LOGIN"Tidak." Jade langsung menatap Elias tajam.
"Kenapa tidak? Apartemenku luas. Ada kamar kosong." Elias mengernyitkan dahi. "Tidak," ulang Jade penuh penekanan. Daisy terdiam, menatap kedua kakak beradik itu bergantian. Elias menoleh pada Daisy dengan tatapan heran. “Ada apa dengan bosmu, Daisy?” tanyanya sambil terkekeh geli. Daisy mengangkat kedua bahunya sambil menyembunyikan senyum. “Tapi kakakmu benar, aku tidak bisa tinggal di apartemenmu, Elias. Ini Suri, laki-laki dan perempuan yang bukan keluarga, tidak boleh tinggal dalam satu atap yang sama. Jadi aku hanya perlu menitipkan Rex, jika memang diizinkan,” tutur Daisy sambil terus tersenyum. Jade menyeringai penuh kemenangan sambil terus menatap Daisy. “Kalau begitu,” balas Elias sambil menaruh tangan di dagunya. “Biar aku tanyakan ke bibi pelayan lebih dulu. Mengurus kucing butuh perhatian dan waktu ekstra, jika aku tidak ada di apartemenOlga mengangguk antusias, matanya berbinar seolah sedang membahas sesuatu yang sangat penting dan mendesak. "Karena bagi pria seperti mereka, muda dan polos adalah dua kata kunci yang terdengar seperti harta karun tersembunyi. Mereka menikahinya hanya untuk memuaskan hasrat. Setelah itu, Daisy bisa dibuang kapan saja." Neil menambahkan sambil menikmati sarapannya dengan tenang. Bianca membuka mulutnya tanpa sadar, terkejut sekaligus terhibur. “Astaga.” Bianca menutup mulut dengan telapak tangan lalu terkekeh. “Calon suami yang sangat tepat untuk Daisy.” Bianca memiringkan tubuh, dagunya bertumpu pada punggung tangan. “Lalu? Apa yang terjadi setelah itu?” Olga melepas napas panjang, tetapi wajahnya tetap penuh semangat bercerita. “Desas-desus tentang kami yang sedang mencari suami untuk Daisy cepat menyebar luas di sana. Sampai akhirnya …” Olga mencondongkan tubuh ke depan, suaranya memelan seperti tengah membocorkan rahasia
Olga mengangkat tangannya. Plak! Tamparan mendarat di pipi Daisy. Kepala Daisy sedikit terpuntir ke samping oleh hantaman telapak tangan Olga. Tidak sekeras tamparan Bianca biasanya, tetapi cukup untuk membuat suara kecil keluar dari bibir Daisy dan meninggalkan rasa panas yang menggigit di pipinya. "Kalau memang kamu merasa kamu sudah tidak butuh keluarga ini, pergi kamu dari rumah kami!" hardik Olga sambil menunjuk pintu keluar dengan jari yang gemetar. "Anak tidak tahu diuntung! Bukannya berterima kasih dan tumbuh menjadi orang baik, kau justru menjadi angkuh hanya karena mendapat pekerjaan!" Untuk beberapa detik, hanya suara napas Olga yang terdengar. Daisy tidak menjawab apa pun. Gadis itu hanya memandangi lantai dengan tatapan kosong sebelum akhirnya perlahan menunduk dan berjongkok. Daisy mengumpulkan barang-barang dari dalam tasnya yang berserakan di lantai. Buku catatan tertekuk, pulpen berguling jauh hingga dekat
Awalnya Daisy mengira Jade tidak akan mengizinkannya. Akhir-akhir ini pria itu menjadi sangat posesif padanya. Jangankan dengan manusia, Jade bahkan cemburu pada Rex yang seekor kucing. Daisy yakin Jade tidak akan suka jika dia tinggal satu lantai dengan Elias. Namun Jade justru memberi tanggapan yang mengejutkan. "Saya pikir lebih baik kau juga tinggal di dekat orang yang kau kenal, seperti Elias," ucap Jade sambil bersandar di sofa dan merentangkan kedua tangannya ke samping. "Daripada kau harus tinggal di lingkungan yang benar-benar baru. Itu sangat berbahaya untuk gadis sepertimu." Daisy menatap Jade dengan tatapan tidak percaya. Mata gadis itu menyipit, mencoba membaca apakah Jade bersungguh-sungguh atau tidak. "Dengar, Daisy? Kak Jade setuju!" Elias tersenyum lebar. “Zaman sekarang, orang-orang aneh semakin banyak. Dan hari sial, tidak ada dalam kalender. Ada baiknya kita selalu bertindak preventif.” Daisy menghela napas. "Biar saya pikirkan dulu." "Jangan terlalu lama b
Daisy terdiam beberapa saat. Dalam benaknya, bayangan reaksi Bianca, Olga, dan Neil muncul dengan jelas. Mereka besar kemungkinan tidak akan menyetujui kepindahannya dengan berbagai alasan. Bianca pasti akan mencari cara untuk menahan Daisy, entah dengan ancaman atau pun kekerasan. "Pasti jadi masalah," jawab Daisy akhirnya sambil menatap kosong jalanan di depannya. "Tapi setidaknya ini adalah jalan keluar dari masalah-masalah lain yang lebih besar, yang bisa saja terjadi jika saya tetap tinggal di sana." Jade baru saja hendak bicara lagi ketika ponsel Daisy berdering. Pria itu ikut melirik saat Daisy melihat siapa yang meneleponnya. Nama Elias tertera di layar. "Elias sering meneleponmu malam-malam begini?" tanya Jade sedikit ketus. Daisy menoleh sekilas. "Tidak sesering Tuan Jade." Jade mengernyitkan dahi, melirik Daisy dengan tatapan tidak percaya. Bibir
July dan Gea saling pandang beberapa saat. Mata mereka berbicara dalam bahasa yang hanya mereka berdua mengerti. "Maaf, Tuan. Rumah saya jauh. Jadi harus segera pulang." July berkata sambil tertawa canggung. Sebelum Jade sempat merespons, July berkata lagi sambil menatap ketiganya bergantian dengan senyum lebar yang dipaksakan. "Saya pulang duluan ya. Dah, permisi!" July langsung memutar tubuh dan berjalan cepat ke arah halte bus dengan langkah tergesa, seolah tengah dikejar oleh sesuatu. Kini tatapan Jade mengarah ke Gea, menunggu jawaban wanita itu. Gea menggaruk rambutnya yang tidak gatal sambil tersenyum. "Saya punya pekerjaan sampingan yang biasa saya lakukan saat malam hari, Tuan. Jadi saya juga harus pulang," kelit Gea. "Pekerjaan sampingan yang dilakukan saat malam hari?" ulang Jade sambil menyipitkan mata curiga. Daisy di sebelah Jade ikut melakukan hal yang sama dengan pria itu. Gea t
Daisy, July, dan Gea menoleh bersamaan. Awalnya mereka mengernyit, tidak mengenali siapa yang tiba-tiba duduk di sebelah Daisy. Namun ketika menyadari itu Jade, kedua alis mereka terangkat tinggi. “Oh …” July hampir menjatuhkan sendok yang dia pegang. “Tuan Jade!” Bahkan Gea sampai berdiri terburu-buru sambil membungkuk sopan. “Selamat sore, Tuan Jade.” “Selamat sore, Tuan.” July pun menyusul, sama gugupnya. Jade menggerakkan tangan, meminta mereka duduk kembali. "Tidak perlu seformal itu," sergah Jade. July dan Gea duduk kembali, tetapi kali ini mereka duduk dengan punggung tegap seolah sedang berada di dalam rapat. Tangan mereka bertumpu rapi di pangkuan. Sementara Daisy bertanya sambil memiringkan kepalanya. "Tuan sedang apa di sini?" Jade menoleh pada Daisy sambil mengangkat kedua alis dengan santai. "Makan malam bersama kalian," jawab Jade. Daisy tersenyum pahit sambil







