Share

Ciuman tak terduga

Penulis: Oyamanda
last update Tanggal publikasi: 2026-09-28 18:05:08

Sera menelusuri setiap gang dari rak-rak buku yang tersusun rapi. Ia menghirup dalam-dalam aroma buku yang menjadi ritual setiap ia memasuki toko buku atau perpustakaan. 

Raja mengernyitkan kening ketika mendapati tingkah Sera yang tak biasa menurutnya.

"Mbak Sera ngapai?" Tanyanya dengan nada sedikit ragu.

Sera tersenyum kecil sembari menoleh pada Raja yang masih menatapnya penasaran.

"Itu ritual ku setiap kali masuk ke toko buku atau perpustakaan." Wajah Sera seolah berubah merona.

"Ri—tual?" Tanya Raja dengan wajah penuh penasaran.

Sera mengangguk, "menghirup aroma buku yang tersusun rapi di rak-rak itu sesuatu yang menenangkan. Bagiku, seperti aroma terapi. Ada hal yang kembali dalam sekejap setiap aku menghirup baunya." Sera kembali menghirup udara dengan dalam, seolah menikmati setiap aroma di dalam ruangan itu.

"Apa yang kembali?" Tanya Raja penasaran.

Garis senyum wanita itu menghilang, ekspresinya terlihat kaku sembari mengalihkan pandangan dari Raja. 

"Kenangan misalnya," jawabnya asal dengan tangan yang mulai sibuk memilah-milah barisan buku di rak yang ada di sampingnya.

"Mbak Sera merindukan seseorang?" Kali ini Raja berusaha melihat ekspresi Sera.

Tangan Sera mematung di antara barisan buku yang sedang ia pilah tadi, ia menghela nafas kecil. Matanya tertuju pada satu judul di buku bersampul orange dengan tulisan putih. Ia mengambilnya dan memberikannya pada Raja dengan segaris senyum tipis.

"Ini novel favorit aku. Cerita cintanya hanya sekelumit dan menurutku terlalu terlambat. Tapi bukankah tidak ada kata terlambat selagi itu tepat waktu?"

Raja memperhatikan ekspresi Sera saat bicara lalu mengalihkan pandangannya pada buku yang di pegang wanita itu. Ia mengambilnya dengan wajah bingung. 

Sera tertawa kecil menangkap reaksi bingung dari lelaki itu.

"Baca novel itu perlu sesekali. Biar hati kamu terlatih untuk merasakan empati atau sekedar membaca ekspresi seseorang." Lanjut Sera terdengar meyakinkan.

"Terus kalau seumpamanya kita menyukai seseorang yang baru kita temui, apakah itu perasaan yang normal?" Raja menatapnya dengan mata penuh harap.

Sera terdiam sejenak, ia membalas tatapan Raja.

"Rasa itu kan sesuatu yang gak bisa kita atur,” jawab Sera.

"Berarti boleh dong?" Raja kembali bertanya.

"Tergantung."

"Tergantung apa?"

"Rasa kamu berbalas atau gak." Jawab Sera dengan tawa mengejek.

Raja tersenyum kaku sembari menggaruk kepala belakangnya.

Setelah selesai di toko buku keduanya melanjutkan perjalanan menuju apartemen Sera yang tinggal beberapa kilometer lagi. 

Tepat setelah lampu merah terakhir mobil Raja terhenti tanpa aba-aba. Berulang kali ia mencoba men–stater ulang namun mesinnya tetap tidak mau menyala lagi.

"Mogok ya?" Tanya Sera.

Raja menoleh dengan wajah kaget. Sera tersenyum sembari mengambil tasnya, "tinggal beberapa meter lagi kok. Aku jalan aja.” Ujar Sera sembari membuka pintu mobil.

"Aku antar,” kata Raja.

Raja ikut keluar dari mobil, mengunci pintu mobilnya lalu menghampiri Sera yang berdiri di sisi jalan.

"Mobilnya?" Tanya Sera bingung.

"Nanti aku suruh Jefri nelpon orang bengkel buat derek mobilnya." Jawab Raja dengan senyum kecil.

"Terus kamu pulangnya gimana?"

"Naik taxi,” jawab Raja meyakinkan.

Sera mengangguk-angguk kecil lalu berjalan berbarengan dengan Raja.

Langit tiba-tiba gelap dan tanpa aba-aba butiran hujan jatuh dari langit beserta rombongannya.

"Hujan..." Celetuk Sera dengan refleks menutupkan tas ke atas kepalanya.

Raja membuka sweater yang ia pakai dan memayungkan nya ke atas kepala Sera untuk melindungi kepala wanita itu dari cucuran hujan secara langsung.

Mata Sera menangkap wajah Raja yang tampak tenang saat melakukan hal itu yang justru membuat hati Sera bergetar tiba-tiba.

"Kita lari yuk." Usul Raja.

Suara Raja membuatnya kembali pada kenyataan hujan yang semakin deras menjatuhi mereka.

Keduanya berlari berbarengan menuju gedung apartemen yang tak jauh lagi dengan Raja yang menutupkan sweater nya ke atas kepala Sera.

Langkah mereka terhenti di depan pintu apartemen bernomor 303. Sera membuka pintu dan masuk. Raja menghentikan langkahnya tepat di depan pintu itu, membuat Sera menahan daun pintu agar tak tertutup karna Raja masih ada di luar.

"Kamu gak masuk?" Tanya Sera dengan alis terangkat.

"Boleh?" Raja balik bertanya dengan ragu.

Mata Sera menyapu ujung kepala hingga kaki Raja yang basah kuyup.

"Setidaknya kamu harus ganti baju kan?" Ucap Sera dengan gerakan tangan ke seluruh tubuh Raja yang basah.

Kini Raja juga memperhatikan seluruh pakaiannya yang sudah basah kuyup.

"Aku punya stelan cowok di sini. Siapa tau muat sama kamu.” Lanjut Sera dengan tangannya yang mengarah ke dalam rumah.

Raja sedikit menimbang untuk kemudian melangkah masuk.

Sera langsung masuk ke kamarnya, membuka lemari dan melihat tumpukan pakaian lelaki yang terlipat rapi di sudut lemari. Ia mengambilnya lalu kembali keluar di mana Raja masih berdiri mulai terlihat kedinginan.

"Ini pakaiannya, kamu mandi dulu deh, udah mulai dinginkan?" Sera menyodorkan tumpukan pakaian di tangannya.

Raja hanya tersenyum kaku sembari meraih tumpukan pakaian di tangan Sera lalu berjalan ke arah kamar mandi yang di tunjuk Sera.

Beberapa menit kemudian ia keluar dengan pakaian yang tadi di berikan Sera. Ia melihat Sera sedang menyeduh teh lalu meletakkannya ke atas meja. 

Melihat Raja yang sudah berganti pakaian Sera melontarkan segaris senyum tipis.

"Minum teh dulu sebelum pulang, biar badan kamu hangat." Kata Sera sambil mengangkat gelas yang berisi teh.

Sera melangkah setelah meletakkan cangkir teh untuk Raja ke atas meja makan menuju kamarnya. 

Ia berhenti di depan Raja, "setelah minum teh kalau kamu mau pulang, langsung pulang aja gak apa-apa. Aku mau bersih-bersih soalnya. Makasih ya udah nganter aku." Ucap Sera dengan wajah ramah.

Saat Sera melangkah melewati Raja, tangan lelaki itu menahan lengan Sera hingga wanita itu menghentikan langkahnya.

"Ada apa?" Tanya Sera dengan wajah masih ramah.

Bukannya jawaban yang ia dapat, Raja membalikkan badan dan langsung mencium bibir ranum Sera hingga membuat bola mata wanita itu terbelalak kaget mendapat serangan ciuman yang mendadak dari lelaki yang baru ia kenal siang tadi. Tangan Sera refleks mendorong tubuh Raja, namun lelaki itu malah semakin memperdalam ciumannya seperti orang yang sedang kehausan.

Sejenak Sera terhanyut, meskipun terkesan memaksa, namun sentuhan bibir Raja terasa lembut dan hangat.

Sera gamang, hatinya menolak ciuman itu, namun tubuhnya seolah menikmati hal yang tidak seharunya ia biarkan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Maaf, Tapi Hatiku Sudah Memilih Dia   Bunga lily dan ceritanya

    "Cuma buku itu yang kamu bawa?" Tanya Desta dengan mata setengah melotot.Mata Sera mengikuti arah tatapan Desta, ia mengangguk sambil membuka lebar tasnya yang memperlihatkan alat make-up yang lengkap seolah itu memang tas make-up."Kamu mau kuliah atau..." Kening Desta mengernyit."Aku lebih suka lihat wajah aku yang tetap cantik daripada nilai A di kertas ujian." Sera tersenyum penuh percaya diri.Desta menutup mulutnya dengan tangannya ketika tawa tak mampu ia bendung saat melihat wajah Sera yang polos ketika mengucapkan kalimat itu."Apa itu lucu?" Senyum Sera lenyap berganti wajah kesal."Gak, bukan gitu, cuma agak aneh." Jawab Desta yang terlihat berusaha menghentikan tawanya."Kamu suka cewek aneh gak?" Sera kembali menopangkan wajah ke tangannya.Desta menghela nafas. "Yang normal aja kadang ribet, apalagi yang aneh." Senyum Desta tampak menyindir."Tapi yang aneh kan lucu tau..." Sera masih berusaha menggoda."Beda antara aneh dan lucu." Desta mulai membuka buku di hadapanny

  • Maaf, Tapi Hatiku Sudah Memilih Dia   Kenangan yang melintas

    "Danira, akhirnya kamu kembali."Danira mengangkat dagu. "Kamu terganggu?""Apa ada alasan yang membuatku harus merasa terganggu?" Sera balik bertanya dengan raut wajah tenang.Sepatu hak tinggi Danira beradu dengan lantai ketika ia berjalan mendekat. Jarak mereka tinggal beberapa sentimeter. Mata keduanya saling menatap, dingin dan tajam.Danira tersenyum tipis, tetapi tidak ada kehangatan di sana."Apa kamu masih mengincar posisi ketua yayasan?"Sera mempertahankan wajah tenangnya, meski jemarinya perlahan mengepal di sisi tubuh. Kedatangan Danira bukan kebetulan. Danira tidak pernah muncul tanpa membawa sesuatu yang ingin direbutnya."Dari awal kamu tau aku gak pernah menginginkan jabatan itu." Jawab Sera dengan wajah ramah.Senyum Danira menghilang."Ternyata kamu masih naif ya. Pantas saja sampai sekarang pun kamu belum bisa move on dari lelaki itu."Sera menatapnya tajam. Untuk pertama kalinya pagi itu, pikirannya tidak lagi dipenuhi Raja."Apa maksudmu?"Danira mendekatkan waja

  • Maaf, Tapi Hatiku Sudah Memilih Dia   Setelah peristiwa itu...

    Setalah cukup lama membiarkan Raja melayangkan ciumannya, Sera mengumpulkan seluruh tenaganya untuk melepaskan cengkraman lelaki itu dari tubuhnya.Beberapa kali mencoba ia gagal sampai yang terakhir kali dengan rasa amarah yang memuncak ia berhasil mendorong dada Raja hingga pria itu terhuyung mundur."Dasar kurang ajar! Kamu kira aku ini apa sembarangan kamu cium!" ketus Sera. Wajahnya dipenuhi kemarahan, sementara keterkejutan masih jelas terlihat di matanya.Raja menatapnya dengan wajah muram. Tatapan tajam Sera tidak membuatnya mundur, tetapi juga tidak membuatnya berani mendekat lagi."Aku suka sama Mbak Sera."Kening Sera berkerut, dengan sorot mata penuh emosi ia menampar wajah Raja hingga lelaki itu memegangi pipinya karna merasa pedih."Suka? Baru tadi siang kita kenal dan ngobrol, lalu kamu langsung bilang suka? Kamu kira aku perempuan kesepian yang haus kasih sayang?" tanyanya dengan nada meninggi."Sejak pertama kali melihat Mbak Sera, aku langsung—""Cukup!" Sera memoton

  • Maaf, Tapi Hatiku Sudah Memilih Dia   Ciuman tak terduga

    Sera menelusuri setiap gang dari rak-rak buku yang tersusun rapi. Ia menghirup dalam-dalam aroma buku yang menjadi ritual setiap ia memasuki toko buku atau perpustakaan. Raja mengernyitkan kening ketika mendapati tingkah Sera yang tak biasa menurutnya."Mbak Sera ngapai?" Tanyanya dengan nada sedikit ragu.Sera tersenyum kecil sembari menoleh pada Raja yang masih menatapnya penasaran."Itu ritual ku setiap kali masuk ke toko buku atau perpustakaan." Wajah Sera seolah berubah merona."Ri—tual?" Tanya Raja dengan wajah penuh penasaran.Sera mengangguk, "menghirup aroma buku yang tersusun rapi di rak-rak itu sesuatu yang menenangkan. Bagiku, seperti aroma terapi. Ada hal yang kembali dalam sekejap setiap aku menghirup baunya." Sera kembali menghirup udara dengan dalam, seolah menikmati setiap aroma di dalam ruangan itu."Apa yang kembali?" Tanya Raja penasaran.Garis senyum wanita itu menghilang, ekspresinya terlihat kaku sembari mengalihkan pandangan dari Raja. "Kenangan misalnya," ja

  • Maaf, Tapi Hatiku Sudah Memilih Dia   Perjalanan pulang

    Sera mengeluarkan ponsel dari tasnya saat Raja tengah merapikan meja bekas makanan mereka tadi. Raut serius Sera sedikit menarik perhatian Raja."Ada hal penting yang mengganggu mbak Sera?" Tanya Raja dengan wajah penasaran.Mata Sera sedikit menyipit ketika mengalihkan pandangan dari ponselnya ke arah Raja yang kemudian duduk di hadapannya."Pesen taxi online tapi belum ada yang jawab,” ucap Sera."Aku antar aja." Kata Raja sambil meletakkan kain lap yang legang ke atas meja.Kening Sera mengernyit, "jangan. Kalian pasti masih mau seru-seruan kan?"Raja menoleh pada teman-temannya yang masih sibuk membereskan halaman belakang rumah Jefri yang berantakan karna acara mereka."Setelah selesai beberes mereka pasti sibuk sama hape nya. Seharian kan mereka gak ada pegang handphone." Kata Raja yang kembali menatap Sera.Wanita itu terdiam sejenak, tampak menimbang tawaran Raja, "boleh deh kalau gak ngerepotin.”Raja tersenyum, ia meraih kunci mobil di atas meja dan berdiri, "guys, aku mau a

  • Maaf, Tapi Hatiku Sudah Memilih Dia   Namanya... Raja!

    Sera masih mematung karna canggung, Jeny berinisiatif menggerakkan tangan Sera menjabat tangan Raja. "Sera, namanya Sera. Dia sahabat aku," ucap Jeny seolah mewakili Sera yang masih terlihat kaku.Lelaki bernama Raja tersenyum dan kembali fokus pada panggangan ya.Sesi obrolan yang di awali dengan perkenalan menjadi hangat dan akrab. Jefri yang awalnya merasa enggan untuk di campuri kakaknya lun mulai ikut terbawa suasana nimbrung dengan obrolan Sera, kakaknya dan teman-temannya.Sejenak, Sera merasa menemukan lagi dirinya yang hilang bertahun-tahun hanya karna satu nama. Ia tertawa, bertukar lelucon dan mendengar dengan serius cerita lelaki yang berusia sembilan tahun lebih muda darinya.Daging yang mereka panggang sudah matang. Nicole membawanya ke tengah mereka dan dengan cepat mereka melahap hasil olahan mereka yang rela bergumul dengan asap demi hidangan sederhana namun di nikmati bersama cerita yang saling terlontar hingga mereka memahami satu sama lain.Raja mengambil gitar d

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status