Beranda / Romansa / Mainan Baru Tuan Montevista / 120: Harapan di Balik Gaun Spesial

Share

120: Harapan di Balik Gaun Spesial

Penulis: Ana_miauw
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-09 08:35:19

POV: Keisha

Dunia memang cepat berputar. Siang ini, sisa-sisa kemarahan dan isak tangis di kamar mandi tadi seolah menguap begitu saja, digantikan oleh suasana ruang makan yang jauh lebih hangat.

Mungkin benar kata orang, hormon kehamilan bisa mengubah singa betina menjadi kucing kecil dalam hitungan jam. Sekarang, aku justru duduk merapat di samping Axel, seolah tidak mau ada jarak satu senti pun di antara kami. Sungguh aneh, bukan?

“Lagi?” tanya Axel lembut sambil mengarahkan sendok berisi sup ayam jahe ke arah mulutku.

Aku mengangguk manja, menerima suapan itu dengan perasaan puas. Rasanya jauh lebih enak jika Axel yang menyuapiku. Entah kenapa, aku merasa seperti bayi yang benar-benar ingin dilayani olehnya hari ini.

Axel terkekeh pelan, lalu melirik ke arah Ellys yang sedang asyik dengan nugget pinguinnya. “Mommy manja ya, El? Makan saja maunya disuapi terus oleh Daddy,” goda Axel sambil mencubit kecil pipiku.

Ellys berhenti mengunyah, dia menopang dagunya dengan kedua tan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Mainan Baru Tuan Montevista    123: Semburat Sedih di Tengah Kemewahan

    POV: KeishaBegitu berat rasanya kelopak mataku saat kupaksakan diriku untuk bangun. Namun sentuhan lembut di pipiku dan suara bariton yang rendah terus memanggil namaku, memaksaku untuk kembali ke dunia nyata.“Bangun, Sayang. Ini sudah siang sekali. Kau melewatkan makan malam, jangan sampai kau melewatkan sarapan juga,” bisik Axel.Aku mengerang pelan, menarik selimut hingga menutupi hidung. “Masih mengantuk, Axel...”“Tidak bisa. Aku khawatir kondisimu drop. Kita harus mengejar asupan protein untuk bayi kita, dan kau tahu sendiri betapa sulitnya kau makan akhir-akhir ini,” bujuknya lagi, kini ia duduk di tepi ranjang dan menarik selimutku.Jujur saja, memasuki usia dua bulan ini, rasa mual dan pusingku bukannya membaik malah bertambah parah. Ditambah lagi, aku sedang berada di fase malas makan yang luar biasa. Baru membayangkan aroma makanan saja terkadang sudah membuat perutku bergejolak.“Ayolah, Nenek sudah membuatkan masakan yang enak untukmu,” Axel memberikan jurus terak

  • Mainan Baru Tuan Montevista    122: Restu yang Tersirat di Balik Kecerewetan Seorang Nenek

    POV: Axel MontevistaAku berdiri di ambang pintu ruang tengah, menyandarkan bahuku pada kusen kayu jati yang kokoh sembari memperhatikan pemandangan di depanku. Di sana, di atas karpet bulu yang tebal, Alexander dan Ellys duduk bersila dengan mata yang tak berkedip. Di depan mereka, Nenek sedang bercerita dengan gerakan tangan yang ekspresif, sesekali mengubah suaranya menjadi berat atau melengking demi menghidupkan karakter dalam dongengnya.Melihat Nenek ada di sini, di dalam rumahku, rasanya ada beban besar yang terangkat dari pundakku. Aku tahu dia masih marah. Aku tahu dia masih mendongkol padaku. Namun, saat tadi aku membawakan tas jinjingnya yang berat dan dia tidak menolaknya—meski dibarengi dengan gumaman “dasar sialan”—aku tahu bahwa pintu maaf itu sebenarnya sudah terbuka sedikit. Dan bagi wanita sekeras Nenek, tidak menolak bantuan adalah bentuk penerimaan yang paling nyata.“Baiklah, anak-anak,” aku melangkah mendekat untuk memecah konsentrasi mereka. Sebab ada hal y

  • Mainan Baru Tuan Montevista    121: Itu Namanya Keenakan, Bukan Kecelakaan!

    POV: KeishaSuasana meja makan yang tadinya hanya diisi oleh suara denting sendok dan candaan kecil keluarga kami, tiba-tiba terusik oleh keributan di depan pintu utama. Suara langkah kaki yang mantap diikuti dengan omelan khas yang sangat kukenal membuatku refleks menoleh.“Mana mereka?! Apa mereka pikir setelah tinggal di istana besar ini, mereka bisa melupakan wanita tua ini?!”Mataku membelalak. Itu suara Nenek!Belum sempat aku berdiri, sosok wanita tua dengan pakaian sederhana namun tetap terlihat gagah itu muncul di ambang pintu ruang makan. Ellys, yang memang paling dekat dengannya selama kami di desa, langsung melompat dari kursinya.“Neneeeek!” Ellys berlari secepat kilat, menabrak kaki wanita tua itu dan memeluknya erat. “Eyis kangen! Nenek kenapa lama sekali datangnya?”Wanita tua itu menunduk, wajahnya yang tadi sangar seketika melunak saat menatap cucu kesayangannya. “Oh, cucu pinguinku... kau sudah tambah bulat saja di sini, ya?” Nenek membalas pelukan Ellys, menc

  • Mainan Baru Tuan Montevista    120: Harapan di Balik Gaun Spesial

    POV: KeishaDunia memang cepat berputar. Siang ini, sisa-sisa kemarahan dan isak tangis di kamar mandi tadi seolah menguap begitu saja, digantikan oleh suasana ruang makan yang jauh lebih hangat. Mungkin benar kata orang, hormon kehamilan bisa mengubah singa betina menjadi kucing kecil dalam hitungan jam. Sekarang, aku justru duduk merapat di samping Axel, seolah tidak mau ada jarak satu senti pun di antara kami. Sungguh aneh, bukan?“Lagi?” tanya Axel lembut sambil mengarahkan sendok berisi sup ayam jahe ke arah mulutku.Aku mengangguk manja, menerima suapan itu dengan perasaan puas. Rasanya jauh lebih enak jika Axel yang menyuapiku. Entah kenapa, aku merasa seperti bayi yang benar-benar ingin dilayani olehnya hari ini.Axel terkekeh pelan, lalu melirik ke arah Ellys yang sedang asyik dengan nugget pinguinnya. “Mommy manja ya, El? Makan saja maunya disuapi terus oleh Daddy,” goda Axel sambil mencubit kecil pipiku.Ellys berhenti mengunyah, dia menopang dagunya dengan kedua tan

  • Mainan Baru Tuan Montevista    119: Bukan Tentang Hadiah, Tapi Tentang Hadirmu

    POV: KeishaSiang itu, matahari kota bersinar terik menembus jendela kamar, namun hatiku masih sedingin es. Aku sedang duduk di tepi ranjang, mengatur napas yang sesak di dada yang tak kunjung reda.Cklek.Pintu kamar terbuka. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang masuk. Aroma parfum maskulin yang bercampur dengan bau sabun segar itu sudah sangat kukenal. Axel tidak lagi mengetuk; dia masuk dengan wajah yang terlihat sangat lelah namun penuh determinasi.“Keluar, Axel. Aku sedang ingin sendiri,” ucapku tanpa menatapnya.Bukannya keluar, dia justru melangkah mendekat. Di tangannya, dia menjinjing sebuah kotak besar dengan logo merek desainer ternama. Dia meletakkannya di atas meja rias dengan pelan.“Ini untukmu. Pakailah hari Minggu nanti. Aku sudah mengosongkan jadwal untuk mengajakmu ke suatu tempat yang spesial,” ucapnya membujukku.Aku melirik kotak itu sekilas, lalu mendengus sinis. “Aku tidak butuh itu. Bawa saja pergi. Berikan pada sekretarismu atau siapa pun yan

  • Mainan Baru Tuan Montevista    118: Perang Dingin

    POV: KeishaHormon kehamilan ini benar-benar membuatku menjadi sosok yang berbeda. Rasa sebal yang menumpuk selama dua hari karena pengabaian Axel meledak menjadi kemarahan yang dingin dan keras kepala. Aku tidak butuh alasan tentang proyek Singapura, aku tidak butuh penjelasan tentang rapat darurat. Yang aku butuhkan adalah kehadirannya di sisiku saat aku merasa duniaku sedang tidak baik-baik saja karena kewalahan yang kualami, lantaran kehamilan muda ini yang membuat seluruh hariku cukup tersiksa.Malam itu, saat kudengar suara langkah kakinya yang berat di koridor menuju kamar kami, aku segera memutar kunci pintu. Cklek. Suara kunci itu terasa sangat memuaskan di telingaku.Tok! Tok! Tok!“Keisha? Kau di dalam? Kenapa pintunya dikunci?” suara Axel terdengar rendah, ada nada kelelahan sekaligus kebingungan di sana.Aku tidak menjawab. Aku merebahkan diri di atas ranjang yang luas, menarik selimut hingga ke dada, dan menatap langit-langit kamar dengan mata yang panas.“Keisha

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status