LOGINSetelah mengalami patah hati yang panjang, Sera mencoba membuka hati untuk Raja yang memperlihatkan keseriusannya. Namun Desta kembali di tengah proses perceraiannya dengan Melati. Hubungan Sera dan Raja pun tak berjalan mulus, rentang usia mereka yang jauh membuat keluarga Raja menentang hubungan itu. Desta mengambil kesempatan itu untuk kembali merebut hati Sera.
View MoreHujan pertama di bulan Juni sore ini. Bau tanah yang tersentuh air hujan menyeruak tajam, menusuk hidung, namun menenangkan.
Sera duduk di bangku yang mengarah ke jendela kaca. Ia menatap butiran hujan yang turun perlahan. Teh di cangkir yang ia pegang menguapkan panas yang sedikit menghangatkan tubuhnya yang mulai menggigil kedinginan. Rintik hujan masih menari-nari di langit berwarna jingga, sepertinya hari ini akan ditutup dengan rintikan hujan. Bip bip bip.... Suara ponsel berdering. Sera menggapai handphone nya dari atas nakas, nama Arini muncul di layar ponsel. "Halo Rin, ada apa nih? Tumben nelpon? Biasanya chat doang.” Celetuk Sera sembari kembali menyeduh teh. [Ra, Desta disini.] Suara dari seberang terdengar serius. Sera membeku. Nama itu, nama keramat yang bertahun tahun menjadi penyakit di hatinya, mengendap tak mau keluar meski beribu obat ia telan, namun penawarnya juga tidak ia temukan. [Bisa kesini?] ucap suara dari seberang lagi. Suara Arini yang panik mengagetkan Sera. Haruskah ia biarkan lelaki itu berlalu lagi? Tidak, tentu tidak boleh, ia harus menemukannya, entah akan menjadi obat atau racun, yang jelas Sera harus mengeluarkan lelaki itu dari dalam hatinya bersama akar-akarnya. "Lima menit lagi aku sampai," Sera menjawab tanpa ragu lagi. Setelah mematikan sambungan telepon dan meletakkan cangkir, Sera meraih sweater lalu bergegas pergi. Hanya lima menit Sera sudah sampai ke depan toko buku Arini. Langkah Sera seperti mengikuti alur detak jantungnya, begitu cepat tanpa ia sadari. Bahkan ia lupa menyisir rambunya yang sejak tadi hanya tergulung asal. Sera membeku. Desta berdiri di hadapannya, masih sama seperti dulu, dengan senyum tipis bersahaja, tubuh tegap tinggi, kulit sawo matang, rambut ala taruna, dan tas selempang. Sera masih membeku, langkah yang tadi cepat kini tak mampu lagi melaju. "Sera, apa kabar?" Suaranya menggema di ruangan yang tiba-tiba senyap dengan mata berbinar menatap Sera. "Tiga tahun, tiga bulan, empat hari. Kamu mengakar disini," Sera menunjuk dadanya, "seperti virus yang mengendap, menjadi parasit,” lanjut Sera dengan suara gemetar. Senyum Desta lenyap. Entah sejak kapan Arini menutup pintu toko dan memberi tanda tutup. Ia melangkah ke lantai atas seperti tidak ingin mengganggu Sera dan Desta. Desta melangkah mendekati Sera, hanya berjarak satu meter dia kembali berhenti. "Sera, aku menempuh jalan yang gak mudah, aku bukan pewaris yang bisa duduk manis, aku...." Bola mata Desta membulat saat wanita itu tiba-tiba menghambur ke pelukannya. Sera memeluk Desta dengan sangat erat seolah ia tak ingin lagi melepaskan lelaki itu. Sejurus kemudian Sera menatap wajah teduh Desta dan mencium bibir dingin lelaki itu yang masih membeku. Kehangatan yang di berikan Sera turut mengalir di aliran darah Desta. Lelaki itu tak lagi menahan diri, ia membalas setiap kecupan bibir Sera yang berulang namun tetap terasa lembut dan mampu menghangatkan seluruh suasana yang beku. # Sera dan Desta duduk dilantai dan bersandar pada salah satu rak buku di toko itu. Hening, hampir dua puluh menit tanpa kata. Malam tiba, langit jingga berubah gelap, tapi hujan masih setia. Sera menoleh pada Desta yang masih diam di sampingnya. "Kisah apa yang kamu bawa?" Tanya Sera dengan tatapan hangat. Ia tersenyum tapi tak membalas tatapan Sera, "gak istimewa, aku cuma laki laki biasa." "Tapi kamu lelaki yang selalu aku cintai.” Ucap Sera dengan sedikit menegakkan tubuhnya. Kali ini Desta menoleh, menatap Sera dengan mata teduhnya. "Setelah dewasa ternyata cinta bukan yang utama Ra." Kata Desta dengan senyum getir. Sera sedikit terkejut dengan ucapan Desta. Lelaki itu berubah. Senyumnya, sorot matanya, tak lagi sama di mata Sera. "Aku gagal menjaga cinta kamu,” lanjut Desta dengan suara gemetar. Udara di sekitar Sera tiba-tiba terasa sesak. Tangannya mengepal di samping tubuhnya, seolah sedang bersiap untuk sesuatu yang tak ia sukai. Desta meraih tangan Sera, meletakkan sepucuk kertas di atas telapak tangan wanita yang sudah terlihat rapuh itu. Undangan. Desta wijaya dan Melati Ariani Mata Sera tak berkedip, tubuhnya pun sontak membeku hingga undangan itu tak mampu lagi ia genggam dan terjatuh. Pelupuk matanya perlahan di penuhi dengan cairan bening. "Minggu depan akad dan resepsinya.” Ucap Desta dengan wajah tertunduk, “aku gak maksa kamu datang, tapi memberi kabar mungkin akan menjawab semua bimbang di hati kamu." Kali ini Desta memberanikan diri menatap Sera. Belum sempat ia mencerna semua yang terjadi dengan begitu mendadak, lelaki itu bangkit dari duduknya. "Aku pamit Ra.” Kata Desta sembari membenarkan tali tas selempangnya. “Mungkin gak akan ada lagi pertemuan antara kita. Jangan menunggu lagi Ra, Semuanya sudah berakhir." "Kenapa baru sekarang?" Tanya Sera dengan suara gemetar namun tetap tak bergeming dari posisinya. "Harusnya gak perlu nunggu sekian lama buat menghancurkan hati aku,” lanjut Sera. "Maaf Ra, aku gak punya jawabannya,” jawab Desta dengan suara berat. Lelaki itu membalikkan tubuh, melangkah dengan sangat berat namun berusaha terlihat baik-baik saja. Tangannya mengepal kuat hingga buku-buku tangannya memutih. Ada kepingan yang tak bisa ia bawa bersama tangis Sera. Meski langkahnya tegap, namun pelupuk mata Desta basah, mengembun dan ia kembali berusaha menegakkan wajahnya meninggalkan tempat itu tanpa menoleh lagi. Sera meringkuk, memeluk lututnya dan membenamkan wajahnya di sana. Suara tangisnya terdengar memilukan bersama suara tetesan air hujan. Bahunya bergetar hebat seolah ia tak mampu lagi menahan tangis. Pintu itu tertutup, Desta pergi tanpa mempedulikan tangis Sera yang kian pecah dan pilu.Setalah cukup lama membiarkan Raja melayangkan ciumannya, Sera mengumpulkan seluruh tenaganya untuk melepaskan cengkraman lelaki itu dari tubuhnya.Beberapa kali mencoba ia gagal sampai yang terakhir kali dengan rasa amarah yang memuncak ia berhasil mendorong dada Raja hingga pria itu terhuyung mundur."Dasar kurang ajar! Kamu kira aku ini apa sembarangan kamu cium!" ketus Sera. Wajahnya dipenuhi kemarahan, sementara keterkejutan masih jelas terlihat di matanya.Raja menatapnya dengan wajah muram. Tatapan tajam Sera tidak membuatnya mundur, tetapi juga tidak membuatnya berani mendekat lagi."Aku suka sama Mbak Sera."Kening Sera berkerut, dengan sorot mata penuh emosi ia menampar wajah Raja hingga lelaki itu memegangi pipinya karna merasa pedih."Suka? Baru tadi siang kita kenal dan ngobrol, lalu kamu langsung bilang suka? Kamu kira aku perempuan kesepian yang haus kasih sayang?" tanyanya dengan nada meninggi."Sejak pertama kali melihat Mbak Sera, aku langsung—""Cukup!" Sera memoton
Sera menelusuri setiap gang dari rak-rak buku yang tersusun rapi. Ia menghirup dalam-dalam aroma buku yang menjadi ritual setiap ia memasuki toko buku atau perpustakaan. Raja mengernyitkan kening ketika mendapati tingkah Sera yang tak biasa menurutnya."Mbak Sera ngapai?" Tanyanya dengan nada sedikit ragu.Sera tersenyum kecil sembari menoleh pada Raja yang masih menatapnya penasaran."Itu ritual ku setiap kali masuk ke toko buku atau perpustakaan." Wajah Sera seolah berubah merona."Ri—tual?" Tanya Raja dengan wajah penuh penasaran.Sera mengangguk, "menghirup aroma buku yang tersusun rapi di rak-rak itu sesuatu yang menenangkan. Bagiku, seperti aroma terapi. Ada hal yang kembali dalam sekejap setiap aku menghirup baunya." Sera kembali menghirup udara dengan dalam, seolah menikmati setiap aroma di dalam ruangan itu."Apa yang kembali?" Tanya Raja penasaran.Garis senyum wanita itu menghilang, ekspresinya terlihat kaku sembari mengalihkan pandangan dari Raja. "Kenangan misalnya," ja
Sera mengeluarkan ponsel dari tasnya saat Raja tengah merapikan meja bekas makanan mereka tadi. Raut serius Sera sedikit menarik perhatian Raja."Ada hal penting yang mengganggu mbak Sera?" Tanya Raja dengan wajah penasaran.Mata Sera sedikit menyipit ketika mengalihkan pandangan dari ponselnya ke arah Raja yang kemudian duduk di hadapannya."Pesen taxi online tapi belum ada yang jawab,” ucap Sera."Aku antar aja." Kata Raja sambil meletakkan kain lap yang legang ke atas meja.Kening Sera mengernyit, "jangan. Kalian pasti masih mau seru-seruan kan?"Raja menoleh pada teman-temannya yang masih sibuk membereskan halaman belakang rumah Jefri yang berantakan karna acara mereka."Setelah selesai beberes mereka pasti sibuk sama hape nya. Seharian kan mereka gak ada pegang handphone." Kata Raja yang kembali menatap Sera.Wanita itu terdiam sejenak, tampak menimbang tawaran Raja, "boleh deh kalau gak ngerepotin.”Raja tersenyum, ia meraih kunci mobil di atas meja dan berdiri, "guys, aku mau a
Sera masih mematung karna canggung, Jeny berinisiatif menggerakkan tangan Sera menjabat tangan Raja. "Sera, namanya Sera. Dia sahabat aku," ucap Jeny seolah mewakili Sera yang masih terlihat kaku.Lelaki bernama Raja tersenyum dan kembali fokus pada panggangan ya.Sesi obrolan yang di awali dengan perkenalan menjadi hangat dan akrab. Jefri yang awalnya merasa enggan untuk di campuri kakaknya lun mulai ikut terbawa suasana nimbrung dengan obrolan Sera, kakaknya dan teman-temannya.Sejenak, Sera merasa menemukan lagi dirinya yang hilang bertahun-tahun hanya karna satu nama. Ia tertawa, bertukar lelucon dan mendengar dengan serius cerita lelaki yang berusia sembilan tahun lebih muda darinya.Daging yang mereka panggang sudah matang. Nicole membawanya ke tengah mereka dan dengan cepat mereka melahap hasil olahan mereka yang rela bergumul dengan asap demi hidangan sederhana namun di nikmati bersama cerita yang saling terlontar hingga mereka memahami satu sama lain.Raja mengambil gitar d






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.