FAZER LOGINA sus 24 años, Helena cree haberlo tenido todo: un matrimonio estable, una vida planificada y una relación que parecía sólida. Hasta que, un día, su mundo se desmorona. Un divorcio inesperado la deja en ruinas emocionales, enfrentándola a la dolorosa realidad de que nunca había vivido realmente para sí misma. Con el corazón roto pero decidida a reinventarse, Helena se embarca en la aventura más desafiante de todas: redescubrir quién es. Se muda a una nueva ciudad, cambia de trabajo y se enfrenta a sus miedos con la promesa de no volver a conformarse con menos de lo que merece. Lo que no espera es cruzarse con Adrián, un hombre con cicatrices propias, un pasado que no lo deja avanzar y un carácter tan indomable como el suyo. Lo último que ambos desean es enamorarse otra vez, pero el destino –y sus corazones testarudos– tienen otros planes. Entre encuentros intensos, diálogos chispeantes y emociones a flor de piel, Helena descubrirá que hay una segunda vez para todo… incluso para el amor. Pero ¿estará lista para arriesgarse de nuevo? ¿Y Adrián, podrá derribar sus propias barreras para abrirle paso? Una historia de segundas oportunidades, autodescubrimiento y el coraje de vivir sin miedo.
Ver mais"Hemat pangkal kaya, rajin pangkal pandai, nurut Emak pangkal masuk surga." —Single yang bosan ditanya kapan nikah.
Binar baru saja selesai menulis bab baru untuk novel barunya ketika ponselnya bergetar. Ibu, lagi. Sebagai putri semata wayang, ia sudah bisa meramal topik yang akan dibahas sore ini, dan sore-sore berikutnya. Sebagai penulis, ia bisa menebak tiap perkataan dan mengimajinasikan raut wajah Ibu di balik teleponnya, dengan jelas sekali.
"Halo, Nak. Gimana kabarnya?" tanya Ibu di seberang telepon.
"Baik, Bu. Ibu sendiri gimana? Maaf ya, Bu, belum bisa menelepon seminggu ini. Ibu tahu sendiri, kan, aku kalau lagi ngejar deadline nulis kayak gimana," jawab Binar diisi perasaan bersalah. Terikat kontrak menulis dengan penerbit major membuatnya sibuk bukan kepalang, sampai tidak sempat untuk menelepon Ibu.
"Enggak papa, Nak. Ibu paham, kok. Tapi Minggu ini kamu bakal pulang kan, ya? Kamu sudah tidak pulang sebulan lebih, padahal tempatmu tinggal masih satu kota sama rumah di sini. Apa kamu enggak kangen? Bapak aja sudah nanyain kamu."
"Minggu ini, Bu?" Binar menimbang-nimbang. Tidak ada salahnya untuk pulang sebentar, melepas kangen dengan Ibu dan Bapak di rumah. Urusan menulis masih bisa diatur. "Sepertinya bisa, Bu."
"Ya sudah, kalau gitu Ibu sama Bapak tunggu di rumah, ya," ujar Ibu sembari menutup telepon.
Binar menutup ponselnya. Ia merasakan ada sesuatu yang aneh namun tidak tahu apa. Tunggu, tumben Ibu tidak menanyakan soal kapan aku nikah? Pikirnya. Tapi masuk akal juga sih, mungkin Ibu sudah lelah bertanya setelah bertahun-tahun menerima jawaban yang sama: 'masih sibuk menulis, Bu.'
Itu yang selalu dikatakan Binar ketika ditanya Ibu dan anggota keluarga lainnya tentang menikah. Walaupun kelihatannya bukan alasan yang kuat, setidaknya cukup untuk memutus percakapan yang enggan ia bicarakan.
Meskipun setelahnya ada saja yang melanjutkannya dengan kalimat seperti, "Nanti kalau jadi perawan tua gimana? Kamu enggak takut?" "Buruan cari laki, nanti kalau udah tua enggak ada yang mau, lo!" "Nikah jangan ketuaan, nanti susah punya anak emangnya kamu mau?"
Masalahnya, pernikahan tidak pernah terpikirkan oleh Binar, punya anak apalagi. Namun, ia tak pernah berani menyebutnya secara terang-terangan mengingat pemikiran keluarganya yang cenderung konservatif.
Ia khawatir, bisa-bisa keputusannya ini menimbulkan perpecahan di keluarganya, lalu berakhir dengan munculnya gosip-gosip aneh.
Binar merasa cukup hanya dengan kehidupannya yang sekarang. Sangat cukup, bahkan. Waktunya sudah habis untuk menulis, pulang untuk memasakkan makanan dan mengobrol dengan Ibu dan Bapak yang sudah lanjut usia, bermain bersama keponakan-keponakannya ketika berkunjung ke tempat tinggal ketiga abangnya yang jaraknya saling berjauhan, berkunjung ke rumah sahabatnya, dan tidak lupa, menyisakan waktunya untuk 'quality time' dengan diri sendiri.
Quality time dengan diri sendiri, atau yang biasa disebut 'me-time', adalah salah satu cara untuk membuat pikirannya tetap waras setelah ditagih oleh Bapak Editor yang sedikit-sedikit galak.
Me-time ini bisa dilakukan dengan olahraga, nonton bioskop, makan menu enak (dan mahal!) di restoran favorit, dan makan dessert yang banyak, semua ini tentunya dilakukan oleh, dari, dan untuk Binar seorang.
Ngomong-ngomong soal me-time, Binar jadi ingat kalau belum makan dari pagi. Sambil memijit kepalanya yang mulai pusing karena setengah harinya dihabiskan di depan layar komputer, Binar memutuskan untuk beranjak dari kursinya dan hendak ke dapur.
Oh, memasak juga salah satu agenda me-time ala Binar. Menurutnya, memasak membuat pikirannya lebih jernih dan terpusat pada masa kini, membuat pikirannya beristirahat tanpa berisik soal imajinasi-imajinasinya yang seringkali susah untuk berhenti.
Setelah selesai memasak nasi, sayur capcay, menggoreng ayam kuning yang sudah diungkep pada malam sebelumnya, dan mulai menatanya di meja makan di ruang makan yang tidak begitu luas, terdengar suara bel dari pintu masuk. Binar menghampiri ke arah suara dan kemudian membuka pintu, muncul kedua sahabatnya—yang kini menjadi sepasang suami-istri—bersama anaknya yang mungil.
Wajah keduanya tidak bisa terbaca oleh Binar. Raka, yang tengah menggendong Aksa, anaknya yang sudah terlelap, hanya tersenyum tertahan, ingin segera melepas tawa. Nila, berdiri di sebelah Raka, juga menunjukkan raut wajah yang sama, hanya saja dengan pandangan yang sedikit usil.
"Dilihat dari mukanya, kayaknya ini anak enggak tahu apa-apa, deh," ujar Nila pura-pura berbisik pada Raka, memulai pembicaraan setelah keduanya duduk berhadapan dengan Binar di meja makan yang hanya cukup untuk 4 kursi, meninggalkan Aksa yang sedang sibuk dalam mimpi tidurnya di kamar Binar.
"Iya lah, kalau ini anak tahu, pasti sekarang sudah panik parah," balas Raka, juga pura-pura berbisik.
"Tahu apa?" tanya Binar polos, yang disambut dengan raut muka kedua sahabatnya yang semakin usil.
"Kita boleh bocorin enggak, sih, beb?" tanya Nila, semakin gemas.
"Kasih tahu apa?" tanya Binar, masih sabar.
"Jangan dulu, nanti dia juga tahu sendiri," jawab Raka sekenanya.
"Astaga, Raka Adiyaksa Agung Pramana, Nila Kamala, tolong ya, kalian ini lagi ngomongin apa?" tanya Binar mulai kehilangan kesabaran.
Raka dan Nila saling berpandangan, seakan-akan sedang mengirim sinyal ke satu sama lain tentang siapa yang akan memberitahu Binar perihal berita paling mengejutkan dan terpanas yang baru saja mereka dengar siang tadi.
"Kamu akan dijodohin, Nar," jawab Nila, singkat dan ragu.
"Haha, ya elah, emangnya aku bakal percaya?" balas Binar seraya tertawa. "Udah, deh, kalian jangan suka mengarang bebas, biar aku saja yang suka mengarang bebas," lanjutnya, bercanda.
Namun, tampak air muka Raka dan Nila yang mulai diam dan serius, membuat Binar merasakan sesuatu yang tidak enak.
"Oke, kalau emang benar, kalian kata siapa? Kalian dapat info ini dari mana? Kok aku enggak tahu? Kok kalian bisa tahu?" Binar mulai memburu kedua sahabatnya dengar pertanyaan. "Tunggu, sebelum kalian jawab yang tadi, emangnya aku mau dijodohin sama siapa?"
"Kamu bakal dijodohin sama Mas Banyu, Binar," terang Raka kalem.
El lunes amaneció con sabor a peligro. De esos días en los que sientes que algo va a pasar, aunque no sepas exactamente qué. Me puse una blusa blanca ajustada que me hacía ver más segura de lo que me sentía y unos pantalones que decían "profesional", pero que yo sabía que, con el ángulo correcto, susurraban otra cosa. Me maquillé los labios con decisión, me peiné como si fuera a enfrentar una batalla —porque lo era— y salí rumbo a la oficina con un mantra: No lo mires, no lo pienses, no lo sientas.Claro que fallé en los primeros cinco minutos.Adrián estaba en el pasillo, justo en la zona de café. Apoyado contra la encimera, con una taza en la mano y ese aire de que nada en e
No hay peor cosa que entrar a una oficina llena de gente con la sonrisa floja y el estómago revuelto. Eso fue exactamente lo que me pasó al cruzar la puerta esa mañana. Me repetí por quinta vez que hoy, hoy sí, iba a ignorar a Adrián. Sin importar cuán insoportablemente atractivo luciera. Sin importar esa mirada suya que parecía capaz de desnudar el alma. Y mucho menos sus comentarios envenenados, que siempre daban justo donde dolía.Pero claro… ¿cuándo me había salido bien esa estrategia?—Buenos días —dije con un entusiasmo falso al entrar a la sala de reuniones.—Buenos… —contestó parte del equipo, algunos si
A veces, los silencios dicen más que cualquier insulto, y Adrián Moretti parecía haber hecho de los silencios un arte de guerra.Esa mañana, al entrar a la oficina, lo noté desde lejos: erguido, impecable, con ese aire de “aquí mando yo” tan perfectamente ensayado que rozaba lo ridículo. Pero había algo más. Algo que me hizo fruncir el ceño sin querer. No era solo su altanería lo que me descolocaba… era esa sombra breve que cruzaba su rostro cuando creía que nadie lo miraba. Ese gesto apenas visible, como si por un segundo el disfraz se resquebrajara y dejara ver al hombre detrás del ogro.Llevaba días intentando comprender por qué alguien tan increíblemente molesto como él lograba ocupar tanto espacio en mi cabeza. ¿Era el desafío? ¿El roce incómodo de nuestros egos? ¿O era ese misterio que parecía envolverlo como un perfume caro que te irrita, pero no puedes dejar de oler?—Helena, ¿tienes un minuto? —Laura, mi jefa inmediata, asomó la cabeza por encima de su monitor.Asentí mientras
No podía dejar de pensar en él.Y no, no de la manera romántica que una adolescente tendría después de conocer a su ídolo pop en un concierto. No. Era más bien como cuando te cruzas con un terremoto: te remueve todo, sacude tus cimientos y, aún cuando se va, deja escombros. Eso era Adrián Moretti para mí. Una catástrofe elegante, con mirada asesina y trajes que seguramente costaban más que mi renta.Después de la reunión infernal, me encerré en mi oficina fingiendo leer un reporte que no podía ni enfocar. Seguía reviviendo el momento exacto en que él me lanzó esa frase con la frialdad de quien quita una curita de una herida mal cerrada.“Si no eres capaz de manejar la presión, quizás este no sea tu lugar.”¿Quién se creía que era? ¿El guardián del Olimpo? ¿Un dios griego del sarcasmo y la condescendencia?Mis dedos tamborileaban el borde del escritorio con fuerza. Sentía la sangre hervirme, burbujeando como agua en una tetera. Y aunque parte de mí quería escapar, la otra parte —la más












Bienvenido a Goodnovel mundo de ficción. Si te gusta esta novela, o eres un idealista con la esperanza de explorar un mundo perfecto y convertirte en un autor de novelas originales en online para aumentar los ingresos, puedes unirte a nuestra familia para leer o crear varios tipos de libros, como la novela romántica, la novela épica, la novela de hombres lobo, la novela de fantasía, la novela de historia , etc. Si eres un lector, puedes selecionar las novelas de alta calidad aquí. Si eres un autor, puedes insipirarte para crear obras más brillantes, además, tus obras en nuestra plataforma llamarán más la atención y ganarán más los lectores.