INICIAR SESIÓNLorong berkarpet tebal di lantai teratas hotel mewah itu mendadak kehilangan suhunya secara drastis, menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang. Lee Hanzhen berdiri mematung dengan tatapan mata elang yang menggelap sempurna, memancarkan kilat berbahaya. Kalimat yang baru saja meluncur dari bibir Yiran terasa laksana sebuah hantaman palu godam yang menghancurkan telak seluruh harga diri, ego, dan martabat tingginya sebagai seorang pria terhormat.“Meilin... dialah orang pertama yang menceritakan bahwa pernikahan kalian hanyalah selembar kertas kontrak bisnis yang dingin.”Kata-kata provokasi itu terus bergaung bising di dalam kepala Hanzhen, membakar habis seluruh sisa kehangatan dan kedamaian yang sempat singgah di dadanya sejak pagi tadi. Ingatan manis tentang bagaimana Meilin menyiapkan tas baju dinasnya dengan perhatian, kecupan hangat penuh kerinduan yang ia tinggalkan di kening istrinya sebelum berangkat, hingga melodi piano romantis malam lalu—semuanya mendadak terasa laksana
Matahari sudah tenggelam sepenuhnya di ufuk barat ketika Hanzhen melangkah keluar dari ruang konferensi hotel bintang lima di Kota Timur. Perjalanan dinas dua hari ini benar-benar telah menguras seluruh sisa energi di dalam tubuhnya. Meskipun rapat koordinasi dengan para investor lokal berjalan sangat mulus tanpa kendala, denyut halus yang berulang di pelipisnya menandakan bahwa kondisi fisiknya belum pulih benar dari serangan vertigo yang menyiksa tempo hari.Pria tegap itu berjalan dengan tenang namun berwibawa menyusuri lorong panjang berkarpet tebal menuju lift khusus, diikuti oleh Chen yang sibuk mencatat beberapa poin penting hasil rapat di layar tabletnya."Pak Lee,” panggil Chen dengan suara pelan setelah mereka berdua masuk ke dalam lift pribadi yang kedap suara. “Seluruh agenda penting untuk hari ini sudah selesai dengan baik. Jadwal Anda berikutnya adalah makan malam semi-formal dengan kepala dinas pariwisata nanti malam. Setelah ini, Anda bisa langsung beristirahat di pen
Langkah kaki Meilin terdengar mantap namun terasa sangat berat saat memasuki area lobi anak perusahaan Tianyu Enterprise Group bagian resort pagi itu. Di sinilah Yiran sekarang ditempatkan dan diasingkan setelah dimutasi secara sepihak oleh Hanzhen beberapa waktu lalu. Meilin sengaja tidak menghubungi wanita itu terlebih dahulu; ia sengaja datang tanpa peringatan tertulis karena tidak ingin memberikan celah atau waktu sepeser pun bagi Yiran untuk menyusun skenario kebohongan yang baru.Begitu pintu kaca ruang kerja divisi pemasaran dibuka perlahan, tatapan mata Meilin langsung bergerak cepat mengunci sosok Yiran yang sedang sibuk memeriksa beberapa berkas laporan di atas mejanya. Sadar ada seseorang yang berdiri mematung di ambang pintu masuk, Yiran mendongakkan kepalanya. Detik ketika sepasang matanya menangkap wajah Meilin, ekspresi terkejut yang nyata sempat melintas sekilas di wajahnya sebelum dengan sangat cepat digantikan oleh ulas senyuman manis artifisial yang biasa ia gunak
Kata-kata Junhao malam itu laksana hantaman badai yang memporak-porandakan seluruh ketenangan di dalam dada Meilin. Yiran. Nama sahabat yang paling ia percayai sejak masa kuliah, sosok yang dulunya selalu berbagi tawa dan rahasia dengannya, kini menjelma menjadi sosok asing yang mengerikan di dalam benaknya. Kenyataan pahit ini mencabik-cabik sudut hatinya yang terdalam.Malam semakin larut ketika Meilin memutuskan untuk merebahkan diri di atas ranjang kamar tidurnya. Suasana kamar yang familier dengan aroma kayu pinus yang meneduhkan ini biasanya selalu berhasil membuatnya tertidur lelap dalam hitungan menit. Namun malam ini, sepasang matanya enggan terpejam sedikit pun. Pikirannya melayang jauh menembus kegelapan malam, menarik paksa ingatan Meilin pada beberapa hari yang lalu-hari di mana badai kecemburuan Hanzhen pertama kali pecah berkeping-keping.Malam ini, suaminya tidak pulang, namun ia pun gelisah, sehingga ia memutuskan untuk menghunginya."Hallo" kata suara Hanzhen di seb
Meilin tiba di depan rumah kediaman keluarganya yang asri tepat ketika semburat langit senja mulai berubah gelap keunguan. Di tangan kanannya, ia mencengkeram erat sebuah kotak kue tart kecil dengan hiasan lapisan cokelat Belgia yang sederhana, sementara tangan kirinya membawa sebuah kotak hadiah jam tangan mewah yang sudah ia pilih khusus untuk sang kakak.Begitu daun pintu rumah kayu itu terbuka, aroma harum masakan rumahan yang sangat akrab langsung menyergap hangat indra penciumannya. Aroma bumbu dapur buatan sang ibu yang selalu berhasil membuat hati Meilin yang belakangan ini dipenuhi kecemasan mendadak terasa begitu damai dan tenang. Belum sempat ia melangkah masuk lebih jauh menembus ruang tamu, suara bariton Yuwen sudah terdengar menggelegar riang dari arah ruang tengah. “Wah, adik perempuan tersayangku akhirnya datang juga!”Pria tegap itu langsung berjalan mendekat dengan ulasan senyum lebar khasnya yang menjengkelkan namun dirindukan. Tatapan matanya langsung tertuju luru
Kelopak mata Meilin bergerak gelisah sebelum akhirnya perlahan terbuka. Hal pertama yang tertangkap oleh indra penglihatannya adalah pendar samar cahaya matahari pagi yang menyusup malu-malu melalui celah tirai kamar utama yang megah.Namun, kesadarannya tidak pulih dengan instan. Selama beberapa detik, otak Meilin mendadak kosong, mencoba mencerna di mana ia berada. Ketika rasa hangat yang teramat asing menyergap permukaan kulitnya, Meilin tersentak kecil di dalam hati. Ia tersadar, sebuah lengan kekar yang kokoh sedang melingkar posesif di sekeliling pinggangnya, sementara embusan napas yang teratur terasa begitu dekat menyapu tengkuknya. Hanzhen masih memeluknya erat dari belakang.Seketika itu juga, pasokan udara di paru-parunya seolah tersendat. Ingatan tentang melodi piano semalam, ciuman impulsif yang ia mulai sendiri di ruang tengah, hingga bagaimana Hanzhen menggendongnya menaiki tangga mendadak berputar laksana rol film di kepalanya. Pipi Meilin instan memanas, rona merah me







