LOGINHari itu Lucia—seorang aktris kurang terkenal berpikir hidupnya akan hancur dengan segala masalah yang menimpahnya. Mulai dari ia ditampar dengan kenyataan pahit atas apa yang dilihatnya di apartemen kekasihnya. Sahabatnya sendiri—Navy, berada di ranjang yang sama dengan David—kekasih Lucia. Belum lagi kondisi kesehatan ibunya yang memburuk. Tapi di tengah itu, Arthen aktor papan atas yang selama ini sering kali menguntit dan membuat masalah dengannya menawarinya sebuah kontrak untuknya masuk ke dalam agensinya. Terasa seperti jebakan. Namun karena merasa ingin sekali lagi percaya pada seseorang, Lucia menerimanya. Siapa sangka bahwa kontrak itu menjadi langkah awal Lucia bisa membuktikan diri bahwa dia mampu mencapai puncak popularitasnya. Lantas, bagaimana perjalanan Lucia menjadi terkenal?
View MoreHari ini terasa begitu melelahkan. Entah mengapa, setiap langkah yang ia ambil Lucia rasanya selalu berujung salah.
Semuanya dimulai dari lokasi syuting. Proses syuting yang seharusnya selesai cepat, malah berakhir berantakan karena harus terus-menerus di-take ulang.
Sutradara itu seolah sengaja mencari celah untuk menyiksanya, memberinya tatapan rendah yang tidak pernah disembunyikan.
Seakan belum cukup sampai di situ, kabar dari rumah sakit tentang kondisi ibunya datang kembali menghantamnya.
Tunggu, penderitaannya bahkan belum usai. Lucia bahkan menerima telepon dari agen pinjaman yang menagih utang yang belum terbayar, tanpa mau tahu bahwa Lucia sedang berada di titik terendahnya saat ini.
Dengan tangan gemetar, Lucia mentransfer hampir seluruh uang hasil kerja kerasnya untuk biaya rumah sakit ibu dan melunasi utangnya.
Ia menatap layar ponselnya lama. Sisa saldo di akunnya kini hanya tersisa sedikit sekali. Lucia meringis melihatnya. Mana dari pagi sampai malam ini, ia sama sekali belum menyentuh makanan hingga asam lambungnya naik ke tenggorokan.
Di pinggir jalanan yang sepi, Lucia terpaksa berhenti. Ia berjongkok, memuntahkan isi perutnya yang hanya berupa cairan bening ke aspal.
"Apa kamu sakit, Lucia?"
Suara itu berat dan akrab. Lucia tahu siapa pemiliknya bahkan tanpa perlu mendongak. Pria itu sudah mengikutinya sejak tadi bak seorang penguntit.
Ia menoleh dengan nada sinis. "Kau senang melihatku seperti ini, kan?"
"Aku bertanya baik-baik, Lucia. Beginikah balasan yang pantas saat seseorang bertanya padamu?" Arthen berdiri di sana, penampilannya memang cocok disebut seorang penguntit dengan hoodie hitam yang dikenakannya.
Lucia terkekeh sinis, lalu memaksa kakinya berdiri. Ia menunjuk dada Arthen dengan jari yang gemetar, urat-urat di lehernya menegang.
"Jika itu kau, bahkan harusnya caraku membalasmu bisa lebih buruk! Apa kau tidak sadar setelah apa yang kau lakukan padaku? Ini semua gara-gara kau! Kau pikir aku tidak tahu siapa yang menjadikan bajingan brengsek itu sutradara dari film yang kuperankan?!"
Lucia menyugar rambutnya ke belakang, menampakkan matanya yang merah karena lelah namun tetap menatap tajam. Dengan jari telunjuknya, ia menyentuh dagu Arthen hingga wajah mereka berdekatan.
"Aktor Arthen yang terhormat, apa kau tidak bisa hidup tanpa menggangguku? Kau butuh perhatian, ya? Atau... jangan-jangan kau jatuh cinta padaku?" Menjaga jarak sambil berjalan meninggalkannya, Lucia tertawa terbahak. "Haha... sial, kau membuatku kesal setengah mati."
"Ya, aku mencintaimu," ungkap Arthen lirih, namun tak terdengar oleh Lucia yang sudah melangkah masuk ke minimarket di seberang jalan.
Setelah membeli mie instan dan beberapa minuman, Lucia segera berjalan pulang menuju apartemen David—kekasih yang sudah lima tahun menemaninya.
David adalah cahayanya. Pria itu sudah berjanji akan meresmikan hubungan mereka bulan ini, meski ekonomi mereka sedang sulit. Lucia percaya, asalkan bersama David, ia sanggup menghadapi dunia yang kejam ini.
Ia tidak sabar ingin menumpahkan keluh kesahnya pada lelaki yang selalu menjadi pendengar setia itu. Ia ingin bercerita tentang kejadian di lokasi syuting dan pertemuannya dengan Arthen—rival berat David yang selalu mengganggunya.
Harusnya, itu yang ia katakan sesuai rencana di kepalanya.
Namun, saat sampai di depan pintu apartemen, Lucia mendengarnya. Sebuah suara yang membuat jantungnya seakan berhenti berdetak.
"Hmphh~ ahh.. ahhh..."
'Suara desahan siapa itu?' batin Lucia. Perasaannya mendadak tidak enak.
Ia mendorong pintu kamar David dengan kasar.
"Kak David... kau..."
Lucia kehilangan kata-kata. Plastik belanjaan di tangan Lucia jatuh ke lantai. Mie instan di dalamnya hancur, sama seperti hatinya saat ini.
Di atas ranjang itu, David tidak sendirian. Ia sedang bersama seorang wanita.
"Lucia, ini... ini tidak seperti yang kamu pikirkan!" David tergesa turun dari ranjang dengan panik. Dengan keadaan tubuh setengah telanjang dan kancing celana yang terbuka, David menghampiri dan memegang tangan Lucia yang mematung di ambang pintu.
"Apa yang kalian lakukan?"
Pikiran Lucia kosong. Ia tak percaya dengan apa yang terpampang di depan matanya.
"Lucia... kami hanya..." David berusaha menjelaskan.
"Jawab!" tegas Lucia. David tersentak, tak biasa mendengar suara keras dari wanita yang biasanya lemah lembut itu.
"Navy, apa kamu sadar apa yang kamu lakukan sekarang?"
Lucia menatap kecewa ke arah wanita yang sedang membungkus tubuh telanjangnya dengan selimut. Lucia sangat mengenalnya. Dia Navy, sahabat masa kecil yang selalu bersama dan saling mendukung selama ini.
"Karena sehubungan sudah ketahuan juga, apalagi yang perlu disembunyikan darimu," sahut Navy tanpa rasa bersalah.
"Ya tentu aku sadar dengan apa yang kulakukan. Bahkan aku sangat menikmatinya. Aku mencintai Kak David, Lucia! Dan harus kau tahu Kak David juga mencintaiku. Kau... sama sekali tidak dicintainya tuh."
"Dasar perempuan sialan! Keluar kau! Berani-beraninya kau melakukan ini di sini!"
Lucia merangsek maju, menyeret Navy keluar dari kamar. David mengikuti dari belakang dengan wajah pucat. "Lucia sudah, berhenti! Tolong jangan seperti ini!"
Di ruang tamu, Navy menyentak tangannya hingga terlepas. "Lepaskan, Lucia! Kau pikir tanganku tidak sakit?!" makinya.
Lucia berhenti dan menatap nyalang. "Sakit kau bilang?! Lalu bagaimana denganku yang melihat kalian melakukan hubungan seperti itu di belakangku?!"
Isakan Lucia pecah. Ia marah, murka, tapi rasa kecewanya jauh lebih besar kepada mereka berdua.
"Kenapa kamu tega melakukan itu dengan pacarku, Navy? Na-vy, dari banyaknya pria, kenapa harus dengannya? Aku mencintainya, dia segalanya bagiku! Tapi... KENAPA KAU TEGA MELAKUKAN INI?!"
Tangis Lucia semakin menjadi. Ia terus mengusap air matanya yang jatuh tanpa bisa dicegah.
"Lucia, bisa tidak kamu tenang. Kau membuatku frustrasi, tahu!" bentak Navy yang mulai kehilangan kesabaran. "Sekarang aku tidak bisa bersabar menghadapimu! Kau ini sangat menjengkelkan!"
Plak!
Lucia menampar pipi Navy secara spontan. Belum sempat Lucia melayangkan pukulannya, David bergerak melindungi Navy. Kibasan tangan David yang kuat untuk menjauhkan Lucia justru mengenai wajah kekasihnya itu.
"Kak David..." Lucia tertegun, tangannya memegangi pipinya yang terasa panas.
Ia tak menyangka David akan memilih melindungi Navy hingga membuat pipinya terkena kibasan tangan pria itu.
Lucia sontak mengangkat tangan dan melayangkan tamparan balasan kuat tepat ke wajah David.
"Mulai sekarang kita putus!"
Setelah kalimat itu terucap dari bibirnya yang bergetar, Lucia berbalik pergi. Ia mengabaikan reaksi David dan berlari keluar dari apartemen itu sambil menahan isak tangis yang menyesakkan.
Semuanya berakhir. Kepercayaannya, cintanya, dan rumahnya—semuanya hancur dalam satu malam.
"Kenapa kau tega seperti ini padaku, Kak David?" bisik Lucia di tengah pelariannya, menjauh pergi dari apartemen itu.
Bersambung...
"Selamat atas pencapaian luar biasamu malam ini, Nona Lucia. Pidato yang sangat menyentuh," sebuah suara bariton yang berat dan sarat akan wibawa memotong kedekatan Arthen dan Lucia.Alexander Valerius berdiri di sana, menatap mereka berdua dengan ekspresi datar yang sulit dibaca. Aura kepemimpinannya yang kuat seketika mengembalikan atmosfer menegangkan di meja nomor satu.Lucia refleks menarik diri, membungkuk hormat dengan canggung. "T-terima kasih banyak, Tuan Alexander. Ini semua tidak akan terjadi tanpa kepercayaan yang diberikan oleh V-ACE.""Kau pantas mendapatkannya. Bakatmu adalah aset berharga bagi kami," ujar Alexander formal. Matanya kemudian melirik sekilas ke arah wajah Lucia yang masih menyisakan jejak air mata. "Hana, bawa artismu ke ruang rias sebentar. Wajahnya perlu dirapikan sebelum sesi wawancara eksklusif nanti."Hana, yang sejak tadi berdiri kaku di belakang mereka, langsung tanggap. Insting asistennya mendadak tajam melihat situasi ini. "Ah, benar! Mari, Kak L
Lampu sorot aula megah itu kini berpusat sepenuhnya pada dua titik: podium utama tempat piala baru telah menanti, dan jalur menuju panggung tempat Victor sudah melangkah tegap dengan tuxedo peraknya. Sementara itu, Lucia masih terpaku di kursinya, tangannya menempel erat di bibir dengan mata bulat yang berkedip tak percaya."Kak Lucia! Ayo naik lagi! Itu aktor Victor sudah menunggumu!" Hana berbisik heboh sambil mengguncang bahu Lucia dari belakang, gemas melihat bosnya yang mendadak linglung setelah baru saja turun dari podium."T-tapi Hana, baru saja aku..." Lucia menatap piala Aktris Populer di pangkuannya, lalu menatap Arthen yang duduk di sebelahnya.Arthen terkekeh pelan. Suara baritonnya terdengar begitu renyah di tengah gemuruh tepuk tangan penonton, meski ada kilatan tipis yang tertahan di matanya. Ia mengulurkan tangan, membantu Lucia berdiri dengan sentuhan lembut namun tegas di siku wanita itu. "Pergilah, Elena. Wyn-mu sudah menanti di atas sana. Tunjukkan pada mereka men
"Kau yakin kita harus melakukan ini, Rey? Ini gila!" Hana berbisik sambil menyesuaikan earpiece yang ia pinjam dari kru keamanan gedung. Wajahnya tampak tegang di bawah lampu remang-remang area backstage."Hana, jika benar apa yang kita lihat di restoran tadi siang, maka keselamatan Nona Lucia bukan lagi soal karier, tapi soal martabat agensi kita," Rey menyahut sambil terus menatap layar tabletnya, memantau pergerakan tamu. "Robin ada di daftar tamu undangan kehormatan. Itu tidak masuk akal kecuali dia punya rencana busuk.""Aku sudah memeriksa semua minuman di meja nomor satu," Hana mengangguk mantap. "Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun mendekati Kak Lucia tanpa seizinku. Tapi Rey... kalau sampai polisi benar-benar datang seperti firasatmu, apa kita harus melawan?""Kita tahan mereka sebentar, beri waktu untuk Tuan Arthen membawa Nona Lucia keluar lewat pintu darurat. Aku sudah menyiapkan mobil di basement B2," jawab Rey tenang, meski jemarinya bergetar.
"Rey, kau lihat itu? Kau lihat?!" Hana menarik ujung jas Rey hingga pria itu nyaris tersungkur di balik pilar lobi gedung V-ACE."Hana, pelankan suaramu! Kita bisa ketahuan!" Rey berbisik tajam sambil membenarkan letak kacamatanya. Matanya menyipit, menatap sebuah mobil sedan hitam yang baru saja meluncur pelan menjauhi lobi. Di dalam mobil itu, terlihat jelas CEO mereka, Arthen Valerius, sedang membukakan pintu untuk Lucia."Itu... itu bukan Martin, kan?" Hana menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya membelalak lebar. "Aku pikir yang menjemput Kak Lucia untuk makan siang itu Martin si petinju itu. Tapi itu tadi... Tuan Arthen? Dan cara dia memegang pintu... itu bukan cara bos memperlakukan artisnya, Rey!""Aku tahu," sahut Rey pendek, dahinya berkerut dalam. "Arthen itu tipe pria yang sangat menjaga jarak. Jangankan membukakan pintu, biasanya dia hanya akan menyuruh asisten untuk memastikan artisnya sampai tepat waktu. Tapi tadi... dia tersenyum, Hana. Ter
Udara di area parkir terasa membeku secara mendadak. Lucia masih terpaku di balik mobil boks, jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging menyakitkan. Kalimat Arthen di telepon tadi terus menggema di kepalanya. Wanitaku... meninggalkannya... penguntit...Arthen mem
Pagi yang tenang di sebuah halte bus yang dikelilingi pepohonan hijau. Kamera menyorot sosok wanita dewasa dengan rambut hitam lurus yang tergerai indah, tertiup angin sepoi-sepoi. Ia adalah Elena, mengenakan kemeja putih bersih dengan lengan yang sedikit tersingkap, menatap kosong ke arah jalana
Malam itu, Lucia baru saja melepaskan gaun biru mudanya dan menggantinya dengan kaus kebesaran yang nyaman serta celana pendek. Ia baru saja selesai membersihkan wajah, namun bayangan pembacaan naskah tadi siang masih menari-nari di kepalanya. Tatapan Victor yang tajam, tepuk tangan Sut
Di dalam van hitam yang merayap pelan menembus kerumunan, Lucia duduk dengan jemari yang saling bertaut erat. Sesekali ia membuang napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang sejak semalam tidak bisa diajak kompromi. "Jujur saja, Hana... semalaman aku sulit sekali tidur


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews