Share

Main Belakang
Main Belakang
Author: D.N.A

Bab 01

Author: D.N.A
last update publish date: 2026-09-02 16:35:11

“Suamimu berselingkuh, Aira.”

​Aira mendongak, nafasnya tertahan di tenggorokan saat matanya menatap lurus gelapnya manik mata Devan.

​Pria itu memiringkan kepalanya sedikit, menatap wanita di depannya dengan pandangan yang tidak biasa. Ada kilatan dingin yang bercampur dengan amarah tertahan di balik ketenangannya.

​Aira tahu pria ini. Sangat tahu, bahkan terbilang sering bertemu karena hubungan pertemanan suaminya dengan pria itu. Tapi, apa alasan pria ini repot-repot datang ke rumahnya, hanya untuk memberitahunya hal sehina itu?

​"Kamu sedih?" tanya Devan pelan.

​Aira terkekeh hambar, suara yang keluar dari mulutnya terdengar parau dan sumbang.

Sedih? Bagaimana bisa dia menangis untuk pria yang bahkan tak pernah menganggapnya sebagai seorang istri?

​Rugi apa dia?

​Dua tahun. Sudah dua tahun penuh Aira menjalani pernikahan hampa bersama Rian, namun tak sekalipun pria itu menyentuh tubuhnya.

Setiap kali Aira mencoba mendekat, Rian selalu menarik diri dengan seribu alasan tak masuk akal–mengaku lelah, tertekan pekerjaan, hingga rela mengatakan bahwa pria itu memiliki kelainan.

​Aira yang dulu terlalu lugu memercayai cerita konyol itu bulat-bulat.

Ia bahkan sering merasa bersalah setiap kali menginginkan kehangatan seorang suami, sampai rela tidur di kamar terpisah demi menjaga harga diri pria yang dicintainya.

​Dan sekarang, Devan, sahabat suaminya sendiri berdiri di ruang tamunya, membongkar kebohongan busuk itu dalam satu detik.

Pria yang mengaku impoten itu rupanya sedang bersenang-senang di luar sana, membagikan gairahnya kepada wanita lain.

​“Kamu ... bercanda?” bisik Aira menahan getar di bibirnya. Tangannya mengepal kuat di sisi daster rumahan yang ia kenakan hingga buku-buku jarinya memutih.

​"Saya tidak bercanda," sahut Devan tanpa memalingkan pandangan barang sedetik pun.

"Dia di hotel sekarang kalau kamu butuh bukti langsung."

​Aira memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang untuk menguasai dirinya yang nyaris runtuh bukan karena patah hati, melainkan karena rasa muak yang membakar dada.

Pria di depannya ini adalah orang yang paling tahu betapa dekat hubungannya dengan Rian sejak zaman kuliah.

​"Kalau kabar itu benar, apa urusanmu memberitahuku?" hardik Aira tajam. Dia melangkah satu tapak lebih dekat ke arah Devan, menolak terlihat rapuh.

​"Kamu sahabatnya," lanjut Aira dengan intonasi yang kian menusuk. “Untuk apa kamu membeberkan kelakuan suamiku sendiri padaku? Apa keuntungannya buat kamu?"

​Devan menyandarkan punggungnya ke dinding dekat pintu, menyilangkan kedua lengan di dada yang terbungkus kemeja hitam pekat.

Raut wajahnya kaku, tidak ada sedikitpun penyesalan karena telah mengkhianati rahasia sahabat karibnya sendiri.

Rahang pria itu mengeras, menikmati sensasi terbakar yang merayapi benaknya setelah beberapa saat yang lalu mengetahui satu fakta menyakitkan dengan mata kepalanya sendiri.

​Bukannya biasanya sahabat menutupi keburukan sahabat lainnya?

​Apa ini lelucon? Atau jangan-jangan ini adalah akal-akalan suaminya sendiri yang sengaja mengirim Devan, untuk memancing keributan agar memiliki alasan sah menceraikannya?

​Pikiran buruk itu terus berputar liar di kepala Aira. Ruang tamu minimalis itu mendadak terasa mencekam dan kekurangan oksigen.

Jam dinding berdetik teratur, kontras dengan gemuruh yang mengoyak ketenangan malam mereka.

​“Saya cuma menyampaikan apa yang perlu kamu tahu," balas Devan singkat, suaranya tetap datar tanpa riak emosi berlebih.

​Aira mendengus sinis. Devan terkenal sebagai pria dingin dan arogan yang tidak pernah membuang waktu sedetik pun untuk mengurusi drama rumah tangga orang lain.

Tapi apa motif tersembunyi hingga pria kaku ini rela mengotori tangannya sendiri malam-malam begini?

​“Terima kasih informasinya. Tapi aku tidak butuh simpati darimu,” potong Aira tajam, suaranya makin menegang di dalam ruang tamu yang sunyi.

​”Seingatku, kita tidak pernah berbicara, Devan. Kenapa tiba-tiba malam ini kamu sepeduli ini dengan nasib rumah tanggaku?”

​Aira menanti jawaban dengan dada yang naik turun menahan emosi yang kian meluap. Dia ingin tahu permainan busuk apa yang sedang dicoba oleh sahabat suaminya ini.

​Devan menurunkan kedua tangannya dari dada. Keheningan merayap saat langkah kakinya berderap pelan di atas lantai marmer.

Ia melangkah maju dua tapak lalu menunduk sedikit, menatap lurus ke dalam pupil mata Aira dengan tatapan gelap penuh dendam.

​“Karena suamimu berselingkuh dengan istriku.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Main Belakang   Bab 102

    Prang!​Gelas kaca berhamburan di atas lantai marmer, pecah berkeping-keping bersama tumpahan wiski mahal yang merembes cepat ke sela-sela karpet.​"Sialan!" raung Devan menggelegar. Napasnya memburu kasar, matanya memerah menatap pecahan beling di bawah kakinya. Tangan kirinya mencengkeram tepi meja kerja, sementara tangan kanannya yang masih terbalut perban berdenyut nyeri akibat jahitan yang merembeskan darah segar.​Rendy yang berdiri di depan meja menundukkan kepala dalam-dalam. "Pak Devan, tahan emosi Anda. Luka di tangan Anda bisa makin parah kalau–"​"Peduli setan dengan luka ini!" potong Devan tajam, suaranya parau dan bergetar menahan amarah yang membakar dadanya. "Kenapa dia lebih memilih bersembunyi di belakang Kael, Rendy? Kenapa Aira menatapku seolah aku ini monster?"​Rendy terdiam sejenak, ragu untuk menjawab. "Mungkin ... Bu Aira masih syok dengan apa yang terjadi di apartemen, Pak."​"Syok?" Devan tertawa getir, tawa hampa yang terdengar mengerikan di ruangan temaram

  • Main Belakang   Bab 101

    Pintu gudang terbuka pelan, kaki Aira melangkah masuk perlahan menyapu setiap sudut ruangan yang terlihat temaram. Pandangan tajam, menatap sudut gelap tempat persembunyian Maya berada."Maya!" teriak Aira. "Keluar kamu! Jangan terus bersembunyi!" Hening. Tidak ada jawaban sama sekali, hanya desau angin yang menjawab teriakan Aira. Wanita itu terdiam, tangannya mencengkeram kuat senter yang ia genggam."May!" Di balik tumpukan karung, Maya meringkuk ketakutan. Gaun pesta minimnya kini robek di bagian bawah dan kotor oleh noda tanah merah. Riasan tebal di wajahnya luntur bercampur air mata dan keringat.​Melihat Aira berdiri tegap di ambang pintu dengan sorot mata dingin tanpa belas kasihan, Maya seketika merangkak keluar dari persembunyiannya.​"Ai ... Aira ..." bisik Maya gemetar, kedua tangannya terangkat memohon. "Aira, tolong, jangan bunuh aku. Aku minta maaf, Ai ... aku benar-benar minta maaf!"​Aira menatap wanita di bawah kakinya itu tanpa berkedip. Tidak ada lagi sisa kehang

  • Main Belakang   Bab 100

    ​Lutut Aira mendadak kehilangan daya. Ia merosot perlahan, bertumpu pada pinggiran meja kayu peninggalan ayahnya. Napasnya terasa sesak, sementara dadanya terasa nyeri akibat ketegangan yang baru saja lewat.​"Sudah kubilang, jangan langsung lemas begitu musuh pergi," celetuk Kael seraya melangkah santai ke arah jendela, melongokkan kepala untuk memastikan halaman benar-benar bersih. "Akan terlihat menyedihkan bila seperti itu." ​Aira mendongak, matanya yang basah menatap punggung tegap pria itu dengan bibir gemetar. "Kamu ... kamu hampir mati tertembak tadi, Kael! Bagaimana bisa kamu sesantai itu?"​Kael berbalik, menyandarkan pinggulnya ke kusen jendela seraya bersedekap. "Kalau aku panik, apa peluru Devan bakal otomatis berbalik arah? Lagipula, aku tahu dokter cerewet ini ada di dekat sini."​Arga yang tengah menginjak puntung rokok di dekat pintu mendengus geli. "Jangan bawa-bawa namaku seolah kau memperhitungkan kedatanganku, El. Kau cuma beruntung Sarah mengancam tidak akan mem

  • Main Belakang   Bab 99

    Tubuh Aira menegang hebat saat manik matanya bertabrakan dengan sorot tajam Devan. Wanita itu melangkah mundur, mencari perlindungan di balik tubuh tinggi Kael.Hal itu mengundang bara yang berkobar dalam diri Devan, ia tidak terima wanita yang selama ini ia incar berpihak pada musuh yang berusaha ia tumbangkan bertahun-tahun lamanya."Keluar dari balik punggungnya, Aira," desis Devan dingin, suaranya bergetar menahan luapan murka yang siap meledak. Matanya menyala menatap jemari Aira yang meremas ujung jaket kulit Kael. "Kamu pikir pria itu bisa menyelamatkanmu selamanya, hah?"​Aira tidak bergeming. Ia justru semakin merapatkan tubuhnya di balik bayang-bayang punggung lebar Kael, menatap Devan dengan tatapan penuh kebencian yang dalam.​"Aku lebih baik mati daripada harus kembali padamu, Devan!" balas Aira lantang, suaranya menggema membelah ketegangan di ruang tamu itu.​Devan tertawa sumbang, tawa hampa yang sarat racun kegilaan. "Mati bersamanya? Semudah itu kamu menyerahkan kese

  • Main Belakang   Bab 98

    Udara pagi desa Sukasari menyambut kedatangan Aira, luasnya perkebunan teh menjadi saksi betapa besarnya pengaruh keluarga Aira di kampung ini. Tangan Aira terkepal perlahan di atas pangkuan.Mungkin, bila tidak bertemu Rian, dia tidak mungkin merasa seburuk ini menjadi wanita. Mobil hitam Kael berhenti tepat di depan pagar kayu pekarangan rumah Aira. Deru mesin mati, menyisakan desau angin pegunungan yang seharusnya damai. Namun, kedamaian itu pecah seketika oleh dentuman musik disko yang menggelegar dari dalam rumah.​Alis Kael terangkat satu, melirik Aira di kursi penumpang. "Penyambutan yang meriah untuk kepulangan sang pemilik rumah."​Aira mematung, keningnya berkerut dalam. Matanya menatap halaman depan yang dipenuhi puntung rokok, botol-botol minuman keras berserakan, dan dua mobil yang terparkir di halaman depan.​"Apa-apaan ini," gumam Aira bergetar, rasa syok seketika menyengat dadanya.​Tanpa menunggu Kael, Aira mendorong pintu mobil dan melangkah cepat menaiki anak tangg

  • Main Belakang   Bab 97

    Api berkobar di manik mata Aira, menari-nari liar di atas kertas foto yang perlahan menghitam dan melengkung dimakan bara. Bau gosong menyengat memenuhi halaman belakang, dari sebuah tong besar tempat pembakaran sampah. Tatapan Aira tak beralih sedikit pun dari lidah api yang melahap wajah Devan hingga menjadi serpihan abu.​Flashdisk perak kecil di genggamannya terasa dingin dan beku. Dengan kepalan yang mengerat, Aira melemparkan benda itu tepat ke tengah bara yang sedang membakar lembaran terakhir.​Cangkang plastik di dalam komponen flashdisk itu meleleh, melepaskan asap tipis kelabu yang langsung terisap angin sore. Seluruh rekaman terkutuk, rasa takut yang membelenggunya berhari-hari, dan jaminan ancaman Devan lebur menjadi debu tak berharga di dalam tong itu.​Aira mengembuskan napas panjang yang gemetar, namun kali ini punggungnya tegak sempurna.​"Sudah habis," bisik Aira parau, suaranya mantap menembus kesunyian ruangan. "Tidak ada lagi yang tersisa."​Sarah menatap sisa abu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status