Aku takut Lucian akan menceraikanku jika melihatku seperti ini. Lalu memisahkan kami. Jadi, aku memilih merahasiakan semuanya. Hanya Kak Justin yang tahu aku dirawat di sini.”Bella terdiam. Ia bisa merasakan betapa dalam rasa sakit yang disembunyikan Bianca di bali







