Share

Namanya... Raja!

Penulis: Oyamanda
last update Tanggal publikasi: 2026-09-28 17:53:05

Sera masih mematung karna canggung, Jeny berinisiatif menggerakkan tangan Sera menjabat tangan Raja.

"Sera, namanya Sera. Dia sahabat aku," ucap Jeny seolah mewakili Sera yang masih terlihat kaku.

Lelaki bernama Raja tersenyum dan kembali fokus pada panggangan ya.

Sesi obrolan yang di awali dengan perkenalan menjadi hangat dan akrab. Jefri yang awalnya merasa enggan untuk di campuri kakaknya lun mulai ikut terbawa suasana nimbrung dengan obrolan Sera, kakaknya dan teman-temannya.

Sejenak, Sera merasa menemukan lagi dirinya yang hilang bertahun-tahun hanya karna satu nama. Ia tertawa, bertukar lelucon dan mendengar dengan serius cerita lelaki yang berusia sembilan tahun lebih muda darinya.

Daging yang mereka panggang sudah matang. Nicole membawanya ke tengah mereka dan dengan cepat mereka melahap hasil olahan mereka yang rela bergumul dengan asap demi hidangan sederhana namun di nikmati bersama cerita yang saling terlontar hingga mereka memahami satu sama lain.

Raja mengambil gitar di sampingnya, jemarinya mulai menari diatas senar-senar gitar dan menciptakan nada yang indah. Telinga Sera menangkap nada itu dengan akrab. Ia tersenyum lalu bersuara mengikuti alunan gitar yang di petik ramah oleh jemari-jemari Raja.

[Fly me to the moon

Let me play among the stars

Let me see what spring is like

On a-Jupiter and Mars

In other words, hold my hand

In other words, baby, kiss me]

Sembari tetap menarikan jemarinya di atas senar gitar, bibir Raja tersungging senyum tipis yang penuh arti melihat Sera bernyanyi dengan penuh penghayatan. Semua yang ada di situ juga terkesan dengan suara Sera yang merdu dengan penjiwaan yang pas pada lagu yang sedang ia nyanyikan.

[Fill my heart with song

And let me sing forevermore

You are all I long for

All I worship and adore

In other words, please be true

In other words, I love you

Fill my heart with song

Let me sing for ever more

You are all I long for

All I worship and adore

In other words, please be true

In other words, in other words

I love you]

Pada bait terakhir lagu Raja memberikan intro tambahan sebagai penutup dari lagu itu. Suasana jadi riuh dengan tepuk tangan meriah seolah mereka baru saja menonton sebuah mini konser dari penyanyi profesional.

Sadar akan hal itu Sera langsung tertunduk malu, pipinya memerah dan ia menyembunyikan senyum malu ya di balik punggung tangannya.

"Mbak Sera kok gak pernah bilang kalau punya suara merdu?" Tanya Jefri dengan raut wajah masih terpelongoh.

"Kalian harus tau nih, Sera dulu vokalis sebuah band lokal yang tenar banget. Dari SMA sampai kuliah, selalu jadi juara setiap ada even band lokal..." Sahut Jeny sembari merangkul kan tangannya ke pundak Sera.

"Itu kan dulu..." Sanggah Sera yang masih berusaha menyembunyikan senyum malunya.

Raja memeluk gitarnya, mengarahkan tatapan pada Sera, wanita yang lebih tua sembilan tahun darinya namun memiliki magnet yang membuat ia sedari tadi hanya terfokus padanya.

"Kita harus sering nongkrong, nyanyi bareng, pasti seru." Ucap Raja yang belum mengalihkan perhatiannya dari Sera.

"Bukan masanya lagi untuk aku melakukan hal-hal kaya gitu,” kata Sera.

"Memangnya kenapa?" Protes Jeny yang langsung terlihat kesal, "usia itu hanya angka. Bukan hal yang bisa membatasi kesenangan kita."

"Malu dilihat orang Jen..." ucap Sera.

"Memangnya rasa malu membuat kamu bahagia?" Jeny melototi sahabatnya.

Sera tak bergeming, tatapan semua orang seolah tertuju padanya.

"Ra, malu itu ada tempatnya. Selagi kita gak melanggar norma yang berlaku, ya lakukan aja apa yang membuat kita bahagia. Hidup ini terlalu singkat untuk di habiskan dengan hal-hal yang gak di bawa mati." Lanjut Jeny dengan seringai liciknya.

Sera hanya tersenyum kesal melihat seringai sahabatnya yang berhasil menyudutkan dirinya di depan cowok-cowok yang sembilan tahun lebih muda dari mereka.

"Kalian belum pada punya pacar? Kok malah gabung sama berondong kaya kami sih?" Celetuk Joshua di tengah perdebatan Sera dan Jeny.

Tatapan dua perempuan itu kini melesat tajam pada Joshua yang masih mengunyah daging panggang di mulutnya dengan tenang setelah melontarkan pertanyaan keramat.

Jefri terlihat panik dengan pertanyaan mendadak temannya yang begitu sensitif, ia segera menutup mulut Joshua yang masih santai mengunyah makanan di mulutnya.

"Memangnya kamu gak tau kalau itu pertanyaan keramat yang bahaya kalau dipertanyakan." Bisik Jefri dengan wajah takut menatap kakaknya—Jeny.

Jeny sudah melotot ke arah Joshua dan Jefri.

"Kalau sendiri sudah bahagia, kenapa harus punya pacar,” sahut Sera mencairkan suasana.

"Sudah ayo kita bereskan kekacauan ini." Timpal Raja sembari merapikan piring kotor di atas meja.

Yang lain pun ikut bergerak membantu Raja membereskan sisa-sisa acara mereka tadi.

Meskipun terlihat sibuk, namun ekor mata lelaki itu selalu melihat ke arah yang sama; Sera.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Maaf, Tapi Hatiku Sudah Memilih Dia   Bunga lily dan ceritanya

    "Cuma buku itu yang kamu bawa?" Tanya Desta dengan mata setengah melotot.Mata Sera mengikuti arah tatapan Desta, ia mengangguk sambil membuka lebar tasnya yang memperlihatkan alat make-up yang lengkap seolah itu memang tas make-up."Kamu mau kuliah atau..." Kening Desta mengernyit."Aku lebih suka lihat wajah aku yang tetap cantik daripada nilai A di kertas ujian." Sera tersenyum penuh percaya diri.Desta menutup mulutnya dengan tangannya ketika tawa tak mampu ia bendung saat melihat wajah Sera yang polos ketika mengucapkan kalimat itu."Apa itu lucu?" Senyum Sera lenyap berganti wajah kesal."Gak, bukan gitu, cuma agak aneh." Jawab Desta yang terlihat berusaha menghentikan tawanya."Kamu suka cewek aneh gak?" Sera kembali menopangkan wajah ke tangannya.Desta menghela nafas. "Yang normal aja kadang ribet, apalagi yang aneh." Senyum Desta tampak menyindir."Tapi yang aneh kan lucu tau..." Sera masih berusaha menggoda."Beda antara aneh dan lucu." Desta mulai membuka buku di hadapanny

  • Maaf, Tapi Hatiku Sudah Memilih Dia   Kenangan yang melintas

    "Danira, akhirnya kamu kembali."Danira mengangkat dagu. "Kamu terganggu?""Apa ada alasan yang membuatku harus merasa terganggu?" Sera balik bertanya dengan raut wajah tenang.Sepatu hak tinggi Danira beradu dengan lantai ketika ia berjalan mendekat. Jarak mereka tinggal beberapa sentimeter. Mata keduanya saling menatap, dingin dan tajam.Danira tersenyum tipis, tetapi tidak ada kehangatan di sana."Apa kamu masih mengincar posisi ketua yayasan?"Sera mempertahankan wajah tenangnya, meski jemarinya perlahan mengepal di sisi tubuh. Kedatangan Danira bukan kebetulan. Danira tidak pernah muncul tanpa membawa sesuatu yang ingin direbutnya."Dari awal kamu tau aku gak pernah menginginkan jabatan itu." Jawab Sera dengan wajah ramah.Senyum Danira menghilang."Ternyata kamu masih naif ya. Pantas saja sampai sekarang pun kamu belum bisa move on dari lelaki itu."Sera menatapnya tajam. Untuk pertama kalinya pagi itu, pikirannya tidak lagi dipenuhi Raja."Apa maksudmu?"Danira mendekatkan waja

  • Maaf, Tapi Hatiku Sudah Memilih Dia   Setelah peristiwa itu...

    Setalah cukup lama membiarkan Raja melayangkan ciumannya, Sera mengumpulkan seluruh tenaganya untuk melepaskan cengkraman lelaki itu dari tubuhnya.Beberapa kali mencoba ia gagal sampai yang terakhir kali dengan rasa amarah yang memuncak ia berhasil mendorong dada Raja hingga pria itu terhuyung mundur."Dasar kurang ajar! Kamu kira aku ini apa sembarangan kamu cium!" ketus Sera. Wajahnya dipenuhi kemarahan, sementara keterkejutan masih jelas terlihat di matanya.Raja menatapnya dengan wajah muram. Tatapan tajam Sera tidak membuatnya mundur, tetapi juga tidak membuatnya berani mendekat lagi."Aku suka sama Mbak Sera."Kening Sera berkerut, dengan sorot mata penuh emosi ia menampar wajah Raja hingga lelaki itu memegangi pipinya karna merasa pedih."Suka? Baru tadi siang kita kenal dan ngobrol, lalu kamu langsung bilang suka? Kamu kira aku perempuan kesepian yang haus kasih sayang?" tanyanya dengan nada meninggi."Sejak pertama kali melihat Mbak Sera, aku langsung—""Cukup!" Sera memoton

  • Maaf, Tapi Hatiku Sudah Memilih Dia   Ciuman tak terduga

    Sera menelusuri setiap gang dari rak-rak buku yang tersusun rapi. Ia menghirup dalam-dalam aroma buku yang menjadi ritual setiap ia memasuki toko buku atau perpustakaan. Raja mengernyitkan kening ketika mendapati tingkah Sera yang tak biasa menurutnya."Mbak Sera ngapai?" Tanyanya dengan nada sedikit ragu.Sera tersenyum kecil sembari menoleh pada Raja yang masih menatapnya penasaran."Itu ritual ku setiap kali masuk ke toko buku atau perpustakaan." Wajah Sera seolah berubah merona."Ri—tual?" Tanya Raja dengan wajah penuh penasaran.Sera mengangguk, "menghirup aroma buku yang tersusun rapi di rak-rak itu sesuatu yang menenangkan. Bagiku, seperti aroma terapi. Ada hal yang kembali dalam sekejap setiap aku menghirup baunya." Sera kembali menghirup udara dengan dalam, seolah menikmati setiap aroma di dalam ruangan itu."Apa yang kembali?" Tanya Raja penasaran.Garis senyum wanita itu menghilang, ekspresinya terlihat kaku sembari mengalihkan pandangan dari Raja. "Kenangan misalnya," ja

  • Maaf, Tapi Hatiku Sudah Memilih Dia   Perjalanan pulang

    Sera mengeluarkan ponsel dari tasnya saat Raja tengah merapikan meja bekas makanan mereka tadi. Raut serius Sera sedikit menarik perhatian Raja."Ada hal penting yang mengganggu mbak Sera?" Tanya Raja dengan wajah penasaran.Mata Sera sedikit menyipit ketika mengalihkan pandangan dari ponselnya ke arah Raja yang kemudian duduk di hadapannya."Pesen taxi online tapi belum ada yang jawab,” ucap Sera."Aku antar aja." Kata Raja sambil meletakkan kain lap yang legang ke atas meja.Kening Sera mengernyit, "jangan. Kalian pasti masih mau seru-seruan kan?"Raja menoleh pada teman-temannya yang masih sibuk membereskan halaman belakang rumah Jefri yang berantakan karna acara mereka."Setelah selesai beberes mereka pasti sibuk sama hape nya. Seharian kan mereka gak ada pegang handphone." Kata Raja yang kembali menatap Sera.Wanita itu terdiam sejenak, tampak menimbang tawaran Raja, "boleh deh kalau gak ngerepotin.”Raja tersenyum, ia meraih kunci mobil di atas meja dan berdiri, "guys, aku mau a

  • Maaf, Tapi Hatiku Sudah Memilih Dia   Namanya... Raja!

    Sera masih mematung karna canggung, Jeny berinisiatif menggerakkan tangan Sera menjabat tangan Raja. "Sera, namanya Sera. Dia sahabat aku," ucap Jeny seolah mewakili Sera yang masih terlihat kaku.Lelaki bernama Raja tersenyum dan kembali fokus pada panggangan ya.Sesi obrolan yang di awali dengan perkenalan menjadi hangat dan akrab. Jefri yang awalnya merasa enggan untuk di campuri kakaknya lun mulai ikut terbawa suasana nimbrung dengan obrolan Sera, kakaknya dan teman-temannya.Sejenak, Sera merasa menemukan lagi dirinya yang hilang bertahun-tahun hanya karna satu nama. Ia tertawa, bertukar lelucon dan mendengar dengan serius cerita lelaki yang berusia sembilan tahun lebih muda darinya.Daging yang mereka panggang sudah matang. Nicole membawanya ke tengah mereka dan dengan cepat mereka melahap hasil olahan mereka yang rela bergumul dengan asap demi hidangan sederhana namun di nikmati bersama cerita yang saling terlontar hingga mereka memahami satu sama lain.Raja mengambil gitar d

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status