LOGINArfan Khalid terpaksa menikah dengan seorang gadis bernama Agnia Fahira yang badannya gendut sehingga penampilannya kurang menarik dan tampak tidak cantik demi wasiat almarhum ayahnya yang akan memberikan warisan jika memenuhinya. Pernikahan tetap terjadi, tapi Arfan memutuskan pergi untuk bekerja di perusahaan keluarga yang ada di luar kota tanpa berpamitan dengan siapa pun. Setelah sekian lama, Arfan tak sengaja bertemu perempuan cantik yang badannya ideal hingga ia jatuh cinta. Ternyata perempuan itu adalah istrinya sendiri yang selama ini diabaikan.
View More36POV AgniTatapanku bertemu dengan seseorang yang mengalami kecelakaan, bukan sekadar membuat terkejut, tetapi seolah disengat oleh petir. Aku seketika gelisah dan cemas hendak keluar. Di luar mobil sudah riuh pula dengan suara orang yang terkejut atas kecelakaan yang terjadi.“Ni … mau turun?” tanya Mas Ghani.“Iya … dia Mas Arfan,” jawabku tanpa menoleh.“Apa? Arfan?”Pintu mobil terbuka. Aku cepat-cepat menurunkan kaki di jalan.Setiap tarikan napasku, seolah menggaungkan pikiran buruk, merayap di sisi hatiku. Kakiku melangkah, tetapi terasa berat. Waktu terasa melambat dengan udara yang menyesakkan dada.“Agni … Agni … Agni ….”Nama itu—namaku sendiri—yang baru diucapkan oleh Mas Arfan. Bagaimana mungkin di antara rasa sakit, antara hidup dan mati, namaku yang terucap dari lisannya? Ada rasa haru, tetapi juga menyakitkan serta ketakutan yang mencekam.Suara bising di sekitar—teriakan orang-orang, hingga deru mesin yang menyala—mendadak senyap, tertutup oleh detak jantungku sendi
35POV AgniSudah empat hari, Mas Arfan memberikan kiriman makanan, juga bunga. Dia mengirimkan kata-kata perhatian lewat WA. Aku sudah tak memblokirnya lagi gara-gara waktu itu. Pesan yang dikirimkan akhir-akhir ini tidak membuatku terganggu. Mungkin dia sudah belajar dari masa lalu.Aku melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan. Waktu istirahat sudah hampir habis, tetapi perutku belum diisi apa pun. Hanya air putih kemasan gelas.“Harusnya, aku nggak menunggu kiriman makanan itu.”Untuk hari kelima ini, sepertinya tidak ada kiriman hadiah dari Mas Arfan. Konyolnya, karena mungkin sudah menjadi kebiasaan, aku jadi mengharapkannya.“Dahlah … mending cari makan,” ketusku.Perasaan kecewa seakan menyusup masuk sampai ke hati terdalam. Betapa tidak, aku mengharapkan, tetapi malah tak ada tanda-tanda kehadirannya seperti biasanya.“Nggak usah kecewa, nggak usah kesal. Kenapa aku harus mengharapkannya, sih!” gerutuku sambil melangkah keluar.Mas Ghani tidak datang ke sini. Sepertiny
34Layar ponsel, aku pandangi. Di sana tertulis berbagai macam sesuatu yang disuka dan tak sukai Agni. Aku mendapatkannya dari Mbak Olif.“Kalau sudah sampai begini, aku tambah percaya sama kamu, Ar. Perjuangkan pernikahan kalian. Kejar Agni sampai dapat.”Begitulah yang dikatakan oleh Mbak Olif. Kalimat yang semakin membuat jiwaku semakin membara. Jiwa untuk merengkuh seutuhnya seorang Agni.“Nggak nyangka, seminggu lagi, Agni akan ulang tahun. Pas di saat keputusan itu akan diberikan.”Seketika itu, otakku berpikir keras. Aku akan melakukan yang terbaik agar selama seminggu waktu yang diberikan, akan mendapatkan hasil yang memuaskan. Pernikahan kami akan baik-baik saja, itulah yang aku harapkan.Aku beralih pada aplikasi warna hijau. Mumpung blokiranku sudah dibuka, aku akan mengirimkan pesan untuknya. Tentu sekarang lebih berhati-hati.Tentang motor, Rehan mengatar saat aku hendak pulang. Ia kelihatan bingung. Karena motor itu milik manager yang kerja di restoran.“Manager itu istr
33“Aku mohon … beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya,” pintaku lagi masih dengan posisi yang sama.“Berdiri!” bisik Agni, bicaranya sangat ditekan.“Aku akan berdiri, tapi tolong … ikut aku ke mobil. Kita bicara di sana.”Aku mendengar decak kesal dari mulutnya lagi.“Iya! Iya! Cepat berdiri!”Kali ini, aku mematuhinya.“Di mana mobilmu?” tanyanya, mungkin sudah terlalu tak nyaman menjadi perhatian orang.“Di sana.” Aku menujuk ke arah mobilku.“Cepat!”Agni berjalan lebih dulu. Wajahnya ditekuk.“Terima kasih dan maaf sekali lagi,” ucapku sambil mengekor mengimbangi langkahnya.Agni tak menjawabku. Dia tetap berjalan pada tujuannya.Aku bergegas mempercepat langkah untuk membukakan pintu untuk Agni.Agni berdecak lagi sambil melihatku sinis, tetapi ia masuk ke dalam mobil.Senyumanku tersimpul tipis sambil melangkah ke sisi yang lain. Buket bunga tetap dibawa. Sebelum masuk mobil, aku mengatur napas. Tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya.“Dalam seminggu ini, berkas unt
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews