공유

Bab 02

작가: D.N.A
last update 게시일: 2026-09-02 16:36:20

Aira mematung. Kalimat Devan menggema di telinganya.

Setahunya, Clara, istri Devan yang selama ini terlihat elegan dan tak tersentuh.

Mengapa wanita itu mau saja bermadu?

“Mau ikut denganku?” lanjut Devan dingin sembari menyodorkan sebuah kartu kunci.

Aira memandangi tangan Devan dengan perasaan ragu. Akalnya terus menolak pengkhianatan sang suami, tetapi cara Devan menjelaskan terlihat sangat meyakinkan.

Mungkin setidaknya, ini bisa jadi alasan mereka harus bercerai.

“Kenapa harus aku?” bisik Aira, suaranya tercekat. Matanya beralih menatap wajah Devan yang kaku. “Kalau kamu tahu mereka di sana, kenapa tidak kamu yang melihatnya. Kamu suaminya”

Devan tersenyum tipis, sebuah senyum dingin tanpa humor yang justru membuat bulu kuduk Aira meremang.

“Karena melihat mereka hancur sendirian terasa kurang adil,” sahut Devan datar, suaranya berbisik.

“Rian mengambil milikku, dan dia menghancurkan kepercayaanmu. Masih tidak mau?”

Kata-kata Devan bagai sulutan api yang menyambar bensin di dada Aira. Selama dua tahun ini, dia hidup dalam rasa bersalah.

Ia mengira dirinya tidak cukup menarik, tidak cukup cantik, dan gagal menjadi istri yang sempurna karena Rian selalu menolak sentuhannya.

Ia bahkan rela memohon maaf setiap kali hasratnya timbul, hanya agar tidak melukai 'harga diri' sang suami yang mengaku impoten akibat kecelakaan.

Namun kalau kenyataannya seperti ini?

Ia harus apa?

"Jadi, bagaimana Aira, kau mau ikut denganku?" tanya Devan memastikan. Pria itu menatap Aira dengan pandangan dalam.

Rasa ragu Aira lenyap, berganti amarah pekat yang menuntut keadilan. Aira meremas kartu kunci itu erat-erat hingga sudut plastiknya menekan kulitnya perih.

Tanpa membalas perkataan Devan lagi, ia berbalik menyambar mantel hitam panjang di dekat pintu masuk.

Ia tidak butuh mengganti baju rumahan sederhananya, kemarahan sudah membungkusnya lebih dari pakaian apa pun.

“Ayo,” desis Aira dingin.

Perjalanan menuju Hotel yang disebut Devan terasa mencekam. Devan mengemudikan mobilnya membelah malam Ibu kota yang diguyur gerimis tipis dengan kecepatan tinggi.

Tak ada satupun dari mereka yang bersuara. Keheningan di dalam mobil itu sarat akan dendam yang siap meledak.

Meski hatinya mencelos, tapi akalnya lebih takut kalau ini adalah skenario buta.

Jantung Aira berdegup kencang bak dentuman genderang perang saat panel lift bergerak naik menuju lantai tujuh.

Di depan unit itu, Aira terpaku. Bagaimana harus membukanya?

Bagaimana ekspresinya mengaturnya? Bahagia? atau.. sedih?

Namun kerlingan Devan membuatnya menoleh, memberi isyarat dagu ke arah kunci di tangan Aira.

Napas Aira tertahan, sebelum ia menempelkan kartu, ia mengangkat handphonenya menekan nomor pria itu sebelum ia akan mendobraknya.

“Mas, dimana?”

Dering telepon tersambung, Aira yang gemetar mencoba menetralkan pikirannya yang kosong.

“Saya masih ada urusan kantor. Ada perlu apa, Aira?”

Aira berdeham kecil. Meski gemetar sudah menelungkup seluruh badannya. “Mas kapan pulang? Saya butuh Mas.”

Aira menahan napas saat mendengar suara tawa perempuan di latar belakang telepon suaminya.

Sambungan itu mendadak terputus di ujung sana sebelum ia sempat berkata apa-apa lagi.

"Sudah dengar buktinya?" tanya Devan tajam, berdiri tepat di belakang bahunya.

Aira tidak menjawab, melainkan langsung menempelkan kartu kunci hotel itu ke gagang pintu.

Langkah kaki Aira terasa berat. Dari dalam ruangan, terdengar samar suara desahan dan tawa kecil yang meremang.

Ia mendorong pelan daun pintu yang terbuka setengah.

“Sejak kapan Aira merengek seperti itu? Menjijikan.”

Clara.

Wanita ular itu.

Sementara pria itu terkekeh sembari mengelus rambut kepalanya, ia tertawa. “Aneh. Tidak biasanya ia mencariku.”

“Mengganggu saja!” imbuh Clara menggeliat dan menguap. “Satu kali lagi yuk?”

Aira membeku, ia tak bisa mendengar derang suara Devan yang menariknya. Seperti di awan, tapi lebih banyak di neraka.

Tiba-tiba lengan pria itu merengkuhnya. “Ayo.”

“Kamu melihatnya terlalu banyak.”

Dunia Aira seakan runtuh seketika, menghimpit dadanya hingga terasa sesak dan menyakitkan. Kakinya lemas, tak mampu menopang tubuhnya lebih lama lagi.

Devan menghela napas panjang, mencoba menenangkan gejolak dalam dirinya. "Aira. Ayo."

"Kita akan menghadapinya bersama," jawabnya mantap. "Mereka telah menghancurkan dan sekarang saatnya kita menuntut keadilan."

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
댓글 (1)
goodnovel comment avatar
Merry Ongko
bego berdua2 kenapa ga dilabrak aja coba lgs...direkam lgs viralin...malah diam aja berdua2
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Main Belakang   Bab 101

    Pintu gudang terbuka pelan, kaki Aira melangkah masuk perlahan menyapu setiap sudut ruangan yang terlihat temaram. Pandangan tajam, menatap sudut gelap tempat persembunyian Maya berada."Maya!" teriak Aira. "Keluar kamu! Jangan terus bersembunyi!" Hening. Tidak ada jawaban sama sekali, hanya desau angin yang menjawab teriakan Aira. Wanita itu terdiam, tangannya mencengkeram kuat senter yang ia genggam."May!" Di balik tumpukan karung, Maya meringkuk ketakutan. Gaun pesta minimnya kini robek di bagian bawah dan kotor oleh noda tanah merah. Riasan tebal di wajahnya luntur bercampur air mata dan keringat.​Melihat Aira berdiri tegap di ambang pintu dengan sorot mata dingin tanpa belas kasihan, Maya seketika merangkak keluar dari persembunyiannya.​"Ai ... Aira ..." bisik Maya gemetar, kedua tangannya terangkat memohon. "Aira, tolong, jangan bunuh aku. Aku minta maaf, Ai ... aku benar-benar minta maaf!"​Aira menatap wanita di bawah kakinya itu tanpa berkedip. Tidak ada lagi sisa kehang

  • Main Belakang   Bab 100

    ​Lutut Aira mendadak kehilangan daya. Ia merosot perlahan, bertumpu pada pinggiran meja kayu peninggalan ayahnya. Napasnya terasa sesak, sementara dadanya terasa nyeri akibat ketegangan yang baru saja lewat.​"Sudah kubilang, jangan langsung lemas begitu musuh pergi," celetuk Kael seraya melangkah santai ke arah jendela, melongokkan kepala untuk memastikan halaman benar-benar bersih. "Akan terlihat menyedihkan bila seperti itu." ​Aira mendongak, matanya yang basah menatap punggung tegap pria itu dengan bibir gemetar. "Kamu ... kamu hampir mati tertembak tadi, Kael! Bagaimana bisa kamu sesantai itu?"​Kael berbalik, menyandarkan pinggulnya ke kusen jendela seraya bersedekap. "Kalau aku panik, apa peluru Devan bakal otomatis berbalik arah? Lagipula, aku tahu dokter cerewet ini ada di dekat sini."​Arga yang tengah menginjak puntung rokok di dekat pintu mendengus geli. "Jangan bawa-bawa namaku seolah kau memperhitungkan kedatanganku, El. Kau cuma beruntung Sarah mengancam tidak akan mem

  • Main Belakang   Bab 99

    Tubuh Aira menegang hebat saat manik matanya bertabrakan dengan sorot tajam Devan. Wanita itu melangkah mundur, mencari perlindungan di balik tubuh tinggi Kael.Hal itu mengundang bara yang berkobar dalam diri Devan, ia tidak terima wanita yang selama ini ia incar berpihak pada musuh yang berusaha ia tumbangkan bertahun-tahun lamanya."Keluar dari balik punggungnya, Aira," desis Devan dingin, suaranya bergetar menahan luapan murka yang siap meledak. Matanya menyala menatap jemari Aira yang meremas ujung jaket kulit Kael. "Kamu pikir pria itu bisa menyelamatkanmu selamanya, hah?"​Aira tidak bergeming. Ia justru semakin merapatkan tubuhnya di balik bayang-bayang punggung lebar Kael, menatap Devan dengan tatapan penuh kebencian yang dalam.​"Aku lebih baik mati daripada harus kembali padamu, Devan!" balas Aira lantang, suaranya menggema membelah ketegangan di ruang tamu itu.​Devan tertawa sumbang, tawa hampa yang sarat racun kegilaan. "Mati bersamanya? Semudah itu kamu menyerahkan kese

  • Main Belakang   Bab 98

    Udara pagi desa Sukasari menyambut kedatangan Aira, luasnya perkebunan teh menjadi saksi betapa besarnya pengaruh keluarga Aira di kampung ini. Tangan Aira terkepal perlahan di atas pangkuan.Mungkin, bila tidak bertemu Rian, dia tidak mungkin merasa seburuk ini menjadi wanita. Mobil hitam Kael berhenti tepat di depan pagar kayu pekarangan rumah Aira. Deru mesin mati, menyisakan desau angin pegunungan yang seharusnya damai. Namun, kedamaian itu pecah seketika oleh dentuman musik disko yang menggelegar dari dalam rumah.​Alis Kael terangkat satu, melirik Aira di kursi penumpang. "Penyambutan yang meriah untuk kepulangan sang pemilik rumah."​Aira mematung, keningnya berkerut dalam. Matanya menatap halaman depan yang dipenuhi puntung rokok, botol-botol minuman keras berserakan, dan dua mobil yang terparkir di halaman depan.​"Apa-apaan ini," gumam Aira bergetar, rasa syok seketika menyengat dadanya.​Tanpa menunggu Kael, Aira mendorong pintu mobil dan melangkah cepat menaiki anak tangg

  • Main Belakang   Bab 97

    Api berkobar di manik mata Aira, menari-nari liar di atas kertas foto yang perlahan menghitam dan melengkung dimakan bara. Bau gosong menyengat memenuhi halaman belakang, dari sebuah tong besar tempat pembakaran sampah. Tatapan Aira tak beralih sedikit pun dari lidah api yang melahap wajah Devan hingga menjadi serpihan abu.​Flashdisk perak kecil di genggamannya terasa dingin dan beku. Dengan kepalan yang mengerat, Aira melemparkan benda itu tepat ke tengah bara yang sedang membakar lembaran terakhir.​Cangkang plastik di dalam komponen flashdisk itu meleleh, melepaskan asap tipis kelabu yang langsung terisap angin sore. Seluruh rekaman terkutuk, rasa takut yang membelenggunya berhari-hari, dan jaminan ancaman Devan lebur menjadi debu tak berharga di dalam tong itu.​Aira mengembuskan napas panjang yang gemetar, namun kali ini punggungnya tegak sempurna.​"Sudah habis," bisik Aira parau, suaranya mantap menembus kesunyian ruangan. "Tidak ada lagi yang tersisa."​Sarah menatap sisa abu

  • Main Belakang   Bab 96

    Hampir satu minggu Aira berada di kediaman ini, sering kali wanita itu tidak keluar kamar dan lebih memilih duduk diam di sisi jendela sambil menatap jalanan sepi di depannya. Aira terlalu takut untuk keluar kamar, rasa percayanya terkikis pada setiap orang.Rasa sesak itu hadir tanpa permisi, menghimpit rongga dada Aira hingga ia mencengkeram erat kusen kayu jendela.Setiap kali matanya menatap dedaunan yang bergoyang di halaman luar, bayangan Devan yang mengurungnya berputar di dalam kepalanya tanpa henti. Bahkan di malam hari, Aira sering kali mimpi buruk.Sentuhan paksa, obat penenang, dan aroma parfum cendana itu seolah masih menempel pekat di kulitnya, membuatnya merasa kotor setiap detik. ​Ketukan pelan di pintu kamar membuyarkan lamunan kelam itu.​"Aira? Aku bawakan sup ayam jagung hangat," suara Sarah terdengar lembut dari balik daun pintu yang terbuka sedikit.​Wanita berwajah ramah itu melangkah masuk membawa nampan kayu. Senyumnya teduh, namun sorot matanya tak bisa menye

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status