Teilen

bab 19

last update Veröffentlichungsdatum: 01.03.2026 22:42:13

​Di perjalanan pulang aku sempat kepikiran tentang Reisa; sepertinya ini akan menjadi masa-masa sulit untuknya.

​Jam sepuluh malam aku baru saja sampai di apartemen. Aku masih melihat Raka yang sibuk berkutat dengan laptopnya. Aku melangkah mendekat.

​Dia menutup laptopnya dengan keras, lalu menatap tajam padaku. Refleks aku kaget dan menghentikan langkahku.

​"Sama siapa kamu pulang?"

​"Taksi online," jawabku cepat.

​"Kau lihat jam berapa sekarang?" Dia mengetuk jam tangannya. Aku tahu se
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Manipulasi Hati CEO   bab 23

    Suasana makan malam di apartemen malam itu terasa sangat aneh. Hanya ada suara denting sendok yang beradu dengan piring. Raka benar-benar menghabiskan mi instan buatanku tanpa protes sama sekali. Padahal biasanya, telurnya kurang setengah matang saja dia sudah ceramah soal tekstur protein selama sepuluh menit. ​Aku memperhatikannya dari balik gelas air putihku. Dia makan seperti biasanya. Aku tahu dia sedang berusaha terlihat baik-baik saja di depanku. Tipikal laki-laki sombong yang merasa harus selalu jadi tembok kokoh. Padahal di mataku, temboknya itu sudah retak seribu. ​"Kenapa lihat-lihat? Minumnya mau lewat hidung?" tanya Raka tiba-tiba tanpa menatapku. ​Aku tersentak, hampir tersedak air yang baru mau kutelan. "Siapa yang lihatin kamu? Ge-er banget. Aku cuma lagi mikir, mi instan merek ini ternyata kurang asin. Tapi kamu makannya lahap banget, kayak orang nggak makan tiga hari." ​Raka meletakkan garpunya, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. Matanya menatapku lurus. "Nadia,

  • Manipulasi Hati CEO   bab 22

    ​Langkah kaki Raka yang lebar-lebar itu hampir membuat beberapa karyawan yang berpapasan dengannya terjungkal. Wajahnya yang biasanya poker face—datar tanpa ekspresi kayak tembok—kini tampak tegang banget. Alisnya bertaut, dan ada aura gelap yang terpancar dari setiap gerakannya. Dia benar-benar lagi enggak ingin diganggu, bahkan oleh lalat sekalipun. ​Aku yang baru saja mau duduk di meja resepsionis setelah makan siang bareng Reisa, cuma bisa melongo melihat bos besar itu melesat keluar kantor seolah-olah gedung ini mau meledak. ​"Nad, Pak Raka kenapa lagi? Kok mukanya kayak orang dikejar penagih utang?" bisik Lita sambil menyikut lenganku. ​"Mana aku tahu. Mungkin dia lupa matiin keran air di apartemen," sahutku asal. Tapi jujur, insting kepo-ku meronta-ronta. Raka itu paling anti ninggalin kantor di jam sibuk, kecuali ada urusan bisnis miliaran. Tapi tadi itu? Dia bahkan gak bawa tas kerja, cuma kunci mobil yang dicengkeram kuat sampai buku jarinya memutih. ​"Rei, aku izin bali

  • Manipulasi Hati CEO   bab 21

    ​Hujan belum juga reda ketika mobil Reisa berhenti di depan rumahnya. Reisa termenung menatap kaca mobil yang basah karena hujan. Matanya sembap. Aku turut prihatin dengan keadaannya. ​Aku menepuk pundaknya pelan. "Aku antar kamu ke kamar ya," dia diam, hanya mengangguk. ​Dia menarik napas panjang, menutupi wajahnya dengan sedikit riasan, dan memakai kacamata untuk menutupi matanya. Dia tersenyum keluar dari mobil. Aku tahu senyumnya palsu. ​Seperti biasa, Om Ivan duduk di kursi teras rumahnya. "Baru pulang, Ei?" ​Reisa mengangguk tersenyum. "Iya Pah, biasa nostalgia." Dia bergegas masuk ke dalam rumah. ​"Mari, Om," aku menyapa singkat Om Ivan. ​Di dalam kamar, tangis Reisa pecah tanpa suara. ​"Makasih ya, Nad, sudah nemenin aku hari ini." ​"Gak masalah. Tapi Rei, maaf banget aku gak bisa lama-lama. Apalagi sekarang sudah malam, kamu juga butuh waktu buat istirahat. Aku sudah mastiin kamu selamat sampai rumah. Aku pulang sekarang gak apa-apa, kan?" ​Reisa mengangguk. "Iya Na

  • Manipulasi Hati CEO   bab 20

    ​Seperti yang direncanakan sebelumnya, aku dan Reisa berada di depan kantor Erik bekerja. Kata Reisa, Erik selalu pulang jam delapan malam karena dia suka mengambil lemburan. ​Pulang kerja kami bergegas ke sini, di kafe depan kantor Erik. Reisa punya beberapa kontak teman Erik yang kebetulan salah satu dari mereka sedang kerja lembur dengan Erik. Jadi setelah Erik pulang, temannya lah yang akan memberitahu Reisa. ​Masih terlalu lama untuk masuk ke jam delapan. Aku sedang sibuk menyantap makanan yang aku pesan sebelumnya. Reisa sedang sibuk dengan ponselnya. Sedangkan aku jelas enggak punya ponsel. ​Semoga saja ini cepat selesai, aku ingin cepat pulang. Aku yakin Raka pasti sedang uring-uringan sekarang. ​"Sorry ya, Nad, ngerepotin." ​"Reisa kayak ke siapa saja. Santai, aku kan sudah bilang mau bantu kamu." Aku tersenyum tulus pada Reisa. ​"Iya, Nad. Aku enggak tahu lagi harus gimana sekarang, rasanya menyesal banget." ​"Enggak usah dipikirin, kamu fokus saja kita tuntut tanggu

  • Manipulasi Hati CEO   bab 19

    ​Di perjalanan pulang aku sempat kepikiran tentang Reisa; sepertinya ini akan menjadi masa-masa sulit untuknya. ​Jam sepuluh malam aku baru saja sampai di apartemen. Aku masih melihat Raka yang sibuk berkutat dengan laptopnya. Aku melangkah mendekat. ​Dia menutup laptopnya dengan keras, lalu menatap tajam padaku. Refleks aku kaget dan menghentikan langkahku. ​"Sama siapa kamu pulang?" ​"Taksi online," jawabku cepat. ​"Kau lihat jam berapa sekarang?" Dia mengetuk jam tangannya. Aku tahu sekarang jam sepuluh, tapi mataku malah melihat arlojiku. ​"Jam sepuluh." ​Dia terlihat kesal, tapi ayolah, aku bukan anak SMA yang jam sembilan harus ada di rumah dan tidur. ​"Cepat masak!" Ya ampun, aku lupa dia tidak mau makan kalau bukan masakanku. Pantas saja dia terlihat kesal. Bodohnya aku. ​Lagipula manja banget sih dia, padahal tinggal beli atau masak mi pakai telur gitu saja ribet. Gimana nanti kalau enggak ada aku? Mungkin dia enggak akan makan seharian. ​Karena dia sudah lapar, ak

  • Manipulasi Hati CEO   bab 18

    Aku duduk di ranjang Reisa melihat dia yang sedang menangis di sampingku. ​"Kenapa, Rei?" ​Ditanya begitu, tangis Reisa malah semakin menjadi. Aku memeluknya, mengusap punggungnya agar dia sedikit tenang. ​"Enggak apa-apa, Rei, lepasin aja. Nangis sepuas kamu kalau itu bikin kamu tenang." ​Reisa terisak, berusaha untuk berbicara, tapi aku terus mengusap punggungnya supaya dia tenang dulu. Sebenarnya aku tidak terlalu berpengalaman dalam hal menenangkan orang yang menangis. Jadi, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. ​"Tarik napas, keluarkan secara perlahan." Aku kasih dia arahan, tapi Reisa malah tersenyum. Dia duduk kembali menghadap ke arahku, mengusap air matanya. Sepertinya dia sudah siap menceritakan semuanya. ​"Nad, please jangan kasih tahu siapa pun tentang hal ini. Aku berani ngasih tahu ke kamu karena kamu sudah terlanjur mendengarkan obrolanku." Belum juga cerita, Reisa sudah mengancamku duluan. Emang aku Mak Rombeng, rahasia apa pun aku sebar-sebar ke semua orang

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status