LOGIN“Ah, kau benar,” sahut Sydney yang langsung menunduk untuk memeriksa ponselnya.
Sementara Daisy mendekatkan dirinya pada Elias.“Siapa?” bisik Daisy malu-malu.“Kembaran Kak Sereia,” jawab Elias tersenyum.Daisy mengangguk-angguk. Gadis itu kembali menegakkan punggungnya.Dari sudut matanya, Daisy melihat Jade menatap lurus ke arahnya. Namun di sini, Daisy tidak akan menanggapi pria itu.“Zaleia sedang dalam perjalanan,” ucap Sydney beberapa saat kemudian. “Bagaimana dengan Bianca?”Kali ini Sydney beralih pada Jade. Pria itu menoleh pada ibunya dengan tatapan datar.“Dia memintaku menunggunya di sini,” jawab Jade.“Oh? Baiklah,” sahut Sydney tidak mempermasalahkan lebih jauh.“Siapkan saja makanannya. Kita tinggal menunggu Bianca dan Zaleia,” usul Morgan, yang langsung disetujui oleh Sydney.Nyonya Besar Mansion Ravenfell itu segera bangkit dan masuk ke area dapur untuk berbicara dengan pelayan. Sydney kembali sambil membantu membawa sebu“Jika perlu kunci utama,” sahut Daisy pelan, “bilang saja. Aku punya untukmu dan Kak Bianca.” Daisy menoleh pada July dan Gea. “Aku juga akan membuatkannya untuk kalian.” Kata-kata itu menusuk seperti duri kecil. July dan Gea, yang semula tampak siap meledak, justru terlihat semakin muram. Daisy tahu dirinya bersalah. Namun memaksa masuk ke apartemen seseorang tanpa izin juga bukan tindakan yang benar. Daisy sama sekali tidak heran jika Bianca-lah yang menginisiasi memaksa masuk apartemennya. Elias menghela napas panjang. Sesaat tidak ada satu pun dari mereka yang bicara. “Maaf, Daisy,” ujar Elias memecah keheningan. “Aku tahu ini salah. Tapi Kak Bianca tentu ingin tahu apa yang terjadi di dalam apartemenmu. Kau membawa masuk tunangannya, dan bukankah kau juga berutang penjelasan pada kami?” Daisy mengangguk-angguk pelan, menerima kenyataan itu. “Daisy! Tid
“Bianca,” panggil Jade datar. “Kita bicara di luar.” Daisy menggigit bibir mendengar itu. Entah mengapa dia merasa sedikit kecewa Jade lebih memilih bicara terpisah dengan Bianca. Seolah dia tidak cukup penting untuk dipertahankan di hadapan semua orang. Bianca mendengkus pelan, menghempaskan tangan yang masih digenggam Jade. “Apalagi yang perlu dibicarakan?” serang Bianca. “Kau sudah tertangkap basah tidur dengan adikku. Tidak mungkin kau melakukan pekerjaan di dalam sana!” July dan Gea saling melirik, sementara Elias hanya berdiri tanpa tahu bagaimana harus menangani apa yang terjadi di depannya saat ini. Jade menatap Bianca tanpa bergetar sedikit pun di wajahnya. Tatapannya lalu beralih pelan ke July, ke Gea, ke Elias, sebelum akhirnya kembali ke Daisy. Tidak ada kata-kata yang Jade ucapkan. Hanya observasi, tetapi cukup membuat ruangan itu terasa lebih tegang. Saat kem
Daisy menatap Jade. Jemari Daisy menyentuh dada bidang pria itu, merasakan detak jantung yang sama cepat dengan miliknya. "Saya …" Daisy menggigit bibir bawahnya. "Saya tidak tahu." Jade menarik napas dalam. Tangannya mengusap pipi Daisy dengan lembut. "Daisy," panggil Jade pelan. "Saya tidak akan memaksamu. Tapi saya juga tidak yakin saya bisa menahan diri saya lebih lama, jika kau ada di dekat saya." Daisy menatap mata Jade. Di sana ada hasrat, tetapi juga ada kelembutan. Ada keinginan yang kuat, tetapi juga ada kesabaran. Akhirnya, Daisy menarik Jade lebih dekat. "Jangan berhenti," bisik Daisy di telinga Jade. Suara napas tertahan dan helaan panjang memenuhi kamar Daisy. Di atas ranjang, Jade memimpin ritmenya perlahan, sementara Daisy mengikuti gerakannya seperti sebuah tarian yang hanya mereka berdua yang mampu memahami temponya. Sentuh
Pukul tujuh malam, angin sore yang mulai dingin menerobos sela-sela area drop-off gedung apartemen itu. Lampu-lampu halaman telah menyala, memantulkan cahaya kuning hangat pada lantai keramik yang masih sedikit basah karena hujan gerimis sebelumnya.July dan Gea baru tiba. Rambut keduanya sudah lebih rapi dan mereka tampak bersemangat, meski masing-masing memeluk kantong belanja kecil berisi makanan dan minuman untuk Daisy.“Kita tanya satpam dulu,” ucap July sambil menoleh mencari pos keamanan.Namun langkah July terhenti ketika sebuah mobil berhenti tepat di depan pintu lobi. Pintu depan sebelah kanan terbuka, dan sosok Daisy turun dengan rambut terikat rendah dan jaket di pundaknya. Wajahnya terlihat segar.July hampir berteriak memanggil. “Dais–”Mulutnya langsung tertutup telapak tangan Gea.“Diam,” bisik Gea panik sambil menyeret July ke belakang sebuah tiang. “Jangan panggil dia dulu!”July mengerutkan dahi keras. “Apa?! Kenapa?!”Gea tidak men
Daisy dan Jade datang terlambat hari itu. Bukan karena macet atau karena ada urusan mendadak. Namun karena setelah keluar dari apartemen Daisy dan sebelum sampai di kantor, gadis itu itu memaksa untuk pergi ke butik pria guna membeli kemeja dan jas baru untuk Jade kenakan. "Tuan, kita sudah terlambat," protes Daisy sambil melirik jam di dashboard mobil. “Siapa yang berani menegur saya?” tanya Jade tidak peduli sambil mengangkat salah satu alisnya. Daisy hanya bisa menghela napas. Beberapa saat kemudian, mereka keluar dari mobil yang sama di basement kantor. Jade berjalan di depan dengan jas baru berwarna abu-abu gelap, sementara Daisy mengikuti di belakang dengan tas kerja di bahu dan tablet di tangannya. Begitu mereka masuk ke dalam lift eksklusif, bisik-bisik mulai terdengar dari karyawan lain yang melihat mereka melewati lobi. Daisy dan Jade tidak menyad
Daisy menyewa jasa pindahan malam itu juga untuk mengangkut barang-barangnya dari kamar di kediaman Keluarga Lulla ke unit apartemen yang baru dia sewa. Pekerja pindahan bergerak cekatan, mengangkut kardus-kardus berisi pakaian, buku, dan beberapa barang pribadi Daisy. Tidak banyak. Hanya cukup untuk memenuhi satu mobil boks kecil. Saat menatap kamar yang dia tempati kini kosong, Daisy berdiri di ambang pintu dengan perasaan campur aduk. Tidak ada lagi kasur dengan sprei lusuh. Tidak ada lagi lemari kecil di sudut. Tidak ada lagi meja belajar tempat dia sering menangis diam-diam. Hanya ruang kosong dengan dinding pucat yang pernah menyaksikan semua kesedihannya. Daisy tersenyum pahit. "Bu," gumam Daisy lirih, seolah berbicara pada sosok yang tidak terlihat. "Aku pindah ke tempat tinggal baru. Jangan datang ke sini lagi." Kemudian Daisy menutup pintu kamar itu untuk terakhir kalinya. Saat Daisy melangkah







