로그인Arfan Khalid terpaksa menikah dengan seorang gadis bernama Agnia Fahira yang badannya gendut sehingga penampilannya kurang menarik dan tampak tidak cantik demi wasiat almarhum ayahnya yang akan memberikan warisan jika memenuhinya. Pernikahan tetap terjadi, tapi Arfan memutuskan pergi untuk bekerja di perusahaan keluarga yang ada di luar kota tanpa berpamitan dengan siapa pun. Setelah sekian lama, Arfan tak sengaja bertemu perempuan cantik yang badannya ideal hingga ia jatuh cinta. Ternyata perempuan itu adalah istrinya sendiri yang selama ini diabaikan.
더 보기"Kami tidak menemukan sesuatu yang janggal dalam peristiwa ini, ini murni adalah kasus bunuh diri." ujar Azka dalam konferensi pers yang diadakan hari ini di depan Hall of Cyber Police.
Alice yang sedang duduk santai di apartemennya itu sambil mendengarkan siaran berita lalu mematikan TV tersebut dan bergegas menuju Cyber Police, sebuah agensi Kepolisian Pemerintah Kota Grazia yang menangani semua kasus yang berkaitan dengan kematian yang tidak wajar.
Sesampainya di gedung itu Alice lalu menuju ruangan kerja pimpinan Cyber Police.
"Selamat siang Pak, perkenalkan saya Dokter Alice Valencia.." ujar Alice seketika saat ia memasuki ruangan kerja pria yang penuh wibawa itu.
"Selamat siang dokter, perkenalkan saya Azka Camerlo kepala divisi Cyber Police." jawab lelaki tampan itu dengan senyum manisnya sembari memberikan tangan kanannya untuk berjabat dengan wanita cantik yang ada di hadapannya itu. Alice pun mengulurkan tangannya menjabat tangan pria itu.
"Keperluan apa yang membawa anda kesini, dokter?" tanya Pria berseragam itu.
"Saya adalah dokter jaga di Instalasi Gawat Darurat RS Elinton, saya dokter yang memeriksa pasien yang anak buah anda bawa semalam sudah dalam kondisi meninggal dunia." kata dokter itu tenang.
"Ow, jadi anda adalah dokter yang memeriksa mendiang Caroline Williams. Senang bisa berkenalan dengan anda dokter." Kata kepala Cyber Police itu sambil sedikit membungkukkan tubuhnya tanda hormat pada dokter yang ada di hadapannya.
"Merupakan suatu kehormatan bisa bertemu secara langsung dengan anda, dokter. Divisi Cyber Police merupakan Divisi yang menangani semua Kasus Kematian yang tidak wajar di kota Grazia. Dan setelah mengusut kasus semalam kami menemukan bahwa Mendiang Caroline Williams meninggal dunia karena bunuh diri dan keluarga korban meminta untuk kasus ini ditutup." kata Pria tampan itu dengan senyum manisnya.
Alice membalas senyum manis kepala divisi Cyber itu dengan senyum termanisnya juga dan ia siap untuk menyanggah kesimpulan yang dibuat polisi tersebut.
"Pak polisi, justru itu saya datang kemari untuk menyatakan keberatan saya dengan apa yang telah bapak katakan saat konferensi pers tadi. Saya ingin mengatakan bahwa kasus yang bapak katakan di konferensi pers tersebut adalah kasus bunuh diri, itu sebenarnya tidak benar, Pak. Banyak terjadi kejanggalan pada kasus tersebut. Itu jelas kasus pembunuhan, bukan kasus bunuh diri." kata dokter tersebut dengan tegas.
"Kami sudah mengklarifikasi masalah ini dengan keluarga besarnya, anda harus tahu kalau gadis itu adalah seorang model terkenal sebelumnya, lalu belakangan ini sudah tidak ada lagi agensi yang mau memakainya. Gadis tersebut menjadi depresi dan menggunakan obat-obat untuk penenang. Dia lalu tak kuat dengan semuanya lalu mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri." kata kepala Cyber kemudian.
"Tapi Pak..."
"Tidak ada kata tapi dokter, kasus ini sudah ditutup dan ini resmi permintaan dari keluarganya". kata Kepala Cyber lagi dengan tegas namun masih dengan senyum manisnya.
"Tidakkah bapak harusnya mulai mencari bukti yang kuat? Bukankah Bapak juga harus mempertimbangkan hasil visum dari saya selaku dokter yang memeriksa pasien tersebut." Sanggah Alice kemudian.
"Cukup dokter Alice, kami sudah menutup kasus ini. Masih banyak kasus lainnya yang harus kami tangani. Tolong mengertilah dokter." Jawab Azka kemudian dengan tegasnya sambil mengatupkan kedua tangannya dan memohon agar Alice keluar dari ruangan tersebut dengan bahasa isyarat matanya menunjuk kearah pintu.
"Saya harap anda dapat mengerti dokter, terimakasih untuk kunjungan anda." Ujar Azka kemudian menutup pembicaraan.
...
Alice keluar dari ruangan itu dengan hati yang begitu kesal. Ia sudah memeriksanya secara detail, dan dia yakin itu adalah kasus pembunuhan.
Gadis itu dibawa kemarin malam ke Rumah Sakit Elinton, sebuah Rumah Sakit swasta tempat Alice bekerja sudah dalam kondisi tidak bernafas, nadi tidak teraba. Terdapat luka lilitan pada lehernya, mulutnya berbusa. Dari wawancara dengan polisi yang mengantarnya didapati data gadis itu sudah ditemukan tak bernyawa dengan lehernya terlilit tali yang terpasang di pintu kamar mandi di kamarnya.
Wawancara dengan keluarga, ibunya mengatakan anaknya belakangan menjadi depresi karena sudah tidak ada perusahaan yang mau bekerjasama dengan dirinya. Anaknya lalu menggunakan obat-obat penenang.
Sekilas ini seperti sebuah kasus bunuh diri.
Namun, Alice dengan sedikit rasa penasaran mulai memvisum jasad tersebut. Alice mendapati ada bercak darah pada vagina gadis itu dah masih ada sperma yang tertinggal pada liang vaginanya. Juga saat dilihat bekas lilitan tali pada leher gadis itu ada seperti dua bekas. Bekas pertama yang terlihat jelas membentuk huruf V pada leher gadis itu, ya ini adalah bekas tali gantungan yang tergantung di pintu kamar mandi. Sedangkan bekas kedua yang agak samar melilit dengan tali yang agak lebar melingkar pada leher gadis itu dari leher depan hingga leher belakang. Alice menduga ini adalah penyebab kematiannya yang sebenarnya. Juga terdapat bekas kuku pada rahang gadis itu.
Alice begitu kecewa dan gusar hingga ia tak fokus pada segerombolan polisi yang berjalan ke arahnya. Dan Akhirnya terjadilah tabrakan itu. Brukkk....
"Maaf..maaf.." kata Alice kemudian.
Pria yang di tabrak hanya tersenyum simpul lalu menjawab "Iya, maaf juga." Lalu kembali melangkah bersama teman-temannya.
Alice akan kembali melanjutkan perjalanannya saat akhirnya dia sadar bahwa kelima polisi tersebut adalah polisi-polisi yang membawa mayat gadis itu kemarin malam.
"Tunggu.." teriak Alice kemudian.
"Kalian berlima masih mengenal saya kan??" kata Alice sambil menatap mata kelima pria itu secara bergantian.
"Dokter.." jawab seseorang dari mereka.
"Kamu masih ingat saya kan? Syukurlah" seru Alice dengan senangnya sampai ia tak sadar kalau dia merangkul pria itu.
"Ehem. Maaf... Saya terkadang memiliki sikap yang seperti ini jika terlalu bahagia" Alice lalu menjauh selangkah dari pria itu dan mulai manjaga sikapnya.
"Apa yang membawa anda kemari dokter?" Tanya pria yang tadi bertabrakan dengan Alice.
"Saya kemari untuk menyatakan bahwa...."
"CYBER FIVE...." tiba-tiba terdengar teriakan dari depan pintu ruang kepala Cyber Police.
tanpa aba-aba kelimanya langsung dalam posisi siap langsung mengatakan "SIAP KOMANDAN"..
"LARI.." teriak kepala Cyber dan mereka berlima pun langsung pergi dan meninggalkan dokter Alice yang belum sempat menyatakan maksud kedatangannya.
...
Catatan Penulis:
Haii dear, salam kenal untuk kalian semua yang mau singgah untuk membaca karya ini. Selamat membaca ya dan semoga novel ini bisa menemani hari anda...
Oia, jangan mencari di Peta atau jangan tanyakan Mr.Google dimana letak Kota Grazia, karena kota Grazia adalah kota fiktif yang diciptakan penulis.. Bukan hanya kota, namun ada beberapa tempat dan organisasi yang diciptakan sendiri oleh penulis..
Akhirnya, selamat membaca, dan semoga anda semua senang...
Sehat dan berbahagia selalu...
Vee_Ernawaty
36POV AgniTatapanku bertemu dengan seseorang yang mengalami kecelakaan, bukan sekadar membuat terkejut, tetapi seolah disengat oleh petir. Aku seketika gelisah dan cemas hendak keluar. Di luar mobil sudah riuh pula dengan suara orang yang terkejut atas kecelakaan yang terjadi.“Ni … mau turun?” tanya Mas Ghani.“Iya … dia Mas Arfan,” jawabku tanpa menoleh.“Apa? Arfan?”Pintu mobil terbuka. Aku cepat-cepat menurunkan kaki di jalan.Setiap tarikan napasku, seolah menggaungkan pikiran buruk, merayap di sisi hatiku. Kakiku melangkah, tetapi terasa berat. Waktu terasa melambat dengan udara yang menyesakkan dada.“Agni … Agni … Agni ….”Nama itu—namaku sendiri—yang baru diucapkan oleh Mas Arfan. Bagaimana mungkin di antara rasa sakit, antara hidup dan mati, namaku yang terucap dari lisannya? Ada rasa haru, tetapi juga menyakitkan serta ketakutan yang mencekam.Suara bising di sekitar—teriakan orang-orang, hingga deru mesin yang menyala—mendadak senyap, tertutup oleh detak jantungku sendi
35POV AgniSudah empat hari, Mas Arfan memberikan kiriman makanan, juga bunga. Dia mengirimkan kata-kata perhatian lewat WA. Aku sudah tak memblokirnya lagi gara-gara waktu itu. Pesan yang dikirimkan akhir-akhir ini tidak membuatku terganggu. Mungkin dia sudah belajar dari masa lalu.Aku melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan. Waktu istirahat sudah hampir habis, tetapi perutku belum diisi apa pun. Hanya air putih kemasan gelas.“Harusnya, aku nggak menunggu kiriman makanan itu.”Untuk hari kelima ini, sepertinya tidak ada kiriman hadiah dari Mas Arfan. Konyolnya, karena mungkin sudah menjadi kebiasaan, aku jadi mengharapkannya.“Dahlah … mending cari makan,” ketusku.Perasaan kecewa seakan menyusup masuk sampai ke hati terdalam. Betapa tidak, aku mengharapkan, tetapi malah tak ada tanda-tanda kehadirannya seperti biasanya.“Nggak usah kecewa, nggak usah kesal. Kenapa aku harus mengharapkannya, sih!” gerutuku sambil melangkah keluar.Mas Ghani tidak datang ke sini. Sepertiny
34Layar ponsel, aku pandangi. Di sana tertulis berbagai macam sesuatu yang disuka dan tak sukai Agni. Aku mendapatkannya dari Mbak Olif.“Kalau sudah sampai begini, aku tambah percaya sama kamu, Ar. Perjuangkan pernikahan kalian. Kejar Agni sampai dapat.”Begitulah yang dikatakan oleh Mbak Olif. Kalimat yang semakin membuat jiwaku semakin membara. Jiwa untuk merengkuh seutuhnya seorang Agni.“Nggak nyangka, seminggu lagi, Agni akan ulang tahun. Pas di saat keputusan itu akan diberikan.”Seketika itu, otakku berpikir keras. Aku akan melakukan yang terbaik agar selama seminggu waktu yang diberikan, akan mendapatkan hasil yang memuaskan. Pernikahan kami akan baik-baik saja, itulah yang aku harapkan.Aku beralih pada aplikasi warna hijau. Mumpung blokiranku sudah dibuka, aku akan mengirimkan pesan untuknya. Tentu sekarang lebih berhati-hati.Tentang motor, Rehan mengatar saat aku hendak pulang. Ia kelihatan bingung. Karena motor itu milik manager yang kerja di restoran.“Manager itu istr
33“Aku mohon … beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya,” pintaku lagi masih dengan posisi yang sama.“Berdiri!” bisik Agni, bicaranya sangat ditekan.“Aku akan berdiri, tapi tolong … ikut aku ke mobil. Kita bicara di sana.”Aku mendengar decak kesal dari mulutnya lagi.“Iya! Iya! Cepat berdiri!”Kali ini, aku mematuhinya.“Di mana mobilmu?” tanyanya, mungkin sudah terlalu tak nyaman menjadi perhatian orang.“Di sana.” Aku menujuk ke arah mobilku.“Cepat!”Agni berjalan lebih dulu. Wajahnya ditekuk.“Terima kasih dan maaf sekali lagi,” ucapku sambil mengekor mengimbangi langkahnya.Agni tak menjawabku. Dia tetap berjalan pada tujuannya.Aku bergegas mempercepat langkah untuk membukakan pintu untuk Agni.Agni berdecak lagi sambil melihatku sinis, tetapi ia masuk ke dalam mobil.Senyumanku tersimpul tipis sambil melangkah ke sisi yang lain. Buket bunga tetap dibawa. Sebelum masuk mobil, aku mengatur napas. Tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya.“Dalam seminggu ini, berkas unt
32“Aku udah gila! Kerjaanku nggak fokus. Aku malah nyari hadiah buat Agni dan sekarang, aku menunggunya pulang kerja begini. Hebat … cinta bikin buta segalanya. Bikin kacau jadwalku. Tapi, aku nggak bisa mencegahnya. Kacau bener. Kalau udah begini, aku harus dapetin Agni biar kegilaanku diobati.”
31“Jangan mengharapkan apa pun lagi darinya? Itu juga mauku kalau bisa, tapi sejauh ini, hatiku nggak bisa melupakannya begitu saja. Aku begini juga gara-gara melihatnya sebagai manager waktu itu. Apa perasaanku ini salah? Kenyataannya dia, kan, memang masih istriku. Manager yang bikin aku terpana
30“Loh! Arfan?” ucap Mbak Olif saat aku keluar dari mobil.“Iya, Mbak,” balasku sambil melangkah mendekat.“Kok, kamu bisa bersama Agni?”“Bisa, Mbak. Aku diundang juga di pesta ulang tahun itu.”Aku meminta bersalaman padanya.“Wah … bisa gitu, ya? Takdir kalian unik banget.”“Biasa aja kali!” ke
29“Aku akan pesankan taksi online buatmu saja, ya,” ujar Ghani lagi, ia mulai fokus pada ponsel. Meski wajahnya terlihat gelisah.“Lebih baik, Anda langsung berangkat ke rumah sakit saja, Pak Ghani. Mungkin Anda sudah sangat ditunggu di sana. Soal Mbak Agnia, aku yang akan antar sekalian bertanggu
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
리뷰