Share

89. Kecanduan

Author: prasidafai
last update Last Updated: 2025-12-31 18:05:57

Daisy langsung menoleh cepat. Pipinya merona merah.

"Tuan Jade!" protes Daisy pelan.

Jade hanya tersenyum miring. Dia melepas jas yang dipakainya dan menggantungnya di belakang pintu.

"Santai saja," ucap Jade sambil melonggarkan kancing kemejanya. "Saya hanya bercanda."

Daisy menunduk, tidak berani menatap Jade terlalu lama.

Kamar ini besar, dengan tempat tidur king size di tengah, sofa panjang di sudut, dan jendela besar menghadap taman belakang.

Jade berjalan ke arah lemari dan mengambil kain yang terlipat berwarna putih. Lalu pria itu mendekati Daisy yang masih berdiri terpaku di tempatnya.

“Kau perlu ganti pakaian,” tukas Jade sambil menyodorkan kain itu. “Kamar mandi di sebelah sana.”

Jade kini menunjuk sebuah pintu berwarna putih yang tertutup di sudut kamar.

“Tapi kalau kau mau ganti di depan saya juga tidak apa-apa,” sambung Jade sambil menyeringai jahil.

Daisy menggeleng samb
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   95. Berikan Padaku

    Zaleia mengangguk pelan sambil menyesap tehnya, membiarkan keheningan menggantung sejenak di udara. Uap tipis dari cangkir porselen itu naik perlahan. “Daisy, yang merupakan adik angkat Kak Bianca saja harus melalui proses wawancara beberapa kali seperti calon karyawan pada umumnya sebelum bekerja dengan tunangan Kak Bianca.” Zaleia meletakkan cangkirnya perlahan dengan tenang. “Bahkan, aku dengar Kak Jade sama sekali tidak tahu Daisy adalah adik Kak Bianca sampai dia bekerja lebih dari satu minggu.” Kalimat yang Zaleia lontarkan itu sangat rapi, tanpa ada nada menyerang. Namun justru di situlah kekuatannya. “Di keluarga kami, tidak ada istilah atas nama keluarga, Kak. Semua dipilih berdasarkan kualitas dan mengikuti sistem pemilihan yang adil.” Zaleia melanjutkan dengan tegas. Wajah Bianca memerah. Wanita itu mengepalkan tangan di atas paha hingga kukunya menekan kulit seakan mencari penyaluran bagi amarah yang menggelegak. Napas Bi

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   94. Nyaman Berada di Dekatmu

    Saat Daisy dan Sereia sudah berjalan menjauh, Jade berbalik menghadap Bianca.Wanita itu masih terpaku di tempat, kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuh. Wajahnya memerah."Kau seharusnya lebih mendengarkan aku, Sayang!" desis Bianca penuh penekanan.Jade menatap Bianca dengan tatapan datar. "Memangnya siapa dirimu hingga saya harus lebih mendengarkanmu?"Bianca membeku.Kata-kata itu menghantam seperti tamparan keras. Mulutnya sedikit terbuka, tetapi tidak ada suara yang keluar."Tunggulah di mobil jika kau tidak ingin ikut. Saya belum tentu bertemu dengan Sereia setahun sekali. Ini kesempatan bagus." Jade melanjutkan dengan nada yang sama datarnya.Selain menjadi dokter hewan di kliniknya, Sereia memang aktif menjadi dokter di Perhimpunan Satwa Dunia dan sering pergi ke berbagai negara untuk menyelamatkan satwa liar maupun jinak, dari yang berukuran kecil hingga besar.Kepulangan Sereia ke Mansion Ravenfe

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   93. Mau Lihat?

    Beberapa jam sebelumnya.Daisy masih berada di kamar Jade, berbaring di ranjang king size dengan selimut tebal menutupi tubuh polos mereka berdua.Keringat masih membasahi kulit. Napas masih belum sepenuhnya teratur.Daisy menyandarkan kepala di dada Jade yang naik turun perlahan sambil mendengarkan detak jantung pria itu yang mulai melambat.Jade mengusap rambut Daisy dengan lembut, jemarinya menyusuri helai demi helai. Sesekali menghirup aromanya.Keheningan yang nyaman menyelimuti mereka. Sampai dua ponsel berdering hampir bersamaan.Daisy tersentak. Sementara Jade mengernyitkan dahi.Gadis itu meraih ponselnya dari nakas. Layarnya menyala, panggilan dari sekretaris Marco.Jade juga mengambil ponselnya dan melihat nama Marco di layar ponselnya."Tuan Marco?" Daisy menebak sambil melirik Jade.Jade mengangguk sambil menatap layar ponselnya."Saya ditelepon oleh sekretaris Tuan Marco. Pasti mereka hendak menyampaikan hal yang sama," ucap

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   92. Memperlihatkan Tubuh pada Banyak Orang

    Jade menatap Bianca lama. Lalu dia menghela napas panjang. "Terserah," ucap Jade dingin. "Tapi jangan mengganggu kami." Jade masuk ke kamar dan menutup pintu. Bianca berdiri di koridor bersama Daisy. Keheningan mencekam menyelimuti mereka berdua. Daisy menatap Bianca dengan raut wajah datar, tidak ada rasa takut di matanya. Bianca menatap balik dengan amarah yang masih membara. "Kau pikir aku bodoh, Daisy?" bisik Bianca tajam. "Aku tahu kau berbohong." Daisy tidak menjawab. Gadis itu hanya tersenyum tipis, lalu berbalik berjalan menuju ruang kerja Sydney. Bianca mengepalkan tangannya lebih kuat. Beberapa menit kemudian. Suara pintu ruang kerja terbuka pelan, tetapi cukup untuk membuat Daisy yang sudah berada di sana lebih dulu menoleh. Gadis itu sedang berdiri di depan meja besar, menata laptop, tablet, dan be

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   91. Mau Membangunkan Saya?

    “Tidak!” bentak Jade sambil menatap tajam Bianca. Bianca yang sudah menerjang ke depan terpaksa berhenti ketika kedua bahunya digenggam kuat. Jade mendorongnya menjauh dari ambang pintu, cukup keras untuk membuat tubuh Bianca terhuyung satu langkah ke belakang. Koridor yang luas itu mendadak terasa pengap oleh ketegangan yang menumpuk. Bianca terdiam. Deru napas wanita itu memberat dan dadanya naik turun cepat, seperti bara yang baru saja disiram bensin. “Kau …” Bianca terkekeh sumbang. “Kenapa? Kau takut ketahuan kalau tidur bersama Daisy?!” Tatapan Bianca turun perlahan. Dari rahang Jade yang mengeras, ke lehernya yang terekspos, lalu ke dada pria itu di balik piyama yang tidak rapi. Mata cokelatnya menyipit saat menemukan noda merah samar lain di kulit Jade. Bianca mengangkat tangannya. Namun sebelum ujung jari Bianca sempat menyentuh noda itu, Jade menghempaskannya. “Jangan sentuh saya,” tukas Jade rendah dan tajam. “Kau mau mengelak seperti apa lagi, Jade?” Suara Bianca

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   90. Ingin Tidur Bersamamu

    Jam dinding berdetak pelan, tetapi setiap detiknya terasa seperti ejekan. Waktu menunjukkan pukul sebelas malam, ketika Bianca masih terjaga. Wanita itu duduk di tepi ranjang dengan lingerie merah marun yang memeluk tubuhnya sempurna. Namun tidak ada kehangatan di matanya. Hanya ada amarah dan dendam yang tampak jelas di mata cokelat itu. Bianca menarik napas dalam, lalu mengembuskannya kasar. “Kurang ajar,” gumam Bianca lirih. Bayangan makan malam itu kembali menghantam pikiran Bianca. Cara Jade membela Daisy, seolah dunia Jade tertuju hanya pada adik angkatnya itu. Bianca mengepalkan tangannya di atas sprei. Wajah wanita itu mengeras. Dia tidak akan bisa tidur sebelum memastikan sesuatu. Akhirnya Bianca memutuskan untuk bangkit. Dia mengambil luaran lingerie-nya, sebuah kimono sutra tipis berwarna hitam, dan mengenakannya dengan tergesa. Lalu keluar kamar dengan langkah yang penuh tekad. Koridor mansion terlihat sunyi. Hanya lampu-lampu kecil di dinding yang menyala r

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status