The Mafia's Reluctant Bride

The Mafia's Reluctant Bride

last updateLast Updated : 2025-08-22
By:  AngelCompleted
Language: English
goodnovel18goodnovel
10
1 rating. 1 review
76Chapters
2.2Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

"Cum for me kitten" His voice break through all the worries in her mind as he buried his head in between her thighs. His hands fondling her naked breast as she released light moans. She has never thought she would be like this in front of this man, she once hate him, he once treated her like trash, but here they are pleasuring each other like real lovers would. Forced into a marriage with a ruthless mafia boss, marianna must navigate a world of danger and loyalty. As she falls deeply in love with him, his dark past threatens to tear them apart. Will there love survive the secret and lies, or will it be consumed by the very forces that brought them together?

View More

Chapter 1

A Mother's Scheme

Hari itu mendung menggantung di atas Jakarta, ketika Reza menerima telepon yang mengubah seluruh hidupnya.

"Mas Reza, maaf mengganggu. Saya dari Kantor Notaris Bu Ratri. Ini mengenai warisan dari almarhum kakek Anda, Pak Harjo."

Reza mengerutkan kening. Ia menghentikan aktivitasnya di bengkel motor kecil miliknya. "Warisan? Kakek saya? Maksudnya, Pak Harjo meninggal, Bu?"

"Benar, Mas. Beliau wafat tiga hari yang lalu di Tamanrasa. Kami sudah berusaha menghubungi keluarga lainnya, tapi sesuai surat wasiat, hanya Anda yang ditunjuk sebagai ahli waris utama. Kami mohon Mas Reza datang ke Tamanrasa secepatnya."

Telepon terputus, menyisakan Reza dalam diam. Tamanrasa. Nama kota kecil itu asing dan aneh di telinganya. Ia bahkan sudah lama tak mendengar kabar apapun dari kakeknya. Ibunya, anak satu-satunya Pak Harjo telah meninggal sepuluh tahun lalu, dan sejak itu hubungan mereka terputus begitu saja.

Reza memandangi langit yang mulai gelap. Di benaknya, tidak ada rasa kehilangan. Ia bahkan tak punya banyak kenangan tentang Pak Harjo, selain ingatan samar masa kecil saat berkunjung ke rumah tua yang dingin dan senyap.

Namun, surat wasiat adalah hal yang serius. Dan saat notaris menyebut kata "warisan", ada perasaan campur aduk yang mulai tumbuh. Apalagi, bisnis bengkelnya sedang sekarat. Belakangan ini pelanggan sepi, dan ia mulai terlilit utang.

Tiga hari kemudian, Reza tiba di kota Tamanrasa. Kota kecil itu seolah terlepas dari perkembangan zaman sepi, sunyi, dan masih dikelilingi kabut pagi yang pekat. Ia dijemput oleh sopir notaris dan langsung diantar ke rumah duka milik almarhum kakeknya.

Rumah duka Sukma Abadi berdiri kokoh di pinggiran kota. Bangunannya besar, bergaya kolonial dengan cat putih yang mulai mengelupas. Halamannya luas tapi terasa hampa, seakan menampung lebih banyak kenangan daripada kehidupan.

"Kami mohon Mas Reza bisa tinggal di sini sementara. Menurut surat wasiat, Mas adalah pewaris tunggal rumah duka ini. Termasuk isinya dan tanggung jawabnya," kata Bu Ratri, notaris yang menemuinya di sana.

"Tanggung jawab? Maksudnya saya harus menjalankan rumah duka ini?"

Bu Ratri hanya tersenyum tipis, tatapannya aneh seperti menahan sesuatu. "Ada hal-hal yang bisa dibicarakan nanti. Untuk malam ini, silakan beristirahat dulu. Rumah ini mungkin butuh waktu untuk dikenali."

Reza menatap bangunan besar itu. Angin sore berhembus dingin, membawa aroma kapur barus samar yang entah kenapa membuat lehernya merinding. Ia tak tahu, bahwa langkah pertamanya di rumah itu adalah juga langkahnya menuju rahasia tergelap yang pernah ditinggalkan seseorang.

••••

Reza menapaki teras rumah duka dengan langkah ragu. Pintu kayu besar di depannya terbuka perlahan, dan suara decitnya membuat bulu kuduknya berdiri. Aroma kayu tua, kapur barus, dan dupa yang tak lagi menyala menyambut hidungnya.

"Mas Reza, saya Pak Margo. Dulu saya asisten pribadi almarhum kakek Anda. Sekarang saya ditugaskan menjaga tempat ini, sesuai wasiat beliau. Silakan masuk."

Pria itu terlihat sepuh, rambutnya memutih semua dan punggungnya sedikit bungkuk. Namun tatapannya tajam, dan suaranya masih lantang. Ia mempersilakan Reza masuk ke ruang tamu besar yang dindingnya dipenuhi foto-foto hitam putih orang-orang asing.

"Itu klien-klien lama rumah duka ini. Kakek Anda menyimpan semua dokumentasi, termasuk kapan mereka dimakamkan dan bagaimana prosesinya. Beliau sangat teliti dan penuh dedikasi," kata Pak Margo sambil menuangkan teh hangat.

Reza memandangi sekeliling. Dinding-dinding rumah itu dihiasi kayu ukiran Jawa. Di sudut ruangan, ada meja dengan lilin-lilin kecil yang dibiarkan padam. Di baliknya, terdapat pintu kayu berat yang tampak lebih tua dari semua bagian rumah.

"Itu apa?" tanya Reza sambil menunjuk pintu di sudut ruangan.

Pak Margo menoleh cepat dan wajahnya berubah sedikit tegang. "Itu ruang bawah tanah. Tempat penyimpanan peti dan peralatan rumah duka. Sebaiknya jangan masuk ke sana dulu."

"Kenapa?"

"Bukan waktunya, Mas."

Jawaban itu justru membuat rasa penasaran Reza tumbuh. Tapi ia memilih diam dan menyesap teh pelan. Malam mulai turun, dan rumah itu terasa semakin dingin meski tak ada angin.

Pak Margo mengantar Reza ke kamar lantai atas. Kamarnya luas, dengan jendela menghadap halaman belakang yang dipenuhi pohon beringin besar. Di dinding kamar tergantung jam tua antik yang berdetak pelan tapi menghantui.

"Jika Mas Reza butuh apa-apa, saya ada di kamar depan. Rumah ini tidak pernah benar-benar tidur, jadi kalau mendengar suara-suara jangan panik."

Ucapan itu sempat membuat Reza tertawa kecil, tapi hanya sebentar. Karena saat ia mematikan lampu dan mencoba memejamkan mata, suara langkah pelan terdengar dari bawah. Langkah satu-satu. Teratur. Berat.

Ia membuka mata dan menegakkan tubuh. Jantungnya berdetak lebih cepat. Tidak mungkin itu Pak Margo. Langkah itu terlalu lambat. Terlalu berat. Dan terasa... terlalu dekat.

•••

Reza terbangun di tengah malam. Jam antik di kamarnya berdentang pelan, tiga kali.

Ia belum sepenuhnya tidur saat itu. Ada kegelisahan yang membuatnya sulit memejamkan mata. Suara langkah yang tadi terdengar seperti nyata. Bahkan sekarang, ia bisa mendengar suara lain seperti kayu yang berderak, atau bisikan samar di lorong luar kamarnya.

Reza bangkit perlahan dan melangkah menuju pintu. Ia membukanya sedikit. Lorong sepi dan gelap. Lampu gantung hanya menerangi sebagian. Tapi sesuatu terasa tidak wajar.

Langkahnya pelan menyusuri lorong. Ketika ia hampir mencapai tangga, ia melihat sekelebat bayangan turun cepat ke lantai bawah.

Reza mematung. Jantungnya berdetak kencang. “Mungkin itu Pak Margo…” gumamnya, walau ragu.

Ia memberanikan diri menuruni tangga. Ruang tamu gelap. Lampu tak menyala. Namun, dari arah pintu ruang bawa tanah, terdengar suara. seperti kunci, diikuti suara pelan pintu tua yang dibuka.

Reza menelan ludah. Ia berjalan mendekat, lalu berhenti di depan pintu yang tadi dilarang untuk dibuka.

Pintunya... terbuka sedikit.

“Pak Margo?” Reza memanggil. Tidak ada jawaban.

Ia membuka pintu itu perlahan. Bunyi engsel berdecit panjang seperti menyambut tamu tak diundang. Di dalamnya, ada anak tangga menurun ke ruang bawah tanah yang gelap dan dingin.

Tepat ketika ia hendak melangkah, suara berat terdengar dari balik kegelapan.

“Kamu belum siap melihat mereka semua”

Reza terkejut. Ia memundurkan diri. Napasnya tercekat. Lalu pintu itu tertutup sendiri dengan keras.

“BRAK!”

Reza jatuh terduduk. Beberapa detik kemudian, suara langkah mendekat dari arah dapur. Muncullah Pak Margo sambil membawa senter.

“Ada apa, Mas Reza?” tanyanya, heran.

Reza menunjuk ke arah pintu ruang bawah tanah. “Tadi… saya dengar suara. Pintu itu terbuka sendiri. Dan ada… suara laki-laki.”

Pak Margo menatap pintu itu lama. Lalu ia berkata pelan, “Mereka memang mulai gelisah kalau tidak diberi penghormatan seperti biasa.”

“Siapa yang gelisah?”

Pak Margo memandang Reza lekat-lekat. “Mas Reza... di rumah ini, tidak semua yang berjalan adalah manusia. Dan tugas menjaga mereka sekarang adalah warisan Anda.”

Reza merasa seluruh tubuhnya dingin. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa rumah ini menyimpan lebih dari sekedar kematian. Ada kehidupan lain yang diam-diam menunggu, dan mungkin, mengamatinya.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

reviews

Oyinkan
Oyinkan
Omg it so good... the writeup is so nice but ending is so sad, why did Caspian have to die...
2026-04-28 22:40:57
0
0
76 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status