LOGINAira mematung. Kalimat Devan menggema di telinganya.
Setahunya, Clara, istri Devan yang selama ini terlihat elegan dan tak tersentuh. Mengapa wanita itu mau saja bermadu? “Mau ikut denganku?” lanjut Devan dingin sembari menyodorkan sebuah kartu kunci. Aira memandangi tangan Devan dengan perasaan ragu. Akalnya terus menolak pengkhianatan sang suami, tetapi cara Devan menjelaskan terlihat sangat meyakinkan. Mungkin setidaknya, ini bisa jadi alasan mereka harus bercerai. “Kenapa harus aku?” bisik Aira, suaranya tercekat. Matanya beralih menatap wajah Devan yang kaku. “Kalau kamu tahu mereka di sana, kenapa tidak kamu yang melihatnya. Kamu suaminya” Devan tersenyum tipis, sebuah senyum dingin tanpa humor yang justru membuat bulu kuduk Aira meremang. “Karena melihat mereka hancur sendirian terasa kurang adil,” sahut Devan datar, suaranya berbisik. “Rian mengambil milikku, dan dia menghancurkan kepercayaanmu. Masih tidak mau?” Kata-kata Devan bagai sulutan api yang menyambar bensin di dada Aira. Selama dua tahun ini, dia hidup dalam rasa bersalah. Ia mengira dirinya tidak cukup menarik, tidak cukup cantik, dan gagal menjadi istri yang sempurna karena Rian selalu menolak sentuhannya. Ia bahkan rela memohon maaf setiap kali hasratnya timbul, hanya agar tidak melukai 'harga diri' sang suami yang mengaku impoten akibat kecelakaan. Namun kalau kenyataannya seperti ini? Ia harus apa? "Jadi, bagaimana Aira, kau mau ikut denganku?" tanya Devan memastikan. Pria itu menatap Aira dengan pandangan dalam. Rasa ragu Aira lenyap, berganti amarah pekat yang menuntut keadilan. Aira meremas kartu kunci itu erat-erat hingga sudut plastiknya menekan kulitnya perih. Tanpa membalas perkataan Devan lagi, ia berbalik menyambar mantel hitam panjang di dekat pintu masuk. Ia tidak butuh mengganti baju rumahan sederhananya, kemarahan sudah membungkusnya lebih dari pakaian apa pun. “Ayo,” desis Aira dingin. Perjalanan menuju Hotel yang disebut Devan terasa mencekam. Devan mengemudikan mobilnya membelah malam Ibu kota yang diguyur gerimis tipis dengan kecepatan tinggi. Tak ada satupun dari mereka yang bersuara. Keheningan di dalam mobil itu sarat akan dendam yang siap meledak. Meski hatinya mencelos, tapi akalnya lebih takut kalau ini adalah skenario buta. Jantung Aira berdegup kencang bak dentuman genderang perang saat panel lift bergerak naik menuju lantai tujuh. Di depan unit itu, Aira terpaku. Bagaimana harus membukanya? Bagaimana ekspresinya mengaturnya? Bahagia? atau.. sedih? Namun kerlingan Devan membuatnya menoleh, memberi isyarat dagu ke arah kunci di tangan Aira. Napas Aira tertahan, sebelum ia menempelkan kartu, ia mengangkat handphonenya menekan nomor pria itu sebelum ia akan mendobraknya. “Mas, dimana?” Dering telepon tersambung, Aira yang gemetar mencoba menetralkan pikirannya yang kosong. “Saya masih ada urusan kantor. Ada perlu apa, Aira?” Aira berdeham kecil. Meski gemetar sudah menelungkup seluruh badannya. “Mas kapan pulang? Saya butuh Mas.” Aira menahan napas saat mendengar suara tawa perempuan di latar belakang telepon suaminya. Sambungan itu mendadak terputus di ujung sana sebelum ia sempat berkata apa-apa lagi. "Sudah dengar buktinya?" tanya Devan tajam, berdiri tepat di belakang bahunya. Aira tidak menjawab, melainkan langsung menempelkan kartu kunci hotel itu ke gagang pintu. Langkah kaki Aira terasa berat. Dari dalam ruangan, terdengar samar suara desahan dan tawa kecil yang meremang. Ia mendorong pelan daun pintu yang terbuka setengah. “Sejak kapan Aira merengek seperti itu? Menjijikan.” Clara. Wanita ular itu. Sementara pria itu terkekeh sembari mengelus rambut kepalanya, ia tertawa. “Aneh. Tidak biasanya ia mencariku.” “Mengganggu saja!” imbuh Clara menggeliat dan menguap. “Satu kali lagi yuk?” Aira membeku, ia tak bisa mendengar derang suara Devan yang menariknya. Seperti di awan, tapi lebih banyak di neraka. Tiba-tiba lengan pria itu merengkuhnya. “Ayo.” “Kamu melihatnya terlalu banyak.” Dunia Aira seakan runtuh seketika, menghimpit dadanya hingga terasa sesak dan menyakitkan. Kakinya lemas, tak mampu menopang tubuhnya lebih lama lagi. Devan menghela napas panjang, mencoba menenangkan gejolak dalam dirinya. "Aira. Ayo." "Kita akan menghadapinya bersama," jawabnya mantap. "Mereka telah menghancurkan dan sekarang saatnya kita menuntut keadilan.""Hmpph..." Kedua tangannya mencengkeram pergelangan tangan Devan yang memegang ponsel. Otot lengan pria itu keras seperti batu, tak bergeming sedikit pun meski Aira mengerahkan seluruh sisa tenaganya yang terkuras habis. Devan menatapnya lurus. Netra kelam pria itu berkilat penuh seringai yang dingin, menikmati riak ketakutan yang tergambar jelas di paras Aira. "Apa sakit?" bisik Devan rendah, bibirnya mendarat seringan bulu di pelipis Aira yang basah oleh keringat. "Memangnya suamimu tidak menyentuhmu Aira? Sampai sesempit ini?""Ah... Hah... Dev..." Getaran ponsel itu mendadak berhenti. Layar meredup sejenak, meninggalkan keheningan mencekam di antara mereka berdua. Napas Aira tertahan. Ia mengira ancaman itu telah lewat, tetapi hanya berselang dua detik, layar ponsel itu kembali berpendar terang diiringi getaran yang lebih panjang. Bzzzt... Bzzzt... Devan mendengus geli, sebuah tawa sinis lolos dari sudut bibirnya. "Rupanya suamimu cukup gigih malam ini. Jarang seka
Selama dua tahun pernikahan, tidak pernah ada sentuhan seperti ini. Rian selalu menolaknya dengan alasan lelah, alasan impoten, atau sekadar menghindar setiap kali malam tiba. Aira hidup dalam kekeringan batin dan raga, memendam haus luar biasa yang tidak pernah terpuaskan oleh pelukan hampa suaminya. Dan sekarang, di atas tempat asing ini, ia dijamah begitu intens, seolah dirinya adalah satu-satunya perempuan. Rasa haus itu membuncah, mendesak naik melampaui batas kewarasan. Aira menarik tengkuk Devan kembali, mempertemukan bibir mereka dalam ciuman putus asa. Batas-batas pakaian bawah mereka akhirnya tanggal dalam sentuhan yang kian tak beraturan, meleburkan dua tubuh yang sama-sama terbakar oleh dendam, kekecewaan, dan hasrat yang lama terkunci. "Aaahhh ..." Aira mendesah saat sentuhan Devan kian intens di bagian bawahnya. Membuat pikirannya melayang tak tentu arah. Tangan Aira meremas kuat rambut Devan, membuat tubuh mereka menyatu dengan begitu dalam. Hentakan demi hent
Seharian penuh berjalan di bawah bayang-bayang amarah bukan perkara mudah. Aira dan Devan menghabiskan waktu berjam-jam menguntit setiap langkah Rian dan Clara.Setiap detik pemandangan itu terekam jelas di kepala Aira, sementara jemarinya tak pernah lelah membidik kamera ponsel untuk mengumpulkan bukti kebusukan suaminya.Hingga malam beranjak larut, langkah keduanya menggiring mereka masuk ke dalam area bar hotel yang temaram dan bising oleh dentuman musik bas.Kepalanya mendadak pening, bukan hanya karena lelah mengitari hotel seharian, tapi karena beban mental yang menghimpit dadanya tanpa henti. Selama ini ia hidup sebagai istri rumahan yang patuh, lurus, dan tidak pernah menyentuh dunia malam. Tapi melihat suaminya bermesraan dengan perempuan lain membuat akal sehatnya perlahan runtuh. Ia bisa saja bukan menjadi istri yang nakal. Tapi melihatnya semenjijikan ini semudah ini?Memang patut diceraikan!Tanpa pikir panjang, Aira memesan gelas demi gelas. Minuman yang tak pernah ia
Aira masih duduk mematung di atas seprai, menatap layar ponsel suaminya yang tergeletak bisu di nakas. Rasa jijik dan amarah yang bergemuruh di dada Aira mendesak naik, membuat napasnya tersengal hebat. Tawaran gila Devan semalam sempat membuat nalar sehatnya menolak mentah-mentah. Bagaimana bisa ia merendahkan diri dengan cara rendahan seperti itu? Saat Rian keluar dari kamar mandi dengan handuk tersampir di bahunya, Aira tidak lagi memasang wajah pasrah seperti biasanya. Ia menatap lekat suaminya yang tengah merapikan kemeja kerja di depan cermin besar."Katanya mau dinas luar kota minggu depan, Mas?" tanya Aira dengan suara tenang, namun tatapannya menguliti gerak-gerik suaminya tanpa ampun. "Sebenarnya dinas ke mana? Berapa hari?"Rian sedikit tersentak, terbiasa dengan Aira yang selalu manggut-manggut tanpa banyak tanya. “Kenapa mendadak jadi pengen tahu urusan kantor?""Nggak apa-apa. Supaya aku tahu kalau butuh sesuatu," balas Aira datar, menyembunyikan kepalan tangannya
Tidak ada suara isak tangis lagi yang tersisa di tenggorokannya. Semua air matanya seolah habis terkuras di lorong hotel tadi, menyisakan rongga dada yang terasa kosong dan dingin. Ia merasa seperti arwah penasaran yang baru saja melihat kuburannya sendiri. Bodoh.Dua tahun ia menyalahkan diri sendiri karena mengira suaminya impoten. Dua tahun ia menahan diri, menjaga harga diri pria keparat itu, dan merasa bersalah setiap kali hasrat manusiawinya muncul. Ternyata, itu semua hanya sandiwara agar Rian bisa leluasa berbagi ranjang dengan istri orang lain. Istri dari pria yang kini duduk di sampingnya. Devan mengemudikan mobil dengan satu tangan, sementara sebelah tangannya lagi bertumpu di kemudi dalam diam. Pria itu juga tidak membuka suara.Dan Aira tidak tahu seberapa lama ia terlelap.Di halaman depan, mobilnya sudah terpatri lima belas menit tadi. Namun keduanya hening dalam kesepian."Sudah sampai?" suara Aira parau, nyaris tak terdengar."Sudah," balas Devan datar, tidak men
Aira mematung. Kalimat Devan menggema di telinganya.Setahunya, Clara, istri Devan yang selama ini terlihat elegan dan tak tersentuh.Mengapa wanita itu mau saja bermadu?“Mau ikut denganku?” lanjut Devan dingin sembari menyodorkan sebuah kartu kunci.Aira memandangi tangan Devan dengan perasaan ragu. Akalnya terus menolak pengkhianatan sang suami, tetapi cara Devan menjelaskan terlihat sangat meyakinkan. Mungkin setidaknya, ini bisa jadi alasan mereka harus bercerai.“Kenapa harus aku?” bisik Aira, suaranya tercekat. Matanya beralih menatap wajah Devan yang kaku. “Kalau kamu tahu mereka di sana, kenapa tidak kamu yang melihatnya. Kamu suaminya”Devan tersenyum tipis, sebuah senyum dingin tanpa humor yang justru membuat bulu kuduk Aira meremang.“Karena melihat mereka hancur sendirian terasa kurang adil,” sahut Devan datar, suaranya berbisik.“Rian mengambil milikku, dan dia menghancurkan kepercayaanmu. Masih tidak mau?”Kata-kata Devan bagai sulutan api yang menyambar bensin di dada







