Share

Bab 5.Makhluk Aneh

Author: Ai nien
last update Last Updated: 2022-03-14 12:07:55

"Tok ... tok ... tok ... " suara pintu yang diketuk oleh Han.

"Nona Roti, bangunlah sebentar! Maaf kalau mengganggu tapi ini sangat darurat," katanya panik.

"Tok ... tok ... tok ..."

"Nona Roti!"

Suara berisik Han berhasil membangunkan Evelyn dari tidur nyenyaknya.

Dengan rambut berantakan dan tentunya dengan ekspresi marah, ia membuka pintu kamar.

"Sudah kubilang jangan mengganggu kenapa malah ribut-ribut tengah malam?"

"Tunda marahmu sebentar saja, Nona! Sesuatu terjadi pada Si bayi. Tolong bantu saya!"

Dia menarik tangan Evelyn menuju kamarnya.

"Owek ... owek ... "

"Lihatlah! dia belum berhenti menangis sedari tadi. Bahkan aku sudah membuatkan susu untuknya malah dia seperti menolak."

Mereka melangkah bersama mendekati si bayi.

Evelyn mengecek popoknya, "Hoek!"

Secara reflek, dia menutup hidung setelah melihat kotoran didalam popok bayi itu.

"Dia buang air besar. Cepat ganti popoknya!"

"Saya tidak tahu caranya. Saya belum pernah melakukan hal itu"

"Kau pikir aku pernah? Aku juga belum punya anak!"

"Tapi, setidaknya Nona sudah hidup sebagai manusia lebih lama."

"Apa kau merasa kau baru lahir?"

 

Bayi tersebut terus menangis di tengah keributan mereka.

Pada akhirnya, Evelyn pun mengalah dan mencoba mengganti popok dengan segenap rasa jijik.

Memegang popok di antara ujung jari telunjuk dan ibu jari. Lalu, melemparkannya ke arah Han, "Buang ke tempat sampah!"

Evelyn menahan nafas selama mengelap pantat bayi menggunakan tisu basah sampai akhirnya ia berhasil memakaikan popok baru.

"Fyuhh ... " Evelyn membuang nafas lega.

Namun baru sebentar suasana tenang, tiba-tiba, "Pruuutt ... "

Han buang angin!

Han yang sebelumnya belum pernah mengalami itu, merasa panik. Sama seperti ketika ia merasakan lapar pertama kali.

"Perutku terasa sangat sakit. Apa yang terjadi padaku?"

"Kau juga mau BAB? Cepat ke toilet, Bodoh!" kesal Evelyn.

"Bagaimana caranya?  Apa kau juga yang akan membersihkanku?"

"Kau gila? Sini cepat!" Menyeret tangan Han menuju toilet lalu memperagakan bagaimana cara BAB.

"Pertama, buka celanamu. Lalu duduk di atas sini. Setelah selesai, tekan tombol ini untuk menyiram kotoranmu. Bersihkan dirimu dengan tisu ini! Paham?"

"Paham," Dengan polos, dia hendak melepas celana di depan Evelyn.

"Eh eh eh!" cegah Evelyn, "aku keluar dulu baru kau boleh melepasnya."

"Makhluk apa dia sebenarnya?" kata Evelyn sambil mendengus kesal setelah keluar dari toilet.

Merasa lelah dan mengantuk, Evelyn tak sadar terlelap di samping bayi itu.

Sementara Han yang baru saja keluar dari toilet pun, ikut tertidur begitu saja.

Mereka terlihat seperti keluarga bahagia hingga pagi tiba.

"Eeek ... eeek ... eeek ... " rengekan bayi membangunkan Evelyn dari tidurnya.

"Ctak!" Evelyn menyentil kening Han yang masih tertidur pulas.

"Awh!" Han mengusap kening kesakitan

"Bayimu bangun. Buatkan susu untuknya!"

"Baiklah!"

Sementara Han membuat susu, Evelyn memangku bayi itu dan sesekali menciuminya, "Mmuah! Kau laki-laki tapi kau sangat cantik dan menggemaskan.

"Nona, kau terlihat sangat menyayanginya," ucap Han yang baru saja datang membawakan susu.

"Siapa namanya?" tanya Evelyn.

Han menggeleng, "Bagaimana jika Nona yang berikan nama?"

"Siapa namamu? Masukkan saja margamu ke dalam namanya."

"Nama saya Han. Saya tidak memiliki marga."

"Kau itu sebenarnya siapa? Kelakuanmu sangat aneh. Asal-usulmu juga tidak jelas."

"Sebenarnya, saya tidak boleh meceritakan siapa diri saya sembarangan. Tapi, karena saya mempercayai Nona, saya akan menceritakan dengan jujur agar Nona tidak bingung. Nona harus berjanji tidak boleh menceritakan ke siapa pun, ya?"

"Iya, aku janji."

"Jadi sebenarnya saya adalah malaikat yang ... "

Belum selesai Han berbicara, Evelyn sudah memotong karena menganggap Han selalu mengada-ngada, "Sudah-sudah kau adalah pria aneh. Mendengar ceritamu hanya akan membuang-buang waktu."

"Bayi ini kuberi nama Hwang Hyun Ki. Dia ikut marga keluarga besar kakekku."

"Terdengar bagus."

"Tentu! Oh ya, selama kau numpang di tempatku kau tidak boleh enak-enakan saja. Kau harus membuatkan sarapan untukku, makan malam juga membereskan rumah ini setiap hari."

"Pasti akan saya kerjakan, Nona. Tapi, tolong ajari aku sekali saja karena saya belum pernah melakukannya."

"Oke, hari ini aku tidak akan pergi ke toko untuk mengajarimu."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Malaikat Dihukum Jadi Babysitter   BAB 47.akhir sebuah kisah

    Segelintir air mata meluncur begitu saja , Han dapat merasakan rasa sakit yang diterima orang tua Stefan. Karena pada dasarnya yang ditinggalkan pasti lebih menderita daripada yang meninggalkan. Anak sekecil itu sudah pasti masuk surga tanpa perhitungan amal. Han kemudian melompati video sampai di bagian Stefan memasuki masa reinkarnasi. Ternyata tak semua jiwa mampu dan bersedia untuk terlahir kembali. Rasa trauma besar yang dia dapat dari kehidupan masa lalu, membuat anak itu memilih menjadi makhluk abadi sampai dunia berakhir. Dia bahkan memilih wujud rupa yang jauh berbeda dari rupa kehidupan sebelumnya. Sama seperti saat jiwa melewati gerbang reinkarnasi, jiwa yang masuk ke dalam sebuah ruang cahaya untuk merubahnya menjadi makhluk abadi, membuatnya menghapus bersih ingatan kehidupan masa lalu tak tersisa. Termasuk melupakan alasannya ingin menjadi sosok malaikat. Hanya larangan dan aturan yang sebelumnya dia sepakati yang selamanya diingat. Salah satunya ialah larangan menj

  • Malaikat Dihukum Jadi Babysitter   BAB 46.Monster

    Akibat mimpi buruk yang hadir dalam tidurnya beberapa hari lalu, Han mendatangi kantor pusat dukungan surga. Ia menduga sosok Stevan yang ada di mimpinya adalah seorang anak kecil yang kemungkinan di bunuh. Sudah pasti anak kecil tak berdosa yang mati itu masuk surga, jadi dia menemui resepsionis surga di sana. "Permisi! Saya mau bertanya, Apa di sini ada penduduk Surga bernama Stevan Franklin kelahiran 1995 di Oxford?" Resepsionis wanita itu segera mencari nama yang disebutkan oleh Han dalam data komputernya, "Maaf sepertinya tidak ada nama itu di sini." "Apa yang terjadi padanya jika datanya tidak ada di sini?" "Jika memang sudah mati dari kehidupan yang itu, mungkin dia ada di neraka atau sudah bereinkarnasi kembali." "Apa kau tau cara mengetahui di mana jiwanya sekarang?" "Sebenarnya ini rahasia. Tapi Kau sangat sopan dan aku suka itu. Jadi, kuberi alamat web rahasia ini." Menyodorkan secuil kertas bertuliskan 'humanhistory.ko' "Saat kau masukkan nama, tempat dan ta

  • Malaikat Dihukum Jadi Babysitter   BAB 45. Pertemuan yang berharga

    Semenjak hari ia berpisah dengan malaikat yang dicintainya, Evelyn memutuskan untuk kembali tinggal bersama neneknya dengan harapan bisa segera melupakan kenangan-kenangan bersama di apartemen kecil miliknya. Jika masih di sana, sudah pasti akan sulit untuk menghapus sosok Han dari ingatannya. Siang itu, neneknya harus pergi ke acara pemakaman salah satu kerabatnya. Dia diminta untuk menjaga keponakannya sebentar. Bukannya mengajaknya bermain, ia justru hanya duduk diam melamun dan membiarkan balita itu bermain sendiri dengan mainannya yang berserakan di lantai. Bahkan ia tidak merespon saat Hyunki sesekali bicara padanya. "Bibi macam apa yang mengabaikan ponakannya bermain sendiri?" Gadis itu sangat terkejut mendengar suara tepat di telinganya. Lebih terkejut lagi ia melihat Han berada di sampingnya. "Saya kira kau sangat keibuan dan menyukai anak kecil." "Sejak kapan kau disini?" tanyanya sebelum sosok Han menghilang dari penglihatannya. "Kemana kau?" Memijat keningnya "Sial. A

  • Malaikat Dihukum Jadi Babysitter   BAB 44. mimpi buruk

    "Jadi bayi ini sebenarnya anak James? kag bisa sih?" Wanita paruh baya itu sangat kebingungan saat James dan Evelyn memberi tahu tentang Hyunki. Saat ini mereka sedang duduk mengobrol di sofa ruang keluarga. Sambil memangku cicitnya dia ingin mendengar penjelasan yang lebih detail. "Kemarin-kemarin dia anak Evelyn dengan pria tampan itu. tiba-tiba hari ini menjadi anak James. Sebenarnya apa yang terjadi?" "Sebenarnya kemarin aku yang berbohong, Nek. Aku menyewa bayi ini dan meminta pada teman priaku itu menjadi pasanganku untuk menghindari perjodohan." tuduhan James yang kemarin, dia jadikan sebagai seolah alasan benar saat ini. "Dan tanpa kami duga, ternyata ibu bayi ini adalah mantan pacar Kak James dan bayi ini memang anaknya. Aku juga baru tahu saat aku iseng bertanya siapa ayahnya pada ibu anak ini." "Lalu sekarang dimana ibu kandungnya itu?" "E ..." sekejap dia merubah ekspresinya menjadi menyedihkan. "Dia meninggal beberapa hari lalu karena penyakit yang ia derita. Menden

  • Malaikat Dihukum Jadi Babysitter   BAB 43.bPerpisahan

    Sementara Choi Ae Ra setiba di Rumah sakit jiwa dari pertemuannya dengan Han tadi mendapati Kang Areum berwajah retak dan matanya melotot sedang mencekik leher James dan melambungkan tubuhnya dengan satu tangan. "Aak ... aak ... uhuk! uhuk!" Pria itu napasnya terasa amat sesak hingga terbatuk-batuk. "Hei hentikan! Turunkan dia sekarang!" Kedatangan Ae Ra dan perintahnya membuat roh itu menoleh namun genggamannya tak mengendur dalam mencekik James. "Mengapa aku harus melepaskannya? Aku ingin mengakhiri hidupnya sekarang juga." tersenyum seram. "Jika dia mati, lalu siapa yang akan merawat anakmu? Malaikat itu harus segera meninggalkan bumi." "Orang ini tidak terlihat seperti mau bertanggung jawab merawatnya." "Dia mau. Dia mau jika sudah tahu semua kebenarannya." "Gubrak!" suara tubuh James terbanting mengenai kaki ranjang tempat tidurnya. ***** Keesokan harinya sekitar pukul 16.00 sore hari Han sudah berada diatas atap bangunan rumah sakit jiwa itu lebih dulu bersama E

  • Malaikat Dihukum Jadi Babysitter   BAB 42. Makhluk taat aturan

    "Jatuh cinta?" Han terus memegang dadanya sepanjang perjalanan naik taksi sepulang dari pertemuannya dengan Ae Ra dan ketua Joon tadi. Otaknya pun tak berhenti memikirkan ucapan dari seniornya. Pertanyaan bagai daun kering gugur berserakan di kepalanya membuat tak terasa saat ini dia sudah berada tepat di depan pintu kamarnya. "Klek!" dibalik pintu yang baru saja terbuka, terpampang wajah kecil dengan bola mata biru bertemu dengan bola mata cokelat tua milik malaikat tampan itu. "Bayimu tadi menangis, aku jadi terpaksa menenangkannya. Merepotkan sekali." sedikit menyenggol tubuh Han karena dia ingin keluar dari kamar. "Bisakah jangan ketus mulai detik ini?" pinta Han membuat gadis itu menghentikan langkahnya hanya untuk melirik tajam lalu kembali berjalan menuju kamarnya. "Kurang dari 24 jam mungkin saya sudah tidak disini lagi." imbuhnya menghentikan kaki beralaskan sendal bulu-bulu. Seketika Evelyn berbalik badan "Mengapa?". Matanya menjadi sendu. Perlahan Han melangkah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status