MasukSera mengeluarkan ponsel dari tasnya saat Raja tengah merapikan meja bekas makanan mereka tadi. Raut serius Sera sedikit menarik perhatian Raja.
"Ada hal penting yang mengganggu mbak Sera?" Tanya Raja dengan wajah penasaran. Mata Sera sedikit menyipit ketika mengalihkan pandangan dari ponselnya ke arah Raja yang kemudian duduk di hadapannya. "Pesen taxi online tapi belum ada yang jawab,” ucap Sera. "Aku antar aja." Kata Raja sambil meletakkan kain lap yang legang ke atas meja. Kening Sera mengernyit, "jangan. Kalian pasti masih mau seru-seruan kan?" Raja menoleh pada teman-temannya yang masih sibuk membereskan halaman belakang rumah Jefri yang berantakan karna acara mereka. "Setelah selesai beberes mereka pasti sibuk sama hape nya. Seharian kan mereka gak ada pegang handphone." Kata Raja yang kembali menatap Sera. Wanita itu terdiam sejenak, tampak menimbang tawaran Raja, "boleh deh kalau gak ngerepotin.” Raja tersenyum, ia meraih kunci mobil di atas meja dan berdiri, "guys, aku mau antar mbak Sera pulang bentar ya," ucapnya ke arah teman-temannya. "Okey..." Jawaban serentak terdengar meski mereka tak melihat arah suara. Dari dapur Jeny keluar dengan piyama dan masker yang masih basah di wajahnya membuat ia terlihat seperti istri shreek. "Maaf ya Ra, aku gak bisa antar. Mobil di bawa ayah belum pulang juga." Kata Jeny sungkan. "Gak apa-apa Jen, kebetulan Raja mau antar aku kok." Jawab Sera dengan senyuman. Mata Jeny teralihkan pada lelaki yang lebih tinggi dari dirinya, "kamu punya SIM?" Raja tertawa kecil, "begitu tamat SMA aku langsung urus SIM mbak, tenang lah." Jeny nyengir sungkan, "iya maaf, namanya juga nanya." "Ya udah aku balik ya, salam sama om dan Tante". Ucap Sera menengahi perseteruan Jeny dan Raja. "Iya, kalau udah sampai rumah kabari." Lanjut Jeny sembari menepuk bahu Sera. Sera hanya mengangguk lalu mengikuti langkah Raja dari belakang. Raja mulai mengemudikan mobil dengan perlahan. Tatapannya membelah jalanan yang tengah ramai oleh kesibukan sore akhir pekan. Tak ada obrolan antara dirinya dengan Sera sampai lampu merah menghentikan laju mobil yang dikendarai Raja. Ia menoleh ke arah wanita yang masih tenang menatap jalanan yang penuh sesak dengan kendaraan. Sunyi, wanita itu tak mencoba memecahkan keheningan sejak tadi. "Mbak Sera suka genre musik apa?" Tanya Raja yang sejak tadi sudah kaku tanpa obrolan. "Semua genre musik suka, sesuai mood aja." Wanita itu menjawab dengan tatapan sekilas lalu kembali pada tatapan awalnya tanpa berniat memperpanjang obrolan. "Yang paling sering di denger?" Tanya Raja lagi sembari sesekali melirik ke ke arah Sera. Bibir Sera sedikit manyun sambil bergerak ke kanan dan ke kiri, ia menoleh pada lelaki di sampingnya, "lagu nostalgia." "Lokal atau..." Raja menggantungkan pertanyaannya. "Muse, unintended. Setiap lagi butuh ketenangan aku denger lagu itu. Musiknya buat aku tenang walau kadang suasananya gak sesuai sama makna lagunya.” Jawab Sera dengan senyum kecil. Raja tersenyum, antusias Sera menjawab kali ini seakan memberikan umpan balik untuk melanjutkan obrolan. Lampu jalan sudah berganti ke hijau, Raja kembali melajukan mobilnya dengan santai mengikuti arahan Sera. "Mbak Sera tinggal sendiri?" Tanya Raja lagi tanpa mengalihkan pandangannya pada jalanan. Wanita itu hanya mengangguk tanpa menoleh pada Raja. "Orang tua?" Kali ini Raja sedikit menoleh ke arah Sera. "Meninggal sejak aku kelas tiga SMA. Kebetulan aku anak tunggal." Jawab Sera dengan wajah datar. Raja sedikit menghela nafas dengan wajah canggung sambil tetap fokus ke jalanan. "Maaf kalau pertanyaan aku..." Ucap Raja terdengar menyesal. "Gak perlu meminta maaf untuk sesuatu yang bukan kesalahan kamu." Jawab Sera dengan nada meyakinkan. Raja sedikit menoleh dengan kening mengernyit, Sera tersenyum. "Orang tua aku meninggal bukan salah kamu, kamu bertanya juga bukan kesalahan. Jadi gak perlu minta maaf." Sambungnya. Wajah tegang Raja sedikit menghilang dengan lengkungan kecil di sudut bibirnya. "Kerabat yang lain?" "Ada, tapi aku lebih nyaman sendiri." Ucap Sera dengan matanya yang mengedar ke luar mobil. "Kenapa?" Raja menoleh sebentar untuk melihat raut wajah Sera. Wajah Sera memaksakan sebuah senyuman agar ia tak terlihat kaku, "menghindari banyak pertanyaan yang gak mau aku jawab. Energi cepat habis kalau ditanya hal-hal yang gak aku inginkan." "Oh, maaf mbak kalau aku banyak tanya dari tadi." Kali ini Raja kembali terdengar sungkan. Sera mengembangkan senyum yang lebih tulus, "itu juga gak salah kok." "Mbak Sera mau singgah dulu ke suatu tempat? Biar aku antar.” "Langsung pulang aja. Takutnya temen-temen kamu nunggu." Jawab Sera. "Tenang mbak, besok kita mau balik, jadi gak akan ada acara lagi selain tidur." Sera terdiam dengan bola mata yang bergerak-gerak tak tentu arah sampai ia melihat toko buku di ujung jalan. "Kita ke toko buku itu sebentar ya," ucap Sera sembari menunjuk sebuah toko buku dengan bangunan full kaca yang bernuansa tenang. Raja segera membelokkan setirnya ke arah toko buku itu. "Aku gak lama kok," ucap Sera sembari mengaitkan tas ke lengannya saat Raja mematikan mesin mobilnya. "Aku ikut masuk aja mbak. Mana tau ada buku yang cocok sekalian mau beli.” kata Raja sembari membuka sabuk pengamannya lalu ikut keluar dari mobil."Cuma buku itu yang kamu bawa?" Tanya Desta dengan mata setengah melotot.Mata Sera mengikuti arah tatapan Desta, ia mengangguk sambil membuka lebar tasnya yang memperlihatkan alat make-up yang lengkap seolah itu memang tas make-up."Kamu mau kuliah atau..." Kening Desta mengernyit."Aku lebih suka lihat wajah aku yang tetap cantik daripada nilai A di kertas ujian." Sera tersenyum penuh percaya diri.Desta menutup mulutnya dengan tangannya ketika tawa tak mampu ia bendung saat melihat wajah Sera yang polos ketika mengucapkan kalimat itu."Apa itu lucu?" Senyum Sera lenyap berganti wajah kesal."Gak, bukan gitu, cuma agak aneh." Jawab Desta yang terlihat berusaha menghentikan tawanya."Kamu suka cewek aneh gak?" Sera kembali menopangkan wajah ke tangannya.Desta menghela nafas. "Yang normal aja kadang ribet, apalagi yang aneh." Senyum Desta tampak menyindir."Tapi yang aneh kan lucu tau..." Sera masih berusaha menggoda."Beda antara aneh dan lucu." Desta mulai membuka buku di hadapanny
"Danira, akhirnya kamu kembali."Danira mengangkat dagu. "Kamu terganggu?""Apa ada alasan yang membuatku harus merasa terganggu?" Sera balik bertanya dengan raut wajah tenang.Sepatu hak tinggi Danira beradu dengan lantai ketika ia berjalan mendekat. Jarak mereka tinggal beberapa sentimeter. Mata keduanya saling menatap, dingin dan tajam.Danira tersenyum tipis, tetapi tidak ada kehangatan di sana."Apa kamu masih mengincar posisi ketua yayasan?"Sera mempertahankan wajah tenangnya, meski jemarinya perlahan mengepal di sisi tubuh. Kedatangan Danira bukan kebetulan. Danira tidak pernah muncul tanpa membawa sesuatu yang ingin direbutnya."Dari awal kamu tau aku gak pernah menginginkan jabatan itu." Jawab Sera dengan wajah ramah.Senyum Danira menghilang."Ternyata kamu masih naif ya. Pantas saja sampai sekarang pun kamu belum bisa move on dari lelaki itu."Sera menatapnya tajam. Untuk pertama kalinya pagi itu, pikirannya tidak lagi dipenuhi Raja."Apa maksudmu?"Danira mendekatkan waja
Setalah cukup lama membiarkan Raja melayangkan ciumannya, Sera mengumpulkan seluruh tenaganya untuk melepaskan cengkraman lelaki itu dari tubuhnya.Beberapa kali mencoba ia gagal sampai yang terakhir kali dengan rasa amarah yang memuncak ia berhasil mendorong dada Raja hingga pria itu terhuyung mundur."Dasar kurang ajar! Kamu kira aku ini apa sembarangan kamu cium!" ketus Sera. Wajahnya dipenuhi kemarahan, sementara keterkejutan masih jelas terlihat di matanya.Raja menatapnya dengan wajah muram. Tatapan tajam Sera tidak membuatnya mundur, tetapi juga tidak membuatnya berani mendekat lagi."Aku suka sama Mbak Sera."Kening Sera berkerut, dengan sorot mata penuh emosi ia menampar wajah Raja hingga lelaki itu memegangi pipinya karna merasa pedih."Suka? Baru tadi siang kita kenal dan ngobrol, lalu kamu langsung bilang suka? Kamu kira aku perempuan kesepian yang haus kasih sayang?" tanyanya dengan nada meninggi."Sejak pertama kali melihat Mbak Sera, aku langsung—""Cukup!" Sera memoton
Sera menelusuri setiap gang dari rak-rak buku yang tersusun rapi. Ia menghirup dalam-dalam aroma buku yang menjadi ritual setiap ia memasuki toko buku atau perpustakaan. Raja mengernyitkan kening ketika mendapati tingkah Sera yang tak biasa menurutnya."Mbak Sera ngapai?" Tanyanya dengan nada sedikit ragu.Sera tersenyum kecil sembari menoleh pada Raja yang masih menatapnya penasaran."Itu ritual ku setiap kali masuk ke toko buku atau perpustakaan." Wajah Sera seolah berubah merona."Ri—tual?" Tanya Raja dengan wajah penuh penasaran.Sera mengangguk, "menghirup aroma buku yang tersusun rapi di rak-rak itu sesuatu yang menenangkan. Bagiku, seperti aroma terapi. Ada hal yang kembali dalam sekejap setiap aku menghirup baunya." Sera kembali menghirup udara dengan dalam, seolah menikmati setiap aroma di dalam ruangan itu."Apa yang kembali?" Tanya Raja penasaran.Garis senyum wanita itu menghilang, ekspresinya terlihat kaku sembari mengalihkan pandangan dari Raja. "Kenangan misalnya," ja
Sera mengeluarkan ponsel dari tasnya saat Raja tengah merapikan meja bekas makanan mereka tadi. Raut serius Sera sedikit menarik perhatian Raja."Ada hal penting yang mengganggu mbak Sera?" Tanya Raja dengan wajah penasaran.Mata Sera sedikit menyipit ketika mengalihkan pandangan dari ponselnya ke arah Raja yang kemudian duduk di hadapannya."Pesen taxi online tapi belum ada yang jawab,” ucap Sera."Aku antar aja." Kata Raja sambil meletakkan kain lap yang legang ke atas meja.Kening Sera mengernyit, "jangan. Kalian pasti masih mau seru-seruan kan?"Raja menoleh pada teman-temannya yang masih sibuk membereskan halaman belakang rumah Jefri yang berantakan karna acara mereka."Setelah selesai beberes mereka pasti sibuk sama hape nya. Seharian kan mereka gak ada pegang handphone." Kata Raja yang kembali menatap Sera.Wanita itu terdiam sejenak, tampak menimbang tawaran Raja, "boleh deh kalau gak ngerepotin.”Raja tersenyum, ia meraih kunci mobil di atas meja dan berdiri, "guys, aku mau a
Sera masih mematung karna canggung, Jeny berinisiatif menggerakkan tangan Sera menjabat tangan Raja. "Sera, namanya Sera. Dia sahabat aku," ucap Jeny seolah mewakili Sera yang masih terlihat kaku.Lelaki bernama Raja tersenyum dan kembali fokus pada panggangan ya.Sesi obrolan yang di awali dengan perkenalan menjadi hangat dan akrab. Jefri yang awalnya merasa enggan untuk di campuri kakaknya lun mulai ikut terbawa suasana nimbrung dengan obrolan Sera, kakaknya dan teman-temannya.Sejenak, Sera merasa menemukan lagi dirinya yang hilang bertahun-tahun hanya karna satu nama. Ia tertawa, bertukar lelucon dan mendengar dengan serius cerita lelaki yang berusia sembilan tahun lebih muda darinya.Daging yang mereka panggang sudah matang. Nicole membawanya ke tengah mereka dan dengan cepat mereka melahap hasil olahan mereka yang rela bergumul dengan asap demi hidangan sederhana namun di nikmati bersama cerita yang saling terlontar hingga mereka memahami satu sama lain.Raja mengambil gitar d







