LOGINTubuh Aira meringkuk di sudut ruangan, memeluk lututnya rapat-rapat. Bibirnya yang pucat bergetar pelan, sementara kulitnya terasa sepanas bara api.
Keringat dingin membasahi pelipis dan helai rambutnya yang berantakan, sisa racun dan kelelahan fisik semalam berpadu menghantam daya tahan tubuhnya hingga ambruk.Devan yang baru saja datang segera berlutut di depan wanita itu. Tangannya yang dingin terulur menyentuh kening Aira, membuat Aira refleks tersentak dan memundurkanApi berkobar di manik mata Aira, menari-nari liar di atas kertas foto yang perlahan menghitam dan melengkung dimakan bara. Bau gosong menyengat memenuhi halaman belakang, dari sebuah tong besar tempat pembakaran sampah. Tatapan Aira tak beralih sedikit pun dari lidah api yang melahap wajah Devan hingga menjadi serpihan abu.Flashdisk perak kecil di genggamannya terasa dingin dan beku. Dengan kepalan yang mengerat, Aira melemparkan benda itu tepat ke tengah bara yang sedang membakar lembaran terakhir.Cangkang plastik di dalam komponen flashdisk itu meleleh, melepaskan asap tipis kelabu yang langsung terisap angin sore. Seluruh rekaman terkutuk, rasa takut yang membelenggunya berhari-hari, dan jaminan ancaman Devan lebur menjadi debu tak berharga di dalam tong itu.Aira mengembuskan napas panjang yang gemetar, namun kali ini punggungnya tegak sempurna."Sudah habis," bisik Aira parau, suaranya mantap menembus kesunyian ruangan. "Tidak ada lagi yang tersisa."Sarah menatap sisa abu
Hampir satu minggu Aira berada di kediaman ini, sering kali wanita itu tidak keluar kamar dan lebih memilih duduk diam di sisi jendela sambil menatap jalanan sepi di depannya. Aira terlalu takut untuk keluar kamar, rasa percayanya terkikis pada setiap orang.Rasa sesak itu hadir tanpa permisi, menghimpit rongga dada Aira hingga ia mencengkeram erat kusen kayu jendela.Setiap kali matanya menatap dedaunan yang bergoyang di halaman luar, bayangan Devan yang mengurungnya berputar di dalam kepalanya tanpa henti. Bahkan di malam hari, Aira sering kali mimpi buruk.Sentuhan paksa, obat penenang, dan aroma parfum cendana itu seolah masih menempel pekat di kulitnya, membuatnya merasa kotor setiap detik. Ketukan pelan di pintu kamar membuyarkan lamunan kelam itu."Aira? Aku bawakan sup ayam jagung hangat," suara Sarah terdengar lembut dari balik daun pintu yang terbuka sedikit.Wanita berwajah ramah itu melangkah masuk membawa nampan kayu. Senyumnya teduh, namun sorot matanya tak bisa menye
Bau antiseptik tercium kuat saat mata Aira mulai terbuka. Kepalanya masih berdenyut hebat, matanya enggan terbuka. Namun, saat sapuan hangat meraba keningnya, ia dengan cepat membuka mata.Matanya menangkap sosok wanita cantik yang tersenyum ke arahnya. "Bangun juga, kamu sudah pingsan selama dua hari," ujar wanita itu, suaranya terdengar lembut di telinga Aira."Cih, suaramu sangat tidak cocok dengan prilakumu." Suara berat nan asing itu membuat kepala Aira menoleh, alisnya mengernyit saat memandangi dua orang yang tidak ia kenali sama sekali. Mata Aira menyapu sekelilingnya, tempat ini terasa asing baginya, kepalanya kembali berdenyut saat mengingat kejadian terakhir yang menimpanya."Jangan dipaksakan bangun. Kepalamu pasti masih sakit," cegah wanita itu lagi, sentuhannya terasa lembut di tangan Aira. Begitu menenangkan."Siapa ... kalian?" bisik Aira parau, tenggorokannya masih terasa kering bagai padang pasir. Jemarinya mencengkeram tepi selimut katun abu-abu yang membungkus tu
Tubuh Aira meringkuk di sudut ruangan, memeluk lututnya rapat-rapat. Bibirnya yang pucat bergetar pelan, sementara kulitnya terasa sepanas bara api. Keringat dingin membasahi pelipis dan helai rambutnya yang berantakan, sisa racun dan kelelahan fisik semalam berpadu menghantam daya tahan tubuhnya hingga ambruk.Devan yang baru saja datang segera berlutut di depan wanita itu. Tangannya yang dingin terulur menyentuh kening Aira, membuat Aira refleks tersentak dan memundurkan kepala hingga membentur dinding marmer."Tubuhmu demam tinggi, Ai," ujar Devan dengan nada bicara yang kembali terdengar lembut, sebuah kelembutan beracun yang membuat bulu kuduk Aira meremang. "Aku sudah bilang, jangan keras kepala menolak makan siangmu.""Jangan ... sentuh aku ..." bisik Aira parau, suaranya nyaris habis, tenggorokannya tercekat rasa haus yang menyiksa. "Menjauh!"Devan menghela napas panjang, lalu menyodorkan sebutir pil putih dan segelas air mi
"Kau yakin tidak akan membantu wanita itu?" tanya seseorang yang berada di belakang Kael. Matanya tajam, menatap punggung sahabatnya dengan serius.Kael terdiam, sibuk mengusap senapan kesayangan dengan kain, lalu mengarahkan senjata itu ke depan dan melesatkan satu peluru menembus dinginnya malam. "Tidak," jawab pria itu singkat.Temannya mendelik sinis. Pria itu menggelengkan kepala dan meraih segelas wine di atas meja, meneguknya hingga tak tersisa."Untuk apa aku membantunya, aku bahkan tidak cukup mengenalnya," lanjut Kael santai, berjalan ke arah meja dan menaruh senapan laras panjang itu ke tempat semula. "Lagipula aku sudah memperingatkannya." "Bodoh," umpat temannya dingin. "Dia jelas akan lebih percaya pada saudara tirimu, karena effortnya yang jelas membantu perceraian." Kael berdecak malas, ia menarik napas dalam dan menyandarkan tubuhnya pada sofa dengan nyaman. "Aku mendekatinya hanya ingin memancing amarah si bajingan Devan saja." Kepala Kael mendongak, menatap langi
Binar bahagia di mata Aira kembali meredup sempurna. Bayangan dirinya bebas, kini hanya tinggal kenangan semata. Kakinya melangkah pelan menuruni ranjang kamar, berjalan ke arah pintu dan membukanya pelan.Suasana hening kembali menyapa, bukan lagi udara segar pedesaan, melainkan hiruk pikuk kota yang enggan ia pijak. Aira berada di salah satu apartemen milik Devan, berdiri di tengah kota dengan bisingnya beberapa kendaraan.Kakinya melangkah ke arah balkon ruang tamu. Membuka kaca besar itu hingga hembusan air menerpa wajahnya, matanya terpejam kuat dengan satu bulir air mata yang menetes perlahan."Kamu sudah bangun, Ai?" tegur suara yang sudah tidak asing di telinga Aira, di barengi dengan pelukan hangat yang melingkar di bagian perutnya. "Kita makan siang dulu, aku sudah menyiapkannya." Tangan Aira terkepal kuat. Bagaimana bisa Devan bersikap seolah-olah semuanya baik-baik saja? "Aku tidak lapar," tolak Aira dengan mata yang masih f







