LOGIN"Kau tega menghianatiku, jangan salahkan jika aku akan menghancurkanmu!" *** Demi bisa hidup bersama pria yang dicintai Delia rela hidup sederhana meninggalkan statusnya sebagai putri dari keluarga konglomerat. Sandi, pria yang kini menyandang status sebagai suaminya berubah sikap setelah dinyatakan sukses membangun sebuah bisnis. Dua tahun menikah ia baru sadar ternyata suaminya banyak menyimpan kebohongan. Pengorbanannya selama ini tidak pernah dianggap, bahkan ia sering mendapatkan perlakuan yang kasar, selebihnya sang suami terang-terangan tega menyelingkuhinya. Akankah Delia mempertahankan rumah tangganya?
View More"Delia, dua tahun kau menikah dengan putraku, tapi tak ada tanda-tanda kehamilan. Jangan-jangan kau mandul!"
Delia menarik nafas menghentikan aktivitasnya, menoleh pada sang mertua yang tengah sibuk mencari cari masalah dengannya. Sudah terbiasa Delia mendapatkan perlakukan yang kurang menyenangkan dari keluarga suaminya, namun ia memilih untuk bertahan demi keutuhan rumah tangganya. "Mungkin masih belum waktunya dikasih Bu, mas Sandi juga tak mempermasalahkannya," bantahnya dengan mengulas senyuman getir. Bagaimana bisa hamil, sejak malam pernikahannya hingga dua tahun Sandi belum pernah menyentuhnya sama sekali. Mungkin bisa dibilang munafik, tapi pria itu memang tak ingin terbebani oleh keberadaan seorang anak. Dia juga tak ingin tergesa-gesa melakukan hubungan intim seperti pasangan suami istri pada umumnya. Pria itu selalu beralasan menikah bukan hanya untuk sekedar pelepasan hasrat, tapi untuk saling menjaga kepercayaan. "Tidak masalah bagaimana? Putraku itu orang yang berpengaruh. Sekarang dia sudah menjadi orang yang sukses. Kalau nggak punya keturunan, lalu siapa yang akan menjadi pewarisnya kelak!? Pokoknya aku nggak mau tahu, secepatnya kalian harus punya anak, jika tidak maka aku akan menikahkan putraku dengan wanita lain!" Bola mata Delia terbelalak, terkejut. "Apa Bu? Ibu ingin menikahkan mas Sandi dengan wanita lain?" Delia tak menyangka mertuanya bakalan senekat itu, terlalu ikut campur urusan rumah tangganya. "Apa ibu sadar dengan apa yang ibu katakan barusan?" Tubuh Delia tergetar bak ditusuk ribuan belati menyayat hatinya. Dadanya bergemuruh panas, tak terima dengan sikap angkuh mertuanya. "Ya, tentu saja aku sadar dengan apa yang aku ucapkan. Dari awal aku memang tak suka padamu. Demi putraku aku rela mengalah, tapi semakin aku mengalah, kasihan juga nasib putraku, dia pantas untuk bahagia." Wanita itu membuang muka dengan sinis, ia berharap Delia mundur dan memilih untuk berpisah dengan putranya. Sadis, benar-benar sadis ucapan ibu mertuanya. Dulu ia berpikir wanita itu cukup baik, bahkan dia juga yang membujuknya untuk menikah dengan Sandi, tapi setelah menikah, ucapannya begitu pedas. Ia sering terluka oleh makiannya, namun ia memilih untuk diam, tidak ingin memperkeruh keadaan. "Bu, selama ini aku menghormatimu dan menganggapmu seperti orang tua kandungku sendiri. Di saat mas Sandi dalam keadaan susah, aku yang selalu ada untuk mendampinginya. Sekarang mas Sandi sukses dengan bisnisnya, kok ibu tega ngomong kayak gitu sama aku?" Dengan perasaan yang dipenuhi oleh amarah Delia memberanikan diri untuk melawan. Sikap mertuanya sangatlah keterlaluan, dan ia tak ingin lagi diam diinjak-injak harga dirinya. "Dan lagi..., ibu itu orang lain. Nggak baik terlalu ikut campur urusan rumah tangga orang!" Wanita tua bernama Mariyam itu melotot dengan tangannya bertengger di pinggangnya. "Apa kau bilang barusan? Aku ini orang lain?" Dia tersulut emosi karena perkataan Delia. "Sandi itu putraku, aku yang melahirkannya, kok bisa-bisanya kamu menganggapku orang lain. Kamu itu yang bukan siapa-siapa!" Tak peduli kalaupun ucapannya menyakiti Delia, menurutnya menantunya itu memang pantas untuk dimaki. "Dasar orang miskin! Sudah syukur anakku mau menikahimu! Kalau saja dulu anakku tak menikahimu, mungkin kau akan tinggal di bawah jembatan. Sadar diri itu penting! Memangnya kau punya apa? Kau hanya yatim piatu yang hina! Hidupmu menumpang seperti benalu!" Dengan nafas tersengal dan dada bergemuruh panas Delia membentaknya keras. "Bu! Sebenarnya aku itu punya salah apa sama ibu! Bisa-bisanya ibu merendahkan martabatku. Aku memang miskin Bu! Tapi aku masih punya harga diri." Delia tak peduli kalaupun mertuanya marah. Ia hanya tidak suka ada orang yang menginjak injak harga dirinya. "Semenjak kedatangan ibu, rumah ini tak pernah nyaman! Selalu saja ada masalah. Ibu itu memang pembawa masalah di rumah tanggaku!" "Delia...!!" Delia mengatupkan bibirnya kala seseorang tengah membentaknya. Dia menoleh dengan gusar. "Apa yang kau katakan itu? Kenapa kau memarahi ibu?" Seorang pria berbadan kekar berdiri di tengah-tengah pintu dengan menenteng tas kerja. Sandi, baru pulang dari kantor berniat untuk istirahat namun mendapati perdebatan antara ibu dan istrinya. Mariyam, sang ibu mengulas senyuman licik. Dia berlari ke arah pintu dan mengadu. "Sandi, kamu lihat sendiri kan, kelakuan istri kamu? Dia memaki-maki ibu. Dia bilang kedatangan ibu di sini sebagai pembuat masalah. Ibu salah apa Sandi, ibu hanya ingin menemani kamu. Sekarang kamu sudah sukses, tega kah kamu menelantarkan ibu dan adikmu?" Rahang Sandi mengeras, tatapannya tajam membidik. Hatinya terbakar, tak terima melihat ibunya tidak diperlakukan semena-mena oleh wanita yang kini berstatus sebagai istrinya. "Delia! Cepat minta maaf sama ibu!" Delia tercengang. "A-pa?" "Kubilang cepet minta maaf!" Suara pria itu begitu keras hingga menggema di ruangan. Dia sudah termakan oleh hasutan ibunya, tanpa disadari ibunya lah yang sudah membuat masalah. "Tapi apa salahku?" "Apa salahmu kau bilang...? Kau masih tidak sadar dengan apa yang barusan kau katakan pada ibuku? Kau pikir aku tuli huh? Cepat minta maaf, atau aku akan mengambil tindakan!""A—apa? Maksudnya Sandi terlibat?" "Hm..., iya. Pria yang menjadi kebanggaanmu itu terlibat," celetuk Antares. Delia mencebik. "Kapan aku pernah bilang kalau dia itu pria kebanggaanku? Jangan ngaco! Bikin huru hara aja!" Antares terkekeh dengan menyentil hidungnya gemas. "Bodoamat! Habisnya kamu selalu puji puji dia mulu," cetusnya. "Nggak tahu suamimu ini kurang apa sampai kau lebih berpihak padanya!" Delia memutar bola matanya. "Ya ampun! Segitunya kamu ya! Siapa juga yang berpihak padanya? Kamu itu selalu menggiring opini yang tak sesuai dengan realita. Aku sama dia beneran nggak ada hubungan apa-apa! Diantara kami sudah tidak memiliki harapan untuk kembali bersama, jadi stop jangan selalu mengira aku tak setia padamu!" "Kamu itu terlalu lebay, Ares," sungut Maharani. "Kalau Delia lebih peduli pada mantan suaminya, dia nggak bakalan mau mengandung anakmu! Dia juga nggak bakalan mau nikah sama kamu!"Jarang sekali bertemu dengan mertuanya, tak disangka Maharani begitu baik pada
"Kamu?" Delia mematung saat suaminya memasuki ruang rawatnya dengan memakai pakaian dinas. "Ngapain kamu pakai baju dokter kak? Mau jadi dokter gadungan kamu? Awas kalau sampai ketahuan! Lepas ih...!" Antares mengerutkan keningnya, bingung. Apa yang terjadi pada istrinya hingga dia mendesaknya untuk melepaskan pakaian putih yang dikenakannya. Bukannya dia sudah tahu profesinya sebagai dokter? "Kamu kenapa bengong gitu yang?! Bukankah kamu sudah tahu kalau aku ini seorang dokter di rumah sakit ini? Ini aku baru selesai dinas, kok kamu terlihat kurang suka gitu?" Delia melepas tawanya. "Sejak kapan kamu jadi dokter kak! Kamu bahkan cukup lama ninggalin aku dan pulang-pulang nggak jelas kayak gini. Aneh ini orang," desisnya. "Ayo lepas itu pakaiannya, nanti kalau ada dokter masuk kamu bisa dilaporkan!" Antares patuh, dia melepaskan seragamnya demi menjaga tensi Delia stabil. Dengan ia tak melepas pakaian dokternya yang ada wanita itu bakalan emosi. "Yaudah aku lepas." Antares mele
"Bagaimana Res? Apakah Delia sudah membaik?" tanya Wijaya ketika Antares keluar dari ruangan IGD. Wijaya dan keluarganya yang lain dilanda kegelisahan. Mereka takut akan hal yang tidak bisa dibayangkan terjadi pada Delia. Mereka juga tidak menyangka Delia memiliki tekanan darah tinggi di paska kehamilannya."Alhamdulillah kondisinya sudah membaik, Pa," jawab Antares. "Tapi ~~"Tapi apa Res?" tanya Shanty memotong penjelasan menantunya."Delia tetap harus menjalani operasi sesar untuk mengeluarkan bayinya. Aku tidak memiliki wewenang untuk ikut andil dalam menanganinya, ma!""A-apa?" Keluarga nampak begitu sedih dengan wajah penuh penyesalan. "Aku juga sudah mengupayakan agar bayinya dipertahankan sampai normal sembilan bulan, tapi beberapa dokter kandungan menyarankan agar bayinya dilahirkan dengan segera, ini untuk mengurangi resiko yang membahayakan nyawa ibunya. Mau gimana lagi ma, mungkin ini jalan yang terbaik untuk kondisi Delia." Wijaya menarik nafasnya. Begitu banyak ujian
"Apa? Bayinya dikeluarkan?" Antares maupun keluarga yang lain terkejut dan juga kecewa atas penjelasan suster. "Iya dok, menurut dokter Hilmi harus pilih salah satunya, dengan kondisi nyonya Delia yang mengalami tekanan darah tinggi, tentu akan sulit untuk mempertahankan janinnya hingga melahirkan secara normal. Usia tujuh bulan itu sudah termasuk kehamilan tua, dan bisa dikeluarkan kalau memang kondisi tidak memungkinkan untuk lahiran normal. Kalau dipertahankan takutnya nyonya tidak kuat, secara tekanan darahnya cukup tinggi." Antares meraup wajahnya kasar. Ia tak rela jika bayinya harus dikeluarkan secara paksa. Ia juga tidak iklas jika istrinya harus menderita. Dua pilihan itu membuatnya pusing, tapi sebagai dokter dan juga suami tentu harus memiliki ketegasan dalam memilih pilihan yang dianggapnya tidaklah mudah."Apa nggak ada cara lain sus?" tanya Antares dengan wajah lesunya."Saya pribadi kurang paham dok, untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut sebaiknya dokter temui d
Delia berjalan menyusuri trotoar menuju sebuah warung makan yang tempatnya lumayan jauh dari kediamannya. Mertuanya memerintah untuk membelikan makan siang karena tidak ingin makan hasil masakannya. Menghindari percekcokan dengan mertua ia putuskan untuk mengalah. Di tengah-tengah perjalan ia dike
Delia berdiri di depan meja rias menatap mukanya di depan cermin. Terlihat begitu kusut tak terawat. Umurnya masih sangat muda, tapi wajahnya yang tak lagi terawat membuatnya lebih tua dari usianya. Sejak menikah ia sudah tidak lagi menggunakan alat makeup, apalagi ke salon kecantikan. Dulu ia dim
"Mas, kamu yakin akan bekerja sama dengan L'oreal Group?" tanya Delia dengan membawakan secangkir kopi ke ruang kerja suaminya. Malam itu ia tak kunjung bisa tidur. Setiap kata yang keluar dari mulut mertuanya cukup membuatnya terusik. Ia bukan pendendam, tapi rasa kecewa yang ditorehkan oleh mert
Dengan terpaksa Delia mengalah dan meminta maaf pada mertuanya. Sebenarnya ia tak iklas, namun ia tak ingin menambah suasana semakin mencekam dengan kemarahan suaminya."Bu, aku minta maaf." Dahlia menunjukkan ekspresi datar berdiri di kejauhan. Sandi yang melihatnya mendengus dan kembali menegurny






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews