MasukEmbun adalah wanita yang di vonis oleh dokter tidak bisa memiliki keturunan dan harus menerima kenyataan ketika sang suami menceraikannya. Ditengah keterpurukannya, seseorang hadir membantu menyembuhkan luka hatinya dan tak lama kemudian mereka menikah. Rumah tangga mereka harmonis dan bahagia, meski tanpa hadirnya seorang anak. Ditengah kebahagiaan yang Embun rasakan, ia harus ditampar dengan kenyataan pahit. Sang suami memilih menikah lagi dan membawa madunya tinggal di bawah atap yang sama dengannya.
Lihat lebih banyak"Tolong … beri aku kesempatan sekali lagi, Embun?" pinta Lintang, tangannya meraih jemari Embun dan menggenggamnya.Kepalanya mendongak menatap wajah Embun yang memandang ke arah lain."Maaf, Mas. Aku tidak bisa.""Embun ... Aku mohon ...., " tambahnya. "Pikiran Bintang, dia baru saja kehilangan ibu kandungnya, sekarang kau juga ingin meninggalkannya?" tambahnya.Tanpa sadar kalimat itu hanya menambah luka hati, menegaskan jika dia hanyalah seorang pengganti pengganti."Kita akan besarkan Bintang sama-sama,” Rayunya. Dia tahu Embun sangat mendambakan seorang anak.“Dia juga anakmu, Embun,” tambahnya berharap Embun luluh.Embun tersenyum tipis, nyaris tidak terlihat. Dari dulu lelaki itu tidak pernah sadar, setiap kata, setiap keputusan yang diambilnya seperti pisau yang selalu merobek hatinya.Embun mengembus napas berat. "Keputusanku tetap sama, Mas. Aku yakin kelak kau bisa mendapatkan ibu yang lebih baik untuk Bintang.”Genggaman tangan Lintang perlahan lepas, seperti harapannya. Ke
Lintang kembali mengunjungi rumah sakit sebelum berangkat ke kantor. Beberapa hari terakhir ini, dia selalu menyempatkan melihat keadaan Bintang terlebih dahulu.Lintang berdiri cukup lama menatap dari balik kaca. Diperhatikannya dada itu masih bergerak, naik turun pelan. Banyak alat yang menempel padanya.Sebuah ketakutan tiba-tiba merasuk ke dalam hatinya, bayi itu akan pergi menyusul Jasmine. Membayangkannya saja hatinya perih.Segera dia menggelengkan kepala pelan mengusir bayangan itu. Dia kembali menatap Bintang. “Sayang … apapun yang terjadi jangan tinggalkan papa,” ucap Lintang lirih. “Papa sayang Bintang,” lanjutnya pedih. Setelah itu Lintang berangkat ke kantor. Namun, pikirannya melayang entah ke mana. Sepanjang rapat, beberapa Lintang dia kehilangan fokus. Matanya terasa berat karena kurang tidur. Kepalanya pun sesekali berdenyut.Setelah rapat selesai, Lintang menyandarkan tubuhnya pada kursi kerja. Dia mengusap wajah kasar.Tubuhnya terasa sangat lelah, seolah habis d
Setelah pemakaman selesai, satu persatu para pelayat pergi, meninggalkan Lintang yang membeku di samping pusara sang istriMatanya menatap lekat pada gundukan tanah yang ditaburi bunga itu, seakan masih belum percaya itu benar-benar terjadi. Di sisi lelaki itu berharap jika ini hanyalah mimpi buruk dan seseorang segera membangunkannya. Namun, rasa hancur terlalu nyata untuk disebut mimpi. “Nak …,” Bu Inggrid menyentuh pundak Lintang. Pria itu bergeming. “Ayo pulang, sebentar lagi mau hujan,” lanjutnya. Lelaki itu tidak langsung menjawab, rahangnya mengeras. Mata itu kembali memerah.“Jasmine sendirian di sini.” Kalimat itu membuat suasana kembali sesak. Bu Inggrid menutup mulutnya karena air mata hendak menerobos. “Jasmine pasti kesepian,” kata Lintang meracau. Bu inggrid semakin tidak kuasa menahan tangisnya. “Bagaimana kalau dia kedinginan?” lanjutnya pilu. Bu Inggrid menatap sayu melihat keadaan anaknya saat ini. “Nak ….” suara Bu Inggrid bergetar. “Lintang masih mau di sini
Lorong rumah sakit terasa sunyi dan dingin. Lintang berdiri di depan kaca bulat ruang NICU, melihat putranya berjuang di dalam sana. Tampak bayi itu terbaring lemah di dalam inkubator, dengan selang-selang yang terpasang di tubuhnya. Diperhatikannya, dada itu naik turun pelan dibantu alat pernapasan. Mata Lintang berkaca-kaca. Hatinya teriris melihat pemandangan itu. Perihnya menjalar ke seluruh tubuh. “Anakku …,” ucapnya lirih. Tangannya bergetar, menempel pada kaca seolah menyentuh si bayi. Embun yang berada di samping Lintang hanya terdiam. Dia tidak tau harus apa. Matanya ikut menatap bayi merah di dalam. Hatinya terenyuh. Ingin rasanya dia membenci bayi itu, tetapi tidak bisa. Bayi itu tidak berdosa, dia tidak berkhianat, meski kehadirannya lahir dari sebuah pengkhianatan. “Kasihan sekali kamu, nak,” batin Embun. Sebuah bulir bening mengalir begitu saja di pipi, Embun cepat-cepat menghapusnya sebelum Lintang menyadarinya.“Meski tante membenci ibumu, tapi tante tidak ingin












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak