Share

Pemaksaan

Author: Kurnia_cy
last update publish date: 2026-02-11 08:36:11

Sementara itu di kamarnya, Viana tampak duduk termenung di pinggir ranjang.

Dia tengah memikirkan cara untuk membuat Yanto menceraikannya. Dia sudah mantap dan bulat dengan keputusannya itu karena dia menyadari Yanto tidak akan mundur dari niatnya semula yaitu menikahi Feyla.

Walaupun dari hati kecilnya yang paling dalam ada sedikit perasaan tidak rela untuk berpisah dari lelaki yang telah membersamainya selama lima tahun itu, tetapi dia sadar dia tidak akan kuat menjalani kehidupan rumah tangg
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Madu Pemberian Ipar    Permintaan Maaf Berujung Hinaan.

    Bu Ajeng memasuki rumah dengan langkah gontai. Setibanya di dalam rumah, dia melemparkan tas nya begitu saja di atas meja lalu menghempaskan tubuhnya ke sofa. Peristiwa tadi masih membayang di pelupuk matanya membuat rasa geram di hatinya kembali membuncah."Kurang ajar perempuan itu! Aku ditipunya mentah-mentah. Di depanku berlagak seperti perempuan baik dan anggun, tetapi di belakangku dia tak ubahnya seperti perempuan murahan yang tidak ada harga dirinya bahkan kini dia sedang mengandung anak haram dalam perutnya. Benar-benar menjijikkan. Untung Bayu bersikeras menolak, kalau sempat Bayu juga tertarik padanya, mau dikemanakan mukaku ini, punya menantu yang kelakuannya kayak pelacur!" umpat Bu Ajeng dengan suara lirih."Apa Nek? Nenek ngomong apa?" tanya Riani yang mendengar suara gumaman neneknya."Hah? Oh...eh...nenek tidak ngomong apa-apa, kok," bohong Bu Ajeng."Masak sih, Nek? Tadi Riani dengar Nenek kayak bicara-bicara sendiri, kayak ngomel-ngomel gitu," cecar Riani dengan dah

  • Madu Pemberian Ipar    Kekecewaan Bu Ajeng

    Meskipun bibirnya menggumamkan beberapa kali kalimat sangkalan, tetapi kenyataan di depan matanya tetap tidak berubah. Sosok wanita berbalut selimut itu masihlah tetap Veby meskipun wajahnya terlihat lebam dan di sudut bibirnya terdapat cairan merah, entah karena apa.Saking syoknya, Bu Ajeng sampai terhuyung mundur dua langkah dan secara tidak sengaja dia menginjak kaki orang yang berdiri di belakangnya."Hei, Bu. Hati-hati, dong! Liat nih, kaki saya keinjek sama Ibu," protes orang tersebut."Ma-maaf, saya tidak sengaja," ucap Bu Ajeng menatap orang itu, tetapi sejurus kemudian dia terperanjat ketika melihat wajah orang yang kakinya dia injak."Lastri?"Wanita yang dipanggil Lastri itu pun menatap Bu Ajeng dengan dahi berkerut, berusaha mengingat siapa orang di depannya ini dan kenapa orang ini bisa tahu namanya."Ajeng? Benar ini kamu, Jeng?" Lastri malah balik bertanya."Iya, benar. Kok kamu bisa ada di sini, Las?" tanya Bu Ajeng."Lah, aku kan tinggal di sini," sahut Bu Lastri."O

  • Madu Pemberian Ipar    Peristiwa Tidak Terduga.

    Siang itu, Bu Ajeng tampak tengah bersiap-siap hendak pergi. Kali ini dia akan membawa Riani ikut serta dengannya berhubung Riani sedang libur sekolah karena guru-guru rapat. Setelah keduanya siap, mereka lalu duduk di teras, menunggu kedatangan taksi online yang sudah dipesan oleh Bu Ajeng"Kita mau kemana, Nek?" tanya Riani. Bocah perempuan itu sudah tampak rapi dan cantik dengan dress selutut berwarna merah muda. Riani memang penyuka warna merah muda sehingga barang-barang kepunyaannya didominasi oleh warna merah muda mulai dari pakaian, aksesoris, hiasan rambut hingga tas sekolahnya juga berwarna merah muda."Kita mau ke rumah Tante Veby," jawab Bu Ajeng singkat sambil matanya menatap ponsel untuk mengetahui posisi driver taksi online yang sudah dipesannya. Ya, Bu Ajeng mengetahui bahwa hari ini Veby tidak masuk kerja karena mengambil cuti dan kesempatan itu digunakannya untuk mendekatkan Veby dengan Riani. Bu Ajeng yang menyadari bahwa Bayu menaruh hati kepada Viana memutuskan un

  • Madu Pemberian Ipar    Membujuk Bayu

    Keesokan siangnya, dengan menumpang mobil travel, Viana berangkat ke Kota M. Sebelum berangkat, dia menerima banyak nasehat dari orang tuanya perihal hidup mandiri di tempat orang dan itu membuat Viana jadi tersenyum-senyum sendiri membayangkan dia tadi seperti anak kecil yang diceramahi saat orang tuanya memberi nasehat.Viana kemudian melemparkan pandangan keluar jendela, memperhatikan deretan bangunan dan pepohonan yang dilewati oleh mobil tersebut. Beberapa saat kemudian, Viana merasakan matanya mulai berat dan pelan-pelan, kedua kelopak mata yang berbulu lentik itu mulai mengatup, mengantarkan empunya ke alam mimpi di tengah gerak mobil yang masih melaju.***Dua hari kemudian pasca berkomunikasi dengan Viana melalui telepon, Bayu kembali dari luar kota dan dia tiba di rumah pada sore hari. Pria berwajah tampan itu melangkah gontai memasuki rumahnya. Perasaannya saat itu sedang tidak baik-baik saja. Kenyataan bahwa Viana menolak lamarannya, resign dari kantor dan memutuskan pinda

  • Madu Pemberian Ipar    Berbicara Jujur

    "Bagaimana ini, Bu? Apa Bayu menelepon karena ingin tahu jawabanku atas lamarannya tempo hari?" tanya Viana sedikit cemas.Bu Resti terdiam, tampak berpikir dan sejurus kemudian ibu angkat Viana itu berkata,"Angkat saja, Vi. Kalau memang itu yang dia tanyakan, jawab apa adanya sesuai hati nuranimu, tidak mungkin kan kamu mengelak selamanya.""Tapi Bu, aku...aku tidak sampai hati melihat Bayu sedih nantinya.""Dengar, Viana. Ibu tahu hal ini tidak mudah bagi Bayu, tapi kasihan dia kalau kamu terlalu lama menggantungnya. Dia bisa berpikir kalau kamu mempunyai perasaan yang sama denganmu dan itu akan semakin membuat dia kecewa jika pada akhirnya kamu menolaknya. Lagipula kamu akan segera pindah ke kota M, itu berarti kalian akan berjauhan, jadi selesaikan semuanya sebelum kamu pergi."Viana menggigit bibir bawahnya, dia mengakui kebenaran ucapan Bu Resti. Viana mengumpulkan keberaniannya lalu dengan tangan sedikit bergetar, dia menerima panggilan telepon itu."Ha-Hallo, Bayu...""Hallo,

  • Madu Pemberian Ipar    Perbincangan Bu Resti dan Viana.

    Viana duduk termenung di dalam kamarnya. Rentetan peristiwa tadi siang di kantor membayang di pelupuk matanya. Hatinya bimbang, mempertanyakan sudah tepatkah keputusan yang diambilnya ini mengingat konsekuensi yang harus dihadapinya adalah menjadi seorang pengangguran.Dia juga sudah menceritakan masalahnya ini kepada Bu Resti dan ibu angkatnya itu berusaha menyikapinya dengan bijak.Saat tengah duduk melamun, Viana dikejutkan oleh suara pintu kamar yang dibuka dari luar."Ibu," ucapnya lirih ketika melihat siapa yang datang.Bu Resti tersenyum lalu berjalan menghampirinya."Kenapa? Masih memikirkan yang tadi siang?"Viana mendesah pelan sambil menatap Bu Resti."Jujur, iya Bu. Menurut ibu, aku salah atau tidak ya mengambil keputusan ini? Soalnya aku kok tiba-tiba merasa menyesal sekarang." Viana mengungkapkan unek-uneknya."Mau menyesal pun sekarang gak ada gunanya lagi, Vi. Semuanya telah terjadi dan sekarang yang kamu bisa hanyalah menatap ke depan dan melanjutkan hidupmu. Terkadan

  • Madu Pemberian Ipar    Feyla Menjenguk Yanto.

    Serentak ketiganya menoleh ke arah pintu masuk dan di sana terlihatlah dua orang wanita berjalan dengan gaya anggun ke arah ranjang Yanto. Salah seorang wanita tampak membawa sebuah paper bag di tangannya."Runi, Feyla," gumam Viana saat tatapannya melekat pada sosok dua orang wanita terse

  • Madu Pemberian Ipar    Tagihan Yang Sudah Dibayarkan 

    "A-apa? Mas dipecat?"Viana mengulangi kembali ucapan Yanto sebelumnya guna lebih meyakinkan dirinya akan hal yang didengarnya barusan."Benar, Dek," jawab Yanto dengan lesu.Viana terdiam sejenak. Kini dia yakin bahwa dia tidak salah dengar. Perlahan, dia mulai bisa meraba b

  • Madu Pemberian Ipar    Pengakuan

    "Bukan, Dok. Saya tetangganya. Ini istrinya," tukas Mika cepat seraya menunjuk ke arah Viana yang berdiri di sampingnya."Oh, maaf Bu. Saya salah orang rupanya," ujar Dokter Arif setengah bercanda."Jadi gimana keadaan suami saya sekarang, Dok?" tanya Viana dengan perasaan cemas.

  • Madu Pemberian Ipar    Ke Rumah Sakit.

    Namun, sebelum dia sempat keluar rumah, dia dicegat oleh Runi yang baru keluar dari kamarnya dan menatap heran ke arah Viana yang nampak tergesa-gesa dengan raut wajah cemas."Mbak, ada apa? Kok kayak gelisah begitu?" tanyanya.Viana menoleh sekilas ke arah Runi dengan wajah datar.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status