Masuk"Di mana Kenzie, Vio?" tanya Papa yang berlari mendekatiku, tangan kanannya masih memegang inti tubuh.
"Kenzie ... dia hilang, Pa. Nggak tau ke mana," jawabku dengan suara penuh frustrasi. Rasanya hatiku hancur, ingin rasanya menangis. "Kok bisa hilang sih? Gimana ceritanya?" Papa langsung berlari mencari, dan aku segera menyusulnya, berharap dapat menemukan Kenzie dengan segera. Semoga Kenzie ditemukan dalam keadaan selamat. *** Pov Calvin. Aku benar-benar kecewa dengan jawaban Viona, karena dengan mudahnya dia mengatakan ingin berdamai denganku, setelah apa yang telah terjadi di antara kita. Apakah dia sama sekali tidak memikirkan bagaimana perasaan suaminya, jika hal ini diketahui? Viona, kukira kamu sudah berubah sekarang. Tapi nyatanya, kamu masih sama seperti dulu. Masih suka menyakiti hati suamimu. Padahal, bukankah kamu sendiri yang bilang, bahwa rasa cintamu terhadap Yogi begitu dalam hingga kamu tidak pernah bisa menerima pernikahan kita? Tak pernah mau mencoba mencintaiku? Aneh sekali kamu ini, Vio. Memang, ini bukan sepenuhnya kesalahanmu. Tapi setidaknya kamu bisa menghukumku. Mengadukanku kepada pihak polisi, Yogi, atau Papa Tatang supaya aku mendapatkan hukuman. Aku tidak masalah, Vio, jika harus dihukum dan masuk penjara lagi. Lagian, hidupku sedari dulu memang sudah berantakan. Saat dimana kamu lebih memilih Yogi daripada aku. Ayah maafkan aku, padahal aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk menjadi pria yang lebih baik lagi. Namun nyatanya, setelah lima tahun berlalu, aku tetap menjadi Calvin yang dulu. Yang selalu membuat masalah, yang selalu membuat Ayah kesal. Tapi aku beruntung, karena meski sekacau apapun hidupku, Ayah tetap menyayangiku. Apa mungkin apa yang aku alami dalam hidupku adalah karma dari Mama, yang dulu pernah mengkhianati Ayah? Aku sih berharap bukan, karena aku juga ingin bahagia, Ayah. Aku ingin dicintai, dicintai oleh seorang perempuan yang juga aku cintai. * * Setelah meninggalkan hotel, aku memutuskan untuk pergi ke restoran semalam. Aku ingat Viona mengatakan bahwa dia yang mengantarkanku, yang berarti mobilku tertinggal di restoran. Aku tahu Viona tidak bisa mengendarai mobil. Benar, mobilku tertinggal di restoran. Setelah membayar ongkos taksi, aku pulang ke rumah menggunakan mobilku. Siang ini aku ada meeting, tidak mungkin aku pergi ke kantor dalam keadaan belum mandi dan mengenakan pakaian kemarin. Ditambah lagi, hapeku lowbet, chargernya ada di rumah. "Selamat pagi Pak Calvin," sapa satpam rumahku begitu aku turun dari mobil. Kupandang sejenak, mobil berwarna merah milik Agnes terparkir rapih di halaman. Aneh, mengapa dia datang ke rumahku pagi-pagi seperti ini? Apa dia tidak memiliki jadwal pemotretan? Bagi yang belum mengetahui pekerjaan Agnes, dia adalah seorang model pada salah satu perusahaan kosmetik. Kami pertama kali bertemu di Korea ketika dia tengah melakukan sesi pemotretan. Saat itu, kami saling berkenalan dan bertukar nomor hape, hingga akhirnya kami menjalin hubungan. Namun, yang menarik, bukan aku yang menyatakan cinta padanya, melainkan Agnes sendiri yang mengaku bahwa itu adalah cinta pada pandangan pertama. Tidak bermaksud untuk bersikap sombong, namun pada saat itu, aku memang belum mempertimbangkan untuk menjalin hubungan. Baik pacaran maupun menikah, itu tidak ada dalam pikiranku. Aku sejujurnya masih nyaman sendiri, bahkan sekarang pun tidak masalah bagiku jika harus hidup tanpa pendamping. Bagiku, untuk apa memiliki pasangan, jika dia tidak mencintai kita. Rasanya pasti sangat sakit. Itulah sebabnya aku belum merasa siap untuk hubungan serius dengan Agnes, karena hingga saat ini, aku belum melihat tanda-tanda bahwa cintanya padaku tulus. "Maaf Pak Calvin, di dalam ada Nona Agnes. Menunggu Bapak dari sejam yang lalu," ucap Pak Satpam dengan sopan. "Iya," aku mengangguk, lalu melangkah masuk ke dalam rumah. "Mas!!" Agnes yang duduk di sofa ruang tamu langsung berdiri dan berlari mendekat, memeluk tubuhku. "Mas ke mana saja, sih? Kok nomornya nggak aktif? Kata Pak Satpam juga Mas belum pulang dari semalam," ucapnya penuh kekhawatiran. Meskipun sudah dua tahun pacaran, entah mengapa, aku tetap merasa tidak nyaman saat dipeluk olehnya. Rasanya ada rasa risih yang sulit dijelaskan. "Hapeku lowbet, aku juga ada lembur di kantor," jawabku sambil mendorong pelan tubuh Agnes untuk menjauh. Lagipula, aku juga belum mandi, pasti bau. "Bener lembur? Bukannya kata Mas ... Mas semalam pergi ke restoran, ya, mau ketemu sama rekan bisnis, Mas?" Agnes menatapku dengan raut tidak percaya. "Itu benar. Tapi aku langsung balik ke kantor karena ada kerjaan," jawabku dengan mantap. Aku tidak bermaksud untuk membohongi Agnes, namun aku hanya menghormati permintaan dari Viona. Aku siap menghadapi konsekuensi jika suatu saat kebohonganku terungkap. "Oohh ... tapi Mas sempat ketemu Viona nggak, pas di restoran?" tanya Agnes. "Viona?!" Aku menatap pacarku dengan bingung, mengapa dia jadi bawa-bawa Viona segala? Dan jujur saja aku juga tidak menyangka jika Viona bekerja dengan Agnes, karena selama kami pacaran, Agnes tidak pernah menyebut-nyebut namanya. "Iya, Viona itu asisten pribadiku, Mas." "Terus kenapa?" Agnes menggeleng. "Ya enggak apa-apa. Dia hanya bicara kalau semalam ketemu sama Mas." "Oohh... ya udahlah nggak penting," ucapku acuh, lalu menunjuk ke arah tangga. "Aku mau mandi dulu, ya. Kamu mending pulang aja, Yang. Soalnya habis ini aku mau berangkat ke kantor." "Mas libur aja hari ini!" pintanya sambil mendekap tubuhku dari belakang. Aku merasa bingung, mengapa dia melarangku pergi bekerja? "Mending kita ke rumah orang tua Mas aja, yuk! Aku juga kepengen dong, Mas, dikenalin. Aku belum pernah lho ketemu sama orang tua Mas apalagi Ayah Mas," ajaknya antusias. "Nanti saja kalau ada waktu, Ayahku sibuk orangnya," jawabku singkat sambil menarik tangan Agnes dari pinggangku, lalu berlari pergi tanpa mempedulikan teriakan Agnes memanggil-manggilku. * Seusai mandi dan bersiap, aku langsung turun kembali ke lantai bawah. Namun, rupanya Agnes belum juga pulang. Dia kini berada di ruang keluarga tengah menonton televisi. Apa sebenarnya maunya? Kok ngeselin si Agnes lama-lama. "Kamu mau di sini terus, Yang? Ya kalau masih ingin di sini sih nggak apa-apa. Kalau begitu aku berangkat deh, ya?" Mending kutinggal saja sekalian deh, daripada terus meladeninya. Yang ada aku telat. "Aku minta nomor Ayah Mas dulu, baru aku pulang, Mas," pinta Agnes seraya berdiri dan menghampiriku. Aku merasa semakin tidak nyaman dengan kehadirannya. "Mau ngapain minta nomor Ayah? Dia sibuk orangnya, Yang," tegasku. "Aku ingin bersilaturahmi, Mas. Nanti aku hubungi dia kalau dia nggak sibuk," jawab Agnes mantap. "Silaturahmi itu secara langsung aja, nggak perlu lewat hape. Nggak sopan," tegasku lagi. "Ya habis Masnya lama, kapan dong ngajak aku buat ketemu Ayah?" Agnes tiba-tiba merengut dan bergelayut manja di pundakku sambil mengelus-elus dadaku. Ah, betapa menyebalkannya dia ini. Sudah kujelaskan tadi, tapi tetap saja tidak ada yang bisa dimengerti. "Kan sudah kubilang, nanti kalau ada waktu, Yang. Kamu nggak denger aku, ya?" Suaraku sedikit meninggi, aku mulai merasa emosi. Aku tidak suka dengan perempuan yang sulit diajak berbicara. "Nanti malam, ya, Mas. Habis Mas pulang kerja. Pokoknya nggak ada alasan lagi, nanti malam habis magrib aku ke sini lagi, oke?" Agnes tiba-tiba berjinjit dan mencium bibirku, lalu pergi dengan cepat sambil melambaikan tangan. Padahal belum sempat aku menjawabnya, tapi sudah oke-oke saja dia. Aku menghela napas dengan berat, lalu geleng-geleng kepala. "Ya sudahlah, toh hanya bertemu saja. Sepertinya tidak masalah," gumamku. Aku segera masuk ke dalam mobil, lalu memulai perjalanan menuju kantor. Setengah dari perjalanan, aku tiba-tiba teringat. "Oh ya, aku lupa untuk bertanya kepada asistenku tentang persiapan meetingnya nanti. Jangan sampai ada yang dia lupakan, karena aku tidak enak. Orang-orang yang ikut meeting adalah orang-orang yang sangat penting untuk kelangsungan bisnisku," pikirku sambil fokus mengemudi. Perlahan, aku merogoh hape di dalam kantong celana, yang sudah terisi penuh baterainya setelah sempat aku charger tadi. Namun, tiba-tiba... "Aakkkhh!!" Seorang anak kecil yang entah darimana asalnya menjerit histeris tepat di depan mobilku. Ah, sialan ini bocah! Benar-benar ingin cari mati! Kenapa dia justru diam ditengah jalan begini? Kenapa dia tidak langsung berlari menghindari mobilku? Waduuuhhh 😣Karena ada yang bilang tamatnya terlalu menggantung, jadi Author kasih BonCap ya, Guys... Happy reading ❤️❤️*****"Nena, ayok masuk ke dalam, Nak. Sampai kapan kamu duduk di luar terus?"Mama Winda melangkah menghampiri sang cucu yang duduk di kursi plastik di teras rumah. Langit sudah berubah jingga keunguan, angin sore berembus pelan, tapi Nena tetap bertahan di sana dengan kedua kaki menggantung, menatap ke arah gerbang.Sejak sampai rumah, bocah itu menolak untuk masuk. Dia mengatakan ingin menunggu Papa dan Mamanya. Tapi sudah hampir dua jam semenjak dia sampai rumah, kedua orang tuanya tak kunjung tiba."Nena masih nunggu Mama sama Papa, Nek.""Nunggunya di dalam saja, sambil tiduran di kamar. Kamu pasti capek, Nak. Kita 'kan habis perjalanan jauh." Mama Winda menyentuh lembut puncak rambut Nena, mengusapnya dengan penuh sayang.Nena menggeleng cepat."Nena nggak capek kok, Nek. Tapi kenapa Mama dan Papa lama banget??""Mungkin mereka terjebak macet, Nak."Mama Winda tahu seben
Keiko menunduk, menatap wajah kecil itu. Hatinya terasa berat seperti ditekan sesuatu. Dia lalu mengangguk sambil tersenyum, berusaha membuat ekspresinya terlihat biasa saja. "Iya, Sayang. Tentu saja jadi." "Ya sudah, ayok sekarang kita ke mobil," ajak Ayah Calvin, langsung merangkul bahu sang anak. Gerakannya tegas, seperti ingin segera mengakhiri momen itu segera. Tangan Nena pun perlahan terlepas dari lengan Keiko. Jemari kecil itu sempat mencengkeram, seolah enggan benar-benar melepaskan, sebelum akhirnya terurai. Jamal dengan cepat menggendong kembali Nena. Meski gadis itu sudah bisa berjalan, dia tetap mengangkatnya dengan hati-hati. Satu tangan menyangga punggung, satu lagi di bawah lututnya. Dia tak ingin mengambil risiko. Perjalanan panjang dari Singapura tadi cukup melelahkan. Transit, antrean imigrasi, bagasi—semuanya bisa membuat Nena kelelahan. Jamal tidak mau kakinya yang baru saja pulih dipaksa terlalu banyak bekerja. Nena menyandarkan kepalanya di bahu Ja
"Saya ingin .…” Jamal berhenti sejenak, seolah memilih kata yang paling tepat. “Walaupun nanti kita sudah resmi berpisah, saya ingin Nona tetap datang menemui Nena sesekali. Jangan menghilang dari hidupnya.” “Semenjak ada Nona, Nena menjadi lebih ceria.” Suara Jamal melembut. “Saya hanya khawatir kalau nanti kita berpisah, dia akan merasa kehilangan.” Keiko menunduk. Bayangan Nena yang tersenyum, memeluknya, memanggilnya Mama—semuanya tiba-tiba berputar di benaknya. “Aku tidak pernah berniat meninggalkan Nena, Mas,” jawab Keiko akhirnya, suaranya pelan namun tegas. “Meskipun nanti kita tidak lagi terikat, dia tetap anak yang ingin aku lihat tumbuh sehat dan bahagia.” Jamal menatapnya, ada kelegaan yang nyata di wajahnya. “Terima kasih, Nona.” "Mas nggak perlu berterima kasih. Seharusnya aku lah berterima kasih." *** Setengah tahun sudah berlalu. Enam bulan yang terasa panjang, melelahkan, tetapi penuh keajaiban kecil yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Jama
Tiga bulan kemudian… Waktu berlalu lebih cepat dari yang mereka sadari. Tiga bulan penuh tangis, doa, dan latihan yang tak pernah absen sehari pun. Jamal berdiri di sudut ruang terapi, menatap ke arah Nena yang sedang berlatih dengan bantuan alat penyangga kaki. Tangannya berpegangan pada palang besi, sementara fisioterapis memberi aba-aba pelan. “Pelan-pelan, Nena… dorong dari paha, ya .…” Dan untuk pertama kalinya, kedua kaki kecil itu bergerak lebih jelas. Tidak lagi sekadar refleks samar, melainkan dorongan yang nyata—meski masih gemetar dan belum kuat menopang tubuh sepenuhnya. Jamal menahan napas. Dia tak menyangka, pengobatan dan terapi yang dilakukan sang anak akan membawa perubahan yang sangat signifikan, dimana kini kedua kakinya sudah bisa mampu digerakkan meski belum sepenuhnya. Tapi dia yakin, itu berarti cepat atau lambat anaknya akan bisa berjalan normal lagi. Dadanya terasa penuh. Rasa syukur bercampur haru membuat tenggorokannya tercekat. Andai dulu dia m
"Nggak ada masalah, tapi aku tetap takut mereka khilaf, Zea."Kenzie kembali melangkah, tapi kali ini lebih pelan. Wajahnya menunjukkan kegundahan yang tak mudah dijelaskan dengan logika semata.Sejak sang adik memutuskan untuk menikah dengan Jamal, ada sesuatu dalam dirinya yang terus mengusik—perasaan tak nyaman yang tak pernah benar-benar pergi.Sejak saat itu pula, hari-hari Kenzie terlihat tidak setenang biasanya."Aku ngerti perasaan Kakak, tapi untuk sekarang... ada baiknya Kakak jangan terlalu dipikirkan, itu nggak baik untuk kesehatan Kakak juga. Yang penting 'kan sekarang semaunya berjalan semestinya, dan harapan kita adalah supaya Nena cepat sembuh," ucap Zea memberikan sedikit nasihat supaya suaminya bisa lebih tenang.***Pesawat yang mereka tumpangi mendarat dengan mulus di Bandara Changi. Dentingan sabuk pengaman yang dilepas para penumpang bercampur dengan suara roda koper yang mulai ditarik.Udara Singapura yang bersih dan tertata rapi seolah menjadi pembuka dari hara
"Nenek, Nena kepengen makannya disuapi Mama baru boleh nggak?" tanya Nena dengan polos, perlahan melepaskan pelukan hangatnya. Tatapan matanya penuh harap, seolah takut keinginannya ditolak."Boleh, tapi ...." Mama Winda tampak ragu. Kerutan halus di dahinya menunjukkan kekhawatiran—dia takut Keiko merasa canggung atau bahkan menolak permintaan itu."Biar aku yang suapi Nena, Bu," sahut Keiko cepat, hampir tanpa berpikir. Tangannya langsung terulur, refleks, seolah ingin menenangkan semua kecanggungan yang ada.Mama Winda menatap Keiko sejenak, lalu tersenyum kecil. Dia segera menyerahkan mangkuk bubur ke arah Keiko, kemudian berdiri dari kursi kecil di samping ranjang, memberi ruang bagi menantunya itu untuk duduk menggantikannya."Jamal, kamu ikut Mama sebentar keluar, yuk. Mama mau ngobrol sama kamu," pinta Mama Winda sambil menatap sang anak dengan sorot mata yang sulit diartikan."Iya." Jamal mengangguk. Namun sebelum mengikuti Mamanya keluar kamar, dia lebih dulu mengambil paper







