MasukHan adalah malaikat yang bertugas untuk mengatur genetik manusia yang akan lahir sesuai dengan genetik kedua orang tuanya. Suatu hari ia lalai dan melakukan sebuah kesalahan hingga membuat seorang bayi kehilangan ibunya. Untuk menebus kesalahannya, ia diturunkan ke bumi untuk merawat bayi tersebut. Di bumi dia bertemu dengan seorang gadis yang bersedia membantunya dalam kesulitan merawat bayii. Seiring berjalannya waktu, cinta tumbuh diantara mereka.
Lihat lebih banyak"Dasar, Jalang!" Laki-laki itu melempar kertas berisi hasil tes DNA ke arah ibu muda yang sedang duduk di atas ranjang rumah sakit menyusui bayinya.
"Lihat! Sekarang sudah jelas dia bukan anakku. Jadi, aku tidak akan sudi menikahimu!"
"Tapi aku hanya melakukannya denganmu. Bahkan aku tak mempunyai pria lain, James," jelas wanita itu setelah membaca kertas tersebut. Air matanya mulai mengalir.
"Kau pikir aku akan percaya dengan omonganmu?" James berjalan keluar.
"Kau harus percaya! Bayi ini adalah darah dagingmu!" teriaknya kepada pria yang sama sekali tidak memedulikannya.
Tak ada yang bisa ia lakukan. James sudah memblokir nomornya. Tak ada yang bisa ia pintai bantuan. Dengan apa dia harus membayar biaya persalinannya. Tak berpikir panjang, malam ini ia berencana kabur dari rumah sakit dengan membawa bayinya.
Aksinya berjalan dengan lancar. Sekarang dia sudah berjalan jauh dari rumah sakit, tetapi pikirannya masih dipenuhi banyak beban.
"Harusnya aku meninggalkanmu di sana, Sayang. Dengan apa aku bisa membesarkanmu. Hidupku saja masih bergantung pada kakek dan nenekmu di Desa."
Ya, dia memang masih seorang mahasiswa. Merantau untuk mengejar cita-cita, tapi hidup tak pernah berjalan sesuai ekspektasi. Ia terjerumus dalam pergaulan bebas dan menanggung akibatnya.
Dengan tatapan kosong ia terus berjalan menggendong bayi.
Tiba-tiba, ia menyadari sedang berada di atas jembatan dengan aliran air deras di bawahnya. Lalu terbesitlah sebuah keinginan untuk mengakhiri hidup.
Jalanan semakin sepi. Mungkin hanya ada satu atau dua kendaraan bermuatan besar yang lewat tanpa peduli.
Otaknya semakin buntu, hingga ia sudah yakin dengan keputusan bunuh diri. Tapi, dia yang masih mempunyai naluri keibuan memberikan ASI pada si kecil hingga kenyang untuk terakhir kalinya.
"Maafkan ibu. Ibu harus meninggalkanmu sendirian. Semoga nasibmu beruntung. Mungkin Tuhan akan mengirim seseorang baik hati yang mau merawatmu karena ibu yakin Tuhan tidak membenci makhluk tak berdosa sepertimu."
Setelah meletakkan bayinya di pinggir jembatan dengan alas selimut rumah sakit yang dibawa, segera ia memanjat jembatan lalu terjun ke bawah tanpa jeda sedetik pun.
"Byurr!" Aksinya berjalan tanpa hambatan.
Tubuhnya tenggelam. Sungai hanya menampilkan lingkaran gelombang air dalam beberapa detik saja.
Cuaca di sekitar mendadak berubah.
Awan hitam berkumpul menutupi cahaya bulan dan gemerlap bintang. Cahaya kilat sesekali menerangi bumi.
Bayi malang itu mulai menangis beriringan dengan jatuhnya butir pertama air gerimis dan disusul butiran-butiran berikutnya.
"Gubrakk!"
Tiba-tiba saja sesosok pria jatuh dari langit di samping bayi tersebut. Dia mulai bangun dengan ekspresi kesakitan sambil membersihkan setelan jas putih yang ia kenakan.
Pria berwajah tampan itu menengok kearah bayi disampingnya, "Apa tidak ada hukuman yang lebih ringan, Ketua Joon? Saya janji akan lebih berhati-hati dan tidak melakukan kesalahan lagi ketika memasukkan data gen pembuatan manusia."
Rengekan darinya tidak mengubah apa pun keputusan yang dibuat oleh Sang pemimpin malaikat.
"Ketua joon! Apa kau tidak mendengarku?" kata pria itu sambil mendongak menatap langit.
"Ah ... Bagaimana mungkin aku merawat bayi manusia?" Dia menggaruk kepala yang tidak gatal.
Rintik gerimis perlahan membasahi tubuh mereka berdua.
Ia harus segera mencari tempat berteduh. Namun, di sekitar hanya ada gedung-gedung dengan cagar alam yang tinggi.
"Apa tidak ada keringanan sama sekali? Setidaknya hentikanlah hujan ini, wahai Ketua Joon!" teriak pria tampan itu sambil mendongak lagi. Namun, kali ini dia seakan memaki langit.
Tak lama, hujan pun berhenti.
"Oh terima kasih, Tuhan. Terima kasih, Ketua Joon engkau telah mengasihaniku."
Baru dua langkah berjalan hendak pergi, ia berbalik badan teringat bayi yang kini menjadi tanggung jawabnya.
"Ah, maaf aku hampir melupakanmu, makhluk mungil."
"Kruuuuukkk ..." Tiba-tiba perutnya berbunyi saat hendak mengambil bayi tersebut.
"Apa ini?" katanya sambil memegangi perut, "Apa yang terjadi pada tubuhku? Ini tidak terlalu sakit tapi sangat menyiksa. Ya Tuhan! Sensasi apa ini?Aku benar-benar tidak tahu akan hal ini."
Dia duduk dan terus merasa cemas sendiri, sementara bayi itu menangis terabaikan.
"Bagaimana jika ini adalah pertanda bahwa tubuhku akan hancur menjadi debu? Oh, jangan sampai itu terjadi."
"Kau hanya sedang merasakan lapar, Malaikat Han," jawab lelaki paruh baya yang tak tahu entah datang dari mana.
Malaikat Han mendongak, "Oh, Ketua Joon akhirnya kau menemuiku."
"Aku tidak menyangka ada malaikat sebodoh dirimu, Han."
"Jangan berkata begitu! Aku tidak bodoh hanya saja aku tidak pernah mengalami hal ini. Kalau begitu, tolong jelaskan padaku mengapa aku merasakan lapar?"
"Sambil mendengarkanku, tenangkan bayi itu!"
Han melakukan apa yang diperintah. Dia menimang bayi tersebut di pangkuannya.
"Cup ... cup ...Tenanglah, wahai makhluk mungil!"
"Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya. Atas kesalahanmu, Kau diturunkan ke bumi untuk merawat bayi manusia. Dan selama di bumi, kau akan hidup seperti manusia. Merasakan lapar, lelah, dan nafsu-nafsu lain yang tidak pernah dirasakan oleh malaikat. Mulai dari sekarang berusahalah untuk memenuhi kebutuhanmu dan kebutuhan bayi itu di bumi ini. Selamat tinggal, Malaikat Han!"
"Tunggu seben ... "
Namun, Ketua Joon sudah menghilang sebelum Han selesai bicara.
Segelintir air mata meluncur begitu saja , Han dapat merasakan rasa sakit yang diterima orang tua Stefan. Karena pada dasarnya yang ditinggalkan pasti lebih menderita daripada yang meninggalkan. Anak sekecil itu sudah pasti masuk surga tanpa perhitungan amal. Han kemudian melompati video sampai di bagian Stefan memasuki masa reinkarnasi. Ternyata tak semua jiwa mampu dan bersedia untuk terlahir kembali. Rasa trauma besar yang dia dapat dari kehidupan masa lalu, membuat anak itu memilih menjadi makhluk abadi sampai dunia berakhir. Dia bahkan memilih wujud rupa yang jauh berbeda dari rupa kehidupan sebelumnya. Sama seperti saat jiwa melewati gerbang reinkarnasi, jiwa yang masuk ke dalam sebuah ruang cahaya untuk merubahnya menjadi makhluk abadi, membuatnya menghapus bersih ingatan kehidupan masa lalu tak tersisa. Termasuk melupakan alasannya ingin menjadi sosok malaikat. Hanya larangan dan aturan yang sebelumnya dia sepakati yang selamanya diingat. Salah satunya ialah larangan menj
Akibat mimpi buruk yang hadir dalam tidurnya beberapa hari lalu, Han mendatangi kantor pusat dukungan surga. Ia menduga sosok Stevan yang ada di mimpinya adalah seorang anak kecil yang kemungkinan di bunuh. Sudah pasti anak kecil tak berdosa yang mati itu masuk surga, jadi dia menemui resepsionis surga di sana. "Permisi! Saya mau bertanya, Apa di sini ada penduduk Surga bernama Stevan Franklin kelahiran 1995 di Oxford?" Resepsionis wanita itu segera mencari nama yang disebutkan oleh Han dalam data komputernya, "Maaf sepertinya tidak ada nama itu di sini." "Apa yang terjadi padanya jika datanya tidak ada di sini?" "Jika memang sudah mati dari kehidupan yang itu, mungkin dia ada di neraka atau sudah bereinkarnasi kembali." "Apa kau tau cara mengetahui di mana jiwanya sekarang?" "Sebenarnya ini rahasia. Tapi Kau sangat sopan dan aku suka itu. Jadi, kuberi alamat web rahasia ini." Menyodorkan secuil kertas bertuliskan 'humanhistory.ko' "Saat kau masukkan nama, tempat dan ta
Semenjak hari ia berpisah dengan malaikat yang dicintainya, Evelyn memutuskan untuk kembali tinggal bersama neneknya dengan harapan bisa segera melupakan kenangan-kenangan bersama di apartemen kecil miliknya. Jika masih di sana, sudah pasti akan sulit untuk menghapus sosok Han dari ingatannya. Siang itu, neneknya harus pergi ke acara pemakaman salah satu kerabatnya. Dia diminta untuk menjaga keponakannya sebentar. Bukannya mengajaknya bermain, ia justru hanya duduk diam melamun dan membiarkan balita itu bermain sendiri dengan mainannya yang berserakan di lantai. Bahkan ia tidak merespon saat Hyunki sesekali bicara padanya. "Bibi macam apa yang mengabaikan ponakannya bermain sendiri?" Gadis itu sangat terkejut mendengar suara tepat di telinganya. Lebih terkejut lagi ia melihat Han berada di sampingnya. "Saya kira kau sangat keibuan dan menyukai anak kecil." "Sejak kapan kau disini?" tanyanya sebelum sosok Han menghilang dari penglihatannya. "Kemana kau?" Memijat keningnya "Sial. A
"Jadi bayi ini sebenarnya anak James? kag bisa sih?" Wanita paruh baya itu sangat kebingungan saat James dan Evelyn memberi tahu tentang Hyunki. Saat ini mereka sedang duduk mengobrol di sofa ruang keluarga. Sambil memangku cicitnya dia ingin mendengar penjelasan yang lebih detail. "Kemarin-kemarin dia anak Evelyn dengan pria tampan itu. tiba-tiba hari ini menjadi anak James. Sebenarnya apa yang terjadi?" "Sebenarnya kemarin aku yang berbohong, Nek. Aku menyewa bayi ini dan meminta pada teman priaku itu menjadi pasanganku untuk menghindari perjodohan." tuduhan James yang kemarin, dia jadikan sebagai seolah alasan benar saat ini. "Dan tanpa kami duga, ternyata ibu bayi ini adalah mantan pacar Kak James dan bayi ini memang anaknya. Aku juga baru tahu saat aku iseng bertanya siapa ayahnya pada ibu anak ini." "Lalu sekarang dimana ibu kandungnya itu?" "E ..." sekejap dia merubah ekspresinya menjadi menyedihkan. "Dia meninggal beberapa hari lalu karena penyakit yang ia derita. Menden






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan