Home / Horor / MISTERI TOKO KERAMAT / Bab 10 — Segel Darah

Share

Bab 10 — Segel Darah

Author: A. Rietha
last update publish date: 2026-10-27 10:41:42

"Ke basement! Sekarang!"

Yasser mendorong Namira menuju tangga. Kabut hitam merayap di lantai sepanjang lorong di belakang mereka.

Kabut bergulung cepat seperti punya kemauan sendiri untuk menangkap Yasser dan Namira.

Lorong toko sudah gelap total tertutup kabut tebal.

Namira terpeleset di anak tangga kedua. Lututnya menghantam sudut anak tangga dan ia nyaris terjatuh. Yasser menahan tubuhnya, lalu menarik lengannya sampai bahunya terasa mau lepas. Meru melesat lebih dulu dan menghilang ke dala
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • MISTERI TOKO KERAMAT   Bab 16: Asal-Usul Cermin

    Keesokan harinya, Gatra dan Yasser mendatangi Balai Lelang Kenanga. Berbekal informasi dari Pak Darsono, mereka berharap bisa mendapatkan keterangan lebih lengkap mengenai asal-usul cermin tua milik Nyonya Hartini.Namun, harapan mereka untuk segera bertemu dengan orang yang dicari ternyata tidak berjalan mulus.Pak Danu, kepala gudang balai lelang, sedang sibuk memeriksa dan mencocokkan daftar barang yang tersimpan di gudang. Melalui salah seorang pegawai, ia meminta Gatra dan Yasser menunggu sampai pekerjaannya selesai.Awalnya, Gatra tidak keberatan. Ia bahkan sempat menghabiskan segelas air mineral sambil memperhatikan aktivitas para pegawai yang mondar-mandir membawa barang. Akan tetapi, setelah hampir satu jam berlalu, kesabarannya mulai menipis."Masih lama?" bisik Gatra.Yasser melirik jam tangannya. "Sudah hampir dua jam.""Kalau memang tidak mau menemui kita, seharusnya bilang dari awal.""Sabar sedikit. Kita datang ke sini untuk mencari informasi, bukan mencari keributan."

  • MISTERI TOKO KERAMAT   Bab 15: Balai Lelang Kenanga

    Jalanan Kota Tua sudah ramai oleh mobil yang mulai pulang kerja. Yasser memarkir mobilnya di depan deretan bangunan kolonial bercat kusam. Papan kayu bertuliskan "Balai Lelang Kenanga" tergantung di atas pintu besar yang separuh tertutup."Tinggal setengah jam lagi tutup," kata Yasser sambil melirik jam tangannya. "Kita harus cepat."Gatra mengikutinya masuk. Bahu kirinya masih terasa dingin, meski sudah satu jam berlalu sejak di kamar itu. Berkali-kali ia menggosoknya, tapi dinginnya tak hilang.Ruang dalamnya penuh lemari kaca berisi jam saku, keramik, dan lukisan tua. Di belakang meja kayu, seorang lelaki berkacamata sedang menghitung berkas. Usianya sekitar enam puluh tahun. Di dadanya tersemat tanda nama: Pak Darsono."Maaf, kami hampir tutup," katanya tanpa mengangkat kepala."Kami hanya mau bertanya soal satu barang, Pak," kata Yasser. "Cermin besar berbingkai logam keemasan. Dibeli Nyonya Hartini dari sini sekitar tiga bulan lalu."Yasser menunjukkan foto cermin yang dimaksud.

  • MISTERI TOKO KERAMAT   Bab 14: Cermin dalam Kamar

    "Kamarnya yang paling ujung," kata Intan sebelum Gatra dan Yasser naik. "Dari beberapa hari lalu tidak ada yang berani masuk.""Kondisi kamar tetap seperti terakhir kali?" tanya Yasser."Tidak ada yang berubah. Polisi dan dokter sudah memeriksa. Setelah itu kamarnya kami kunci."Yasser mengangguk. Ia mengambil kunci dari tangan Intan, lalu berjalan menuju lantai 2. Bu Marni dan Intan menunggu di lantai bawah. Mereka tak mau ikut ke kamar Nyonya Hartini.Kamar itu luas. Ranjang kayu berukiran Jepara berdiri di tengah, seprainya masih rapi. Lemari besar menempel di dinding kiri. Di sudut kanan, berdiri sebuah cermin setinggi hampir dua meter.Gatra langsung berhenti di ambang pintu.Cermin itu hampir sama besar dengan cermin kabut di lorong toko. Bedanya, bingkainya dari logam keemasan dengan ukiran rumit, seperti hiasan dari istana-istana Eropa abad pertengahan. Permukaannya bersih dan jernih. Tidak ada kabut tak ada segel merah panjang seperti cermin yang ada di toko.Tapi entah menga

  • MISTERI TOKO KERAMAT   Bab 13 — Rumah Nyonya Hartini

    Pagi itu langit masih basah sisa hujan semalam. Gatra hampir tidak tidur. Setiap kali memejamkan mata, ia melihat perempuan basah kuyup itu berdiri di depan pintu tokonya dan menyodorkan secarik kertas dengan tangan yang dingin.Kertas itu sekarang ada di saku kemejanya. Ia sudah membacanya belasan kali.Pukul tujuh ia menelepon Yasser. Berharap Yasser bisa menemaninya ke alamat yang diberikan perempuan itu."Pagi, Yas. Kamu sibuk hari ini?""Kenapa? Ada masalah di toko?" tanya Yasser cemas, mungkin Yasser mengira Gatra membuat masalah lagi seperti tempo hari."Bukan soal toko. Semalam ada orang datang. Perempuan. Dia kasih alamat dan memintaku datang."Hening sebentar. "Jam berapa dia datang?""Waktu aku mau menutup toko."Yasser menghela napas pelan. Bukan napas kaget, tapi napas orang yang sudah menduga sesuatu."Saya ada janji ketemu klien jam sembilan. Mungkin nggak lama. Setelah itu, aku jemput kamu."Tepat pukul sepuluh lewat seperempat, mobil Yasser berhenti di depan toko. Gat

  • MISTERI TOKO KERAMAT   Bab 12 — Kesadaran Diri

    Sudah seminggu lebih Gatra nyaris tak keluar dari kamarnya di basement.Ia hanya naik ke atas untuk membuka toko, menyapa Namira, lalu turun lagi. Kitab tebal pemberian Yasser terbuka di atas kasur, dikelilingi catatan kecil yang ia tulis sendiri.Jarinya sudah hafal halaman mana yang ditandai merah terang. Tanda merah berarti tidak boleh dilewatkan.Ia membaca bagian tanggung jawab penjaga. Ia membaca daftar larangan, satu per satu, sampai hafal di luar kepala.Jangan membawa benda terkutuk keluar dari toko. Jangan menerima barang tanpa memeriksa asalnya. Perhatikan setiap segel yang ada di setiap barang antik.Peringatan yang paling sering ia baca ada di halaman tentang segel dan cara membuatnya. Tulisannya jelas. Gatra dulu hanya melirik bagian-bagian sekilas, dan akibatnya ia hampir terisap ke dalam cermin itu."Konyol sekali aku waktu itu," gumamnya sambil mengusap wajah. "Jawabannya ada di sini dari awal."Meru, kucing toko, melompat ke kasur dan duduk tepat di atas halaman yang

  • MISTERI TOKO KERAMAT   Bab 11 — Kesalahan yang Tak Boleh Terulang

    Gatra dan Yasser terduduk di lantai lorong, punggung mereka bersandar pada dinding. Napas keduanya masih memburu. Di depan mereka, cermin besar itu diam. Segel yang baru dipasang berpendar tipis di sepanjang bingkainya, lalu perlahan meredup.Tidak ada suara. Tidak ada bayangan yang bergerak. Hanya detak jantung Gatra yang terdengar jelas di telinganya."Sudah selesai?" bisik Gatra."Kelihatannya begitu." Yasser mengusap keringat di dahinya dengan lengan baju. "Tunggu sebentar. Kalau ada yang mau keluar lagi, biasanya langsung kelihatan."Mereka menunggu. Meru, kucing toko, duduk tenang di ujung lorong dan menatap cermin tanpa berkedip.Ekornya tidak bergerak. Gatra menganggap itu pertanda baik, atau setidaknya bukan pertanda buruk.Namira yang naik dari basement tengah membalut telapak tangan Gatra yang terluka.Yasser menghela napas panjang, lalu menoleh. "Gatra, aku mau tanya, dan tolong jawab jujur. Kitab itu sudah kamu baca dengan benar?"Gatra mengalihkan pandangan ke lantai. "K

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status