MasukBaru saja Yanto akan menjawab, tiba-tiba dia merasa punggungnya ditepuk dari arah belakang.
"Hei, Yan! Main tinggalin gua aja. Sebenarnya Lo kenapa, sih?" tanya Ivan seraya menatap Yanto dan Andri secara bergantian.
"Maaf, Van. Gue sedikit ada masalah pribadi sama dia," jawab Yanto sembari menunjuk ke arah Andri.
Melihat raut wajah Yanto yang tampak serius, Ivan memilih untuk menyingkir saja, memberikan ruang bagi temannya itu.
"Oh, kalau gitu, gue ke sana dulu, ya
"Aku tidak mau! Jangan paksa aku, Mas!" sentak Viana."Oh, ternyata sekarang kamu tidak bisa diajak bicara baik-baik ya, mau dikasari ya? Baiklah, kalau itu maumu. Akan kukabulkan!"Dengan sedikit gerakan menghentak, Yanto menarik tangan kanan Viana, menjejalkan sebuah pena diantara ibu jari dan telunjuk Viana lalu menetapkan tangan itu di atas surat tersebut."Tanda tangani surat itu! Ayo cepat, Viana! Jangan buat habis kesabaranku!" bentak Yanto dengan suara keras.Air mata Viana seketika bercucuran menggambarkan betapa sakit hatinya diperlakukan demikian. Dia seperti tidak ada harga dirinya lagi di depan Yanto, dia merasa hanya sebagai alat untuk mencapai keinginan Yanto.Sementara itu Yanto menatap Viana dengan tatapan marah. Dia merasa kesal sekali karena istrinya itu tidak bisa diajak bekerja sama. Tanpa Yanto sadari sikapnya kini sudah jauh berubah dari yang sebelumnya dimana dulu dia adalah pria yang baik hati, penyayang dan selalu berlaku lembut kepada istrinya.Akan tetapi,
Sementara itu di kamarnya, Viana tampak duduk termenung di pinggir ranjang.Dia tengah memikirkan cara untuk membuat Yanto menceraikannya. Dia sudah mantap dan bulat dengan keputusannya itu karena dia menyadari Yanto tidak akan mundur dari niatnya semula yaitu menikahi Feyla.Walaupun dari hati kecilnya yang paling dalam ada sedikit perasaan tidak rela untuk berpisah dari lelaki yang telah membersamainya selama lima tahun itu, tetapi dia sadar dia tidak akan kuat menjalani kehidupan rumah tangga dimana cinta suaminya telah terbagi dua untuk wanita lain.'Apa aku minta tolong saja sama mbak Mika supaya membantuku bicara dengan mas Yanto? Ah, tidak tidak. Aku tidak boleh merepotkan orang dengan masalahku. Atau kalau tidak aku pergi diam-diam saja dari rumah ini? Aku bisa menunggu saat Runi lengah untuk kabur. Tapi kalau aku kabur, aku harus kemana? Sedangkan aku tidak punya sanak saudara di kota ini. Ah, kau betul-betul membuatku pusing, mas,' gerutunya dalam hati.Tengah sibuk melamun,
Mendengar itu, Pak Indra langsung mencondongkan sedikit badannya ke depan."Lalu?" tanya nya seraya menatap Yanto dan Feyla bergantian.Feyla dan Yanto terdiam, keduanya saling lirik satu sama lain."Kenapa kalian diam? Apa keputusanmu, Yanto?" cecar Pak Indra.Yanto mengangkat wajahnya, memutuskan untuk bicara jujur."Saya tidak ingin menceraikannya, Pak. Saya masih sangat mencintainya. Saya berjanji akan berusaha membujuknya.""Dan kalau dia masih tidak mau juga?" kejar Pak Indra."Saya yakin, dia pasti akan mau," ucap Yanto.Brakk!Pak Indra menggebrak meja di depannya, membuat Feyla dan Yanto terlonjak kaget."Yanto, apa kau ingin mempermainkan putriku, hah?! bentak Pak Indra dengan suara yang cukup keras."Mak-maksud Bapak apa?" tanya Yanto dengan tergagap."Kemarin kau bilang padaku bahwa kau akan siap menghadapi segala resiko sehubungan akan rencana pernikahanmu dengan Feyla termasuk bercerai dengan istrimu.""Tapi mengapa sekarang kau terkesan plin plan dan tidak bisa mengambi
"Aku gak masak malam ini," jawab Viana akhirnya dengan nada ogah-ogahan."Lho, kalau Mbak gak masak, lalu Mbak makan apa malam ini?" tanya Runi lagi dengan heran."Tadi aku ditraktir makan oleh mbak Mika dan sekarang perutku masih kenyang. Jadi sepertinya aku gak akan makan malam lagi," jawab Viana."Lah, trus gimana dengan aku dan bang Yanto, Mbak? Masa Mbak sendiri yang kenyang, trus kami dibiarin gak makan dan kelaparan gitu?" protes Runi."Itu terserahmu lah. Kalau kamu mau makan, masak sono di dapur dan kalau kamu malas masak, ya pesan aja makanan secara online. Gampang, kan? Kan kamu dapat gaji dari hasil kerja kamu nemenin calon kakak iparmu itu," sindir Viana"Lalu bang Yanto gimana? Apa Mbak juga nggak mau masak untuk bang Yanto?" Runi mencoba menggunakan nama Yanto untuk meluluhkan hati Viana.Secara Yanto adalah suaminya, tentu Viana akan mau menyiapkan makan malam untuk Yanto, dengan demikian dia juga bisa ikut nebeng makan malam, demikian pertimbangan yang ada dalam pikir
Sementara itu, Viana masih bergeming di tempatnya menatap kepergian Yanto dan Feyla.Bohong jika hatinya tidak terluka melihat semua itu.'Akhirnya aku akan mencapai titik ini juga. Tidak ku sangka kisah perselingkuhan suami yang selama ini aku tonton di sinetron-sinetron kini malah ku alami sendiri. Mana janjimu dulu, mas yang katamu dulu akan selalu setia padaku. Ternyata semua itu hanya bualanmu semata. Setelah semua kejadian ini, aku tidak mungkin lagi bisa percaya padamu. Ya, bercerai adalah satu-satunya jalan untuk menjaga kewarasan hati dan pikiranku.''Mungkin sekarang mas Yanto bisa bicara bahwa dia akan bersikap adil pada kami berdua, tapi aku yakin nanti setelah dia menikah dengan Feyla, perempuan itu pasti akan berusaha menguasai Mas Yanto seorang diri dan dengan status yang dimilikinya, apa yang bisa aku lakukan.'' Ya, aku sudah yakin jalan inilah yang akan kupilih, tapi bagaimana caranya untuk bisa membuat mas Yanto mau menceraikan aku? Dia masih ingin mempertahankan ak
"Lho, kok aku sih, Bang?" protes Runi. Bagimana dia tidak akan protes. Viana adalah orang yang dibencinya, tapi sekarang Yanto malah menyuruhnya untuk menjadi pengawas Viana. Disamping itu dia juga merasa ruang geraknya akan menjadi terbatas karena dengan tugas barunya ini, dia tidak akan leluasa kemana-mana."Kalau tidak kamu, siapa lagi? Hanya kamu yang bisa ada di rumah selama dua puluh empat jam sedangkan abang harus kerja. Masa gitu aja gak ngerti," tukas Yanto."Tapi kan aku juga kerja sama kak Feyla, Bang. Lagian untuk apa dia diawasi. Kayak anak kecil saja," sungut Runi."Kerja apaan? Feyla sudah bilang sama abang kalau kamu itu gak betul-betul kerja. Kamu hanya jadi teman Feyla saat dia keluar untuk refreshing, jadi teman untuk ngobrol dan nongkrong."Viana tersenyum sinis mendengar penuturan Yanto.'Ternyata selama ini itu pekerjaan yang dibangga – banggakannya, bukan pekerjaan seperti orang-orang pada umumnya. Bahkan perempuan yang selalu disanjungnya itu pun bisa melihat







