Partager

Enam

Auteur: Rosemala
last update Date de publication: 2026-10-14 16:35:49

Bella menggelengkan kepala. Namun, ia tahu dirinya tidak boleh menyerah secepat ini. Bahkan belum genap dua puluh empat jam ia menyamar menjadi Bianca, apa ia sudah harus mengibarkan bendera putih?

Tidak!

Bella menegakkan tubuh, lalu menggelengkan kepala kuat-kuat, seolah dengan begitu jalan penyamarannya akan menjadi lebih mudah.

“Di mana Theo?” Bella berbalik menatap pelayan yang setia mendampinginya.

Ia sudah bertemu Clara, salah satu anak Bianca yang terang-terangan menolaknya. Namun, ia belum melihat Theo, bayi berusia satu tahun yang dalam foto-foto Bianca terlihat begitu menggemaskan.

“Di kamar bersama pengasuhnya, Nyonya.”

“Antarkan aku ke kamarnya!”

Tanpa memberi kesempatan kepada sang pelayan untuk menunjukkan keterkejutannya, Bella bergegas meninggalkan ruang makan. Langkah kaki mereka menggema dengan irama konstan di sepanjang lorong lantai dua kediaman keluarga Sinclair yang panjang dan mewah. Sang pelayan berjalan sigap di depan, memandunya menuju kamar Theo.

“Nyonya, maaf kalau saya lancang.”

Bella menoleh tanpa menghentikan langkahnya.

“Katakanlah!” pintanya singkat, menyadari ada sesuatu yang ingin disampaikan pelayan itu.

“Jangan masukkan ucapan Nona Vivian ke dalam hati. Dia memang seperti itu. Selalu iri kepada Nyonya,” jelas sang pelayan, meskipun terdengar ragu.

“Hmm.”

Bella hanya menanggapi dengan gumaman. Tanpa perlu diberi tahu pun, ia sudah bisa menangkap bagaimana sikap Vivian terhadapnya.

“Terkadang saya heran dengan Nona Vivian. Dia punya uang, seharusnya bisa membeli baju bagus dan berdandan cantik untuk menyenangkan dirinya sendiri. Bukan malah terus memanjakan suaminya yang pemalas itu.”

Kening Bella sedikit berkerut. Ia mulai menyadari bahwa pelayan di sampingnya rupanya gemar membicarakan hal-hal yang sebenarnya bukan urusannya.

“Dia iri kepada Nyonya karena Nyonya cantik, selalu menjadi pusat perhatian, dan terutama karena suaminya ....”

“Ssst!”

Bella akhirnya menempelkan telunjuk di depan bibirnya sendiri, menghentikan ocehan sang pelayan sebelum berlanjut lebih jauh.

Baginya, informasi tentang Vivian sudah cukup sampai di situ. Adik ipar yang membencinya, memiliki suami pemalas, dan tampaknya ingin menyingkirkannya dari rumah ini.

Namun, untuk saat ini, memperbaiki pernikahan Bianca tetap menjadi prioritas utamanya.

Terlebih, suara tangisan bayi mulai terdengar dari salah satu ruangan yang hendak mereka lewati. Bella segera meminta sang pelayan mengetuk pintunya.

Bella sempat tertegun begitu melewati pintu dan mendapati kamar tidur bayi yang luas dan nyaman. Wallpaper bermotif awan dan bintang berwarna biru muda menghiasi dinding, berpadu dengan lampu gantung berbentuk bulan sabit yang memancarkan cahaya hangat. Sebuah ranjang bayi berpagarkan kayu putih berdiri di sudut ruangan, dikelilingi rak berisi boneka beruang, mobil-mobilan mewah, dan buku cerita bergambar, sementara karpet tebal membentang di tengah ruangan. Menciptakan suasana hangat sekaligus mewah bagi sang pangeran kecil.

Namun, bukan kemewahan kamar itu yang menarik perhatian Bella saat ini. Pandangannya langsung tertuju pada bayi laki-laki berusia satu tahun yang menggeliat rewel dalam dekapan pengasuhnya.

Setengah berlari, Bella menghampiri mereka.

“Theo, kenapa?” tanyanya seraya mengulurkan tangan untuk menyentuh kening mungil itu. “Kenapa badanmu hangat?”

Bella hendak mengambil alih bayi tersebut, tetapi tanpa diduga, sang pengasuh justru beringsut mundur, seolah ingin menjauhkan Theo dari jangkauannya.

Spontan, beberapa lipatan terbentuk di kening Bella. Mengapa pengasuh itu bersikap seolah-olah dirinya tidak boleh mendekati Theo?

Bella kembali melangkah maju. Namun, seperti sebelumnya, sang pengasuh kembali menjauhkan bayi itu darinya hingga darah Bella terasa mendidih.

“Ada apa denganmu? Aku hanya ingin memeriksa Theo!” geram Bella, berusaha menahan kekesalannya.

Alih-alih menjawab, sang pengasuh justru menunduk sambil mendekap Theo semakin erat. Bella bahkan bisa melihat tangan wanita itu bergetar.

“Maaf, Nyonya. Apa Nyonya sudah meminta izin Tuan Sinclair untuk datang ke sini?”

Tanpa sadar, bola mata Bella membesar.

Izin?

“Apa aku perlu meminta izin suamiku sendiri hanya untuk melihat anakku?” tuntut Bella kesal. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang sebenarnya dipikirkan orang-orang di rumah ini.

“Maafkan saya, Nyonya. Namun, saya tidak berani membiarkan Anda menyentuh bayi Theo tanpa seizin Tuan Sinclair.”

Rahang Bella mengatup rapat. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuh.

Jika menuruti kata hatinya, ingin rasanya ia merebut bayi yang tampak tidak nyaman itu, lalu membawanya pergi. Meskipun seorang tomboy yang tumbuh di jalanan, Bella memiliki banyak anak asuh di panti asuhan. Mengurus anak bukanlah perkara asing baginya.

Namun, lihatlah apa yang dilakukan pengasuh itu! Wanita tersebut terus menjauhkan Theo dari jangkauannya, seolah-olah Bella adalah monster yang siap menyakiti bayi itu kapan saja.

“Aku hanya ingin memeriksa kondisi Theo. Lihatlah, sepertinya dia demam!” geram Bella tak sabar, menghujamkan tatapan tajam kepada pengasuh yang usianya tak jauh berbeda darinya.

Bella kembali merangsek maju. Kesabarannya mulai terkikis ketika sebuah tangan tiba-tiba mencengkeram lengannya, menahan langkahnya.

“Nyonya, tenanglah! Nanny hanya menaati perintah Tuan.”

Suara pelayan itu terdengar cemas. Ia berusaha menenangkan majikannya yang mulai kehilangan kendali. Kemudian, wanita itu mendekat dan membisikkan sesuatu kepadanya.

“Apa Nyonya lupa? Terakhir kali tangan Nyonya menyentuh bayi Theo, tuan muda harus dilarikan ke rumah sakit karena terjatuh ke lantai. Nanny hanya menjalankan perintah Tuan Sinclair demi keselamatan bayi Theo.”

“Apa?”

Bella memekik, setengah berteriak. Ia menatap pelayan di hadapannya dengan tidak percaya, berusaha menemukan celah kebohongan dari wajah wanita itu. Atau setidaknya, berharap sang pelayan hanya sedang bergurau.

Namun, tidak. Ia tidak menemukan apa pun selain keseriusan yang terpancar jelas dari raut wajah wanita tersebut.

Bella memalingkan wajah, kembali menatap pengasuh yang masih menunduk gemetar. Theo terus menggeliat rewel dalam pelukannya.

Bella menggigit bibir.

Keinginannya untuk menenangkan anak bungsu saudara kembarnya itu begitu besar. Namun, ia tidak ingin memperkeruh keadaan sebelum mengetahui kebenaran di balik semua yang baru saja didengarnya.

Sebuah tarikan napas panjang menjadi tanda bahwa Bella akhirnya memilih mengalah.

“Baiklah, kalau aku tidak boleh menyentuh Theo, nanti aku akan bicara dengan Lucian. Namun, kumohon, perhatikan kondisinya sekarang. Sepertinya dia tidak nyaman. Mungkin demam. Periksa dia baik-baik dan jangan pernah meninggalkannya sendirian. Pastikan dia selalu berada dalam pengawasanmu setiap saat.”

Setelah mengatakan itu, Bella melangkah mundur. Tatapannya masih tertuju pada Theo, seolah berat baginya untuk menjauh dari bayi tersebut. Namun, pada akhirnya, ia memilih meninggalkan kamar sang bayi.

Langkah kakinya terasa lunglai saat menyusuri lorong yang mendadak terasa hampa.

Pagi ini benar-benar menguras emosinya. Serangan kebencian dari adik iparnya, sikap suami yang seolah tidak peduli, penolakan anak sulung, dan terakhir, larangan untuk mendekati anak bungsu Bianca membuat kepalanya terasa hampir pecah.

Bella memejamkan mata sejenak, mencoba meredakan gejolak perasaan di dalam dadanya. Setelah itu, ia berbalik menghadap pelayan setia yang sejak tadi mengikutinya.

“Tolong tinggalkan aku sendiri,” pintanya lirih kepada wanita yang bahkan belum ia ketahui namanya. “Aku ingin menenangkan diri dulu.”

Keraguan terpancar jelas di mata sang pelayan. Namun, pada akhirnya, wanita itu mengangguk dan segera berjalan menjauh, meninggalkan majikannya yang tampak tertekan.

Setelah pelayan itu pergi, Bella kembali menyusuri lorong rumah yang bahkan belum dikenalnya secara menyeluruh. Langkah gontai yang mengiringi pikirannya yang kosong membawanya menuju sebuah tangga yang tampaknya jarang digunakan.

Namun, kakinya seolah tidak peduli. Ia terus menaiki anak tangga demi anak tangga yang sepi hingga akhirnya tiba di sebuah rooftop luas yang seakan tersembunyi dari dunia luar.

Angin yang cukup kencang di lantai atas langsung menerpa tubuh lelah Bella. Ujung rambutnya berkibar lembut mengikuti embusan angin.

Bella berdiri di sisi terluar rooftop itu. Kedua tangannya bertumpu pada pagar besi pembatas, sementara tatapannya terlempar jauh ke deretan atap rumah tetangga di kejauhan.

Ia menghirup udara dalam-dalam, berusaha melegakan paru-parunya yang sejak tadi terasa sesak akibat tekanan emosi.

Bella baru saja hendak berbalik ketika sepasang tangan besar tiba-tiba melingkari perut ratanya dari belakang.

Kepanikan luar biasa seketika menyergapnya.

Lalu, sebuah suara yang begitu dekat dengan telinganya terdengar merdu, seolah tidak menyadari betapa kehadirannya telah membuat Bella terkejut.

“Sayang, ternyata kamu di sini. Sudah kuduga, kamu pasti merindukan tempat favorit kita.”

**

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • MENJADI ISTRI PALSU ADIK IPARKU   Tujuh

    Seringai menjijikkan langsung menyambut Bella begitu ia membalikkan tubuhnya. Pria yang berdiri sangat dekat dengannya, bahkan nyaris menempel, tak lain adalah Oliver, suami Vivian.Belum sempat Bella bereaksi lebih jauh, pria itu kembali membuka mulut.“Kenapa tidak langsung mencariku kemarin? Kamu bahkan tidak menghubungiku sama sekali, Sayang?”Bola mata Bella melebar. Sayang? Mencari suami adik ipar sendiri? Apa-apaan ini?Perutnya mendadak terasa mual, seolah ada sesuatu yang hendak dimuntahkannya. Sumpah serapah sudah berdesakan di ujung lidah ketika tangan Oliver terulur untuk menyentuh bibirnya. Belum lagi tatapan penuh hasrat pria itu yang terasa begitu menjijikkan.Tangan besar Oliver nyaris menyentuh bibirnya ketika Bella bergerak cepat. Dengan refleks terlatih, ia menangkap pergelangan tangan pria itu, lalu memutarnya ke arah berlawanan sebelum menguncinya kuat-kuat di belakang punggung Oliver.“Akh—! Sial! Apa yang kamu lakukan, Bianca?” Oliver meringis. Tubuhnya spontan

  • MENJADI ISTRI PALSU ADIK IPARKU   Enam

    Bella menggelengkan kepala. Namun, ia tahu dirinya tidak boleh menyerah secepat ini. Bahkan belum genap dua puluh empat jam ia menyamar menjadi Bianca, apa ia sudah harus mengibarkan bendera putih?Tidak!Bella menegakkan tubuh, lalu menggelengkan kepala kuat-kuat, seolah dengan begitu jalan penyamarannya akan menjadi lebih mudah.“Di mana Theo?” Bella berbalik menatap pelayan yang setia mendampinginya.Ia sudah bertemu Clara, salah satu anak Bianca yang terang-terangan menolaknya. Namun, ia belum melihat Theo, bayi berusia satu tahun yang dalam foto-foto Bianca terlihat begitu menggemaskan.“Di kamar bersama pengasuhnya, Nyonya.”“Antarkan aku ke kamarnya!”Tanpa memberi kesempatan kepada sang pelayan untuk menunjukkan keterkejutannya, Bella bergegas meninggalkan ruang makan. Langkah kaki mereka menggema dengan irama konstan di sepanjang lorong lantai dua kediaman keluarga Sinclair yang panjang dan mewah. Sang pelayan berjalan sigap di depan, memandunya menuju kamar Theo.“Nyonya, ma

  • MENJADI ISTRI PALSU ADIK IPARKU   Lima

    Seluruh ruangan seolah membeku. Ketegangan menggantung di udara, membuat suasana sarapan yang semula tenang berubah menjadi kaku dan mencekam.“Kamu bicara apa, Bianca?” tegur Lucian. Suaranya terdengar rendah, tetapi ada tekanan kuat di balik setiap katanya.Semula, semua orang mengira Bella akan merasa terintimidasi. Namun, di luar dugaan, wanita itu hanya melirik Lucian selama kurang dari dua detik sebelum kembali mengarahkan pandangan pada wanita berpakaian formal yang kini menunduk dengan raut polos. Kepolosan yang dibuat-buat. Setidaknya, begitulah penilaian Bella.“Apa aku salah bicara?” tanya Bella tenang. “Bukankah memang ada orang asing di sini? Dan bukankah sarapan seharusnya menjadi waktu yang hangat bagi keluarga untuk berkumpul?”“Laura bukan orang asing!”Suara lain menyela, memotong ucapan Bella. Bukan suara Lucian, melainkan suara wanita muda yang sejak awal memandangnya dengan kebencian terang-terangan.“Dia sekretaris Kak Lucian. Kamu tidak berhak bicara seperti itu

  • MENJADI ISTRI PALSU ADIK IPARKU   Empat

    “Nyonya, air mandinya sudah saya siapkan.”Bella mengembuskan napas lega. Seorang wanita muda berseragam pelayan berdiri di hadapannya dengan kepala tertunduk. Tidak ada kecanggungan ataupun keraguan dalam sikapnya. Dalam sekejap, Bella menarik kesimpulan bahwa gadis itu adalah pelayan pribadi Bianca.“Baiklah. Antar aku ke kamar.”Bella meraih map tebal berwarna hitam yang tadi diletakkan Lucian di atas meja, lalu beranjak menuju pintu. Namun, langkahnya terhenti ketika menyadari tidak ada gerakan di belakangnya. Sang pelayan masih berdiri di tempat semula, seolah tidak mendengar perintahnya.“Hei, kenapa masih berdiri di sana? Apa kau tidak mendengarku?” tegur Bella seraya mengangkat sebelah tangan.“Apa, Nyonya?”Sang pelayan mengerjap bingung. Bagaimana mungkin nyonya besar yang begitu berkuasa di rumah ini meminta diantar ke kamarnya sendiri? Bukankah selama ini Nyonya Bianca selalu berjalan mendahuluinya dengan sikap angkuh, tanpa pernah memedulikan apakah dirinya mengikuti atau

  • MENJADI ISTRI PALSU ADIK IPARKU   Tiga

    “Ini dokumen perceraiannya. Silakan tandatangani agar segera bisa diproses sesuai keinginanmu.”Bella mematung di tempatnya. Gerakan tangannya yang sedang memegang cangkir teh menggantung di udara. Tatapannya terpaku pada map tebal berwarna hitam di atas meja yang baru saja diletakkan oleh sebuah tangan kokoh.Napas Bella tertahan. Bahkan belum genap sehari ia berada di rumah ini, sudah mendapat kejutan berupa surat gugatan perceraian.Bella mengerjap. Pandangannya bergeser perlahan dari dokumen tebal itu, menyusuri pemilik tangan yang baru saja meletakkannya. Sepasang tangan kokoh berbalut jas hitam, kemeja putih, dan dasi yang sudah sedikit longgar. Lalu, tatapannya berhenti pada seraut wajah pria berusia 35 tahun yang juga menatapnya tanpa ekspresi. Sepasang alis tebal, tatapan elang, dan rahang kokoh. Sayang sekali, ketampanan itu tertutup oleh raut dingin dan rasa lelah yang begitu kentara.Lucian Sinclair.Tentu saja Bella mengenali pria itu. Sejak pertama kali Bianca menyodorka

  • MENJADI ISTRI PALSU ADIK IPARKU   Dua

    “Kamu demam?” Bella mengulurkan tangan, menyentuh kening Bianca dengan punggung jemarinya. “Atau obat yang kamu minum membuatmu bicara sembarangan? Bagaimana mungkin kamu memintaku menggantikanmu?”Bianca menepis lembut tangan itu, lalu menggeleng lemah.“Bella, aku sungguh-sungguh.” Air mata mulai menggenang di sudut matanya. “Aku punya dua anak. Karena itulah, aku mohon penuhi permintaanku. Tolong gantikan aku merawat mereka.”“Aku tahu sudah terlalu lama meninggalkan mereka. Anak-anakku pasti merindukanku. Tapi lihatlah keadaanku sekarang.” Ia berusaha menelan isakannya, tetapi suaranya justru semakin bergetar. “Aku bahkan tidak bisa mengurus diriku sendiri.”Air mata akhirnya mengalir membasahi pipi Bianca yang pucat.“Aku takut Lucian akan menceraikanku jika melihatku seperti ini. Lalu memisahkan kami. Jadi, aku memilih merahasiakan semuanya. Hanya Kak Justin yang tahu aku dirawat di sini.”Bella terdiam. Ia bisa merasakan betapa dalam rasa sakit yang disembunyikan Bianca di bali

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status