Beranda / Fantasi / Mahkota Darah sang PHOENIX / 3. Kaisar Azure Dragon, Naga Biru

Share

3. Kaisar Azure Dragon, Naga Biru

Penulis: Aksarajjawi
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-18 09:10:35

Istana Perak Biru wilayah Utara, Kekaisaran ke-59 yang kini dipimpin oleh kaisar baru. Mendadak ramai karena menerima kabar dari Wilayah Selatan.

Kaisar Cang Jue, sang Dewa Kecil Naga Es Biru itu baru saja kembali dari kultivasinya di Lembah Kelereng Suci. Dia sudah harus menerima undangan itu dengan cap sihir dari Wilayah Utara, langsung darinya. Sungguh membuatnya merasa tidak bahagia.

Memang saja, karena dirinya belum berniat kembali ke Istana, dan masih ingin berkultivasi mematangkan kekuatan Naga Es Biru milik tubuhnya itu. Tapi, sekarang malah harus kembali hanya untuk membaca dan menandatangani undangan. Membuatnya menggeleng kecil, "ada-ada saja," ucapnya lirih, hanya dia yang dengar.

"Yang Mulia, bagaimana kami menyikapi undangan dari Kaisar Zhu?" tanya Long Wei, sang jenderal utama, begitu Cang Jue membubuhkan cap sihir tanda bahwa dia akan menghadiri acara di wilayah selatan itu.

Kini, Kaisar Cang Jue, menatap pada Long Wei. "Bagaimana dengan ketampananku?"

Long Wei membelalakkan matanya. Dia sangat luar biasa kaget dengan pertanyaan di luar konteks dari sang Kaisar.

"Ketampanan?" ulang Long Wei, sambil menatap Cang Jue dengan ekspresi gundahnya.

Sedang, Cang Jue itu tampak mangut-mangut. Diam dan memandang Long Wei dengan saksama menanti jawaban dari sang Jenderal.

Sementara, Long Wei hanya menjawab pertanyaan itu dengan tertawa canggung, "a-ha-ha..." begitulah bunyinya, kemudian Long Wei berdehem saat mendapat lirikan tajam dari Sang Kaisar.

Karena sudah begitu, Long Wei akan memberikan review jujurnya pada sang Kaisar. Lantas, Long Wei segera menatap Cang Jue dari atas hingga bawah.

Mahkota emas biru, dengan sisik pernak-pernik dari Naga Es Biru. Rambut hitam Cang Jue yang lurus, juga terikat rapi menyisakan dua helai di sisi pipi kanan dan kirinya saja. Hingga wajah yang tegas nan lugas, mempersembahkan ketampanan luar biasa dari keturunan marga Dinasti Cang. Tubuh Cang Jue yang juga menjadi penyempurna akan ketampanan wajahnya, sangat gagah dengan berbalutkan hanfu biru terbuat dari serat sutra yang dilarutkan di dalam es selama bertahun-tahun. Sangat sempurna.

Long Wei sampai takjub, "bagaikan Rembulan di tengah onggok tahi meteor, kau bersinar sangat terang Yang Mulia!" ujar Long Wei setelahnya.

"Maksudmu, kau adalah onggok tahi meteor itu?"

Long Wei mendelik, "jangan begitu Yang Mulia. Aku tidak seburuk-rupa itu hingga dikatakan tahi," belanya, akan pertanyaan Cang Jue.

Cang Jue hanya tersenyum singkat saja. Dia melirik sekilas pada Long Wei yang frustasi menghadapi pertanyaannya. Cang Jue kembali serius, dan tak ingin lagi bergurau. "Karena aku memang tampan, mari kita serius sekarang," ujarnya kemudian, dan duduk ke singgasana Kerajaan Utara, Istana Perak Biru.

Membuat jenderalnya, Long Wei juga ikut serius. Mengikuti gerakan sang Kaisar, duduk ke kursi khusus jenderal di ruangan pertemuan Istana Perak Biru itu.

"Yang Terhormat, Putri Cang Lan memasuki ruangan!" Seruan dari prajurit pengawal pintu itu, membuat Cang Jue menatap Long Wei yang duduk di tempatnya, dengan memberikan kode bertanya seakaan menampilkan pertanyaan "kapan kau memberitahunya?" tanpa bersuara sama sekali.

Dan dijawab dengan gelengen kepala dari Long Wei, seakan menjawab tanpa suara, "aku sama sekali tidak pernah memberitahunya!"

"Cih! Untuk apa kalian berdua saling bertelepati?" sela Cang Lan —adik kandung Cang Jue, jenderal tercantik di Benua Tianxue—, begitu dia tiba di ruang pertemuan. Cang Lan menatap bergantian Cang Jue dan Long Wei, "kalian tidak bisa lari dari aku, asal kalian tahu! Hanya dengan meninggalkan aku sendirian di Lembah Kelereng Suci dan memberikan sihir tidur untukku, aku akan tetap bisa sadar. Aku ini jenderal!" dumelnya bertambah.

Membuat kepala Cang Jue terasa pening seketika. "Long Wei yang menyuruhku untuk meninggalkanmu, salahkan saja dia," ucapnya sembarangan.

Membuat bola mata Long Wei membelalak lagi, merasa kesal dengan Cang Jue, kaisar konyolnya itu.

"Terserah! Aku tidak peduli. Yang jelas, lain kali aku pasti akan mengobrak-abrik istana ini kalau Kakak meninggalkanku lagi!" ancam Cang Lan, dia lalu duduk begitu saja di seberang Long Wei.

Kini, ruang pertemuan Istana Perak Biru itu sudah diisi oleh ketiga orang penting itu. Cang Jue, sang Kaisar serta Cang Lan dan Long Wei yang menjadi jenderal. Hingga formasi utuh ruang pertemuan itu akhirnya tersusun. Membuat mereka bertiga kembali serius pada topik inti, yakni Undangan dari Raja Selatan, Istana Phoenix Api.

"Menyikapi undangan yang diberikan oleh Kaisar Selatan, kita semua akan datang," ucap Cang Jue, akhirnya berfokus pada inti.

"Yang Mulia, apakah pengorbanan dari Putri Zhu itu benar-benar harus dilakukan?" tanya Long Wei, serius.

Cang Jue melirik Long Wei sekilas, kemudian menatap ke arah depan hingga kewibawaannya menguar. Dia pun berpikir, apakah pengorbanan seperti ini benar-benar harus dilakukan?

"Sudah lama sekali semenjak kabar Permaisuri Zhu Yan meninggal, anaknya itu sudah diramal untuk mengorbankan diri demi menyelamatkan dunia. Karena, di dalam tubuhnya mengalir darah Phoenix Api langka. Sedangkan, darah itu memang akan membahayakan dunia apabila tidak dikorbankan," ujar Cang Lan menyahuti.

"Sama seperti dengan Kakak Cang Xuan," sela Cang Jue akhirnya, "ketika aku belum lahir dia dikorbankan begitu saja. Tapi, pengorbanan ini memang hanya sebatas ramalan yang tidak jelas asal-usulnya."

Cang Lan mengerling, dia heran, "tidak jelas asal-usulnya?" tanyanya kemudian.

Cang Jue menatap Cang Lan, dengan mimik wajah seriusnya, "aku punya tugas untukmu," ucap Cang Jue terlihat genting.

Membuat Cang Lan mengangguk, "aku akan siap melaksanakan tugasku, Yang Mulia!" turut Cang Lan tanpa bantah.

"Long Wei!"

"Siap, Yang Mulia!" Presisi tubuh Long Wei langsung tegap begitu mendengar panggilan Cang Jue yang menginterupsi.

"Kau siapkan beberapa kendaraan darurat apabila terjadi sesuatu di luar kendali, di saat kita berada di tempat Altar Pengorbanan Putri Zhu ini, nanti," titah Cang Jue.

"Saya laksanakan, Yang Mulia!"

Cang Jue kemudian merenung. Mengingat kembali rumor-rumor yang beredar. Akan kisah delapan belas tahun yang mendera putri semata wayang Zhu Wuhuo itu. Yang mesti dikurung selama delapan belas tahun, demi untuk mati. Meski Cang Jue sama sekali tidak tertarik untuk menapaki altar pengorbanan itu, tapi akan bagus jika Cang Jue menyaksikan bagaimana rupa seorang gadis yang sudah dikurung selama belasan tahun. Itulah alasannya menandatangani undangan dan berniat hadir.

Dan juga... Cang Jue penasaran, dengan bagaimana wujud Dewa Kecil Phoenix Api, saat sebelumnya sudah bersemayam di tubuh Putri Zhu Que yang gagal menjadi Dewa Abadi.

"Mungkinkah... dia akan mirip denganmu?" batin Cang Jue, teringat akan pesona Zhu Que.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Aksarajjawi
karna dia terlahir untuk itu kak heheh 🫠🫠
goodnovel comment avatar
AkunMembacaBuku
mengapa Cang Jue narsis ya kak :>
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Mahkota Darah sang PHOENIX   105. Jasa dibalas jasa!

    "Apa yang coba sedang kau bicarakan Xiao Yuan?" Zhu Linglong berdiri dari duduknya. Memberikan perhatian yang lebih penuh untuk melihat presensi Xiao Yuan sendiri. Xiao Yuan memandang Zhu Linglong. Dia menatap wanita yang mirip dengan kakaknya itu sangat saksama. Lamat-lamat tanpa sekalipun nyaris gak berkedip. "Setiap pendekar yang datang selalu mengincar gulungan itu, Nona Xiao Long," ucapnya, jujur. Mengutarakan pengalaman selama dia menampung banyak pendekar di pekarangan biliknya ini. "Apa benda itu memang sangat dicari oleh para pendekar ketika mereka datang kemari?" tanya Cang Jue, ikut berdiri di sebelah Zhu Linglong. Xiao Yuan mengangguk. "Tetua mungkin tidak terlalu peka. Tapi, aku selalu bisa membaca gelagat orang." Pikiran Cang Jue bersuara, "anak ini... intuisinya tinggi. Apakah, dia memang sudah melatih teknik intuisi? Tapi, dia baru sekecil ini?" "Tapi kalian berdua tenang saja. Itu bukan hal jahat di kediaman ini. Nanti, selagi kalian membantu, aku akan membiarkan

  • Mahkota Darah sang PHOENIX   104. Xiao Yuan

    Xiao Guanying mengerutkan dahinya. Mengatur napasnya sendiri. Memikirkan dengan pekat. Apakah benar dia memang harus segera memberitahukan rahasia yang memang sengaja dia simpan selama ini? "Bagaimana Tuan Pemilik Rumah?" kata Zhu Linglong, dia bertanya dengan menekankan nada. Pria tua itu tercekat. Kontan menatap Cang Jue secara spontan. "Maaf. Sepertinya sekarang bukan saatnya aku menceritakan. Tetapi, dalam beberapa hari ke depan, mungkin ada serangan. Rahasia umum Sekte Ying di dunia persilatan pasti pendekar tidak ada yang tidak tahu. Selebihnya, aku belum bisa memberikan kalian penjelasan." Akhirnya, Xiao Guanying memilih untuk tetap menjaga rahasia itu sementara. Daripada langsung membeberkannya kepada pendekar yang saat ini masih terasa abu-abu secara identitas."Baiklah." Mau tak mau, Cang Jue mengiyakan. "Kalau begitu, terima kasih untuk telah menerima kami di kediaman kalian," ucap Cang Jue, setengah membungkukkan badannya.Xiao Guanying tertawa kecil. Menggaruk tengkukn

  • Mahkota Darah sang PHOENIX   103. Di tangan Xiao Guanying

    Permintaan dari Xiao Guanying membuat Cang Jue dan Zhu Linglong saling memandang. Ada degup cepat yang mendera jantung mereka. Sedetik kemudian, mereka serentak untuk menatap Xiao Guanying. "Untuk itu. Tidak bisa, Tuan. Bagaimanapun, ini adalah identitas kami, jadi... memang harus seperti ini cara kami berpenampilan. Dengan menutup wajah, agar kami tidak dikenal dengan rupa. Tapi, cukup jasa kami yang dikenang." Cang Jue menatap lekat, memberikan penjelasan ringan itu kepada Xiao Guanying. Meskipun tampak kerutan di dahinya. Xiao Guanying memilih untuk mengakhiri itu dengan senyuman. "Baiklah, terkadang pendekar memang suka untuk merahasiakan identitas. Asalkan niat baik, rupa dan penampilan tidaklah penting," kata Xiao Guanying, memamerkan deretan gigi putihnya. Membuat rasa legah timbul di benak Cang Jue dan Zhu Linglong. Satu langkah penyusupan. Berhasil mereka tempuh. Dengan sangat mulus. "Lalu, di mana kiranya tempat tinggal untuk kami?" tanya Zhu Linglong, merebut per

  • Mahkota Darah sang PHOENIX   102. Menyentuh Hati

    Pria tua yang seluruh rambutnya sudah putih dan panjang itu tampak tersenyum kecil. Bukannya tidak terlihat, karena Cang Jue dan Zhu Linglong jelas bisa menangkap ekspresinya. Pria itu pun memajukan langkahnya. Sambil menautkan kedua tangannya ke belakang. "Namaku Xiao Guanying. Aku bukan ketua di sini. Aku, hanya meneruskan mandat dari Tetua Xiao Ying, untuk menjaga rumah ini tetap berdiri sekalipun banyak badai dari luar," jelasnya. Sekaligus memperkenalkan diri sekaligus kedudukan dan tugasnya di tempat ini. Kedua hati milik Cang Jue dan Zhu Linglong sama-sama terhembus legah. Mereka benar-benar dapat merasakan ada satu lagi kaitan gulungan yang mereka cari, perlahan-lahan mulai melengkapi pertanyaan rumpang dan sekaligus menjadi titik pembukaan keduanya untuk bisa menyelesaikan pencarian masalah ramalan palsu. Akhirnya, ada titik terang lebih dekat yang mempertemukan keduanya terhadap sisa-sisa informasi penting dari Xiao Ying dan Wu Cheng yang belum bisa dipecahkan bahkan t

  • Mahkota Darah sang PHOENIX   101. Tebakan yang Benar

    "Kita ikuti saja dia Cang Jue," kata Zhu Linglong. Gadis itu memberikan saran. Cang Jue jelas mendengar saran itu. "Mengikutinya?" tanya Cang Jue, berpikir kritis."Karena di cukup berpenampilan berbeda dadi orang kebanyakan. Entah itu membawa kita ke Kediaman Keluarga Xiao atau tidak. Tapi, tak ada salahnya berbuat baik Cang Jue, seandainya kita bisa menemukan rumah mereka dan sedikit membantu," jelas Zhu Linglong, dengan nada lembut seperti biasanya.Cang Jue mengerti. Akhirnya, ia menyaksikan anak itu dengan saksama. Tampak, dia selesai memunguti kayu-kayunya. Memapah para kayu itu dan menggendong ke punggungnya. Dia tampak berjalan ke sebuah gang. Cang Jue dan Zhu Linglong saling memandang sebelum mereka benar-benar melanjutkan langkah. Menyusuri sebuah gang kecil yang cukup pekat dengan bau tanah basah. Seperti banyak lumut di sekitarnya.Gang kecil itu membimbing mereka hingga tiba di sebuah pekarangan luas. Pekarangan itu menampilkan penampakan rumah megah dan cukup besa

  • Mahkota Darah sang PHOENIX   100. Awal Pergerakan

    Cang Jue mendengar dengan jelas kalimat pertanyaan Zhu Linglong. Istrinya itu, sedang diliputi rasa cemas. Cang Jue sendiri juga peka. Keadaan memang tampak memusatkan perhatian pada mereka. "Aduh sayang..." Cang Jue melimbungkan tubuhnya ke Zhu Linglong begitu saja. Sampai gadis itu tampak panik. Buru-buru menerima tubuh Cang Jue. Orang-orang yang memperhatikan mereka sebelumnya langsung mendelik. Kontan mengalihkan pandangan. Mereka adalah tipe manusia yang sangat risih melihat kemesraan di tempat umum. "Cang Jue, kau ini kenapa?" lirih Zhu Linglong. Nada marahnya tertahan. Tetapi, dia masih setia menahan tubuh Cang Jue agar tak tersungkur. Kini, terasa seperti... Zhu Linglong sedang mengajak Cang Jue berdansa. Berposisi dengan dirinya yang malah merengkuh pinggang Cang Jue dengan badan setengah membungkuk. "Istriku sayang... aku sangat mencintaimu. Tak ingin terpisah darimu. Meskipun, mataku sedang terluka. Dan hidungku sedang dijahit. Tapi... kau tetap setia kepadaku. Sampa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status