ログインKabar itu pun sampai ke kediaman keluarga Svarga. Semua orang tidak menyangka, mereka masih sedikit belum percaya. Jenar wanita sebaik dan seanggun itu tega melakukan kejahatan itu. Jasmine yakin Embun memfitnah kakaknya karena cemburu dirinya merebut Lintang dari wanita itu. Embun sengaja ingin menyakitinya lewat orang yang disayanginya. Dia tidak terima, dadanya bergemuruh, kebenciannya terhadap Embun semakin membara. “Ternyata kau … sialan!” maki Jasmine, napasnya memburu. Dia berdiri di depan cermin melihat pantulan dirinya dalam balutan amarah. “Sayang …,” kata Lintang sambil berjalan mendekat ke arahnya.Jasmine tidak menoleh, kemarahan dalam dadanya begitu besar sehingga telinganya seolah tuli. “Kamu kenapa, hem?” ucap Lintang sambil memeluk tubuh wanita itu dari belakang. Lintang dapat melihat kobaran api itu dalam sorot mata sang istri. “Menurut Mas aku kenapa?” ketus Jasmine, baginya pertanyaan itu basi baginya. “Kamu marah?” ucap Lintang hati-hati.“Ya, aku marah!” s
“Dedenya menendang,” kata Jasmine. “Kencang sekali, aku terkejut dibuatnya.” Dia menaikkan volume suara agar sampai ke telinga Embun.“Oh, ya ampun. Kamu buat Mas khawatir saja,” kata Lintang. Tangan itu mengusap pelan perut Jasmine. “Syukurlah kalau cuma dede main.”“Iya, Mas. Sepertinya dede senang ke sini.”“Embun menulikan telinga, membentengi hatinya, tidak memberi celah untuk luka yang sama. Iri itu pasti ada, tetapi dia tidak akan membiarkan perasaan itu menggoyahkannya. “Tentu saja senang, kan di sini tempat ibunya juga,” kata Lintang, dia tersenyum hangat. Tangan Embun terhenti lagi, telinganya tidak bisa mengabaikan kalimat itu. Muak, sungguh muak. Ia mengembus napas kasar lalu kembali lagi ke aktivisnya.“Siapa yang Mas Lintang maksud? Aku? Tidak sudih,” batin Embun. Bibirnya tersenyum tipis, sinis.Jasmine jengkel Embun tidak bereaksi apa-apa. Pancingannya tidak berhasil, hatinya membengkak. “Sial! Kenapa susah sekali sekarang?” batinnya.Tidak kehabisan cara, Jasmine pi
Cahaya siang menembus jendela VIP Lotus Cafe menciptakan garis-garis hangat di meja, tempat Embun duduk.Sebelum datang, dia sudah menyiapkan semua berkas yang diperlukan. Dia hanya ingin semua yang telah direncanakan berjalan mulus.Tanpa sepengetahuan Lintang, dia sudah menyiapkan langkah untuk pergi. Tidak peduli lagi jika nanti lelaki itu akan memohon, dia tahu betul bagaimana suaminya itu. Dia tidak akan goyah.Embun merasa dirinya licik saat mengingat mengurus perkara ini dengan uang bulanan yang diberikan lelaki itu. Namun, dia mengabaikan rasa itu. Jika dia terus mengikuti hatinya yang selalu tidak enak, dia akan terus tersiksa.“Maafkan aku, aku hanya berusaha menyelamatkan diri dari kayu yang kau beri. Bukan untuk kembali ke tempatmu, tapi untuk mendayung ke pulau seberang,” gumamnya lirih. Tidak lama seorang pria berpakaian rapi dan terlihat profesional muncul dari pintu. Dia adalah Vito Siba, pengacara yang Helena katakan beberapa hari yang lalu.“Selamat siang, Bu Embun.
Eros menyeret langkah ke dalam rumah, tubuhnya terasa lemas dan penampilannya kacau. Hari ini dia seolah disambar petir, sesuatu yang sungguh mengejutkan. Perasaannya campur aduk. Cemas, kecewa dan bersalah menumpuk dalam dada.Dia tidak langsung naik, dia menjatuhkan diri di sofa lalu bersandar. Dia memijat pangkal mata, kepalanya terasa berat. Bising, penuh pertanyaan yang belum menemukan jawaban.“Eros!” Suara bu Riana mengejutkan lelaki itu. Tangannya berhenti, membuka mata lalu menoleh ke arah sumber suara.Terlihat ibunya berjalan cepat ke arahnya dan duduk di sampingnya. “Kamu dari mana saja? Mama sudah telepon berkali-kali, tidak diangkat. Sebenarnya ada apa ini? Jenar kenapa?” tanya Bu Riana, kepala Eros semakin berdenyut, tatapan mata wanita itu menuntut.Eros menghela napas kasar, lalu menegakkan tubuh. “Jenar hanya dimintai keterangan,” sahut Eros. “Semuanya belum jelas.”“Keterangan apa? Jenar tidak melakukan apa-apa, kan?” cecar Bu Riana. Masih diperiksa, Ma,” jawabnya
Setelah Jenar dibawa oleh polisi, Bu Riana segera menghubungi Eros. Namun, sudah beberapa kali teleponnya tidak dijawab. Wanita paruh baya itu berjalan mondar-mandir sambil memegang ponsel di depan dada. Dia mencobanya lagi namun hasilnya tetap sama. Matanya menangkap jam dinding yang menggantung dan melihat angkanya. “Ya, Tuhan, bisa-bisa aku lupa Eros pagi ini ada meeting,” gumamnya. Segera jari-jarinya mengetik pesan dan mengirimkannya.“Sebenarnya ada apa ini?” gumamnya penuh tanya. “Apa yang disembunyikan Jenar selama ini?”“Semoga saja benar yang dikatakan Jenar, hanya salah paham,” ucapnya penuh harap. Ia segera berlalu ke dapur, tenggorokannya mendadak terasa kering.“Oma! Mama sudah pergi, ya?” kata Embun yang tiba-tiba muncul di anak tangga paling atas.Bu Riana menoleh. “Iya, Sayang. Kamu main saja sama Mbak dan adik, ya,” sahut Bu Riana. Gadis kecil itu patuh dan berbalik pergi. “Kasihan cucuku, bagaimana kalau dia tahu kalau ibunya dibawa polisi. Semoga saja Jenar sece
Senin depan datang dengan cepat, tetapi terasa lama bagi Jenar. Dia sangat senang, pagi ini dia bersiap dengan semangat setelah urusan anaknya selesai.Eros dapat melihat kebahagiaan sang istri yang terpancar dari wajahnya. Dia ikut senang melihat rona itu, meskipun di dalam hati dia merasa sedikit berat.“Sudah cantik,” ucap Eros, melihat istrinya meneliti make up di depan cermin. Mungkin dia sudah cukup lama tidak masuk kantor makanya seperti itu, pikir Eros. Jenar tersenyum, senang sekaligus malu.“Terima kasih,” ucapnya malu-malu.“Maaf, Mas tidak bisa antar kamu di hari pertama ini karena Mas ada meeting pagi,” kata Eros. Dia mendekat lalu memeluk Jenar dari belakang. Mereka melihat pantulan di cermin.“Tidak apa-apa. Mas izinkan aku saja, aku sudah senang.”“Ya, Mas percaya kamu.” Kalimat Eros membuat Jenar berbunga-bunga.Mereka turun sarapan. Bu Riana tampak tidak senang melihat Jenar dengan pakaian kantornya. Mereka makan dengan tenang dan damai pagi itu, dihiasi celotehan luc
Mendengar suara orang yang ditunggu-tunggu, Jenar dan Jasmine berdiri dari duduknya. Keduanya tersenyum sinis dengan tatapan mengejek. “Halo Mba? Aku kemari hanya ingin tahu bagaimana kabarmu,” kata Jasmine manis lalu menatap Jenar sekilas dengan senyum penuh arti. Embun berdecih mendengar kata-ka
Bel rumah Jenar berbunyi, wanita yang tengah menemani anak-anaknya bermain di ruang depan langsung berdiri.“Pasti ada yang ketinggalan lagi,” gumam Jenar menuju pintu dan mengira itu suaminya.“Ya, ada apa ….” Ucapan Jenar menggantung ketika mendapati dua lelaki berseragam cokelat. Rasanya dia ing
Pagi ini Embun pergi ke kantor polisi untuk mengurus surat keterangan kehilangan. Dia harus cepat-cepat mengurusnya sebelum dirinya disibukkan dengan toko kue yang sebentar lagi akan beroperasi. Bukan tidak mungkin dia akan melupakannya lagi.“Sudahi kebodohanmu, Embun!” gumam Embun pada dirinya. D
Embun terpaksa masuk kembali ke dalam rumah sakit mengikuti suaminya. “Mas …,” kata Embun mengimbangi langkah Lintang. Lelaki itu diam saja seperti tidak mendengar ada yang bicara.“Mama tadi sudah mengusirku,” lanjutnya.“Kau pantas mendapatkannya,” sahut Lintang datar dan merobek hati Embun.“Mas







