Masuk(Mature 21+) "Ah! Lily mau mas Dewa. Lily mau mas Dewa ada di dalam Lily." "Kamu yakin, Ly? Kamu yakin tidak akan menyesal setelahnya?" *** Kehidupan pernikahan Lily dan Aldo belakangan terasa begitu hampa. Lily merasa kesepian, dan terabaikan. Hingga kehadiran Dewa membuat Lily kembali merasakan kehangatan yang telah lama dia rindukan.
Lihat lebih banyak“Mas, kamu nggak pulang lagi? Kamu nggak kangen sama aku?” Lily bertanya dengan nada manja via telepon pada Aldo, suaminya yang sudah satu minggu pergi ke luar kota.
“Maaf ya, Ly. Kerjaan mas di sini numpuk. Kayaknya mas bakalan di sini lebih lama. Kamu sabar, ya. Mas kerja keras juga buat kamu. Ini juga salah satu cara supaya mas dapat promosi naik jabatan dari bos,” jawab suaminya dari ujung sana. Lily sudah bosan mendengar alasan itu. Ini sudah ke sekian kalinya Aldo ke luar kota dalam waktu yang lama. Sekalinya di rumah, lelaki itu terus saja mengeluh capek. Hubungan mereka sudah satu tahun belakangan kurang harmonis. Bahkan untuk urusan ranjang saja bisa dihitung dengan jari. Sikap Aldo juga tidak semanis dulu. Lelaki itu semakin jarang memuji Lily. “Ya sudah kalau begitu. Aku mau nginep di rumah mama ya, Mas? Sepi juga lama-lama di rumah sebesar ini sendirian.” Lily sebenarnya berniat untuk protes. Tapi dia yakin kalau itu dia lakukan hanya akan memicu pertengkaran. Dia sedang tidak berselera untuk berdebat dengan Aldo. Ujungnya, lelaki itu akan mengungkit tentang dirinya yang tidak juga hamil di usia pernikahan mereka yang sudah menginjak tiga tahun. Kalimat itu sangat menyakiti perasaan Lily. Itulah mengapa dia lebih baik menghindar. “Eh, jangan, Ly. Mas Dewa bilang dia pulang dari Batam hari ini. Dia mau menginap di rumah kita. Soalnya kamu tahu sendiri, rumah papa lagi direnovasi.” Lily yang tadinya tidak berniat untuk marah pun menjadi emosi. Bagaimana mungkin dia harus tinggal satu rumah dengan kakak iparnya itu? Bukan hanya alasan kenyamanan, tetapi juga tentang hubungan mereka yang tidak akrab. Bukan karena bermusuhan, memang sikap Dewa yang membuat Lily menjadi sungkan. Apalagi semenjak menduda, lelaki itu lebih memilih tinggal di Batam, dan menetap di sana. “Mas, kamu ini bagaimana, sih? Masa Mas ngizinin mas Dewa buat tinggal di rumah kita. Apa kata tetangga, Mas? Di rumah ini Cuma ada aku, loh. Masa Mas santai saja, ngebiarin aku tinggal berdua sama mas Dewa,” omel Lily dengan emosi. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan pemikiran Aldo yang memang tidak umum. Biasanya seorang suami pasti tidak akan membiarkan istrinya berada dalam satu atap dengan lelaki lain, walaupun itu saudara sendiri. Sementara Aldo, dia malah dengan santainya mengizinkan Dewa menginap di rumah mereka. “Ya apa salahnya sih, Ly? Mas Dewa juga nggak akan lama di rumah kita. Paling dia seminggu saja di Jakarta. Buat apa kamu pusing mikirin omongan tetangga? Aku yakin sama mas Dewa. Dia nggak mungkin ngapa-ngapain kamu.” Jawaban itu sama sekali bukan yang Lily inginkan. Dia merasa Aldo memang tidak peduli padanya. Lily menjadi semakin kesal. “Seminggu itu lama, Mas. Mending Mas suruh saja mas Dewa nginep di hotel atau penginapan. Jangan di rumah kita.” Lily masih berusaha untuk menghalau Dewa dari rumahnya. Dia berharap kali ini Aldo mau mendengarkannya. “Segitu tidak sukanya kamu sama keluargaku, Ly? Kamu lihat sendiri bagaimana aku memperlakukan keluarga kamu kalau mereka datang ke rumah kita, kan? Kenapa di saat mas Dewa mau menginap di rumah kita, kamu malah seperti itu? Sekarang aku tahu, kamu memang nggak beneran tulus sama aku, Ly!” Aldo emosi. Lily bahkan mendengar suaminya itu berkata dengan nada tinggi. Padahal bukan begitu maksud Lily. Dia hanya sedang menjaga dirinya dari omongan tetangga karena tinggal berdua di rumah bersama kakak ipar. “Mas, bukan begitu maksudku. Aku cuma ...” “Aku nggak mau dengar alasan kamu, Ly. Kamu setuju atau tidak, mas Dewa akan tetap tinggal di rumah kita sementara waktu. Rumah itu aku beli dengan uangku sendiri, jadi kamu tidak berhak mengatur tentang siapa saja yang boleh datang. Kamu juga harus melayani keperluan mas Dewa dengan baik. Awas saja kalau kamu berani mengacuhkan mas Dewa. Uang bulananmu bakalan aku potong delapan puluh persen!” Aldo masih berucap dengan nada ketus. Lelaki itu juga langsung memutus sambungan telepon mereka. Lalu Lily harus bagaimana? Setidaknya dia sudah berusaha untuk menolak kedatangan Dewa ke rumahnya. Lagipula Aldo benar, rumah itu dibeli Aldo dengan uangnya sendiri. Jadi dia tidak berhak melarang tamu Aldo untuk berkunjung ke rumah mereka. “Oke, kalau itu mau kamu, Mas. Kalau nanti ada omongan tetangga yang menusuk, aku tinggal kasih rekam sama kamu. Nyebelin! Sekarang sebaiknya aku siapkan kamar tamu, daripada nanti aku kena omel lagi sama mas Aldo. Padahal aku kangen banget sama dia, setahun belakangan ini aku ngerasa kesepian banget. Aku punya suami, tapi rasanya kayak sudah janda. Disentuh juga jarang. Apa aku memang sudah nggak menarik lagi ya, di mata mas Aldo?” Lily bermonolog sambil berjalan ke arah kamar tamu. Kamar itu memang disediakan untuk para tamu yang datang dan menginap di rumahnya. Kamarnya terletak di sebelah ruang keluarga. Biasanya, orang tua Lily yang dari kampung selalu mendiami kamar itu selama berada di Jakarta. Salah satu nilai plus Aldo di mata Lily memang tentang bagaimana cara suaminya itu merespon orang tuanya. Aldo selalu memperlakukan keluarganya dengan sangat baik. Tidak pernah membedakan walau mereka dari keluarga yang pas-pasan. Setelah acara beres-beresnya selesai, Lily memutuskan untuk mandi. Dia merasa sangat gerah. Sejak pagi, dia belum sempat mengguyur tubuhnya dengan segarnya air shower. Lily memilih pakaian yang paling sopan. Dia tidak ingin memberikan kesan yang tidak-tidak di pertemuannya dengan Dewa nanti. Benar saja, setelah selesai bersiap, Lily mendengar bel rumahnya ditekan oleh seseorang. Dia segera turun dengan cepat, dan berjalan ke arah pintu. Saat pintu terbuka, Lily menemukan Dewa yang terlihat jauh berbeda di hadapannya. Saat terakhir bertemu, Dewa tidak sekekar sekarang. Wajahnya juga terlihat jauh lebih tampan. Lily dibuat terpesona karenanya. “Mas Dewa, selamat datang. Ayo masuk, Mas.” Lily segera mempersilakan kakak iparnya itu untuk masuk. “Terima kasih banyak, Ly.” Dewa membalas ramah, lelaki itu kemudian menyeret kopernya masuk. Lily segera menutup pintu, dan mengikuti langkah Dewa. Dia kemudian membantu Dewa membawa kopernya ke kamar tamu. Dia kemudian membawa Dewa ke ruang keluarga, berniat membuatkan lelaki itu minuman, dan memberikan beberapa makanan kecil. Dewa mengikuti ajakan Lily. Dia kemudian duduk di ruang keluarga dengan tenang, sambil menunggu adik iparnya itu membuatkan minuman untuknya.Lampu ruang persalinan yang terang benderang menciptakan suasana yang steril namun penuh ketegangan yang sakral. Aroma disinfektan bercampur dengan harum minyak kayu putih yang sempat dioleskan Dewa ke pelipis Lily untuk menenangkannya. Di tengah ruangan, Lily berbaring di atas tempat tidur persalinan, napasnya memburu, peluh membasahi dahi dan rambutnya yang terurai berantakan di atas bantal.Dewa berdiri tepat di sisi kepala Lily. Dia tidak melepaskan jasnya, hanya menggulung lengan kemejanya hingga siku. Tangan kanannya digenggam erat oleh Lily—begitu erat hingga buku-buku jari Dewa memutih—sementara tangan kirinya terus mengusap keringat di wajah istrinya dengan handuk kecil."Tarik napas dalam, Lily. Bagus... buang perlahan," suara Dokter Sarah terdengar tenang namun tegas di ujung tempat tidur. "Pembukaan sudah lengkap. Kita akan mulai saat kontraksi berikutnya datang, ya?"Lily mengangguk lemah, matanya menatap Dewa dengan sisa-sisa kekuatan yang dia miliki. Rasa sakit yang
Malam itu, Jakarta sedang diguyur hujan rintik yang membawa hawa sejuk ke dalam kamar utama yang temaram. Jam dinding digital di atas nakas menunjukkan pukul 02.15 dini hari. Di tengah kesunyian yang dalam, Lily tiba-tiba terbangun bukan karena suara petir, melainkan karena sensasi kaku yang meremas perut bagian bawahnya.Dia menarik napas panjang, mencoba tenang. "Mungkin hanya Braxton Hicks," gumamnya pelan, merujuk pada kontraksi palsu yang belakangan sering dia rasakan.Sepuluh menit kemudian, rasa remasan itu datang lagi. Kali ini lebih lama, sekitar tiga puluh detik, dan menjalar hingga ke pinggang belakang. Lily melirik Dewa yang tertidur pulas di sampingnya. Wajah suaminya tampak sangat lelah setelah lembur menyelesaikan laporan tahunan perusahaan agar bisa mengambil cuti panjang saat Lily melahirkan nanti.Lily memutuskan untuk tidak membangunkan Dewa dulu. Ia ingat pesan Dokter Sarah."Tetap rileks, gerakkan tubuhmu agar posisi janin optimal."Dengan perlahan, Lily turu
Setelah memastikan koper melahirkan tertutup rapat, Dewa tidak membiarkan Lily beristirahat begitu saja. Dia menuntun istrinya menuju sebuah pintu kayu bercat putih yang terletak tepat di sebelah kamar utama mereka. Pintu itu selama ini lebih sering tertutup rapat karena proses dekorasi yang dilakukan secara rahasia oleh Dewa dan para desainer interior."Sudah siap melihat istana kecil untuk anak kita?" bisik Dewa sambil memegang gagang pintu.Lily mengangguk antusias. Begitu pintu terbuka, dia seolah melangkah masuk ke dalam dunia mimpi yang penuh dengan kelembutan. Kamar itu tidak lagi terlihat seperti ruangan kosong, melainkan sebuah ruang pamer kemewahan yang dibalut dengan rasa cinta yang mendalam.Warna dindingnya adalah perpaduan antara warm grey dan putih tulang, memberikan kesan tenang dan lapang. Di tengah ruangan, berdiri sebuah crib atau ranjang bayi berbahan kayu ek impor dari Eropa dengan ukiran tangan yang sangat halus. Kelambu sutra tipis menjuntai dari langit-langi
Sinar matahari sore yang hangat menerobos masuk melalui jendela besar di kamar utama, menciptakan siluet keemasan di atas ranjang king-size yang kini dipenuhi oleh berbagai perlengkapan bayi. Lily, dengan perutnya yang sudah membuncit besar namun tetap bergerak dengan anggun, sedang berlutut di atas karpet bulu yang tebal. Di depannya, sebuah tas koper berukuran sedang terbuka lebar.Meskipun acara siraman tujuh bulanan baru saja usai beberapa hari yang lalu, Lily merasa ada dorongan naluri yang kuat untuk mulai mengepak barang-barang. Dia tidak ingin terburu-buru saat waktunya tiba nanti. Baginya, persiapan ini adalah bentuk ketenangan pikiran."Baju ganti untuk si kecil... sudah. Bedong kain sepuluh buah... sudah. Oh, kaos kaki mungil ini jangan sampai ketinggalan," gumam Lily pelan sambil melipat pakaian bayi yang sewarna awan dengan sangat hati-hati.Dia memasukkannya ke dalam kantong-kantong plastik kedap udara yang sudah dia beri label: 'Hari 1', 'Hari 2', dan 'Baju Pulang'.
Roda pesawat jet pribadi itu akhirnya menyentuh aspal landasan pacu Bandara Halim Perdanakusuma dengan sempurna. Udara tropis Indonesia yang hangat segera terasa saat pintu pesawat terbuka, menggantikan hawa dingin Eropa yang telah mereka nikmati selama dua minggu terakhir.Di bawah tangga pesawat
Setelah menghabiskan waktu di tempat rahasia yang ternyata merupakan sebuah butik perhiasan eksklusif di Place Vendôme, di mana Dewa menghadiahi Lily sebuah kalung berlian dengan liontin safir biru yang senada dengan warna matanya saat sedang bahagia, tujuan mereka selanjutnya adalah Museum Louvre.
Pintu besar berlapis emas dari Royal Suite di Hotel Plaza Athénée terbuka perlahan, menyingkap sebuah kemewahan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Lily terpaku di ambang pintu, matanya membulat menatap interior kamar yang lebih mirip istana kecil di jantung Paris. Aroma bunga lili segar—bunga
Pesawat jet pribadi yang telah disewa khusus oleh Dewa melesat stabil membelah awan di ketinggian tiga puluh ribu kaki. Di dalamnya, kemewahan yang biasanya hanya ada dalam mimpi kini menjadi kenyataan bagi Lily. Kabin pesawat itu didesain menyerupai suite hotel bintang lima, dengan dinding berlapi
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak