MasukLampu jalanan Jakarta berpendar cepat di balik kaca jendela Mercedes yang melaju menuju apartemen. Di sampingku, Raka terpejam, tapi aku tahu dia tidak tidur. Tangan kanannya masih menggenggam jemariku—sebuah gestur yang dulu kuanggap pelindung, namun kini terasa seperti borgol emas. Aku memalingkan wajah ke jendela, menatap pantulan diriku yang samar. Pikiranku justru melayang mundur ke Minggu pagi itu. Saat matahari belum sepenuhnya naik dan Raka masih terlelap karena pengaruh wiski semalam sebelumnya. Saat itu, aku berdiri di depan meja kerja jati miliknya. Jantungku berdegup seperti genderang perang. Klik. Suara mekanisme brankas itu terdengar begitu nyaring di kesunyian subuh. Aku menahan napas, melirik ke arah ranjang, memastikan si harimau tidak terbangun. Aman. Pintu baja itu terbuka perlahan, mengeluarkan aroma dingin logam dan kertas-kertas mahal. Niat awal hanyalah mengambil seratus juta untuk membungkam mulut Hardi. Namun, jemariku yang lancang justru menyentuh sebua
Gedung pertemuan di pusat kota itu tampak megah dengan dekorasi bunga lili putih yang menjuntai di setiap sudut. Harum melati yang kuat menyambut kami begitu pintu ballroom terbuka. Aku mempererat kaitan lenganku pada Raka, menyesuaikan langkah dengan ritme sepatunya yang tegas. Malam ini, aku mengenakan gaun sutra berwarna champagne yang jatuh pas di tubuhku—elegan, tidak mencolok, namun tetap memancarkan kelas seorang istri pengusaha besar. "Ingat, Nadia. Cukup jadilah pendamping yang sopan. Tidak perlu drama," bisik Raka datar. Wajahnya lurus ke depan, rahangnya kokoh seolah-olah dia sedang menuju meja perundingan bisnis, bukan pesta pernikahan mantan. "Aku tahu protokolnya, Raka. Senyum, sapa, dan terlihat bahagia. Mudah," sahutku pelan dengan nada yang sangat lembut, hampir seperti bisikan seorang istri yang sedang bermanja. Kami menaiki anak tangga pelaminan. Di sana, Alika berdiri dengan gaun putih lebarnya. Di sampingnya stands Mark, pria berkebangsaan asing yang tampak ga
Lantai marmer mall kelas atas ini mengkilap seperti cermin, memantulkan wajah-wajah borjuis yang hilir mudik dengan tas belanjaan senilai harga motor matic. Aku berjalan di samping Raka, dagu terangkat, langkah mantap meski di dalam saku celanaku, tanganku masih terasa sedikit dingin. Bau selokan Tambora tadi pagi seolah masih membayangi indra penciumanku, tapi di sini, aroma parfum niche dan pendingin ruangan yang sejuk segera membilasnya. Raka tidak bicara banyak. Dia berjalan dengan satu tangan di saku celana chino-nya, sementara tangan satunya sesekali memeriksa jam tangan. Tatapannya lurus, seolah-olah semua barang mewah di sekelilingnya hanyalah sampah yang kebetulan diletakkan di rak. "Pilih butik yang paling mahal, Nadia. Aku tidak punya waktu seharian," ucapnya tanpa menoleh. "Sabar, Bos. Memilih senjata untuk menghancurkan mental mantan itu butuh ketelitian," sahutku sambil melirik sebuah butik dengan logo desainer ternama. "Lagipula, kartu kreditmu kan sudah siap mental
Minggu pagi di Jakarta biasanya tenang, tapi tidak untuk otakku yang sudah menyusun strategi sejak fajar menyingsing. Raka masih terlelap, napasnya teratur, tangannya masih posesif melingkar di bantal yang harusnya menjadi batas wilayah kami. Aku beringsut pelan, keluar dari kemelut selimut sutra itu tanpa suara. Aku tidak akan membiarkan Raka membereskan Hardi dengan caranya yang membosankan—alias membuang uang. Orang seperti Hardi itu seperti parasit; dikasih makan sedikit, dia bakal tumbuh makin besar. Dia harus dipotong sampai ke akarnya. Aku memakai hoodie hitam kebesaran dan celana denim santai. Tidak ada blazer merah, tidak ada sanggul rapi. Aku hanya Nadia yang ingin jalan-jalan pagi. Begitu aku berhasil keluar dari unit studio tanpa membangunkan si Bos Diktator, aku langsung memesan taksi online menuju alamat yang sempat kubaca sekilas dari berkas lama di meja Raka. Kawasan Tambora. Padat, kumuh, dan pengap. Kontras sekali dengan lobi K Inc yang sewangi cendana. Aku turu
Pukul lima sore lewat sedikit. Lobi mulai sepi, menyisakan aroma parfum sisa para eksekutif yang tadi berhamburan keluar mengejar kemacetan Jakarta. Aku berdiri di balik meja marmer, merapikan beberapa lembar kertas yang sebenarnya sudah rapi, hanya agar tanganku tidak terlihat gemetar. Bayangan Hardi—pria berantakan dengan bau keringat dan rahasia maut itu—masih menempel di pelupuk mataku. Raka muncul dari lift pribadi dengan langkah yang selalu terdengar berwibawa, meskipun aku tahu di balik jas abu-abunya itu, jantungnya mungkin sedang berdegup sama kencangnya denganku. Dia tidak berhenti di meja resepsionis. Dia hanya melirikku sekilas—tatapan yang artinya: "Cepat ambil tasmu dan ikut aku." Aku langsung menyambar tas tangan mahal pemberiannya, mengulas senyum paling manis pada Mirna yang masih sibuk dengan kacamata burung hantunya. "Duluan ya, Mbak Mirna. Jangan lembur terus, nanti keriputnya nambah." Kasihan kamu, Mirna, penunggu kantor yang setia sementara aku pulang bareng
Pintu lift berdenting, terbuka di lantai teratas yang sunyi. Satpam bertubuh kekar itu menggiring si pria berantakan masuk ke ruangan Raka. Aku mengekor di belakang, berjalan dengan dagu terangkat dan wajah setenang telaga, padahal di dalam hati aku sedang sibuk merangkai maki-maki untuk Vanya yang tadi berisik sekali di lobi. Dasar perempuan stabilo, kerjanya cuma bikin polusi suara dan polusi mata. Raka membanting pintu ruangannya. Dia tidak duduk di kursi kebesarannya, melainkan berdiri di tengah ruangan sambil berkacak pinggang. "Lepaskan dia, Pak Agus. Biar saya yang urus. Nadia, kamu kunci pintunya," perintah Raka. Suaranya rendah, tipe suara yang keluar kalau dia sedang menahan ledakan amarah. Aku mengunci pintu, lalu bersandar di sana sambil melipat tangan. Mataku tidak lepas dari pria asing itu. Dekat begini, baunya makin luar biasa. Bau rokok murahan bercampur keringat basi. Jaketnya yang dekil punya noda oli di mana-mana. "Raka... akhirnya kita ketemu lagi," pria itu t







