登入Kening Mawar berkerut, tatapannya penuh kebingungan seolah tak mengerti mengapa nada bicara suaminya berubah tajam begitu cepat. "Kan ini keinginan dan rencana Pak Bos, saya menurut aja," ucapnya pelan, seolah mengingatkan kembali kesepakatan yang ada."Iya, tapi kamu terlalu munafik, Mawar.""Munafik??" Kerutan di dahinya makin terlihat jelas, matanya terbelalak tak terima dengan tuduhan itu. "Munafik bagaimana?""Kalau emang kamu nggak mau balikan sama mantan, seharusnya kamu nggak perlu seseneng kayak gini.""Seneng gimana sih Pak Bos? Orang saya biasa saja.""Ekpresi wajahmu nggak menunjukkan kamu biasa, tapi kamu seneng!" tegas Robert, nada suaranya meninggi menahan kekesalan yang makin memuncak.Mawar seketika terdiam, mulutnya terkatup rapat. Dia benar-benar bingung, tak tahu lagi kata apa yang pantas diucapkan agar tak makin memperparah suasana yang sudah tegang ini.'Apa sih sebenarnya maunya Pak Bos ini? Udah saya ikuti semua permintaannya, tapi masih aja dicari-cari kesalah
"Dari hasil pemeriksaan, Bapak sehat dan tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan."Karena gelisah dengan kondisi dadanya yang aneh itu, Robert memutuskan segera meninggalkan lokasi di mana Mawar masih bersama Farrel. Dia bergegas menuju rumah sakit terdekat untuk memeriksakan diri. Namun, setelah diperiksa lengkap, dokter justru menyatakan bahwa kondisi fisiknya sepenuhnya baik-baik saja."Tapi dada saya tadi tiba-tiba terasa sesak dan berat, Dok. Saya biasanya nggak pernah merasakan hal seperti ini," ujar Robert, masih tampak belum sepenuhnya yakin dengan kesimpulan itu."Memang demikian hasilnya, Bapak. Semua catatan pemeriksaan menunjukkan keadaan yang normal. Kemungkinan besar ini hanya akibat kelelahan atau tekanan pikiran. Bapak cukup perbanyak istirahat dan minum air putih yang cukup.""Baiklah kalau begitu," jawab Robert akhirnya. Dia pun bangkit berdiri dengan sikap pasrah, meski rasa bingungnya belum sepenuhnya hilang."Saya akan berikan resep suplemen saja sebagai tambahan,
"Mawar, kamu tadi ke sini naik apa?" tanya Farrel penasaran, sekaligus merasa tidak enak hati. "Padahal seharusnya biar aku yang jemput langsung ke rumah bosmu." Langkah mereka beriringan menyusuri lorong luas yang ramai pengunjung. Suara langkah kaki, musik latar, dan percakapan orang-orang mengisi udara di sekeliling mereka. Mawar terdiam sejenak, merasa ragu apakah harus menjawab jujur atau tidak. Robert sendiri tidak mengatakan apa-apa tentang hal ini sebelumnya, tapi jika dia bicara apa adanya di sini, rasanya pasti akan memancing pertanyaan lain. "Aku tadi naik ...." suaranya terdengar tertahan sebentar sebelum dia memilih jawaban yang lebih aman. "Aku naik mobil, maksudku taksi online." "Oh taksi online. Eh tapi ngomong-ngomong kamu cantik banget pakai hijab, aku sampai sempat nggak ngenalin kamu lho. Dan jujur aku seneng banget saat kamu ngajakin aku nonton. Aku pikir kamu bener-bener udah nggak mau ngasih aku kesempatan." Farrel menatapnya dengan pandangan yang tampak tul
Belum sempat Opa Hamdan memberikan jawaban, Daddy Joe kembali menyambung kalimatnya dengan nada sedikit ragu dari seberang."Tapi, Bi... Mawar dan Robert menikah belum ada seminggu, masa secepat ini Mawar sudah hamil?""Mawar memang belum hamil, Jon.""Lha terus ... kenapa aku harus cari nama sekarang-sekarang?""Apa salahnya cari nama? Nggak apa-apa dong, biar nanti kalau Mawar beneran hamil namanya sudah ada. Kan dia cucu pertama, jadi harus disiapkan dengan istimewa.""Benar juga sih. Nanti aku cari bersama Syifa deh," jawab Daddy Joe setuju. "Ngomong-ngomong, bagaimana dengan kabar gembira soal hubungan mereka tadi, Bi? Memangnya sudah ada kemajuan?""Sangat-sangat ada, Jon. Mereka sekarang sedang pergi kencan.""Kencan??" Sama persis seperti reaksi Opa Hamdan sebelumnya, Daddy Joe pun terdengar sangat terkejut mendengar berita itu. "Beneran, Bi? Syukurlah ...." Dia menghela napas lega."Iya, Abi sendiri ikut merasa lega dan seneng banget, Jon.""Apalagi aku di sini, Bi. Rasanya l
Mendengar itu, gerakan tangan Mawar refleks terhenti. Dia perlahan berbalik, menatap lurus ke arah Robert dengan pandangan yang tak percaya sama sekali."Pak Bos barusan bilang saya cantik? Serius?" Dia ingin memastikan, takut kalau-kalau telinganya salah menangkap ucapan itu."Kapan?? Enggak!" Robert langsung menggeleng dengan cepat dan panik, secepat kilat menyangkal ucapannya sendiri. 'Sialan... bagaimana bisa mulutku mengucapkan kata itu? Mawar itu jelek, cantik dari mananya coba,' gerutunya dalam hati, merasa menyesal."Tapi barusan saya dengar jelas Pak Bos." Mawar ingin memastikannya lagi."Kau hanya salah denger. Udahlah ayo kita berangkat. Jangan terlalu lama bersiap-siap, nanti Farrel menunggu lama di sana, kasihan," ucap Robert cepat sambil langsung mengalihkan pembicaraan, berharap hal itu tak dibahas lagi."Ayok Pak Bos." Mawar akhirnya mengangguk singkat, lalu berjalan mengikuti langkah Robert yang sudah bergerak keluar dari kamar. Di dalam hatinya, dia masih sempat bert
Sepanjang perjalanan dilanjutkan kembali, Mawar hanya duduk diam seribu bahasa.Bibirnya tertekuk cemberut, pandangannya kosong menatap pemandangan yang melintas cepat di balik kaca jendela, seolah masih terganggu dan kesal dengan kejadian tadi.Di sebelahnya, Robert tidak berusaha mengganggu atau mencairkan suasana. Dia membiarkan saja perempuan itu tenggelam dalam diamnya sendiri. Hingga akhirnya kendaraan berhenti di depan butik langganan keluarga Robert yang sudah lama dikenal.Di sana, dua set busana resepsi sudah disiapkan rapi khusus untuk mereka: satu berupa kebaya yang dirancang untuk dipakai siang hari, dan satu lagi berupa gaun panjang untuk acara malam. Keduanya mengusung konsep busana muslim lengkap dengan penutup kepala yang serasi.Saat keduanya mencoba mengenakan pakaian itu satu per satu, Robert terpaku sejenak. Dia sungguh terkejut melihat perubahan yang tampak begitu mempesona.Meski mulutnya mungkin masih bisa bersikap dingin atau menyangkal, namun jauh di dalam lu
Mendengar itu, Daddy Joe hanya menghela napas panjang, lalu mengangkat kedua bahunya seolah tak ingin terlalu memikirkan hal itu lebih jauh."Ya terus Daddy harus gimana, Mom? Ya sudah sih, yang penting Robert sudah menikah." jawabnya dengan nada yang sedikit pasrah dan santai. Baginya, poin paling
"Lepas!!" bentak Robert. Dia benar-benar kesal karena perlawanan kecil yang berani dilakukan perempuan di hadapannya itu. "Lepaskan sekarang atau aku nggak akan segan-segan menyakitimu lagi!"Tanpa menunggu tanggapan, tangan besarnya bergerak cepat, menepis genggaman Mawar hingga tubuh perempuan it
"Giliran sekarang kau nggak berani ngomong, ya? Padahal tadi kau menggebu-gebu memfitnahku!" teriak Robert penuh amarah.Otak Mawar langsung berputar cepat, mencari alasan apapun yang paling masuk akal dan paling aman untuk menyelamatkan nyawanya saat imi juga."Karena sa-saya suka sama Pak Bos!! S
"Maaf ...." Mawar menjawab lirih, menundukkan wajahnya seolah merasa bersalah besar hanya karena menanyakan hal itu. Padahal jauh di lubuk hatinya, dia hanya ingin bertemu sekali saja. Sekali saja untuk melihat wajah laki-laki yang menjadi asal-usulnya itu. Namun harapan itu seolah ditutup rapat s







