Share

Bab 8. Wajah Sempurna

Author: Ai nien
last update Last Updated: 2022-03-14 12:59:24

Sepanjang hari dan malam, pikiran Han tak berpaling sedikit pun dari kata-kata Evelyn bahwa dirinya adalah beban.

Hal itu membuat dirinya bertekad untuk mencari kerja meski tanpa kartu identitas apa pun.

Hari ini setelah Evelyn berangkat ke toko roti dan dia sudah selesai dengan pekerjaan rumah, ia pergi berangkat melamar pekerjaan.

Di bawah sinar mentari pagi, ia berjalan menyusuri kota sambil mendorong kereta bayi yang berisi Hyunki.

Dia mendatangi semua toko dan tempat makan menanyakan apakah ada lowongan pekerjaan.

Tak banyak toko yang sedang menambahkan pekerja. Sekalipun ada, mereka selalu bertanya kartu identitas yang tak dimiliki oleh Han.

Dia terus berjalan dan menemukan sebuah tempat makan yang sedang membutuhkan karyawan tanpa meminta identitas apa pun. Tapi tentunya, pemilik tempat makan itu tidak mau menerima karyawan yang bekerja membawa bayi.

Hari semakin siang.

Terik matahari terasa membakar kulit. Han memilih beristirahat sebentar disebuah kursi taman dengan atap minimalis. Tak jauh dari tempatnya berada, juga terdapat sekelompok orang lengkap dengan alat pemotretan di sana.

Sambil memberikan susu pada Hyunki, samar-samar ia mendengar percakapan mereka.

"Manager Lee Taejin baru saja mengabari, bahwaTaejin tidak bisa melakukan pemotretan hari ini karena terjadi sesuatu," ucap salah satu orang di sana.

"Ini bisa kacau. Kita harus segera mencari model pengganti," jawab orang satunya lagi.

"Itu tidak mudah," kata seorang anggota perempuan di sana.

"Sebentar. Coba lihat orang di sana!" Dia menunjuk ke arah Han dan membuat Han menoleh ke arah mereka, "Bukankah wajahnya sangat sempurna? Aku akan menawarinya."

Dia akhirnya menghampiri Han dan berkata, "Selamat siang! Apakah Anda sedang sibuk?"

"Tidak. Saya hanya sedang berteduh di sini," jawab Han kepada laki-laki itu.

"Maaf, jika mengganggu. Jadi, kami sedang melakukan pemotretan di sini. Namun, Model kami tidak bisa hadir. Lalu, saya melihat Anda dan merasa wajah dan postur tubuh anda terlihat sangat sempurna. Mungkin, Anda tahu sedikit-sedikit tentang cara berpose dan bersedia menggantikan Model kami?"

"Model? Em... Apa anda bisa tunjukan sebuah video tentang Model?"

Staf tersebut pun menunjukkan sebuah video pada Han.

"Itu sangat mudah."

"Wah ... kalau begitu, apakah Anda bersedia menjadi Model kami?"

"Apa saya bisa mendapatkan uang jika menjadi Model?" 

"Oh, tentu. Kami akan membayar apabila Anda melakukan pekerjaan dengan baik."

"Baik saya bersedia.Tapi, bagaimana dengan bayi ini?"

"Tenang! Selama anda melakukan pemotretan kami akan menjaga bayi ini. Apa ini anak Anda?"

"Bukan. Dia titipan." 

Staf tersebut tidak bertanya sesuatu lagi.

Seperti biasa, Han bisa melakukan semuanya dengan sempurna jika sudah dicontohkan.

Dia terlihat lihai dalam melakukan pose layaknya Model profesional. Didukung dengan postur tubuh yang ideal, membuat baju apa saja tampak keren. Sepertinya, pemilik brand baju akan puas dengan hasilnya.

Pemotretan pun berlangsung dengan lancar. Han pun mendapatkan honor yang lumayan, bahkan ia juga dimintai kontak. Mungkin dia akan ditawari job lagi.

"Saya tidak punya ponsel. Ah, tapi teman saya punya. Bagaimana jika anda berikan kontak Anda dan saya yang akan menghubungi Anda?"

"Bisa juga. Ini!" sambil memberikan sebuah kartu nama, "Tolong hubungi kami segera!"

"Baik!"

Han pun pulang dengan penuh rasa gembira. Tak lupa ia mampir ke Supermarket terlebih dahulu untuk berbelanja.

"Hei, Hyunki! Kita sangat hebat hari ini karena bisa mendapatkan uang. Kau juga akan mendapat bagian. Aku akan membelikanmu stok susu yang banyak."

Di dalam, ia berbelanja berbagai bahan makanan, seperti sayur dan daging juga kebutuhan Hyunki.

Tak lupa, ia juga membeli snack yang ingin ia beli saat pertama kali ke mini market bersama Evelyn.

Meski terlihat kerepotan karena harus mendorong kereta bayi dan membawa barang belanjaan, tapi wajahnya tidak menunjukkan hal tersebut.

Ia malah berjalan dengan riang sambil bernyanyi, "Nananana .... "

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Malaikat Dihukum Jadi Babysitter   BAB 47.akhir sebuah kisah

    Segelintir air mata meluncur begitu saja , Han dapat merasakan rasa sakit yang diterima orang tua Stefan. Karena pada dasarnya yang ditinggalkan pasti lebih menderita daripada yang meninggalkan. Anak sekecil itu sudah pasti masuk surga tanpa perhitungan amal. Han kemudian melompati video sampai di bagian Stefan memasuki masa reinkarnasi. Ternyata tak semua jiwa mampu dan bersedia untuk terlahir kembali. Rasa trauma besar yang dia dapat dari kehidupan masa lalu, membuat anak itu memilih menjadi makhluk abadi sampai dunia berakhir. Dia bahkan memilih wujud rupa yang jauh berbeda dari rupa kehidupan sebelumnya. Sama seperti saat jiwa melewati gerbang reinkarnasi, jiwa yang masuk ke dalam sebuah ruang cahaya untuk merubahnya menjadi makhluk abadi, membuatnya menghapus bersih ingatan kehidupan masa lalu tak tersisa. Termasuk melupakan alasannya ingin menjadi sosok malaikat. Hanya larangan dan aturan yang sebelumnya dia sepakati yang selamanya diingat. Salah satunya ialah larangan menj

  • Malaikat Dihukum Jadi Babysitter   BAB 46.Monster

    Akibat mimpi buruk yang hadir dalam tidurnya beberapa hari lalu, Han mendatangi kantor pusat dukungan surga. Ia menduga sosok Stevan yang ada di mimpinya adalah seorang anak kecil yang kemungkinan di bunuh. Sudah pasti anak kecil tak berdosa yang mati itu masuk surga, jadi dia menemui resepsionis surga di sana. "Permisi! Saya mau bertanya, Apa di sini ada penduduk Surga bernama Stevan Franklin kelahiran 1995 di Oxford?" Resepsionis wanita itu segera mencari nama yang disebutkan oleh Han dalam data komputernya, "Maaf sepertinya tidak ada nama itu di sini." "Apa yang terjadi padanya jika datanya tidak ada di sini?" "Jika memang sudah mati dari kehidupan yang itu, mungkin dia ada di neraka atau sudah bereinkarnasi kembali." "Apa kau tau cara mengetahui di mana jiwanya sekarang?" "Sebenarnya ini rahasia. Tapi Kau sangat sopan dan aku suka itu. Jadi, kuberi alamat web rahasia ini." Menyodorkan secuil kertas bertuliskan 'humanhistory.ko' "Saat kau masukkan nama, tempat dan ta

  • Malaikat Dihukum Jadi Babysitter   BAB 45. Pertemuan yang berharga

    Semenjak hari ia berpisah dengan malaikat yang dicintainya, Evelyn memutuskan untuk kembali tinggal bersama neneknya dengan harapan bisa segera melupakan kenangan-kenangan bersama di apartemen kecil miliknya. Jika masih di sana, sudah pasti akan sulit untuk menghapus sosok Han dari ingatannya. Siang itu, neneknya harus pergi ke acara pemakaman salah satu kerabatnya. Dia diminta untuk menjaga keponakannya sebentar. Bukannya mengajaknya bermain, ia justru hanya duduk diam melamun dan membiarkan balita itu bermain sendiri dengan mainannya yang berserakan di lantai. Bahkan ia tidak merespon saat Hyunki sesekali bicara padanya. "Bibi macam apa yang mengabaikan ponakannya bermain sendiri?" Gadis itu sangat terkejut mendengar suara tepat di telinganya. Lebih terkejut lagi ia melihat Han berada di sampingnya. "Saya kira kau sangat keibuan dan menyukai anak kecil." "Sejak kapan kau disini?" tanyanya sebelum sosok Han menghilang dari penglihatannya. "Kemana kau?" Memijat keningnya "Sial. A

  • Malaikat Dihukum Jadi Babysitter   BAB 44. mimpi buruk

    "Jadi bayi ini sebenarnya anak James? kag bisa sih?" Wanita paruh baya itu sangat kebingungan saat James dan Evelyn memberi tahu tentang Hyunki. Saat ini mereka sedang duduk mengobrol di sofa ruang keluarga. Sambil memangku cicitnya dia ingin mendengar penjelasan yang lebih detail. "Kemarin-kemarin dia anak Evelyn dengan pria tampan itu. tiba-tiba hari ini menjadi anak James. Sebenarnya apa yang terjadi?" "Sebenarnya kemarin aku yang berbohong, Nek. Aku menyewa bayi ini dan meminta pada teman priaku itu menjadi pasanganku untuk menghindari perjodohan." tuduhan James yang kemarin, dia jadikan sebagai seolah alasan benar saat ini. "Dan tanpa kami duga, ternyata ibu bayi ini adalah mantan pacar Kak James dan bayi ini memang anaknya. Aku juga baru tahu saat aku iseng bertanya siapa ayahnya pada ibu anak ini." "Lalu sekarang dimana ibu kandungnya itu?" "E ..." sekejap dia merubah ekspresinya menjadi menyedihkan. "Dia meninggal beberapa hari lalu karena penyakit yang ia derita. Menden

  • Malaikat Dihukum Jadi Babysitter   BAB 43.bPerpisahan

    Sementara Choi Ae Ra setiba di Rumah sakit jiwa dari pertemuannya dengan Han tadi mendapati Kang Areum berwajah retak dan matanya melotot sedang mencekik leher James dan melambungkan tubuhnya dengan satu tangan. "Aak ... aak ... uhuk! uhuk!" Pria itu napasnya terasa amat sesak hingga terbatuk-batuk. "Hei hentikan! Turunkan dia sekarang!" Kedatangan Ae Ra dan perintahnya membuat roh itu menoleh namun genggamannya tak mengendur dalam mencekik James. "Mengapa aku harus melepaskannya? Aku ingin mengakhiri hidupnya sekarang juga." tersenyum seram. "Jika dia mati, lalu siapa yang akan merawat anakmu? Malaikat itu harus segera meninggalkan bumi." "Orang ini tidak terlihat seperti mau bertanggung jawab merawatnya." "Dia mau. Dia mau jika sudah tahu semua kebenarannya." "Gubrak!" suara tubuh James terbanting mengenai kaki ranjang tempat tidurnya. ***** Keesokan harinya sekitar pukul 16.00 sore hari Han sudah berada diatas atap bangunan rumah sakit jiwa itu lebih dulu bersama E

  • Malaikat Dihukum Jadi Babysitter   BAB 42. Makhluk taat aturan

    "Jatuh cinta?" Han terus memegang dadanya sepanjang perjalanan naik taksi sepulang dari pertemuannya dengan Ae Ra dan ketua Joon tadi. Otaknya pun tak berhenti memikirkan ucapan dari seniornya. Pertanyaan bagai daun kering gugur berserakan di kepalanya membuat tak terasa saat ini dia sudah berada tepat di depan pintu kamarnya. "Klek!" dibalik pintu yang baru saja terbuka, terpampang wajah kecil dengan bola mata biru bertemu dengan bola mata cokelat tua milik malaikat tampan itu. "Bayimu tadi menangis, aku jadi terpaksa menenangkannya. Merepotkan sekali." sedikit menyenggol tubuh Han karena dia ingin keluar dari kamar. "Bisakah jangan ketus mulai detik ini?" pinta Han membuat gadis itu menghentikan langkahnya hanya untuk melirik tajam lalu kembali berjalan menuju kamarnya. "Kurang dari 24 jam mungkin saya sudah tidak disini lagi." imbuhnya menghentikan kaki beralaskan sendal bulu-bulu. Seketika Evelyn berbalik badan "Mengapa?". Matanya menjadi sendu. Perlahan Han melangkah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status