Share

119. Kehabisan Pengaman

Author: prasidafai
last update Last Updated: 2026-01-11 21:09:51

Pukul tujuh malam, angin sore yang mulai dingin menerobos sela-sela area drop-off gedung apartemen itu. Lampu-lampu halaman telah menyala, memantulkan cahaya kuning hangat pada lantai keramik yang masih sedikit basah karena hujan gerimis sebelumnya.

July dan Gea baru tiba. Rambut keduanya sudah lebih rapi dan mereka tampak bersemangat, meski masing-masing memeluk kantong belanja kecil berisi makanan dan minuman untuk Daisy.

“Kita tanya satpam dulu,” ucap July sambil menoleh mencari pos keamanan.

Namun langkah July terhenti ketika sebuah mobil berhenti tepat di depan pintu lobi. Pintu depan sebelah kanan terbuka, dan sosok Daisy turun dengan rambut terikat rendah dan jaket di pundaknya. Wajahnya terlihat segar.

July hampir berteriak memanggil. “Dais–”

Mulutnya langsung tertutup telapak tangan Gea.

“Diam,” bisik Gea panik sambil menyeret July ke belakang sebuah tiang. “Jangan panggil dia dulu!”

July mengerutkan dahi keras. “Apa?! Kenapa?!”

Gea tidak men
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   119. Kehabisan Pengaman

    Pukul tujuh malam, angin sore yang mulai dingin menerobos sela-sela area drop-off gedung apartemen itu. Lampu-lampu halaman telah menyala, memantulkan cahaya kuning hangat pada lantai keramik yang masih sedikit basah karena hujan gerimis sebelumnya.July dan Gea baru tiba. Rambut keduanya sudah lebih rapi dan mereka tampak bersemangat, meski masing-masing memeluk kantong belanja kecil berisi makanan dan minuman untuk Daisy.“Kita tanya satpam dulu,” ucap July sambil menoleh mencari pos keamanan.Namun langkah July terhenti ketika sebuah mobil berhenti tepat di depan pintu lobi. Pintu depan sebelah kanan terbuka, dan sosok Daisy turun dengan rambut terikat rendah dan jaket di pundaknya. Wajahnya terlihat segar.July hampir berteriak memanggil. “Dais–”Mulutnya langsung tertutup telapak tangan Gea.“Diam,” bisik Gea panik sambil menyeret July ke belakang sebuah tiang. “Jangan panggil dia dulu!”July mengerutkan dahi keras. “Apa?! Kenapa?!”Gea tidak men

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   118. Surat Peringatan Pertama

    Daisy dan Jade datang terlambat hari itu. Bukan karena macet atau karena ada urusan mendadak. Namun karena setelah keluar dari apartemen Daisy dan sebelum sampai di kantor, gadis itu itu memaksa untuk pergi ke butik pria guna membeli kemeja dan jas baru untuk Jade kenakan. "Tuan, kita sudah terlambat," protes Daisy sambil melirik jam di dashboard mobil. “Siapa yang berani menegur saya?” tanya Jade tidak peduli sambil mengangkat salah satu alisnya. Daisy hanya bisa menghela napas. Beberapa saat kemudian, mereka keluar dari mobil yang sama di basement kantor. Jade berjalan di depan dengan jas baru berwarna abu-abu gelap, sementara Daisy mengikuti di belakang dengan tas kerja di bahu dan tablet di tangannya. Begitu mereka masuk ke dalam lift eksklusif, bisik-bisik mulai terdengar dari karyawan lain yang melihat mereka melewati lobi. Daisy dan Jade tidak menyad

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   117. Apartemen Baru

    Daisy menyewa jasa pindahan malam itu juga untuk mengangkut barang-barangnya dari kamar di kediaman Keluarga Lulla ke unit apartemen yang baru dia sewa. Pekerja pindahan bergerak cekatan, mengangkut kardus-kardus berisi pakaian, buku, dan beberapa barang pribadi Daisy. Tidak banyak. Hanya cukup untuk memenuhi satu mobil boks kecil. Saat menatap kamar yang dia tempati kini kosong, Daisy berdiri di ambang pintu dengan perasaan campur aduk. Tidak ada lagi kasur dengan sprei lusuh. Tidak ada lagi lemari kecil di sudut. Tidak ada lagi meja belajar tempat dia sering menangis diam-diam. Hanya ruang kosong dengan dinding pucat yang pernah menyaksikan semua kesedihannya. Daisy tersenyum pahit. "Bu," gumam Daisy lirih, seolah berbicara pada sosok yang tidak terlihat. "Aku pindah ke tempat tinggal baru. Jangan datang ke sini lagi." Kemudian Daisy menutup pintu kamar itu untuk terakhir kalinya. Saat Daisy melangkah

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   116. Dibuang Kapan Saja

    Olga mengangguk antusias, matanya berbinar seolah sedang membahas sesuatu yang sangat penting dan mendesak. "Karena bagi pria seperti mereka, muda dan polos adalah dua kata kunci yang terdengar seperti harta karun tersembunyi. Mereka menikahinya hanya untuk memuaskan hasrat. Setelah itu, Daisy bisa dibuang kapan saja." Neil menambahkan sambil menikmati sarapannya dengan tenang. Bianca membuka mulutnya tanpa sadar, terkejut sekaligus terhibur. “Astaga.” Bianca menutup mulut dengan telapak tangan lalu terkekeh. “Calon suami yang sangat tepat untuk Daisy.” Bianca memiringkan tubuh, dagunya bertumpu pada punggung tangan. “Lalu? Apa yang terjadi setelah itu?” Olga melepas napas panjang, tetapi wajahnya tetap penuh semangat bercerita. “Desas-desus tentang kami yang sedang mencari suami untuk Daisy cepat menyebar luas di sana. Sampai akhirnya …” Olga mencondongkan tubuh ke depan, suaranya memelan seperti tengah membocorkan rahasia

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   115. Hobi Selingkuh

    Olga mengangkat tangannya. Plak! Tamparan mendarat di pipi Daisy. Kepala Daisy sedikit terpuntir ke samping oleh hantaman telapak tangan Olga. Tidak sekeras tamparan Bianca biasanya, tetapi cukup untuk membuat suara kecil keluar dari bibir Daisy dan meninggalkan rasa panas yang menggigit di pipinya. "Kalau memang kamu merasa kamu sudah tidak butuh keluarga ini, pergi kamu dari rumah kami!" hardik Olga sambil menunjuk pintu keluar dengan jari yang gemetar. "Anak tidak tahu diuntung! Bukannya berterima kasih dan tumbuh menjadi orang baik, kau justru menjadi angkuh hanya karena mendapat pekerjaan!" Untuk beberapa detik, hanya suara napas Olga yang terdengar. Daisy tidak menjawab apa pun. Gadis itu hanya memandangi lantai dengan tatapan kosong sebelum akhirnya perlahan menunduk dan berjongkok. Daisy mengumpulkan barang-barang dari dalam tasnya yang berserakan di lantai. Buku catatan tertekuk, pulpen berguling jauh hingga dekat

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   114. Cepat Terisi

    Awalnya Daisy mengira Jade tidak akan mengizinkannya. Akhir-akhir ini pria itu menjadi sangat posesif padanya. Jangankan dengan manusia, Jade bahkan cemburu pada Rex yang seekor kucing. Daisy yakin Jade tidak akan suka jika dia tinggal satu lantai dengan Elias. Namun Jade justru memberi tanggapan yang mengejutkan. "Saya pikir lebih baik kau juga tinggal di dekat orang yang kau kenal, seperti Elias," ucap Jade sambil bersandar di sofa dan merentangkan kedua tangannya ke samping. "Daripada kau harus tinggal di lingkungan yang benar-benar baru. Itu sangat berbahaya untuk gadis sepertimu." Daisy menatap Jade dengan tatapan tidak percaya. Mata gadis itu menyipit, mencoba membaca apakah Jade bersungguh-sungguh atau tidak. "Dengar, Daisy? Kak Jade setuju!" Elias tersenyum lebar. “Zaman sekarang, orang-orang aneh semakin banyak. Dan hari sial, tidak ada dalam kalender. Ada baiknya kita selalu bertindak preventif.” Daisy menghela napas. "Biar saya pikirkan dulu." "Jangan terlalu lama b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status