Maaf, Tapi Hatiku Sudah Memilih Dia

Maaf, Tapi Hatiku Sudah Memilih Dia

last updateLast Updated : 2026-09-28
By:  OyamandaUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
6Chapters
7views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Setelah mengalami patah hati yang panjang, Sera mencoba membuka hati untuk Raja yang memperlihatkan keseriusannya. Namun Desta kembali di tengah proses perceraiannya dengan Melati. Hubungan Sera dan Raja pun tak berjalan mulus, rentang usia mereka yang jauh membuat keluarga Raja menentang hubungan itu. Desta mengambil kesempatan itu untuk kembali merebut hati Sera.

View More

Chapter 1

Hujan pertama bulan juni

Hujan pertama di bulan Juni sore ini. Bau tanah yang tersentuh air hujan menyeruak tajam, menusuk hidung, namun menenangkan.

Sera duduk di bangku yang mengarah ke jendela kaca. Ia menatap butiran hujan yang turun perlahan. Teh di cangkir yang ia pegang menguapkan panas yang sedikit menghangatkan tubuhnya yang mulai menggigil kedinginan.

Rintik hujan masih menari-nari di langit berwarna jingga, sepertinya hari ini akan ditutup dengan rintikan hujan.

Bip bip bip....

Suara ponsel berdering.

Sera menggapai handphone nya dari atas nakas, nama Arini muncul di layar ponsel.

"Halo Rin, ada apa nih? Tumben nelpon? Biasanya chat doang.” Celetuk Sera sembari kembali menyeduh teh.

[Ra, Desta disini.] Suara dari seberang terdengar serius.

Sera membeku.

Nama itu, nama keramat yang bertahun tahun menjadi penyakit di hatinya, mengendap tak mau keluar meski beribu obat ia telan, namun penawarnya juga tidak ia temukan.

[Bisa kesini?] ucap suara dari seberang lagi.

Suara Arini yang panik mengagetkan Sera. Haruskah ia biarkan lelaki itu berlalu lagi?

Tidak, tentu tidak boleh, ia harus menemukannya, entah akan menjadi obat atau racun, yang jelas Sera harus mengeluarkan lelaki itu dari dalam hatinya bersama akar-akarnya.

"Lima menit lagi aku sampai," Sera menjawab tanpa ragu lagi.

Setelah mematikan sambungan telepon dan meletakkan cangkir, Sera meraih sweater lalu bergegas pergi.

Hanya lima menit Sera sudah sampai ke depan toko buku Arini.

Langkah Sera seperti mengikuti alur detak jantungnya, begitu cepat tanpa ia sadari. Bahkan ia lupa menyisir rambunya yang sejak tadi hanya tergulung asal.

Sera membeku.

Desta berdiri di hadapannya, masih sama seperti dulu, dengan senyum tipis bersahaja, tubuh tegap tinggi, kulit sawo matang, rambut ala taruna, dan tas selempang.

Sera masih membeku, langkah yang tadi cepat kini tak mampu lagi melaju.

"Sera, apa kabar?" Suaranya menggema di ruangan yang tiba-tiba senyap dengan mata berbinar menatap Sera.

"Tiga tahun, tiga bulan, empat hari. Kamu mengakar disini," Sera menunjuk dadanya, "seperti virus yang mengendap, menjadi parasit,” lanjut Sera dengan suara gemetar.

Senyum Desta lenyap.

Entah sejak kapan Arini menutup pintu toko dan memberi tanda tutup. Ia melangkah ke lantai atas seperti tidak ingin mengganggu Sera dan Desta.

Desta melangkah mendekati Sera, hanya berjarak satu meter dia kembali berhenti.

"Sera, aku menempuh jalan yang gak mudah, aku bukan pewaris yang bisa duduk manis, aku...." Bola mata Desta membulat saat wanita itu tiba-tiba menghambur ke pelukannya.

Sera memeluk Desta dengan sangat erat seolah ia tak ingin lagi melepaskan lelaki itu.

Sejurus kemudian Sera menatap wajah teduh Desta dan mencium bibir dingin lelaki itu yang masih membeku. Kehangatan yang di berikan Sera turut mengalir di aliran darah Desta.

Lelaki itu tak lagi menahan diri, ia membalas setiap kecupan bibir Sera yang berulang namun tetap terasa lembut dan mampu menghangatkan seluruh suasana yang beku.

#

Sera dan Desta duduk dilantai dan bersandar pada salah satu rak buku di toko itu. Hening, hampir dua puluh menit tanpa kata. Malam tiba, langit jingga berubah gelap, tapi hujan masih setia.

Sera menoleh pada Desta yang masih diam di sampingnya.

"Kisah apa yang kamu bawa?" Tanya Sera dengan tatapan hangat.

Ia tersenyum tapi tak membalas tatapan Sera, "gak istimewa, aku cuma laki laki biasa."

"Tapi kamu lelaki yang selalu aku cintai.” Ucap Sera dengan sedikit menegakkan tubuhnya.

Kali ini Desta menoleh, menatap Sera dengan mata teduhnya.

"Setelah dewasa ternyata cinta bukan yang utama Ra." Kata Desta dengan senyum getir.

Sera sedikit terkejut dengan ucapan Desta. Lelaki itu berubah. Senyumnya, sorot matanya, tak lagi sama di mata Sera.

"Aku gagal menjaga cinta kamu,” lanjut Desta dengan suara gemetar.

Udara di sekitar Sera tiba-tiba terasa sesak. Tangannya mengepal di samping tubuhnya, seolah sedang bersiap untuk sesuatu yang tak ia sukai.

Desta meraih tangan Sera, meletakkan sepucuk kertas di atas telapak tangan wanita yang sudah terlihat rapuh itu.

Undangan.

Desta wijaya dan Melati Ariani

Mata Sera tak berkedip, tubuhnya pun sontak membeku hingga undangan itu tak mampu lagi ia genggam dan terjatuh. Pelupuk matanya perlahan di penuhi dengan cairan bening.

"Minggu depan akad dan resepsinya.” Ucap Desta dengan wajah tertunduk, “aku gak maksa kamu datang, tapi memberi kabar mungkin akan menjawab semua bimbang di hati kamu." Kali ini Desta memberanikan diri menatap Sera.

Belum sempat ia mencerna semua yang terjadi dengan begitu mendadak, lelaki itu bangkit dari duduknya.

"Aku pamit Ra.” Kata Desta sembari membenarkan tali tas selempangnya. “Mungkin gak akan ada lagi pertemuan antara kita. Jangan menunggu lagi Ra, Semuanya sudah berakhir."

"Kenapa baru sekarang?" Tanya Sera dengan suara gemetar namun tetap tak bergeming dari posisinya. "Harusnya gak perlu nunggu sekian lama buat menghancurkan hati aku,” lanjut Sera.

"Maaf Ra, aku gak punya jawabannya,” jawab Desta dengan suara berat.

Lelaki itu membalikkan tubuh, melangkah dengan sangat berat namun berusaha terlihat baik-baik saja. Tangannya mengepal kuat hingga buku-buku tangannya memutih. Ada kepingan yang tak bisa ia bawa bersama tangis Sera.

Meski langkahnya tegap, namun pelupuk mata Desta basah, mengembun dan ia kembali berusaha menegakkan wajahnya meninggalkan tempat itu tanpa menoleh lagi.

Sera meringkuk, memeluk lututnya dan membenamkan wajahnya di sana. Suara tangisnya terdengar memilukan bersama suara tetesan air hujan. Bahunya bergetar hebat seolah ia tak mampu lagi menahan tangis.

Pintu itu tertutup, Desta pergi tanpa mempedulikan tangis Sera yang kian pecah dan pilu.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
6 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status