Compartir

Bab 98

Autor: D.N.A
last update Fecha de publicación: 2026-10-16 13:53:21

Udara pagi desa Sukasari menyambut kedatangan Aira, luasnya perkebunan teh menjadi saksi betapa besarnya pengaruh keluarga Aira di kampung ini. Tangan Aira terkepal perlahan di atas pangkuan.

Mungkin, bila tidak bertemu Rian, dia tidak mungkin merasa seburuk ini menjadi wanita.

Mobil hitam Kael berhenti tepat di depan pagar kayu pekarangan rumah Aira. Deru mesin mati, menyisakan desau angin pegunungan yang seharusnya damai. Namun, kedamaian itu pecah seketika oleh dentuman musik disko yang men
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Main Belakang   Bab 99

    Tubuh Aira menegang hebat saat manik matanya bertabrakan dengan sorot tajam Devan. Wanita itu melangkah mundur, mencari perlindungan di balik tubuh tinggi Kael.Hal itu mengundang bara yang berkobar dalam diri Devan, ia tidak terima wanita yang selama ini ia incar berpihak pada musuh yang berusaha ia tumbangkan bertahun-tahun lamanya."Keluar dari balik punggungnya, Aira," desis Devan dingin, suaranya bergetar menahan luapan murka yang siap meledak. Matanya menyala menatap jemari Aira yang meremas ujung jaket kulit Kael. "Kamu pikir pria itu bisa menyelamatkanmu selamanya, hah?"​Aira tidak bergeming. Ia justru semakin merapatkan tubuhnya di balik bayang-bayang punggung lebar Kael, menatap Devan dengan tatapan penuh kebencian yang dalam.​"Aku lebih baik mati daripada harus kembali padamu, Devan!" balas Aira lantang, suaranya menggema membelah ketegangan di ruang tamu itu.​Devan tertawa sumbang, tawa hampa yang sarat racun kegilaan. "Mati bersamanya? Semudah itu kamu menyerahkan kese

  • Main Belakang   Bab 98

    Udara pagi desa Sukasari menyambut kedatangan Aira, luasnya perkebunan teh menjadi saksi betapa besarnya pengaruh keluarga Aira di kampung ini. Tangan Aira terkepal perlahan di atas pangkuan.Mungkin, bila tidak bertemu Rian, dia tidak mungkin merasa seburuk ini menjadi wanita. Mobil hitam Kael berhenti tepat di depan pagar kayu pekarangan rumah Aira. Deru mesin mati, menyisakan desau angin pegunungan yang seharusnya damai. Namun, kedamaian itu pecah seketika oleh dentuman musik disko yang menggelegar dari dalam rumah.​Alis Kael terangkat satu, melirik Aira di kursi penumpang. "Penyambutan yang meriah untuk kepulangan sang pemilik rumah."​Aira mematung, keningnya berkerut dalam. Matanya menatap halaman depan yang dipenuhi puntung rokok, botol-botol minuman keras berserakan, dan dua mobil yang terparkir di halaman depan.​"Apa-apaan ini," gumam Aira bergetar, rasa syok seketika menyengat dadanya.​Tanpa menunggu Kael, Aira mendorong pintu mobil dan melangkah cepat menaiki anak tangg

  • Main Belakang   Bab 97

    Api berkobar di manik mata Aira, menari-nari liar di atas kertas foto yang perlahan menghitam dan melengkung dimakan bara. Bau gosong menyengat memenuhi halaman belakang, dari sebuah tong besar tempat pembakaran sampah. Tatapan Aira tak beralih sedikit pun dari lidah api yang melahap wajah Devan hingga menjadi serpihan abu.​Flashdisk perak kecil di genggamannya terasa dingin dan beku. Dengan kepalan yang mengerat, Aira melemparkan benda itu tepat ke tengah bara yang sedang membakar lembaran terakhir.​Cangkang plastik di dalam komponen flashdisk itu meleleh, melepaskan asap tipis kelabu yang langsung terisap angin sore. Seluruh rekaman terkutuk, rasa takut yang membelenggunya berhari-hari, dan jaminan ancaman Devan lebur menjadi debu tak berharga di dalam tong itu.​Aira mengembuskan napas panjang yang gemetar, namun kali ini punggungnya tegak sempurna.​"Sudah habis," bisik Aira parau, suaranya mantap menembus kesunyian ruangan. "Tidak ada lagi yang tersisa."​Sarah menatap sisa abu

  • Main Belakang   Bab 96

    Hampir satu minggu Aira berada di kediaman ini, sering kali wanita itu tidak keluar kamar dan lebih memilih duduk diam di sisi jendela sambil menatap jalanan sepi di depannya. Aira terlalu takut untuk keluar kamar, rasa percayanya terkikis pada setiap orang.Rasa sesak itu hadir tanpa permisi, menghimpit rongga dada Aira hingga ia mencengkeram erat kusen kayu jendela.Setiap kali matanya menatap dedaunan yang bergoyang di halaman luar, bayangan Devan yang mengurungnya berputar di dalam kepalanya tanpa henti. Bahkan di malam hari, Aira sering kali mimpi buruk.Sentuhan paksa, obat penenang, dan aroma parfum cendana itu seolah masih menempel pekat di kulitnya, membuatnya merasa kotor setiap detik. ​Ketukan pelan di pintu kamar membuyarkan lamunan kelam itu.​"Aira? Aku bawakan sup ayam jagung hangat," suara Sarah terdengar lembut dari balik daun pintu yang terbuka sedikit.​Wanita berwajah ramah itu melangkah masuk membawa nampan kayu. Senyumnya teduh, namun sorot matanya tak bisa menye

  • Main Belakang   Bab 95

    Bau antiseptik tercium kuat saat mata Aira mulai terbuka. Kepalanya masih berdenyut hebat, matanya enggan terbuka. Namun, saat sapuan hangat meraba keningnya, ia dengan cepat membuka mata.Matanya menangkap sosok wanita cantik yang tersenyum ke arahnya. "Bangun juga, kamu sudah pingsan selama dua hari," ujar wanita itu, suaranya terdengar lembut di telinga Aira."Cih, suaramu sangat tidak cocok dengan prilakumu." Suara berat nan asing itu membuat kepala Aira menoleh, alisnya mengernyit saat memandangi dua orang yang tidak ia kenali sama sekali. Mata Aira menyapu sekelilingnya, tempat ini terasa asing baginya, kepalanya kembali berdenyut saat mengingat kejadian terakhir yang menimpanya."Jangan dipaksakan bangun. Kepalamu pasti masih sakit," cegah wanita itu lagi, sentuhannya terasa lembut di tangan Aira. Begitu menenangkan."Siapa ... kalian?" bisik Aira parau, tenggorokannya masih terasa kering bagai padang pasir. Jemarinya mencengkeram tepi selimut katun abu-abu yang membungkus tu

  • Main Belakang   Bab 94

    Tubuh Aira meringkuk di sudut ruangan, memeluk lututnya rapat-rapat. Bibirnya yang pucat bergetar pelan, sementara kulitnya terasa sepanas bara api. Keringat dingin membasahi pelipis dan helai rambutnya yang berantakan, sisa racun dan kelelahan fisik semalam berpadu menghantam daya tahan tubuhnya hingga ambruk.​Devan yang baru saja datang segera berlutut di depan wanita itu. Tangannya yang dingin terulur menyentuh kening Aira, membuat Aira refleks tersentak dan memundurkan kepala hingga membentur dinding marmer.​"Tubuhmu demam tinggi, Ai," ujar Devan dengan nada bicara yang kembali terdengar lembut, sebuah kelembutan beracun yang membuat bulu kuduk Aira meremang. "Aku sudah bilang, jangan keras kepala menolak makan siangmu."​"Jangan ... sentuh aku ..." bisik Aira parau, suaranya nyaris habis, tenggorokannya tercekat rasa haus yang menyiksa. "Menjauh!"​Devan menghela napas panjang, lalu menyodorkan sebutir pil putih dan segelas air mi

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status