Share

6. Mencari Ayah

Author: Rossy Dildara
last update Last Updated: 2024-11-08 18:34:25

"Iya, Kak. Aku sungguh-sungguh!" Tanpa banyak berpikir, aku langsung menjawabnya dengan mantap. Kupikir ini adalah hal yang benar untuk dilakukan.

"Baiklah." Kak Calvin langsung memundurkan langkah, menjauh dariku lalu memakai kembali jas biru navy-nya.

Namun, kulihat wajahnya menjadi masam sekarang.

Ada apa lagi dengannya? Kenapa seolah-olah jawaban yang aku berikan terdengar tidak mengenakan untuknya?

Apa memang ini merugikannya? Padahal 'kan tidak, karena jelas-jelas aku yang telah diperkosa di sini.

Kak Calvin ini benar-benar aneh sekali. Aku jadi bingung sendiri.

"Aku minta maaf ya, Kak." Bingung ingin berbuat apa, jadi kuputuskan untuk meminta maaf saja.

"Ngapain minta maaf, kan sudah jelas kamu korban di sini," sahut Kak Calvin dengan ketus, tanpa menatapku dia berjalan ke arah pintu.

Handle pintu itu sudah dia pegang, dapat kulihat tubuhnya dari belakang. Namun, gerakan tangannya tiba-tiba terhenti.

"Aku mau pulang. Kamu cepat pakai pakaianmu lalu segera pulang, karena kamar ini bukan aku yang sewa."

"Iya, Kak."

Tanpa menanggapi ucapanku, Kak Calvin langsung pergi begitu saja. Meninggalkanku yang masih bingung dengan sikapnya yang tiba-tiba berubah.

Sepertinya dia marah padaku. Ah... aku jadi makin merasa bersalah. Tapi ya sudahlah, biarkan saja. Lebih baik aku segera pergi dari sini, karena sepertinya aku salah masuk kamar.

Setelah membersihkan tubuh dan bersiap-siap memakai kembali pakaian, aku lantas keluar dari kamar lalu menutup pintu.

Kuperhatikan nomor kamarnya lebih dulu sebelum meninggalkan tempat ini, untuk memastikan apakah benar aku salah kamar. Lalu kucocokkan dengan chat dari Nona Agnes.

Bodohnya aku, ternyata memang benar-benar salah kamar.

Pada chat tertulis nomor 1006 lantai 4. Sementara lantai dimana aku berpijak sekarang adalah lantai 3 dan nomor kamarnya pun 106. Kurang 0 dan kurang satu lantai.

Ini sih gila namanya, aku mencari penyakitku sendiri.

Viona, Viona, kenapa selalu saja kamu ceroboh! Aku mengacak rambut dengan frustasi.

Ah tapi ya sudahlah, nasi sudah menjadi bubur. Daripada terus menggerutuki diri sendiri dan itu tidak ada gunanya, lebih baik aku pulang saja.

Papa dan Kenzie pasti sudah menungguku di rumah, dan sepertinya Papa akan memarahiku. Kulihat selain Nona Agnes, ada banyak chat serta panggilan tidak terjawab dari Papa juga. Tapi chat tersebut sengaja tidak aku buka, karena toh aku juga mau pulang sekarang.

*

*

*

Setibanya di rumah, baru turun dari ojek online, aku langsung disambut oleh tatapan tajam dari Papa yang berada di teras depan.

Pria bergelar duda itu semula tengah duduk, kemudian berdiri seraya melangkah mendekat ke arahku.

"Assalamualaikum, Pa." Sebelum dia bicara, bahkan sudah sempat kulihat mulutnya menganga, aku lebih dulu mengucapkan salam lalu mencium punggung tangannya dengan penuh rasa hormat.

"Walaikum salam. Ke mana saja kamu dari semalam? Kenapa nggak pulang?" tanyanya dengan nada menginterogasi, matanya langsung melotot, menunjukkan kekhawatiran yang mendalam.

"Aku lembur, Pa," jawabku berbohong. Tapi tidak juga sih, aku memang semalam lembur kurang tidur. Bercinta dengan mantan menantunya.

"Lembur sampai pagi? Tapi kok nggak bilang dulu kamu sama Papa? Kenapa?" cecarnya lagi, suara penuh kekecewaan dan ketidakpercayaan, menciptakan ketegangan di udara antara kami.

"Iya, soalnya aku-"

Ucapanku seketika terhenti, saat melihat Kenzie tiba-tiba berlari keluar dari rumah dan memanggilku dengan girang. "Bundaaaaaa!!"

Kedua tangannya terbuka lebar, segera aku sambut karena pastinya dia akan memelukku dengan penuh kegembiraan.

"Bunda kemana saja?? Kok nggak pulang dali semalaman? Telus ... Di mana Ayah?" tanyanya dengan polos, lalu menoleh ke kanan dan kiri, seperti mencari-cari seseorang.

Ya Allah ... baru juga sampai rumah, tapi kamu sudah menanyakan Ayahmu. Harusnya biarkan dulu Bundamu ini masuk lalu mandi, Bunda belum mandi dari kemarin sore, Nak.

"Bunda lembur, Sayang," jawabku sambil menghela napas dengan berat, lalu mengelus pucuk rambutnya penuh kasih sayang. "Kita masuk dulu, yuk, Bunda mau mandi." Suara penuh kelembutan dan perhatian terdengar dalam jawabanku, mencerminkan rasa sayang yang mendalam kepada Kenzie.

"Habis mandi kita cali Ayah, ya?" pintanya merengek, bahkan saat ingin kugendong dia menolak.

Aku langsung berjongkok, lalu menangkup kedua pipinya yang terlihat memerah. Wajahnya juga mendadak cemberut. "Kenzie ... Bunda 'kan udah bilang, kalau Ayah itu ada di Korea. Jauh, Nak. Kita nggak ada ongkos buat ke sana."

Sedari dulu, hanya alasan itu yang aku punya. Ayahnya Kenzie berada diluar negeri, sedang bekerja.

"Bunda 'kan kelja telus, masa dali dulu duitnya nggak kumpul-kumpul buat kita pelgi ke Kolea?" tanyanya dengan nada kesal, jemari kecilnya terlihat meremmas ujung baju.

"Bukan enggak kumpul-kumpul, tapi biayanya memang mahal, Nak. Lagian, kamu juga nggak perlu terus mencari Ayah. Nanti kalau sudah waktunya ... Ayah pasti akan pulang sendiri, kamu sabar aja."

Semoga dia tidak bosan, karena hampir sering kalimat seperti itu yang kuutarakan setiap kali melihat Kenzie marah.

"Enggak maauuu!!" teriak Kenzie tiba-tiba, kedua kakinya terhentak keras. "Pokoknya Kenzie mau ketemu Ayah sekalang juga, nggak mau nanti-nanti!! Kalau Bunda atau Kakek nggak mau antal Kenzie buat ketemu dengan Ayah ... Kenzie mau cali sendili!" tambahnya sambil meneteskan air mata, lalu tiba-tiba berlari.

"Kenzie!" Aku dan Papa terkejut melihatnya, segera kami berlari untuk mengejar.

Bocah berumur 5 tahun itu terlihat berlari cepat menelusuri jalan kecil, melewati beberapa rumah warga. Wajahnya penuh dengan ekspresi kebingungan dan keinginan yang kuat.

Larinya begitu cepat seperti kelinci. Ya Allah, sesak sekali napasku rasanya.

Ditambah selangkaanganku masih terasa sakit bekas semalam, namun aku tak bisa membiarkannya pergi begitu saja. Karena selama ini, semarah apa pun Kenzie, dia tidak pernah sampai lari-lari pergi dari rumah. Paling hanya mengurung diri di kamar dan tidak mau membuka pintu.

"Jangan marah, Nak! Maafin Bunda!" teriakku sambil meringis, mencoba menahan sakit dan masih berusaha berlari.

"Kenzie berhenti!! Ayok sama Kakek! Kita pergi cari Ayaaah!" teriak Papa dengan suara gemetar, lalu melompat dan akhirnya berhasil meraih tubuh kecil Kenzie dalam dekapannya.

"Alhamdulillah ...." Aku langsung menghentikan langkah kakiku dan terduduk dijalan, kuatur napas yang terengah-engah sembari mengusap keringat yang bercucuran di dahi, merasakan kelelahan dan kekhawatiran yang mendalam.

"Aaawww!!"

Baru saja aku bernapas lega dan berucap syukur, tiba-tiba, Papa berteriak dan saat kulihat tangan Kenzie tengah meremmas inti tubuhnya.

Mataku sontak membulat sempurna. Ya ampun, apa yang bocah itu lakukan? Kenapa dia menyakiti Kakeknya sendiri?

Papa menurunkan tubuh Kenzie dan segera menyentuh kantong menyannya sambil meringis kesakitan. Disaat itu, Kenzie berlari kabur berbelok ke pertigaan sebelah kanan, meninggalkan kami dalam kebingungan dan kekhawatiran yang mendalam.

Aku langsung berdiri, lalu dengan tenaga yang tersisa berlari mengejarnya.

Dasar bocah, apa-apaan coba dia, kenapa pakai segala ngambek dan kabur segala sih?

Saat kususul dan kucari-cari, sepertinya aku kehilangan jejak anakku. Bocah lucu itu tidak ada dimana-mana.

Apakah ini artinya dia hilang?

Ya Allah!

"Kenzieeee!! Ke mana kamu, Nak?!" teriakku panik, suara gemetar dan penuh kekhawatiran, mencari-cari dengan penuh harapan namun juga kegelisahan yang mendalam, merasakan kehilangan yang tak terbayangkan sebelumnya.

Kirain cuma si Sony Wakwaw aja yang nyari bapaknya, ternyata Kenzie Wakwaw juga 🤣🤣

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Sulis Tyawati
kurang suka sama viona, terlalu polos jd nya bego
goodnovel comment avatar
Intan Azkafadhil
perempuan nya terlalu bego terlalu lembek kurang tegas
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Malam Panas Dengan Mantan Suami   (S2) 126. Siang dan malam

    Setelah menutup panggilan, Bunda Viona segera memberitahu Ayah Calvin yang baru selesai mandi untuk segera datang bersamanya di kantor polisi.Tanpa banyak bertanya, Ayah Calvin langsung setuju dan mereka pun pergi.Setibanya di kantor polisi, mereka disambut oleh seorang polisi yang ramah, yang langsung mengajak mereka masuk ke sebuah ruangan yang terang dengan lantai keramik yang bersih. Dan ketika pintu terbuka, mata mereka langsung tertuju pada Jamal—dia duduk di sudut ruangan, wajahnya serius dan sedikit lelah, tangan menyangga dagu seolah sedang memikirkannya banyak hal.Di belakang mejanya, dua orang polisi duduk dengan pose tenang, melihat mereka dengan tatapan yang sopan."Silahkan duduk Pak, Bu ...," ucap salah satu polisi di sana, sambil tersenyum. Setelah polisi yang mengantarkan mereka tadi pergi dan menutup pintu, keduanya segera duduk di kursi kosong yang tersedia.Ayah Calvin dan Bunda Viona saling memandang sebentar, matanya saling berkomunikasi, penuh keraguan dan ha

  • Malam Panas Dengan Mantan Suami   (S2) 125. Kabar gembira

    "Jadi kalian berdua Ayah Calvin dan Kak Kenzie? Tapi kenapa kalian berpakaian dan berdandan seperti wanita?" tanya Zea, yang akhirnya menyadari keanehan di depannya. Otaknya baru saja mencerna bahwa dua wanita jadi-jadian di hadapannya tak lain adalah Ayah Calvin dan Kenzie."Nanti Ayah jelaskan, Zea. Tapi sebelum itu ... kamu ceritakan dulu tentang Jamal. Bagaimana tanggapan dia? Apa kamu berhasil membujuknya?" Ayah Calvin segera merangkul bahu Zea, membuat pelukan Kenzie terlepas paksa, setelah itu dia mengajaknya duduk bersamanya. Dia menatap Zea dengan tatapan penuh harap, namun juga sedikit cemas."Sepertinya rencana kita gagal, Yah. Aku gagal membujuk Mas Jamal." Zea menunduk, merasa bersalah dan kecewa.Jawaban dari Zea seketika membuat Ayah Calvin kecewa, bahunya merosot lemas. Tapi apa boleh buat, mungkin, memang sudah takdirnya Keiko masuk penjara dan menjalani hukuman atas perbuatannya."Pasti Jamal memberikan syarat ya, sama kamu, buat ninggalin aku?" tebak Kenzie penuh ke

  • Malam Panas Dengan Mantan Suami   (S2) 124. Sebagai kenang-kenangan

    Melihat Zea kembali menyentuh Jamal, Kenzie benar-benar kebakaran jenggot. Api cemburu membakar hatinya, membuatnya ingin melompat dan menarik Zea menjauh dari pria itu.Namun, Ayah Calvin masih berusaha menahannya dengan sekuat tenaga. Cengkeramannya di lengan Kenzie begitu erat, mencegahnya melakukan tindakan gegabah."Aku nggak ada niat membujuk Mas Jamal," jawab Zea sambil menggelengkan kepalanya. Matanya menatap Jamal dengan tulus, berusaha meyakinkannya bahwa dia tidak memiliki motif tersembunyi. "Aku mengajak ketemu hanya khawatir pada kondisi Mas Jamal, atas apa yang terjadi.""Seriusan, kamu khawatir padaku?" Perlahan Jamal kembali duduk, matanya menatap Zea penuh harap. Ada secercah harapan yang kembali menyala di hatinya."Seriusan, Mas." Zea segera menarik tangannya kembali. Dia merasa tidak nyaman dengan tatapan Jamal yang begitu intens. "Dari dulu aku selalu berdo'a, meskipun kita sudah nggak sama-sama lagi, tapi semoga hidup Mas Jamal lebih bahagia. Mangkanya aku prihat

  • Malam Panas Dengan Mantan Suami   (S2) 123. Ternyata aku salah

    Di sebuah restoran sederhana yang tengah ramai oleh hiruk pikuk jam makan malam, Zea duduk dengan anggun, gaun maroonnya memancarkan keindahan yang memukau di tengah suasana yang sederhana.Saat Kenzie dan Ayah Calvin memohon bantuannya untuk membujuk Jamal demi Keiko, Zea langsung mengiyakan tanpa ragu.Selama ini, keluarga Kenzie telah menerimanya dengan tangan terbuka, memberikan cinta dan dukungan yang tak ternilai harganya. Lalu, bagaimana mungkin dia bisa menolak?Meskipun Jamal bersikeras agar Zea datang seorang diri, Kenzie tidak bisa menahan diri untuk ikut serta bersama Ayah Calvin. Rasa cemas dan protektifnya terlalu besar untuk membiarkan Zea menghadapi Zea sendirian. Mereka memilih meja yang agak jauh dari Zea, namun tetap dalam jangkauan pandang yang jelas, memastikan mereka bisa mengawasi setiap gerak-gerik Jamal di tengah keramaian.Ayah Calvin, dengan semangat yang membara, mengusulkan sebuah rencana penyamaran yang tak terduga."Ayah, ini serius? Kita harus pakai kos

  • Malam Panas Dengan Mantan Suami   (S2) 122. Apa kita bisa bertemu?

    "Enggak! Aku nggak setuju, Yah!" seru Kenzie, kepalanya menggeleng cepat, menolak mentah-mentah ide yang baru saja dilontarkan Ayah Calvin."Bukannya dari awal aku sudah bilang, kalau masalah Keiko jangan sampai bocor pada Zea? Jadi Ayah nggak perlu minta bantuan Zea, nggak perlu bawa-bawa Zea dalam hal ini." Nada bicaranya meninggi, sarat akan kekhawatiran yang selama ini dia pendam. Bayangan momen Zea yang duduk bersama Jamal kembali berputar di benaknya, membuatnya semakin tidak rela.Ayah Calvin menghela napas panjang, mencoba meredam emosinya. "Ayah mengerti perasaanmu, Ken. Tapi Ayah mohon... kali ini saja, tolong turuti permintaan Ayah. Semua ini untuk Keiko, Ayah yakin... cuma Zea yang bisa meluluhkan hati Jamal. Memangnya kamu mau, melihat Keiko di penjara? Kasihan dia, Ken." Suara Ayah Calvin bergetar, matanya berkaca-kaca, memohon dengan sangat agar Kenzie mau mengerti.Kenzie mengepalkan tangannya, dadanya terasa sesak. "Tapi Jamal itu orangnya kurang ajar, Ayah. Bagaimana

  • Malam Panas Dengan Mantan Suami   (S2) 121. Bantuan Zea

    Permintaan itu bagai petir yang menyambar di siang bolong, membuat Ayah Calvin terkejut dengan mata membelalak, napasnya tercekat di tenggorokan.Jantungnya berdebar kencang, memukul-mukul rusuknya dengan irama tak beraturan. Dia terdiam membisu, mencerna setiap kata yang baru saja terlontar dari bibir Jamal.Bagaimana mungkin Jamal bisa meminta hal sekeji itu? Permintaan Jamal benar-benar di luar dugaan, dan tentu saja itu membuatnya dilema, terjebak di antara dua pilihan yang sama-sama menyakitkan.Ayah Calvin tidak mungkin menukar kebahagiaan Kenzie dan Zea, keutuhan rumah tangga putra dan menantunya, demi membebaskan Keiko. Itu terdengar sangat tidak adil, sebuah pengorbanan yang terlalu besar dan tidak masuk akal."Kenapa Bapak diam? Cepat berikan aku jawaban karena sekarang adalah jam kerjaku," ucap Jamal mendesak, suaranya dipenuhi nada meremehkan, seolah menikmati setiap detik penderitaan Ayah Calvin.Ayah Calvin akhirnya menemukan suaranya, meski terdengar serak. "Permintaanm

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status