author-banner
D.N.A
D.N.A
Author

Novels by D.N.A

Jerat Bos Mesum yang Posesif

Jerat Bos Mesum yang Posesif

“Apa malam ini kamu nggak teriak bilang ‘sakit?’” ucap Satya malam itu saat bertemu Dara untuk kesekian kalinya. Ia tersenyum penuh kemenangan dan menyentuh Dara dengan penuh nafsu dan gairah yang selama ini hanya bisa ia dapat dengan Dara. Dara dijual suaminya sendiri, Rudi, untuk melunasi hutang! Yang lebih kejam: pembelinya adalah Satya, CEO kaya raya yang dulu merenggut kesuciannya. Kini, dengan harga 3 Miliar, Dara terikat pada pria yang punya "kutukan": Satya hanya bisa berhubungan intim dengannya, tak peduli wanita lain. Dara harus melayani obsesi pria yang paling dibencinya. Bisakah Dara melarikan diri dari jerat obsesi, atau ia akan selamanya menjadi 'obat' bagi sang CEO Mesum Posesif?
Read
Chapter: Bab 61
Hubungan yang semula hanya dilandasi kepalsuan berangsur-angsur berubah menjadi sesuatu yang hangat. Hari demi hari, dinding yang selama ini membatasi keduanya perlahan runtuh tanpa mereka sadari.Setiap pukul lima sore, Dara sudah berdiri di ambang pintu dengan senyum manis yang selalu berhasil menyambut kepulangan Satya. Kadang ia mengenakan gaun sederhana berwarna pastel, kadang hanya kaus rumahan dengan celemek masih terikat di pinggang. Namun, bagi Satya, pemandangan itu selalu menjadi hal yang paling ia rindukan setelah seharian berkutat dengan pekerjaan."Akhirnya pulang juga," ucap Dara ceria, mengambil tas kerja dari tangan suaminya."Menungguku lagi?" tanya Satya sambil tersenyum tipis."Memangnya boleh aku berhenti menunggu?"Pertanyaan itu membuat langkah Satya terhenti sejenak. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum yang semakin nyata. "Boleh ... kalau sudah bosan."Dara menggeleng cepat. "Aku belum menemukan alasan untuk bosan."Kalimat sederhana itu menghangatkan ha
Last Updated: 2026-08-07
Chapter: Bab 60
Berita tentang Satya menguap begitu saja, handle sosial mediapun mereda tanpa sisa, meninggalkan jejak tanya pada beberapa yang secara terang-terangan melontarkan kata benci yang begitu nyata. Kini, Satya terlihat duduk dengan tenang, menatap layar tab yang menyala terang."Berita itu ditarik kurang dari 1x24 jam, Bos," beritahu Randy dengan wajah tenang, dia menarik kembali tab yang Satya berikan."Sudah saya katakan, Permana akan takut dengan ancaman yang saya berikan." Satya tersenyum miring, dia merasa puas dengan apa yang baru saja dia lakukan. Tatapan tajam itu beralih, pada flashdisk kecil berwarna hitam yang dia simpan dengan rapi, dia memutar benda kecil itu dan menyerahkan pada Randy."Buat penyerangan dengan benda itu. Saya mau, keluarga Permana hancur," desis Satya dingin.Randy dengan sigap menerima benda kecil itu, dia begitu hati-hati ketika benda berharga itu jatuh ke atas tangannya. Dengan cepat dia memasukkan flashdisk ke dalam kantong jas nya."Lakukan dengan bersi
Last Updated: 2025-12-13
Chapter: Bab 59
Langkah itu terlihat tegas, dengan sorot mata dingin yang terlihat menatap sekitarnya. Satya terus berjalan tanpa mengindahkan tatapan beberapa orang yang terang-terangan memperhatikan dirinya.Di belakangnya Randy terlihat kewalahan mengejar langkah atasannya itu, mereka berada di salah satu perusahaan yang cukup ternama. Perusahaan milik keluarga Andin, dalang di balik berita yang sedang hangat di media sosial.Brak! Dentum suara pintu terdengar nyaring, bersamaan dengan kemunculan Satya, tatapan tajam itu menyorot pada sosok yang sedang duduk di kursi kebesarannya. Satya tidak gentar, dia melangkah ke arah sofa, dan mulai duduk dengan tatapan tenang."Kau datang juga ternyata," ucap suara itu, terdengar sinis, dengan sorot dingin menatap Satya.Satya tidak menjawab, dia mengeluarkan satu bungkus rokok, dan mulai menyalakan benda itu. Asap menguar memenuhi ruangan, Randy yang berada tepat di belakang pria itu hanya mampu menarik napas, dan mengibaskan tangannya berulang."Saya data
Last Updated: 2025-12-11
Chapter: Bab 58
"Terima kasih, untuk sarapannya," ujar Dara pelan, dia menunduk dengan tatapan yang fokus pada piring, yang sudah kosong. Dara meraih serbet di atas meja dan mengusap pelan bibirnya. Semua hal kecil itu tidak luput dari pandangan Satya, dia merasa gemas dengan semua hal yang Dara lakukan. Hubungan yang semula hanya sebatas kontrak, kini terjalin dengan serius."Saya pulang sedikit terlambat, nanti. Kamu bisa tidur lebih dulu, jangan menunggu," ucap Satya memecahkan keheningan.Dara mendongak, dia mengangguk pelan sebagai jawaban. Jemari lentik itu meraih gelas air putih dan meneguknya sampai habis tidak tersisa."Kenapa pulang malam?" tanya Dara pada akhirnya. Dia begitu penasaran dengan alasan yang akan Satya ucapkan."Ada beberapa rapat penting. Dan lagi, saya harus mengurus pemutusan kerja sama dengan keluarga Andin," jelas Satya dengan serius. Dia menaruh kedua tangan di atas meja, mengetuk pelan meja makan itu dengan kukunya.Dara tidak lagi menimpali ucapan Satya, dia bungkam d
Last Updated: 2025-12-08
Chapter: Bab 57
Satu hal yang tidak pernah terbesit dalam benak Dara, orang yang selama ini dia manfaatkan untuk kepentingannya. Malah berbuat hal baik padanya, Satya terlihat jauh lebih menerima kehadiran Dara di setiap langkah pria itu.Satya yang selalu bangun lebih awal, selalu menyiapkan sarapan untuk Dara, membuat wanita itu nyaman dan juga aman berada di sisinya. Dia benar-benar membuat Dara merasa bak ratu yang di sanjung oleh rajanya.Contohnya pagi ini, langit masih terlihat gelap, udara dingin berhembus melewati celah jendela yang tertutup gorden putih yang tipis. Satya sudah terlihat bangun dari tidurnya, dia menatap istrinya dengan pandangan dalam.Senyum manis perlahan terpatri di wajah tampan yang selalu terlihat dingin itu, dia mengulurkan tangan dan mengelus pelan beberapa anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya. Senyum Satya kembali melebar, ketika melihat Dara menggeliat dalam tidurnya.Kelopak indah itu mulai terbuka perlahan, orang yang pertama Dara lihat adalah Satya, ya
Last Updated: 2025-12-07
Chapter: Bab 56
Bukan rumah di kompleks seperti sebelumnya, tetapi apartemen mewah yang kini berada di depan Dara. Wanita itu terlihat takjub dengan apa yang Satya berikan, dia terharu sekaligus bahagia.Bagaimana bisa, Satya membelikan dirinya apartemen mewah seperti ini? Berada di lantai paling atas gedung dengan pemandangan yang begitu menakjubkan baginya. Mata indah itu bergetar pelan, dia merasa bahagia dengan apa yang Satya berikan.Tubuh Dara berbalik, dia memeluk Satya dengan erat. "Terima kasih, Tuan," lirih Dara, dia mengeratkan pelukannya dan membuat Satya tersenyum samar."Tidak masalah, selama kamu bahagia." Satya mengelus pelan rambut hitam Dara, lantas mengecupnya pelan dengan penuh kelembutan.Dara melepaskan pelukan eratnya, dia mendongak dan menatap Satya dengan tatapan penuh haru. Dia tersenyum dan berjinjit untuk mengecup bibir suaminya, namun tubuh tinggi Satya menjadi penghalang."Tsk. Kenapa Tuan tinggi sekali," keluh Dara jengkel, bibirnya mengerucut dengan bola mata mendelik
Last Updated: 2025-12-05
Ranjang Panas Suamiku

Ranjang Panas Suamiku

Agnira yang terlilit hutang orang tua terpaksa menikah dengan pria dingin dan arogan seperti Sambara. Namun, ia tidak menyangka bahwa orang yang selama ini berada di sisinya memiliki identitas rahasia. Terlebih saat surat kontrak pernikahan usai, Sambara justru meminta Agnira untuk menghabiskan malam panjang dengannya, dan menjadi istri di atas ranjang yang sesungguhnya. "Milikmu sempit sekali, Agnira," desis Sambara dengan mata terpejam.
Read
Chapter: Bab 282
"Sampai kapan kita di sini?" tanya Agnira menatap dalam, pada manik mata suaminya. Mereka berdiri di pesisir pantai dengan air laut yang terasa kuat menerpa tubuh keduanya. "Mulai bosan?" tanya Sambara seraya menarik tubuh Agnira semakin merapat, melindunginya dari terpaan angin laut yang mulai dingin menusuk kulit.​Agnira menggeleng pelan, menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami seraya menikmati detak jantung Sambara yang berirama tenang. Jemarinya saling bertaut erat dengan jemari pria itu, basah oleh buih ombak yang menyapu pergelangan kaki mereka.​"Bukan bosan," bisik Agnira lembut, pandangannya tertuju pada garis cakrawala, tempat langit senja bertemu dengan laut lepas. "Hanya merasa waktu berjalan begitu cepat. Rasanya baru kemarin kita melarikan diri ke tempat ini, dan sekarang .... Kalandra sudah mulai menatap jalannya sendiri."​Sambara mengecup pelipis istrinya, menghirup aroma laut yang bercampur harum tubuh wanita yang menjadi poros hidupnya tersebut. Sudut bi
Last Updated: 2026-08-26
Chapter: Bab 281
Baling-baling helikopter berhenti berputar di landasan udara milik keluarga Lakeswara. Sosok pria bertubuh tinggi tegap melangkah turun dari kabin helikopter dengan mantel hitam panjang yang berkibar diterpa angin fajar. Arga Wibisono menatap sekeliling landasan helipad pribadi di puncak tebing selatan itu dengan tatapan tajam dan berwibawa, mencerminkan sosok penguasa maritim yang tak tertandingi.​Di tepi landasan, Sambara berdiri tegak menanti bersama Agnira yang merapatkan selendangnya. Di samping mereka, Arsen dan Leonard berjaga dalam posisi siaga penuh, sementara Kalandra berdiri diam dengan kedua tangan terlipat di depan dada.​"Sambara," sapa Arga dengan suara berat dan tenang, mengulurkan tangan kanannya.​Sambara menyambut jabat tangan itu dengan cengkeraman kokoh. "Empat tahun waktu yang cukup panjang, Arga. Wilayahmu sudah bersih?"​"Tuntas tanpa sisa," sahut Arga seraya tersenyum tipis penuh arti. "Terima kasih, karena sudah menjaga putriku di tempat ini." "Bukan masal
Last Updated: 2026-08-25
Chapter: Bab 280
"Belum tidur, Kalandra?" tegur Leonard pada bocah kecil yang berada di depannya."Belum ngantuk, lagipun masih sore," jawabnya singkat.Leonard mengangguk pelan, lalu melangkah mendekat dan menyandarkan tubuh tegapnya pada pilar pembatas lorong paviliun. Iris birunya menatap halaman belakang yang kini mulai menggelap, diselimuti bayang-bayang pepohonan pinus dan temaram lampu taman.​"Matahari sudah tenggelam lebih dari satu jam yang lalu," sahut Leonard datar. "Seharusnya bocah kecil sepertimu sudah masuk dan bergelung dengan selimut tebal, serta susu hangat."​Kalandra yang duduk di atas bangku batu panjang tidak menyahut. Di pangkuannya, sebuah belati kayu latihan dan kain pembersih tergeletak rapi. "Paman mengejekku," timpal Kalan sinis.Bocah tujuh tahun itu hanya mengusap permukaan kayu tersebut dengan gerakan teliti dan berulang, persis seperti kebiasaan Leonard saat membersihkan komponen senapan runduknya.​"Alula dan Meira sudah kembali ke kamar mereka masing-masing," lanjut
Last Updated: 2026-08-25
Chapter: Bab 279
Matahari perlahan tenggelam di cakrawala barat, menyisakan semburat jingga keemasan yang memantul indah di permukaan laut selatan. Hembusan angin tebing yang kian dingin membawa aroma laut bercampur harum melati dari pekarangan vila.​Di balkon kamar utama lantai dua, Agnira berdiri tenang seraya merapatkan kardigan rajut putihnya. Dari atas sini, ia bisa melihat halaman belakang yang mulai temaram. Kalandra, Alula, dan Meira telah diantar masuk oleh Nayara dan Leonard menuju ruang belajar di paviliun, meninggalkan keheningan damai yang menyelimuti seluruh area vila.​Sepasang lengan kekar tiba-tiba melingkar lembut di pinggang Agnira dari belakang. Sambara menarik tubuh ramping istrinya merapat ke dada bidangnya, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Agnira seraya menghirup aroma vanila yang selalu menjadi candu penenang jiwanya.​"Kenapa kamu berada di luar? Di sini dingin, sayang," bisik Sambara rendah dan serak.​Agnira tersenyum simpul, menyandarkan kepalanya dengan nyaman di p
Last Updated: 2026-08-25
Chapter: Bab 278
Sambara menatap layar laptopnya di ruang kerja pribadi, membaca surat resmi yang dikirim langsung oleh Arga. Di sampingnya, Leonard berdiri mematung seraya mengawasi dokumen yang tertera di sana.​"Empat tahun?" gumam Leonard dingin. "Arga benar-benar berniat menjadikan tempat ini taman bermain, sekaligus arena latihan bertahan hidup untuk putrinya."​"Dia butuh alibi yang sempurna untuk membersihkan faksi internal Wibisono di ibu kota," sahut Sambara datar seraya menutup laptopnya. "Menitipkan Alula di bawah naungan Lakeswara, dan memastikan tidak ada musuh politiknya yang berani menyentuh gadis itu. Sebagai gantinya, seluruh jalur maritim timur dibuka penuh untuk pengiriman logistik kita."​"Kesepakatan yang menguntungkan," balas Leonard singkat. "Empat tahun adalah waktu yang cukup bagi anak itu untuk tumbuh dan berkembang." ​Empat tahun berlalu begitu cepat di bukit selatan. Musim demi musim berganti, menempa tiga anak yang tumbuh di balik dinding benteng megah itu, menjadikan me
Last Updated: 2026-08-25
Chapter: Bab 277
Agnira mengerjap singkat. Ia menatap suami serta putranya dengan pandangan bingung, lalu menatap pada anak kecil perempuan yang bersembunyi di balik tubuh Nayara."Siapa dia?" tanya Agnira mendekat perlahan, dan menyentuh rambut kusam anak kecil itu."Anak yang di pungut putramu," sambar Leonard dingin."Pungut?" Agnira menoleh sekilas ke arah Leonard dengan tatapan menegur yang lembut namun tegas, membuat pria bermata elang itu langsung membuang muka ke arah laut.​Agnira kembali memusatkan perhatiannya pada Meira. Ia berlutut di atas lantai marmer teras depan, menyamakan tinggi badannya dengan gadis kecil bertubuh kurus itu. Tangannya yang lembut terulur menyibak helaian rambut kusam yang menutupi dahi Meira.​Merasakan sentuhan hangat yang begitu asing, Meira sempat tersentak dan berniat mundur. Namun, tatapan teduh Agnira, sebuah tatapan yang belum pernah ia lihat seumur hidupnya di lorong pasar, membuat tubuh kecilnya terpaku di tempat.​"Kakimu berdarah, Nak," bisik Agnira sera
Last Updated: 2026-08-25
You may also like
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status