MasukDaisy mendorong pintu kamarnya dan berhenti tepat di ambang.
Gadis itu sedikit terkejut kala melihat kamar yang biasa dia tempati sudah didekorasi ulang. Penuh dengan furnitur baru dan didominasi dengan warna putih yang minimalis.Tempat tidur dengan sprei linen putih, meja rias kayu oak dengan cermin besar, bahkan karpet bulu halus di lantai.Olga pasti menyiapkan ini semua untuk berjaga-jaga. Namun Daisy merasa ini sia-sia. Kenyataannya tidak ada siapa pun lagi yaDaisy merebahkan tubuhnya yang terasa pegal ke ranjang. Otot-ototnya masih belum terbiasa dengan pekerjaan fisik di kebun lemon sore tadi. Gadis itu merentangkan tangannya ke samping sambil menatap langit-langit kamarnya yang sederhana dengan pandangan kosong, pikiran melayang ke mana-mana. "Di mana ponselku?" gumam Daisy pelan. Daisy meraih saku roknya dan mengeluarkan ponsel yang terselip di sana. Jari-jari Daisy bergerak tanpa dikomando, mengetik nama Jade Draxus dalam kolom pencarian di internet. Bertemu Peter dan segala kebetulan yang menyertai pertemuan mereka, justru membuat hati Daisy terasa sesak dengan rindu yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Sudah lama Daisy tidak mendengar kabar tentang Jade. Padahal dulu hampir setiap hari selama 24 jam, mereka selalu berkomunikasi. Daisy memilih kolom berita. Walaupun mungkin hanya akan ada berita b
Kini Peter ikut memetik lemon di sekitar Daisy dan Martha. Pria itu bergerak terampil, jelas sudah terbiasa dengan pekerjaan seperti ini. "Kau bilang, kau butuh referensi untuk mengajar," ucap Daisy sambil meraih satu buah lemon berwarna kuning cerah. "Apa kamu seorang guru?" "Bukan, aku dosen," jawab Peter sambil memutar batang lemon dengan hati-hati sebelum memetiknya. Daisy mengangkat kedua alisnya. Mata gadis itu sedikit melebar. Itu bukan jenis pekerjaan yang biasanya dimiliki oleh seseorang dari desa ini. "Dosen apa?" tanya Daisy penasaran. Peter tersenyum simpul. Ada kesenangan sendiri dalam dirinya, mengetahui Daisy bertanya tentangnya. "Dosen pascasarjana untuk jurusan manajemen di Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Nusantara," jawab Peter. Daisy menutup mulutnya dengan tangan. "Astaga ...." gumam Daisy sambil menatap Peter tidak percaya. "Ada apa?" tanya Peter khawatir.
Presenter berita beralih ke berita lain. Namun pikiran Daisy masih terpaku pada berita tentang Bianca. Bayangan wajah kakak angkatnya itu terus berputar di kepala, membawa berbagai perasaan campur aduk yang merayap di dadanya. "Dia mendapatkan karmanya, Daisy," celetuk Martha sambil menyendok bubur jagungnya. "Padahal kau tidak berbuat apa-apa untuk membalasnya dan hanya menjalani hidup dengan baik." Daisy menoleh pada Martha, tersadar dari lamunannya. Gadis itu melanjutkan makannya. "Makanlah yang banyak," ucap Daisy sambil menaruh satu sendok bubur jagung lagi ke mangkuk Martha. Daisy sengaja mengalihkan perhatian Martha. Dia tidak ingin membicarakan Bianca lebih lanjut, apalagi menjelaskan perasaannya yang rumit tentang kehancuran keluarga yang dulu pernah menampungnya. Walaupun Martha sangat baik padanya, gadis itu masih belum ingin membagikan cerita dari sisinya dengan detail. Daisy masih butuh waktu untuk membuka diri sepenuhnya. "Kau suka?" tanya Martha sambil men
Sejenak Daisy berpikir. Gadis itu menatap mangkuk sup di depannya sambil menimbang-nimbang jawaban yang tepat. "Ada beberapa hal yang ingin aku lakukan.” Daisy akhirnya menjawab. “Tapi pertama-tama, aku harus membeli beberapa pakaian. Seperti yang kau lihat, aku tidak membawa koper." Sejak kosnya kebakaran, Daisy benar-benar tidak memiliki pakaiannya sendiri. Saat itu dia langsung tinggal di rumah Vincent, di mana pakaian sudah tersedia di sana. Namun itu bukan pakaian miliknya. Martha mengangguk mengerti. Dia sudah memperkirakan hal itu sejak melihat Daisy hanya membawa satu tas kecil. "Kalau begitu, ayo kita ke pasar," ajak Martha sambil berdiri dari kursinya. "Toko pakaian terdekat hanya ada di pasar. Jika mau ke pusat perbelanjaan, kau harus menempuh perjalanan satu jam dengan transportasi umum." "Tidak apa-apa. Semua pakaian sama saja," balas Daisy sambil tersenyum tipis.
“Nona Daisy!” Suara wanita itu memecah udara pagi yang masih dipenuhi kabut tipis. Daisy yang baru saja menuruni anak tangga kereta berhenti melangkah. Dia menoleh ke arah sumber suara itu. Di ujung peron, seorang wanita muda melambaikan tangan beberapa kali dengan semangat. Senyumnya pun sangat lebar. Daisy langsung mengenalinya. “Martha?” sapa Daisy. Pelayan yang pernah Vincent pekerjakan khusus untuk melayani Daisy yang terkurung di rumah itu mengangguk cepat sambil tertawa kecil, lalu berjalan mendekat. Daisy ikut tersenyum. Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan kota, dadanya terasa sedikit lebih ringan. Begitu jarak mereka cukup dekat, Martha berhenti dan sedikit menundukkan kepala. “Selamat datang, Nona Daisy.” Daisy terkekeh pelan. “Tolong, pakai nama saja,” pinta Daisy. “Kamu bukan lagi pelayanku.”
Jade meraih amplop itu. Hampir terlihat seperti sedang merebutnya dari tangan Sam. Pria itu membukanya dan mengeluarkan selembar kertas yang dilipat rapi. Dia mulai membaca dengan mata yang bergerak cepat dari baris ke baris. [Tuan Jade, Saat Tuan membaca surat ini, mungkin saya sudah tidak berada di tempat yang bisa Tuan jangkau. Jangan khawatir. Saya tidak pergi karena membenci Tuan. Justru sebaliknya. Saya pergi karena terlalu menghormati Tuan. Terima kasih sudah datang ke hidup saya saat dunia terasa begitu gelap. Terima kasih sudah memegang tangan saya ketika saya bahkan tidak yakin masih pantas untuk hidup. Tuan pernah berkata bahwa saya kuat. Padahal sebenarnya, kekuatan saya selama ini hanyalah karena Tuan berdiri di belakang saya. Jika suatu hari Tuan melihat langit sore yang cerah, anggap saja itu saya yang sedang tersenyum dari jauh.







